Malam itu di hotel bintang 5.
Aku dateng bareng Mama, dress item rapi, rambut disanggul. Katanya mau ngenalin seseorang yang spesial. Aku pikir ya paling rekan kerja Mama, soalnya Mama kan Dokter Psikolog, circle-nya ya gitu-gitu aja.
Sampai di restoran atas, ada bapak-bapak kemeja putih udah duduk. Rapi banget. Dan di sebelahnya...
Cowok hoodie-nya di pangku, sekarang pakai kemeja putih juga. Rambutnya disisir ke belakang.
"Rakha?"
Dia noleh, matanya langsung melot.
"Alya?"
Dunia sempit banget, sumpah.
Rakha itu kakak kelas. Kelas 12. Ketua basket, yang tiap lewat lorong kelas 11 anak-anak pada bisik-bisik. Aku kenal dia karena dua minggu lalu aku dipanggil BK gara-gara berantem sama anak kelas sebelah, dan dia yang jadi saksi. Yang ngomong, "Alya duluan yang dipancing, Bu."
Sejak itu kita kayak... kenal, tapi gak deket. Canggung.
Mama sama Papanya Rakha langsung senyum-senyum liat reaksi kita.
"Loh, jadi kalian berdua udah kenal?" kata Papanya Rakha, Pak Salim.
Mama ngelirik aku, senyumnya yang senyum terapis banget, yang kalem tapi nyuruh kamu jujur.
"Kenal, Ma."
"Bagus dong," Mama bilang. Terus dia dan Pak Salim tatap-tatapan, pegangan tangan di atas meja.
Dan kompak bilang,
"Minggu depan, Mama dan Papa Salim mau nikah."
Sendok di tangan ku jatuh. Ting.
Rakha yang lagi minum langsung keselek.
"HAH?"
Aku kaget. Rakha juga. Kita ngomong barengan.
Suasana di meja itu langsung beku. Pramusaji dateng bawa steak, jadi awkward banget naruhnya.
"Mama bercanda kan?" bisikku pelan.
Mama geleng. "Mama serius, sayang. Mama tahu ini cepat. Tapi Mama sama Salim udah kenal lama. Dan Mama rasa sudah waktunya."
Pak Salim nambahin, "Papa juga tahu ini mengejutkan buat kalian. Makanya Papa mau kita dinner dulu. Biar kenal."
Aku ngelirik Rakha. Dia ngelirik aku. Tatapannya kayak bilang, tolongin gue.
Selama makan, yang ngobrol cuma orang tua kita. Bahas gedung nikah, bahas nanti tinggal dimana. Katanya rumah Pak Salim di daerah Ijen, jadi nanti Mama bakal pindah kesana. Aku... bakal pindah juga. Satu rumah sama Rakha.
Di sekolah, dia itu kakak kelas yang dingin. Di rumah nanti dia jadi apa? Kakak tiri?
Pas pulang di mobil, aku akhirnya meledak.
"Ma, kok secepat itu? Minggu depan? Alya bahkan baru tahu hari ini Mama punya pacar!"
Mama nyetir, masih kalem. Kebiasaan psikolog.
"Karena kalau Mama tunggu Alya siap, kapan siapnya? Kamu kelas 11, Rakha kelas 12 mau ujian. Mama gak mau kalian lama-lama di ketidakjelasan. Justru karena kalian sudah saling kenal, Mama pikir ini lebih mudah."
Lebih mudah katanya.
HP ku getar.
Chat dari nomor gak dikenal.
Rakha: Alya. Ini gue. Dapat nomor dari bokap.
Rakha: Lu juga kaget kan? Gila minggu depan bokap gue nikah.
Aku ketik balik.
Aku: Kaget banget. Gue kira malam ini cuma makan biasa.
Rakha: Sama. Gue kira mau dikenalin sama rekan bisnis bokap.
Rakha: Jadi... kita bakal serumah?
Aku diem lama ngeliatin chat itu. Di luar jendela, lampu hotel bintang 5 itu makin jauh.
