Tidak banyak yang ingin kuceritakan tentang diriku. Hai, namaku Liam. Aku seorang mahasiswa arkeologi di salah satu universitas yang mungkin cukup dikenal banyak orang.
Aku dikenal sebagai pribadi yang ambisius dan serius. Setidaknya, begitulah kata orang-orang di sekitarku. Julukan 'si gila belajar' sudah cukup melekat padaku, dan sepertinya aku tidak memiliki alasan untuk membantahnya. Aku memang menyukai kegiatan belajar, terlebih lagi jika berkaitan dengan sejarah dan penelitian
Suatu saat pundakku di tepuk dari belakang, aku menoleh dengan cepat, dahi ku berkerut dan aku mendengus pelan. Dalam hati aku berkata "siapa sih yang berani nya menggangu ku". Ternyata itu adalah Nolan, dia adalah sabahat ku yang memang sangat suka menganggu di saat aku melakukan sesuatu, apapun itu. Aku dengan nada yang sedikit meninggi berkata pada nya "Kenapa sih?, gak lihat aku lagi sibuk?", dia malah bertanya balik dengan muka nya yang menyebalkan itu "Emang kenapa? Gak boleh aku nyapa? Toh aku juga cuma mau ngingetin, bentar lagi kayak nya bakalan turun hujan. Gitu doang marah, Awas nanti pendek umur mu marah marah terus. Gatau deh ah!" dengan malas dia langsung keluar dari ruangan itu, seperti nya suasana hati nya sedang buruk,yang memang kalau dia lagi kesal omongan nya gak bisa di jaga.
Sudahlah tak akan ada habis nya bila berdebat dengan nya, aku tak memperdulikan nya lagi lalu lanjut memeriksa satu koin yang sudah tampak usang di atas meja penelitian. Koin itu diberikan kepada ku oleh salah satu senior, yang baru saja melakukan pengamatan dan penelitian di bekas letusan gunung tambora di daerah Nusa Tenggara Barat. Koin itu adalah koin dari masa perdagangan VOC yang memiliki lambang dan tulisan yang khas, Emisi koin tersebut tertulis tahun 1790 yang itu membuktikan kemungkinan besar mungkin memang koin tersebut peninggalan dari bencana gunung tambora.
Hari itu turun hujan, aku berdiri di depan halte bus dekat kampus ku. Aku menatap ponsel ku yang banyak sekali notifikasi. Salah satunya adalah pemberitahuan bahwa pesanan ojek online-ku dibatalkan secara sepihak oleh pengemudinya karena cuaca buruk. Aku terdiam beberapa saat di sana sambil sesekali bermain game online untuk melawan rasa bosan dan mengisi waktu pada saat aku duduk di halte bus itu menunggu hujan agak reda. beberapa jam berlalu, tak ku sadari bahwa hujan malah semakin deras, aku bingung sambil menatap langit dan bergumam kepada diri ku sendiri "kapan ini reda nya, tau gitu aku minta bareng aja sama Nolan tadi." Saat aku berfikir tiba tiba saja ada mobil dengan kecepatan tinggi melintas yang membuat genangan air itu terciprat membasahi baju dan tas ku, aku mengumpat pelan. Kesal sekali rasanya, cepat cepat aku merapihkan tas ku dan bersiap pindah ke tempat lain, sialnya koin tua untuk bahan penelitian ku itu malah tergelinding jatuh ke arah jalan raya.
Aku bingung karna sebelumnya aku sudah memastikan nya beberapa kali untuk menaruh koin itu di bagian terpisah di dalam tas ku. Aku bukan orang yang ceroboh tapi entah kenapa koin itu bisa jatuh dan menggelinding ke jalan.
Tanpa pikir panjang aku memungut koin itu tanpa peduli dengan hujan deras yang masih tak menunjukkan tanda tanda akan berhenti, Lagian toh baju ku memang sudah basah. Aku memungut koin itu dengan hati hati seolah itu adalah perhiasan berharga, sepersekian detik tak ku sadari ada truk muatan berat yang sedang melintas ke arah ku. Sayangnya saat aku sadar, truk itu sudah menabrak dan melindas badan ku, sakit sekali...Badan ku seakan tertimpa batu besar dari atas,dan yang ku ingat terakhir kalinya adalah saat aku merasa dada ku panas dan sekeliling ku menjadi gelap.
