Namaku Nara, dan bangku sebelahku kosong selama 30 hari.
Bukan kosong dalam arti harfiah. Secara fisik, ada yang duduk di sana. Namanya Dinda. Anak pindahan dari Jakarta, wangi vanilla, rambutnya diikat dua, tulisannya rapi seperti cetakan komputer. Dia baik. Terlalu baik sampai aku merasa bersalah karena membencinya tanpa alasan.
Tapi bagiku, bangku itu tetap kosong. Karena kayu meja yang sudah terkelupas di sudut kanan itu, coretan-coretan kecil berbentuk roket dan tulisan "BIMA WAS HERE 10-B" yang diukir pakai jangka, dan satu titik bekas lem alteco yang dulu kami pakai untuk memperbaiki gagang kacamata Bima yang patah - semua itu bukan milik Dinda. Itu milik orang yang seharusnya duduk di sana, yang sekarang butuh 8 jam naik kereta ekonomi untuk bisa kutemui, kalau pun dia masih mau ditemui.
Namanya Bima Pratama.
Bima bukan cowok yang akan kamu lirik pertama kali kalau kamu masuk ke kelas 10-B. Dia bukan ketua OSIS yang pidatonya berapi-api, bukan kapten basket yang disoraki satu sekolah, bukan anak olimpiade yang namanya dipajang di mading. Dia cuma anak dengan nomor absen 7, tepat setelah aku nomor absen 6. Karena itulah kami duduk sebelahan selama dua tahun. Alasan paling bodoh dan paling takdir sekaligus: alfabet.
Awalnya aku benci setengah mati.
Dia berisik. Dia datang selalu 7.05, lima menit setelah bel, dengan alasan yang tidak pernah masuk akal. "Maaf Bu, tadi ada kucing melahirkan di selokan, saya harus jadi bidannya." Dia suka minjem penghapus dan tidak pernah dibalikin. Penghapusku yang bentuknya stroberi, yang bentuknya roti, yang aku beli di Gramedia dengan uang jajan yang kukumpulkan seminggu, hilang satu per satu masuk ke dalam laci mejanya yang seperti lubang hitam.
Dia suka nanya hal bodoh waktu guru lagi serius-seriusnya nerangin. Pernah waktu Bu Ratna lagi nerangin hukum gravitasi Newton dengan penuh penghayatan, dia angkat tangan. "Bu, kalau gravitasi itu gaya tarik, kenapa kita masih bisa putus, Bu? Bukannya harusnya terus nempel?" Satu kelas meledak ketawa. Bu Ratna yang galak pun sampai terdiam, lalu ikut ketawa. Aku yang duduk di sebelahnya cuma bisa melotot dan mencubit lengannya sampai merah.
Tapi lama-lama, aku hafal semua kebisingannya. Dan tanpa sadar, kebisingan itu jadi jam dindingku.
Kalau Bima belum datang jam 7.05, berarti hari itu hujan deras di kompleknya di ujung kota dan angkotnya mogok. Kalau dia datang dengan rambut masih basah dan sepatunya berlumpur, berarti dia lari dari gerbang sampai kelas karena takut dicatat BK. Kalau dia datang bawa dua roti cokelat dari kantin Bu Yati yang harganya 5000-an, berarti satu untukku, diletakkan diam-diam di atas kamusku tanpa ngomong. Selalu begitu. Tidak pernah meleset.
Kelas 10 kami lalui dengan perang dingin dan perang penghapus. Kelas 11 adalah tahun terbaik dalam 17 tahun hidupku. Bukan karena nilaiku yang akhirnya bisa stabil di ranking 1 paralel, tapi karena setiap hari dari jam 7 sampai jam 3 sore, ada Bima.
Kami punya ritual kecil yang tidak pernah kami omongkan ke siapa pun, bahkan ke sahabat kami masing-masing. Ritual itu ilegal menurut aturan sekolah, makanya kami sebut "Operasi Buku Ilegal".
Setiap jam istirahat kedua, jam 11.30, saat semua anak menyerbu kantin untuk berebut gorengan, kami tidak ke sana. Kami naik ke perpustakaan lantai 3 yang paling sepi, paling panas, di pojok belakang rak ensiklopedia Britannica tahun 1998 yang tidak pernah disentuh orang karena bukunya berat dan berdebu.
Di balik rak nomor 17, ada celah antara dinding dan lemari yang cukup untuk dua orang duduk bersila. Di sana kami sembunyikan satu buku tulis lusuh warna biru, yang covernya sudah kami bungkus dengan kertas kado bekas ulang tahunku biar tidak kelihatan seperti buku tulis.
Kami sebut "Buku Ilegal". Isinya bukan catatan Fisika atau rumus Matematika. Isinya adalah daftar hal-hal bodoh, mustahil, dan terlalu indah yang ingin kami lakukan kalau sudah lulus nanti. Kami membuatnya seperti perjanjian.
Aturannya: Bima nulis di halaman ganjil, aku di halaman genap. Harus bergantian. Tidak boleh mengintip sebelum yang lain selesai nulis.