Gimana minggu depan di sekolah? Anak-anak bakal ngomong apa kalau tau ketua basket kelas 12 sama anak kelas 11 yang tukang berantem itu bakal jadi saudara tiri?
Oke, part 2 - seminggu setelah dinner hotel itu.
Nikahnya beneran kejadian. Gak mewah, cuma akad di rumah, keluarga deket aja. Mama pake kebaya putih simpel, Pak Salim pake beskap. Aku salaman sama Pak Salim, sekarang harus manggil Papa. Rasanya aneh di lidah.
Dan resmi, aku pindah ke rumah Ijen itu.
Lantai 2. Dua kamar sebelahan, cuma kepisah dinding triplek dan satu kamar mandi sharing.
Kamar Rakha yang udah dari lama di sana, kamarku yang baru. Malam pertama, kita duduk di lantai koridor, di antara dua pintu yang masih sama-sama kebuka kardusnya.
"Gak usah drama ya," Rakha buka suara duluan.
"Gue juga gak mau drama," jawabku.
Akhirnya kita bikin kesepakatan. Tulis di kertas HVS, tempel di kulkas lantai 2.
PERJANJIAN LANTAI 2:
Di sekolah pura-pura gak sedeket itu. Kenal ya kenal, tapi jangan sampai orang tau kita serumah.
Jangan masuk kamar tanpa ketuk. 3 ketukan.
Kalau ada masalah di rumah, jangan langsung ngadu ke Mama atau Papa Salim. Selesaikan di lantai 2 dulu.
Tanda tangan. Alya. Rakha.
Kesepakatan yang gampang diucapin, susah dijalanin.
Pagi itu.
Jam 5.45 alarmku bunyi, alarm Rakha juga bunyi. Kedengeran dari kamarnya. Dindingnya emang setipis itu.
Aku mandi dulu. Seragam kotak-kotak hitam abu, kemeja putih rapi, dasi pita, rompi. Rambut sebahu ku gerai, ku jepit satu di kiri biar gak nutupin mata. Liat kaca, masih ngantuk.
Pas buka pintu, Rakha juga buka pintu di waktu yang sama.
Dia udah rapi juga. Kemeja putihnya dimasukin, dasi abu-abu, sepatu hitam kinclong. Rambutnya masih agak basah.
Kita saling liat. Canggungnya minta ampun.
"Pagi," katanya.
"Pagi, kak," jawabku, terus langsung nyesel. Kak?
Dia ketawa kecil. "Jangan kak di rumah juga, geli gue."
Di bawah, Mama dan Papa Salim udah siapin sarapan. Mama dengan mode Dokter Psikolog-nya on.
"Gimana tidur pertama kalian? Nyaman? Ada yang mau diceritain?"
"Nyaman, Ma," jawabku cepet.
"Nyaman, Tante... eh, Ma," Rakha salah ngomong, langsung salting.
Mama cuma senyum. "Adaptasi itu butuh waktu. Wajar kalau canggung."
Jam 6.15, mobil Papa Salim udah manasin di depan. Memang biasanya Rakha berangkat bareng Papanya. Sekarang aku ikut.
Di mobil, aku di belakang, Rakha di depan. Sepanjang jalan Ijen ke arah sekolah, gak ada yang ngomong. Cuma dengerin radio.
Pas udah deket lampu merah terakhir sebelum gerbang sekolah, aku langsung nyaut.
"Papa, stop sini aja."
Papa Salim bingung liat spion. "Loh, masih jauh, Lya. 200 meter lagi."
"Gak apa, Pa. Alya mau beli minum dulu di Indomaret itu. Sekalian jalan kaki, biar gak telat bareng-bareng masuk gerbang."
Rakha langsung paham. Dia noleh ke belakang.
"Yaudah, Pa, berhenti sini aja. Gue juga mau turun sini, sepatu gue kotor, mau lap dulu."
Alasan paling gak masuk akal dari Ketua OSIS.