Aneh nya aku masih bisa mendengar sirine polisi bahkan aku bisa mendengar nolan yang meraung memeluk jasad ku. Aku bisa mendengar nya namun aku tak bisa membuka mata ku, hingga tiba tiba aku merasa ada suara seseorang yang asing memanggil manggil suatu nama "HASAN! HASAN! NAKK BANTUIN IBU SEBENTAR". Dengan sekuat tenaga aku melawan diri ku dan membuka mata ku, aku terbangun di sebuah rumah sederhana berdinding bambu yang tampak di bangun seadanya namun barang barang di dalam tersusun dengan lumayan rapi, aku menjerapkan mata ku beberapa kali tampak masih memastikan apakah ini semua mimpi. Aku melihat sekeliling dengan hati yang berdetak cepat hingga lamunan ku terhenti saat ada seorang pria yang tampak sudah berumur dengan rambut yang sudah sepenuhnya beruban dan baju yang agak lusuh berjalan pelan menghampiri ku "Ngapain ngelamun di sini, dipanggil ibu mu itu loh. Kalau di panggil orang tua itu jawab toh hasan"
Aku terpaku, tidak tau harus menjawab apa. dengan suara tercekat dan luruh Aku menjawab "I-iya", entah apa yang aku alami, yang jelas sekarang aku bukan di tempat ku, segala nya asing, aku kebingungan karna segala yang ada di sini sangat lah berbeda. Aku tak tahu siapa Hasan atau siapapun di situ.
"Ya udah kalau gitu, udah sana cepat ibu mu udah nunggu di dapur. Jadi laki laki jangan malas", aku hanya mengganguk saja sebagai jawaban. Akhirnya aku jalan ke arah dapur yang sebetulnya aku hanya menebak nebak saja letak dapur di rumah itu, akhirnya aku berhasil menemukan dapur nya, yang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Aku berkata di dalam hati "sebetulnya Aku ini di mana, kenapa di sini terlihat sangat tradisional".sampailah Aku melihat sebuah wanita paruh baya yang sedang mengangkat kayu kayu bakar untuk memasak, wanita itu berkata "hasan,tolong bantu ibu nak. Kamu ngumpulin kayu bakar ya. Sebentar lagi ibu sama ayah mu mau ke sawah ini"
Dengan masih sedikit kebingungan Aku menjawab "iya bu, nanti hasan carikan. Tapi dimana?", wanita itu tampak heran dan menjawab "kamu itu kenapa toh san,cari kayu ya di hutan. Mau di mana lagi?", Aku hanya terdiam dan mengangguk singkat.
Satu satu nya yang kupahami sekarang adalah Aku hidup kembali ke sebuah tubuh anak bernama hasan yang tinggal di sebuah desa di zaman dulu.
Saat Aku keluar rumah itu, Aku melihat sekitar yang rumah rumah di sana memang masih berdindingkan bambu, baju baju yang di pakai orang orang pun juga sederhana dan pengerjaan nya masih kasar. Banyak sekali suara orang orang yang berdagang dan anak anak yang bermain, suara mereka itu seolah menghiasi desa kecil itu menjadi sangat ramai, namun di saat diriku berjalan semakin jauh. Aku juga tidak satu atau dua kali bertemu dengan orang yang terkapar mengemis di jalanan. Namun penderitaan itu seperti sudah biasa terlihat di sana, yang dari situ bisa ku sadari mungkin di era ini masyarakat masih belum merdeka.
Beberapa bulan kemudian Aku mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang ada di situ. Perlahan lahan pun akhirnya Aku tau Aku berada di mana dan di tahun berapa sekarang.
