Seseorang bersembunyi disana. Aku merasa dia mengitai ku dari sudut kegelapan yang membuat tak dapat melihatnya. Seakan mata ku telah buta. Aku ragu untuk berjalan melewati pintu depan rumah nenek ku. Pintu kayu yang sedikit lapuk itu terbuka. Di dalam nampak lengang tidak ada apa, tapi aku tetap saja takut.
Aku padahal baru saja sampai di rumah nenek ku. Tapi, rumah ini jauh berbeda dengan ingatanku 10 tahun yang lalu. Apa nenek tidak pernah merenovasinya? Rumah ini benar-benar berubah termakan usia.
"Ayo masuk." Kata nenek ku sambil masuk kedalam dengan santai. Aku mencoba mengikutinya masuk melewati pintu rumah tua ini.
Aku berhasil melewati ambang pintu. Rasa penasaran ku tiba-tiba bergejolak. Apa yang ada di balik pintu ini. Aku sedikit melirik.
Sosok berambut hitam panjang, dada kirinya koyak dan darahnya sampai merembes ke baju putihnya. Dia berdiri disana menatap tajam ke arahku.
"AAAA!!!"
Sontak aku menjerit ketakutan. Sambil menutup kedua mata ku dengan tangan, tidak berani menatap sosok mengerikan itu lagi. Nenek menghampiri ku, lalu menanyai apa yang telah terjadi.
"Ada apa Dessy?" Begitu tanyanya.
"I-itu Nek, a-ada hantu disana." Jawab ku dengan bibir bergetar. Sosok itu benar-benar menakuti ku.
"Kamu ini jangan mengada-ada. Tidak ada hantu di siang bolong begini." Kata nenek ku. Nampaknya dia tak percaya dengan ku.
Malam harinya.
Aku menginap dirumah tua ini. Rumah nenek terletak di pinggir kampung sehingga lebih banyak sawah dan kebun dari pada rumah warga. Itu membuat ku sedikit ngeri dengan serangga menyeramkan atau ular yang masuk ke dalam rumah diam-diam menggigit ku saat terlelap.
Belum lagi sosok yang ku lihat di balik pintu siang tadi. Aku tidak tahu dia hanya halusinasi ku atau, aku benar-benar melihatnya ada. Semoga saja aku bisa liburan dengan tenang.
Aku sudah jauh-jauh dari kota. Bosan dengan hiruk-pikuknya. Aku ingin suasana yang tenang dan damai disini. Sudahlah, ini malam pertama ku dirumah nenek. Aku ingin tidur.
Tuut...tuut...tuut...
Aku mendengar suara panggilan telepon. Membuat ku terbangun karna rasa penasaran. Aku bergumam saat melirik jam yang menunjukkan pukul 11.50.
"Nenek menelpon siapa tengah malam begini."
Aku mendekat ke pintu, mendengarkan dengan seksama. Sepertinya nenek sedang menelepon orang tua ku.
"Halo, Nak?"
"Ah, halo ibu. Bagaimana? Ibu senang 'kan dengan gadis perawan kami."
"Iya, aku senang sekali. Tidak terasa cucu ku sudah besar sekarang. Terakhir kali aku lihat dia masih umur 7 tahun."
"Aku harap dengan ini keuangan kita dapat segera membaik."
Seketika setelah mendengar perkataan ibu itu aku kaget dan pikiran ku penuh dengan kecurigaan.
Aku membuka pintu, ingin menghampiri nenek yang masih sibuk dengan telpon. Sedetik sesaat pintu terbuka tubuh ku mematung. Sosok mengerikan tadi itu ada tepat dihadapan ku. Dia sudah menunggu ku di balik pintu.
"Mau kemana kamu?"
Deg! Aku merasakan jantung mulai berdebar semakin kencang. Rasa takut langsung mengalir ke seluruh pembuluh darah ku sehingga bulu kuduk ku berdiri. Aku cepat-cepat mundur hingga terjengkang karena kehilangan keseimbangan.
"Nenek! Tolong aku nenek!!!" Teriak ku begitu terpojok oleh ranjang ku.
"Berikan aku jantung mu gadis manis..." Kata sosok mengerikan itu, perlahan mendekati ku.
Sekejap, aku seperti merasa ada seorang malaikat yang menolong diri ku ketika nenek muncul di ambang pintu sambil membawa sebuah pisau.
Namun, dugaan ku salah.
Nenek melangkah dengan santai melewati sosok mengerikan dihadapan ku itu.
"Cucu ku. Maaf, bulan ini kamu tumbalnya." Kata nenek ku seraya mengangkat pisaunya.
"Argh!" Nenek benar-benar menusuk ku dengan pisaunya. Rasa sakitnya baru terasa saat pisau itu dicabut. Darah segar ku mengalir dari luka tusuk buatan nenek. Sosok mengerikan itu mendekat.
Menyeringai seraya menjulurkan tangannya. Mataku melotot begitu melihat kuku panjang nan runcing di jemarinya. Dia akan mengambil jantung ku. Aku tidak bisa bernapas, rasa sakit itu terasa menjalar ke seluruh tubuh. Aku r-rasa sebentar lagi, aku, a-akan ma-ti...
-=×THE END×=-