Papa Salim nurunin kita di depan Indomaret. Begitu mobilnya belok, kita jalan dengan jarak 5 meter. Aku duluan, dia di belakang, pura-pura main HP.
Tapi ya, rencana kita se-rapi seragam kita, eksekusinya berantakan.
Baru masuk gerbang, anak kelas 11 udah manggil aku.
"Alya! Tumben bareng Rakha?"
Aku panik. "Enggak! Ketemu di jalan aja! Kebetulan!"
Rakha lewat di sampingku, sok cool, cuma bilang, "Pagi," terus jalan ke kelas 12.
Aku nafas lega. Kesepakatan hari pertama: aman.
Sampai jam istirahat, aku ke loker, mau ambil bekal. Lokerku nomor 17.
Dan di loker sebelah, nomor 18, Rakha lagi buka lokernya juga.
Kita tatapan lagi.
Dia bisik, "Ini loker gue dari kelas 10."
Aku bisik balik, "Ini loker gue dari kelas 11. Jadi kita sebelahan di rumah, sebelahan di sekolah juga?"
Kita berdua diem, terus ketawa pelan. Akhirnya yang bikin kesepakatan itu terasa konyol.Part 3 - Bekal Ketuker.
Jam istirahat pertama, bel baru bunyi 2 detik, anak-anak kelas 11 udah lari ke kantin. Aku enggak. Aku ke loker nomor 17, ngambil tas bekal.
Mama yang siapin pagi tadi. Katanya, "Mama sama Papa bikin bekal bareng biar adil."
Di kantin, aku buka.
Isinya sandwich telur, susu kotak, sama apel. Ada sticky note kecil di tutupnya.
Tulisannya: Jangan lupa latihan sore. Jangan skip makan lagi - Papa
Ini bukan tulisan Mama. Ini tulisan Papa Salim. Ini bekal Rakha.
Di sisi lain sekolah, di kelas 12, kejadian yang sama.
Rakha buka bekalnya di meja. Isinya nasi, ayam suwir kemangi, sama potongan semangka. Ada sticky note pink.
Jangan jajan es terus ya sayang, nanti batuk lagi. Love, Mama
Dia langsung tau itu bekalku. Soalnya cuma aku yang kalau batuknya kumat sampai sebulan.
HP ku getar di bawah meja kantin.
Rakha: Bekal lu di gue.
Aku: Bekal lu di gue!!! Gimana nih?
Rakha: Ketemuan di loker. Sekarang. Jangan lewat kantin, lewat perpus.
Misi penyelamatan bekal. Kedengeran gampang, eksekusinya kayak film mata-mata.
Aku masukin lagi sandwich itu, jalan nunduk-nunduk lewat lorong perpus yang sepi. Rakha udah nunggu di depan loker 17 dan 18, punggungnya ngadep tembok, pura-pura lagi cari buku.
" cepet," bisiknya tanpa noleh.
Kita tukeran tas bekal di antara dua loker, cepet banget kayak transaksi terlarang.
"Ayam suwir lu enak kayaknya," katanya pelan.
"Apel lu juga," jawabku.
Belum juga selese tukeran, dari belakang ada suara,
"Loh? Kalian ngapain?"
Nayla, temen sebangkuku. Dia bawa dua es teh, ngeliatin kita berdua dengan tatapan investigasi tingkat dewa.
Kita freeze.
Rakha yang lebih jago ngeles. Dia dengan santai angkat bekal sandwich-nya.
"Oh, ini. Tadi Alya salah ambil bekal gue di loker. Ketuker. Kan loker sebelahan."
Alasan yang... jujur banget malah jadi mencurigakan.
Nayla ngeliatin aku, ngeliatin Rakha, ngeliatin kotak bekal pink dan biru yang jelas-jelas disiapin satu dapur.
"Ohh... ketuker loker," dia angguk-angguk, tapi matanya bilang gue gak percaya.
Siang itu, aku makan ayam suwir Mama di kantin sambil ditanyain 10 kali, "kok bisa ketuker? emang rumahnya deket?"