Saat ini adalah tahun 1814 dan tepat nya di bulan November di daerah nusa tenggara barat di daerah pemukiman gunung tambora, Aku tercekat saat mendengar pernyataan itu dari Umar yang adalah sahabat hasan atau sang pemilik asli tubuh yang kini ku tempati ini. Pikiran ku hanya terpaku pada tragedi yang akan terjadi di tahun 1815 yang berarti kurang lebih 5 bulan lagi sebelum letusan dahsyat itu muncul, aku panik tapi karna takut Umar curiga sebisa mungkin aku bersikap selayaknya tidak akan terjadi apa apa. Dalam hati aku berteriak bagaimana nasib ku selanjutnya, sangat tidak mungkin juga bila aku berteriak bahwa bencana akan datang pada umar atau pada bapak ibu. Dan kalau aku bilang pun mana ada yang akan percaya. Aku menjalani hari hari dengan ketakutan yang tiada henti, bahkan aku mengumpulkan makanan secara diam diam bila suatu saat bencana itu akan muncul. Dan benar, pada tanggal 10 april letusan dahsyat terjadi. Langit menjadi gelap gulita, rumah ku dan beberapa warga lainnya tertiban bongkahan bebatuan vulkanik, hujan abu pekat mengguyur desa itu. Aku dan keluarga, serta beberapa warga berlari mencari tempat aman. Suasana keos, banyak sekali yang berlari kesana kemari mengemasi barang berharga dan meninggalkan desa. Ibu dan bapak memegang tangan ku dengan erat "Nak. jangan sampai terpisah sama ibu dan bapak,jangan keluyuran. Semua sudah habis jangan sampai ibu juga kehilangan kamu juga" bisa ku lihat ketakutan di mata bapak dan ibu, suasana di sana sangat lah sesak. Aku tak bisa melihat arah karna tebalnya abu vulkanik di udara, tapi mau bagaimana lagi, kalau tetap diam pun ujung ujungnya nya akan mati. Di tengah aku berlari ada seorang anak kecil yang menabrak kaki ku, dia menangis karna terpisah dari ibu nya. Aku tanpa pikir panjang langsung menggendong nya, aku tak perduli lagi tentang apapun yang penting aku harus selamat. Suara minta tolong dan kepanikan menggema, banyak orang orang yang terjebak material material dan bahkan meninggal di tempat karna dehidrasi dan kurang makanan. Aku tak peduli dengan ibu dari anak kecil itu, yang pasti aku harus membawa nya agar bisa hidup karna gelombang awan panas dan lahar menyapu lereng gunung dengan sangat cepat nya.
Dengan persedian makanan yang aku kumpulkan, hanya cukup untuk aku, ayah dan ibu makan 2 hari ajaa, itu pun jatah ku, aku berikan ke anak kecil tadi karna kasihan. Aku melihat banyak orang terluka, aku tak bisa membantu apa apa karna boro boro membantu,kebutuhan sendiri saja sangat lah kurang. namun Setelah aku, ayah dan ibu berhasil ke daerah yang sudah cukup aman. Aku dengan sisa tenaga ku membantu warga warga lainnya yang terluka karna tak tega, ya apalah daya aku yang terlahir sangat mudah kasihan walaupun diri sendiri juga kurang. Selama beberapa waktu aku hidup seperti pengemis, krisis pangan di sana semakin parah saja, banyak anak anak dan orang tua yang tak bisa bertahan. Ini seakan neraka bagi ku, mimpi buruk terus menghantui orang orang namun setelah beberapa waktu akhirnya warga yang tersisa dapat memulai bangkit dan membentuk sebuah desa lagi sedikit demi sedikit.
Warga warga yang mengungsi saling bekerja sama membangun wilayah baru bagi mereka sendiri dan beberapa tahun kemudian akhirnya impian mereka terwujud kan.. Sekarang aku sudah hidup bahagia bersama ibu dan bapak, aku hidup dengan bertani. Anak kecil yang ku gendong saat itu juga sekarang menjadi adik ku, umar dan keluarga juga selamat dan sekarang desa yang hancur kemarin sekarang sudah membaik. Mimpi buruk yang menghantui ku, masalah yang tak henti nya menimpa ku sekarang sudah sirna, yang ku ingat hingga kapan pun itu adalah, kalau di timpa masalah maka kamu di minta oleh Tuhan untuk mencari jalan keluar bukan nya menyerah..
Aku duduk di antara bebatuan sehabis aku membantu bapak bertani, melihat tenangnya suasana malam yang sangat sunyi. Angin bertiup pelan hingga saat aku merogoh saku celana ku tanpa sengaja, aku melihat koin penelitian ku dahulu ada di sana dengan noda darah yang sudah mengering.. Itu adalah darah ku
[TAMAT]
(Bagi yang baca diantara tanggal 5-12 November 2026 tolong berikan saya masukan karna karya ini adalah salah satu yang mau saya ajukan untuk di cetak. Terimakasih!)