Bima: 1. Beli motor bekas Honda Astrea, dicat ulang warna biru langit, keliling Jawa sama Nara. Nara gak boleh takut naik motor.
Aku: 2. Kuliah di kota yang sama, jurusan bebas, tapi kosnya harus sebelahan biar bisa minjem mie instan.
Bima: 3. Nonton konser pertama. Band apa aja. Nara harus tutup telinga kalau suaraku ikut nyanyi karena suaraku jelek.
Aku: 4. Bima harus berhenti manggil aku 'Nara Lelet' karena aku gak lelet, aku cuma detail.
Bima: 5. Kalau Nara nangis lagi gara-gara dimarahin Mama karena pulang telat, Bima boleh peluk 10 detik. Tidak lebih, karena lebih dari itu haram kata Pak Ustadz, dan Bima gak mau masuk neraka sendirian.
Daftar itu terus bertambah. Sampai nomor 10, 20, 50.
23. Bikin film pendek tentang bangku kosong.
34. Belajar masak nasi goreng tanpa bikin gosong, Bima yang ajarin.
56. Foto berdua pakai seragam SMA di hari terakhir, harus yang paling jelek biar lucu.
62. Kalau salah satu dari kita suka sama orang lain, harus jujur duluan di buku ini.
Di nomor 62 itu, kami berdua diam lama. Aku tidak menulis balasan selama tiga hari. Bima juga mencoret-coret nomor 62 itu sampai bolong.
Kami tidak pernah membahas siapa yang kami suka. Karena kami sama-sama pengecut.
Daftar itu sampai nomor 87. Nomor 87 ditulis Bima dua hari sebelum bencana itu datang. Tulisannya tidak seperti biasanya yang besar-besar dan miring ke kanan. Tulisannya gemetar, kecil, seperti ditulis sambil menahan sesuatu.
Aku masih ingat hari itu dengan sangat jelas, seperti baru kemarin sore. Hujan deras sekali dari jam 6 pagi. Langit gelap seperti jam 7 malam. Petir menyambar-nyambar. Guru BK kami, Pak Hendra, masuk ke kelas kami di jam pertama dengan wajah kaku, jas hujannya masih meneteskan air ke lantai kelas.
"Anak-anak, ada pengumuman penting. Mohon tenang sebentar."
Satu kelas yang tadinya berisik karena hujan langsung diam.
"Bima Pratama akan pindah mengikuti orang tuanya ke Surabaya mulai minggu depan. Karena perpindahan dinas ayahnya yang mendadak. Jadi hari ini dan besok adalah hari terakhir Bima di 11-B. Beri tepuk tangan untuk Bima, semoga sukses di tempat baru."
Satu kelas tepuk tangan. Ada yang bersorak "Huuu" bercanda. Ada yang langsung bilang "Traktiran dulu dong!"
Aku tidak tepuk tangan. Tanganku dingin, sedingin es yang ada di dalam peti es kantin. Darahku seperti berhenti mengalir ke jari-jari. Aku menatap Bima yang duduk di sebelahku.
Bima menunduk dalam. Dalam sekali sampai dagunya hampir menempel ke dadanya. Dia tidak menatapku sama sekali. Dia hanya memainkan ujung seragamnya yang sobek di bagian kancing kedua, sobek yang sudah ada sejak 3 bulan lalu dan tidak pernah dia jahit karena dia bilang "sobeknya artistik". Bahunya naik turun pelan, seperti menahan napas.
Bel istirahat berbunyi. Bel itu biasanya adalah penyelamat kami. Tapi hari itu bel itu seperti alarm kebakaran.
Aku tidak peduli hujan. Aku menarik tangan Bima dengan kasar. "Ikut aku."
Aku menariknya lari ke perpustakaan lantai 3. Kami basah karena melewati selasar yang bocor. Sampai di pojok rahasia kami, napasku terengah-engah bukan karena lari, tapi karena marah dan takut.
"Kenapa kamu gak bilang?" tanyaku. Suaraku hampir tidak keluar, tercekat di tenggorokan. "Kenapa aku harus tau dari Pak Hendra? Kenapa bukan dari kamu?"
Bima masih menunduk. Air hujan menetes dari rambutnya ke buku tulis biru yang ada di pangkuannya.
"Bilangnya gimana, Ra?" jawabnya pelan, suaranya pecah. "Aku baru tau semalam. Jam 10 malam. Bapakku bilang, surat pindahnya keluar mendadak. Harus minggu depan. Aku... aku mau bilang tadi pagi, tapi kamu keburu ngomel karena aku minjem pulpen gel kamu yang warna pink gak dibalikin. Kamu bilang aku maling kecil. Jadi aku gak jadi ngomong."
Aku melempar Buku Ilegal itu ke dadanya. Buku itu yang selama ini kami jaga seperti harta karun. "Terus ini apa? Nomor 1 sampai 87 ini apa? Bohong semua? Kamu nulis nomor 1 sampai 87 cuma buat lucu-lucuan?"