Aku jawab, "Enggak, kebetulan aja."
Di rumah sore itu, lantai 2 lagi sepi. Mama sama Papa masih di bawah.
Aku gedor kamar Rakha. 3 ketukan. Sesuai perjanjian.
"Masuk."
Dia lagi ngerjain tryout, bekal kosongku udah dicuci rapi di mejanya.
"Gagal total perjanjian nomor satu," kataku duduk di karpet.
"Gue tau," dia ngelus kepala. "Gue kelas 12, Lya. Gue lulus 3 bulan lagi. Gue gak mau satu sekolah tau, terus jadi gosip pas gue udah pergi. Kasian lu yang ditinggalin."
Aku diem. Baru kepikiran itu. Dia mikirnya sampai kesitu.
"Terus gimana?" tanya ku.
Dia ngambil spidol, nambahin satu aturan di kertas HVS yang di tempel di kulkas lantai 2.
4. Kalau ketuker bekal lagi, tulis nama gede-gede di tutupnya.
Kita ketawa. Canggung yang kemarin, sekarang agak berkurang.
Dari bawah, suara Mama manggil, "Alya, Rakha! Turun! Makan malam!"
Dan untuk pertama kalinya, dipanggil barengan kayak gitu, rasanya gak terlalu aneh.
---
Part 4 - Liburan Pertama.
Hari Minggu. Jam 6 pagi.
Aku kira libur itu artinya bisa rebahan sampai siang di kamar lantai 2. Ternyata enggak.
Papa Salim udah teriak dari bawah, "Alya! Rakha! Banguuun! Family time!"
Family time. Dua kata yang masih asing banget di telinga.
Rencananya ke Batu. Papa bilang mau petik apel. Mama bilang itu bagus buat bonding. Ya, Mama kan psikolog, semua hal dijadiin terapi.
Di mobil, formasi masih sama. Papa nyetir, Mama di depan. Aku dan Rakha di belakang, ada jarak satu tas ransel di tengah sebagai pembatas wilayah.
Tapi kali ini gak sepi kayak kemarin. Papa nyetel playlist 2000-an. Peterpan, Dewa. Mama sama Papa nyanyi bareng, fals tapi kompak.
Aku sama Rakha saling lirik. Tahan ketawa.
"Apal," bisik Rakha pelan.
"Banget," bisikku balik.
Itu pertama kalinya kita ketawa bareng bukan karena canggung, tapi karena hal yang sama.
Sampai di kebun apel Selecta, ujiannya baru beneran dimulai.
Bukan ujian petik apel. Ujian jadi keluarga.
Mama sama Papa jalan duluan, gandengan. Tinggal kita berdua di belakang bawa keranjang.
"Lu pernah kesini?" tanya ku.
"Pernah, SD. Sama nyokap," Rakha jawab. Suaranya pelan. Itu pertama kalinya dia nyebut mamanya sendiri.
Aku gak nanya lanjut. Aku ngerti.
Terus dia nanya balik, "Lu?"
"Gak pernah. Mama dulu sibuk praktek terus. Liburan kita paling ke toko buku."
Dia angguk. Terus tiba-tiba dia narik keranjangku.
"Sini, berat. Gue bawain satu."
Aku mau nolak, tapi keranjangku emang udah penuh apel setengah.
Di tengah kebun, Papa manggil, "Rakha, Alya! Sini foto!"
Kita berdiri sebelahan. Awalnya kaku, jarak sejengkal. Mama liat, dia gak maksa. Dia cuma bilang, "Deketan dikit, nak, biar muat."
Rakha dengan awkward naruh tangannya di atas kepalaku, kayak kalau lagi ngerangkul adek kecil. Aku refleks agak nunduk.
Cekrek.
Foto pertama kita berempat.
Siang, kita makan bakso di pinggir jalan Batu, yang kuahnya ngebul. Aku kepedesan. Rakha tanpa ngomong ngasih es tehnya ke aku.
"Loh, bekalnya gak ketuker hari ini?" celetuk Papa Salim.
"Enggak, Pa. Hari ini namanya udah ditulis gede," jawab Rakha, ngelirik aku.
Mama senyum. Senyum yang beda. Senyum lega, bukan senyum psikolog.
Di mobil pulang, aku ketiduran. Kebangun karena mobil ngerem. Kepalaku ternyata nyender di jendela, tapi tas ransel pembatas wilayah itu udah gak ada di tengah. Rakha mindahin ke bagasi belakang pas aku tidur.
"Udah sampai?" tanyaku masih ngantuk.
"Belum. Macet Pandaan," kata Rakha. Dia lagi main HP, tapi volume musiknya dia kecilin.
Malamnya di lantai 2, kita duduk lagi di koridor, kayak malam pertama bikin perjanjian.
Kertas HVS di kulkas masih ada. Tapi di bawahnya, ada foto tadi siang yang udah dicetak Mama. Kita berempat, dengan Rakha rangkul kepalaku.
Aku ngambil spidol.
"Gue mau nambahin aturan," kataku.
Rakha, "Apaan lagi?"
Aku tulis di bawah aturan nomor 4.
5. Kalau apelnya kecut, boleh tukeran sama yang manis.
Rakha baca, ketawa.
"Setuju," katanya. Terus dia tanda tangan lagi di bawahnya.
Pelan-pelan, rumah yang awalnya cuma tempat numpang tidur, mulai berasa kayak rumah beneran.
Part 5 - Karantina Lantai 2.
Senin. Jam 5.30 pagi.
Lantai 2 sepi banget. Biasanya jam segini alarmku dan alarm Rakha bunyi barengan, adu keras. Hari ini cuma alarmku yang bunyi.
Aku ketok pintu sebelah. 3 ketukan. Pelan.
Gak ada jawaban.
Aku buka dikit. Rakha udah duduk di meja belajar, lampu meja nyala, buku tryout numpuk kayak benteng.
"Lu nggak sekolah?" tanyaku.
Dia noleh, matanya sembab. "Ujian sekolah mulai hari ini. Gue berangkat jam 7, pulang jam 12, terus balik lagi ngurung di sini sampai malem. Mama bilang ini mode karantina."
Oh iya. Kelas 12. Minggu penentuan.
Di bawah, cuma ada aku sama Papa Salim di meja makan.
"Rakha mana?" tanya Papa sambil tuang kopi.
"Di atas, Pa. Belajar," jawabku.
Papa angguk. "Jangan diganggu dulu ya, Lya. Dia agak stres."
Aku yang biasanya diantar berdua sama Rakha, hari ini berangkat sendirian sama Papa. Mobilnya kerasa luas banget tanpa ada orang di kursi depan yang ngeluh AC ke Dinginan.
Sampai di depan Indomaret yang itu lagi, aku bilang, "Pa, stop sini aja."
Papa Salim ketawa. "Masih main rahasia-rahasiaan? Rakha aja udah nggak ada di mobil."
Aku diem. Iya juga. Nggak ada yang perlu dirahasiain hari ini, tapi kakiku udah reflek pengen turun jauh.
Di sekolah, ujian Rakha jadi topik utama.
Nayla langsung nyamperin aku di loker 17.
"Alya, kakak lu gimana ujiannya?"
Aku kaget. "Kakak apaan?"
"Rakha lah. Kan rumah lu deket sama dia? Kemarin liat story-nya dia belajar sampai malem di kamar."
Aku langsung pasang mode perjanjian nomor satu. Pura-pura bego.
"Oh, Rakha kakak kelas? Gak tau, gue gak deket."
Nayla menyipitkan mata. "Tapi bekal kalian pernah ketuker."
"Kan gue udah bilang, lokernya sebelahan!"
Untung bel masuk. Selamat.
Pulang jam 2, rumah juga sepi. Mama praktek, Papa masih kantor. Di lantai 2, pintu kamar Rakha ketutup rapet. Ada kertas baru ditempel di luar.
MODE KARANTINA: JANGAN BERISIK. KECUALI DARURAT ATAU BAWA MAKANAN.
Aku senyum sendiri.
Aku taruh tas, ganti baju, terus turun ke dapur. Aku inget apel yang kemarin kita petik masih banyak di kulkas. Aku kupasin satu, potong kecil-kecil, taruh di piring sama garpu.
Jam 4 sore, aku ketok 3 kali. Pelan banget.
"Masuk," suara Rakha serak.
Dia masih di posisi yang sama. Buku fisika kebuka, coret-coretan dimana-mana.
"Gue bawain apel," kataku naruh piring di mejanya.
Dia liat piring itu, terus liat aku. "Thanks ya."
"Gimana ujiannya tadi?"
"Gampang-gampang susah. Pusing."
Aku duduk di karpet kamarnya, gak di kursi. Biar gak ganggu.
"Lu kalau pusing, biasanya ngapain?" tanya ku.
"Biasanya nyokap mijitin kepala gue," dia jawab pelan. Terus langsung ralat, "Eh, maksudnya..."
Aku pura-pura gak denger ralatnya.
"Ya udah sini, gue bisa kok. Dikit."
Dia ragu, tapi akhirnya duduk di lantai juga, nyender ke kasur. Aku mijit pelipisnya pelan, kayak yang biasa Mama ajarin kalau aku sakit kepala.
Gak ada yang ngomong 5 menit. Cuma suara AC.
"Enak Lya, ternyata," katanya merem.
"Jelas. Anak psikolog."
Kita ketawa kecil.
Pas aku mau balik ke kamar, dia nahan pintu.
"Lya, makasih ya udah jagain rahasia di sekolah tadi. Nayla cerita ke gue."
Aku melotot, "Lu chat-an sama Nayla?!"
"Bukan! Dia yang ngechat gue! Nanya kenapa bekal kita ketuker! Gue bilang gue gak tau!"
Kita berdua langsung panik lagi. Perjanjian nomor satu kita bocor alus.
Tapi anehnya, paniknya sekarang bukan karena takut ketahuan. Paniknya karena... kita udah mulai gak mau pura-pura gak kenal lagi.
Malam itu, aku nambahin aturan lagi di kertas kulkas.
6. Selama karantina, apel gratis. Mijit bayar pakai jawaban PR Matematika.
Rakha baca dari kamarnya, teriak, "MAHAL BANGET!"
Dari bawah, Mama teriak, "Anak-anak lantai 2! Berisik!"
Kita langsung diem, terus cekikikan pelan-pelan di balik pintu masing-masing.
Pelan-pelan, nerima keadaan ternyata gak serumit yang kita kira.
Part 6 - Pengumuman Kedua.
Hari terakhir ujian Rakha.
Aku udah stand by di gerbang sekolah sejak jam 11.30, padahal dia keluar jam 12. Anak kelas 11 pada ngeliatin, "Alya nungguin siapa?"
Aku jawab, "Nungguin kakak."
Untuk pertama kalinya aku ngomong itu tanpa ragu.
Jam 12.15, anak kelas 12 keluar kayak tawanan bebas. Teriak-teriak, coret-coret seragam. Di tengah kerumunan itu, Rakha jalan santai, seragamnya masih rapi, cuma dasinya dilonggarin. Dia liat aku, langsung angkat tangan.
"Gimana?" tanyaku lari nyamperin.
"Lolos. Kayaknya," dia ketawa. Lega banget mukanya. Beban 3 tahun lepas.
Di rumah, Mama sama Papa Salim udah rapi. Mama pake dress yang sama kayak waktu dinner pertama di hotel bintang 5 itu. Papa pake kemeja putih yang sama.
"Siap-siap ya, malam ini kita dinner lagi di tempat yang sama," kata Mama.
Aku sama Rakha langsung saling tatap.
Deja vu.
"Mah... jangan bilang mau nikah lagi?" celetuk Rakha.
Mama ngak. "Sekali aja cukup."
Jam 7 malam, meja yang sama. Restoran atas hotel bintang 5 yang sama. Bahkan pramusajinya masih sama.
Aku duduk sebelah Rakha. Kali ini gak ada jarak. Dulu kita duduk berhadapan sama orang tua masing-masing. Sekarang kita duduk sebelahan, ngadep Mama sama Papa.
Makanan dateng. Steak lagi.
Papa Salim dehem. Mama pegang tangan Papa di atas meja, persis kayak dulu.
"Jadi, Mama sama Papa ada pengumuman," kata Papa.
Aku sama Rakha refleks tahan napas. Trauma pengumuman pertama.
Mama senyum, senyumnya yang paling tulus yang pernah aku liat.
"Mama hamil. 8 minggu."
Sunyi.
Bukan sunyi kaget kayak dulu yang sendok jatuh. Sunyi yang... menggantung.
Aku yang pertama pecah.
"Hah? Serius Ma?"
Mama angguk, matanya berkaca-kaca. "Serius, sayang."
Aku noleh ke Rakha. Dia diem, matanya juga kaget. Tapi bukan kaget nolak. Kaget yang lain.
Papa Salim nambahin, "Papa tahu ini cepat. Baru nikah, Rakha baru lulus, Alya masih kelas 11. Tapi... Papa sama Mama dikasih rezeki lagi."
Rakha akhirnya ngomong, pelan, "Jadi... gue... bakal jadi kakak?"
Papa angguk. "Kita semua bakal jadi kakak."
Kalimat itu yang bikin semuanya klik.
Sebulan lalu, kita dua orang asing yang dipaksa serumah. Bikin perjanjian di kertas HVS biar gak berisik. Sembunyi-sembunyi turun di Indomaret.
Sekarang, kita bakal jadi tim. Jadi kakak bareng-bareng.
Aku ngerasain tangan Rakha di sebelahku, dia nepuk punggung tanganku sekali. Cepet. Canggung. Tapi jelas.
"Gue bakal ajarin dia main basket," bisik Rakha ke aku.
"Kalau cewek gimana?" bisikku balik.
"Ya tetep gue ajarin basket."
Kita ketawa bareng. Mama sama Papa yang tadinya tegang, langsung lega liat kita ketawa.
Di mobil pulang, gak ada lagi tas ransel pembatas di tengah. Aku nyender di jendela, Rakha nyender di jendela sebelahnya, di tengah ada foto USG kecil yang Mama kasih.
"Jadi gimana perjanjian lantai 2?" tanya ku.
Rakha mikir. "Harus ditambah."
Sampai rumah, kita naik ke lantai 2. Kertas HVS itu masih nempel di kulkas.
Aku ambil spidol, tulis paling bawah dengan huruf paling gede.
7. Mulai sekarang, kita bukan cuma jagain rahasia. Kita jagain adek.
Rakha tanda tangan. Aku tanda tangan.
Di bawahnya, ada coretan kecil baru dari Mama, yang ternyata udah naik duluan pas kita di mobil.
Mama dan Papa sayang kalian berdua. Terima kasih sudah pelan-pelan menerima. - Mama & Papa
Ujian sebenarnya baru dimulai, tapi kali ini, kita ngerjainnya bareng-bareng.
Epilog - 3 Tahun Kemudian.
Lantai 2 sekarang gak berisik lagi.
Kamar nomor 18, kamar Rakha, catnya udah ganti jadi kuning muda. Isinya bukan poster basket lagi, tapi karpet puzzle, box mainan, dan satu kasur bayi yang sekarang udah kekecilan.
Kamar nomor 17, kamarku, masih sama. Tapi aku udah jarang tidur di sana. Seminggu 5 hari aku di kos dekat kampus, soalnya aku kuliah Psikologi sambil kerja part time jadi admin di klinik Mama.
Rakha? Dia udah kerja. Lulus arsitektur tahun lalu, sekarang kerja di biro arsitek di Malang. Gak jauh dari rumah Ijen. Dia gak ngekos, tapi dia udah gak di lantai 2 lagi. Dia pindah ke kamar bawah yang dulu gudang, biar adek bisa punya kamar sendiri di atas.
Adek. Namanya Arka. 2,5 tahun. Cowok. Persis campuran Mama sama Papa Salim. Berisiknya ngalahin aku sama Rakha kalau lagi berantem dulu.
Hari ini Minggu. Anniversary Mama sama Papa yang ke-3. Kita janjian dinner lagi di hotel bintang 5 yang sama. Meja yang sama.
Aku dateng telat, habis shift klinik. Masih pake kemeja putih, celana bahan hitam. Rambut sebahu ku sekarang udah lebih panjang, gak dijepit satu lagi.
Rakha udah di lobi. Pake kemeja kotak-kotak, bukan seragam SMA lagi. Rambutnya udah gak disisir rapi ke belakang kayak anak OSIS. Lebih berantakan, lebih dewasa.
Kita liat-liatan.
"Anjir, rapi amat," kataku.
"Lu juga," dia ketawa.
Ini yang Mama maksud dulu mungkin, ketemu versi lain. Bukan kita yang canggung di antara dua pintu kamar dengan kertas HVS. Ini kita yang lain. Yang udah kerja. Yang udah bisa pesen steak tanpa liat harga dulu.
"Kangen lantai 2 gak?" tanya ku di lift.
"Kangen berisiknya," jawab Rakha. "Sekarang gue di bawah, denger Arka nangis aja dari jauh. Dulu denger lu gebrak pintu kalau gue pinjem charger gak balik."
"Lu emang nyebelin dari dulu."
"Lu juga."
Lift kebuka. Meja yang sama. Mama sama Papa udah duduk, Arka di high chair, mukanya belepotan roti.
Mama liat kita berdua jalan bareng, langsung senyum. Senyum yang dulu senyum psikolog, sekarang senyum ibu yang capek tapi bahagia.
"Mana nih kakak-kakak teladan?" sapa Papa Salim.
Rakha langsung ngambil alih, gendong Arka. Arka langsung nempel. Alya, eh, Aku langsung beresin tisu-tisu yang jatuh.
Dulu, kita yang dijagain. Sekarang, kita yang jagain.
Di tengah makan, aku ke toilet. Pas balik, aku liat Rakha lagi di pojok restoran, ngobrol sama pramusaji yang sama kayak 3 tahun lalu.
"Mas, masih inget kita?" kata Rakha.
Pramusajinya ketawa, "Ingat dong. Yang dulu sendoknya jatuh. Sekarang udah bawa anak ya?"
Rakha geleng, "Bukan anak saya, Mas. Adek saya."
Aku dateng, "Anak kita, Mas. Bertiga."
Pramusajinya bingung, kita ketawa.
Malemnya, habis dinner, kita pulang. Aku sama Rakha naik ke lantai 2, cuma buat nostalgia. Kulkas kecil yang dulu ada kertas perjanjian, masih ada. Kertas HVS-nya udah kuning, pinggirnya sobek.
Di sekolah pura-pura gak deket.
Jangan masuk kamar tanpa ketuk.
Jangan ngadu.
Tulis nama di bekal.
Apel kecut boleh tuker yang manis.
Apel gratis, mijit bayar PR.
Jagain adek.
Rakha ngambil spidol yang udah kering tintanya.
Dia nulis di bawah, agak miring.
8. Kalau udah kerja, jangan lupa pulang Minggu. Lantai 2 kangen.
Aku tanda tangan. Dia tanda tangan.
Di bawahnya, ada coretan baru dari Arka pake crayon. Gak kebaca, tapi Mama pernah bilang itu tulisannya "kakak".
Kita bukan lagi Alya kelas 11 dan Rakha kelas 12 yang dipaksa jadi saudara tiri.
Kita sekarang Alya dan Rakha, yang milih buat tetap jadi saudara, bahkan setelah udah gak serumah lagi.
Selesai.