Dia menangkap buku itu dengan kedua tangan. Membukanya. Lama dia diam menatap halaman terakhir yang dia tulis. Halaman ganjil nomor 87.
Dia akhirnya membaca dengan suara lirih, hampir tidak terdengar karena hujan di atap seng perpustakaan.
Nomor 87: _Maaf. Ternyata jarak itu ada. Dan aku benci Fisika karena gak bisa ngitung cara ngalahin jarak. Jarak Surabaya-Jakarta._
Air mataku yang kutahan sejak di kelas akhirnya jatuh. Deras. Tidak bisa dibendung. Pertama kalinya aku menangis di depan Bima tanpa menutup wajah, tanpa malu, tanpa gengsi ranking 1.
Bima panik. Dia melakukan hal yang selama ini hanya ada di dalam tulisan nomor 5. Hal yang tidak pernah kami lakukan di dunia nyata. Dia memelukku. 10 detik. Pas. Dia menghitung dalam hati dengan suara pelan: "Satu... dua... tiga..." Aku bisa mendengar detak jantungnya kencang sekali di telingaku, mengalahkan suara hujan. Detaknya tidak beraturan.
"Jangan nangis, Nara Lelet. Jelek tau kalau nangis. Hidung kamu meler," bisiknya di detik ke-9. Di detik ke-10 dia melepaskannya, persis seperti janji.
"Kalau kamu pindah, siapa yang minjem penghapus aku? Siapa yang bakal ngatain aku lelet?" kataku sesenggukan, ingusku sudah tidak bisa ditahan.
"Aku janji. Aku akan balikin semua. Lewat pos. Satu-satu. Biar kamu kangen," katanya sambil mencoba tertawa, tapi matanya merah.
Hari terakhir Bima yang dijanjikan besok itu tidak pernah datang. Besoknya, bangkunya kosong. Wali kelas bilang Bima sudah harus berangkat pagi-pagi sekali jam 4 subuh untuk kejar kereta agar bisa langsung urus pindah sekolah di sana. Dia hanya menitipkan surat kecil ke wali kelas untukku. Suratnya pendek, ditulis di kertas ulangan Harian Matematika yang nilainya 60, nilai terburuk Bima yang pernah dia dapat karena dia tidak belajar gara-gara menemaniku lomba debat.
Tulisannya:
Nara Lelet yang ranking 1,
"Maaf aku gak berani pamitan langsung. Aku takut kalau lihat kamu nangis lagi, aku jadi gak mau pindah. Aku takut jadi anak durhaka gak nurut Bapak. Buku Ilegal aku bawa ya, biar aku bisa lanjutin daftarnya dari Surabaya. Kamu lanjutin dari sini di buku baru. Nanti kalau daftarnya ketemu di tengah, kita ketemu lagi. Janji. Jangan dilupain."
Teman sebangkumu yang selalu ngeselin dan tukang maling penghapus,
Bima.
Sejak itu 30 hari berlalu. Dan setiap hari adalah pelajaran baru tentang bagaimana rasanya kehilangan tanpa kematian.
Hari pertama tanpa Bima, aku masih menyimpan satu penghapus stroberi di sudut meja untuknya, berjaga-jaga kalau Dinda tidak sengaja memakainya. Aku masih menoleh ke kanan setiap jam 7.05.
Hari kelima, Dinda yang duduk di sebelahku yang baik itu akhirnya komplain pelan karena mejaku berantakan penuh coretan-coretan kecil Bima yang tidak aku hapus. "Nara, boleh aku hapus coretan roket ini? Soalnya mau aku pakai buat nulis rumus." Aku bilang jangan. Dia diam, mungkin menganggapku aneh.
Hari kesepuluh, aku dapat paket pos dari Surabaya. Tidak ada nama pengirim, tapi aku tau tulisan tangannya. Isinya 12 penghapus yang dia pinjam selama 2 tahun, lengkap dengan yang sudah hilang setengah dan yang sudah dipotong-potong jadi kecil. Ada catatan kecil di atasnya dengan selotip: "Lunas ya. Bunga penghapusnya 1 tisu. Jangan kangen berat-berat."
Aku memeluk paket itu di kamar sampai Mama mengira aku kesurupan.
Hari kedua puluh, aku menyerah. Aku buka chat WhatsApp kami. Foto profilnya masih foto dia pakai seragam yang sobek itu, peace dua jari. Terakhir dia online 2 hari lalu. Aku ketik dengan jari gemetar: "Daftar nomor 88 apa? Aku udah beli buku baru warna biru juga." Centang dua, abu-abu. Tidak dibalas sampai malam. Sampai besoknya. Sampai 10 hari kemudian.
Aku mulai membenci Surabaya. Aku mulai membenci jarak.
Hari ini hari ke tiga puluh. Tepat satu bulan. Aku memberanikan diri ke perpustakaan lantai 3 lagi. Sendirian. Tidak ada yang menarik tanganku.
Buku Ilegal sudah tidak ada. Rak ensiklopedia itu berdebu tebal. Celah tempat kami duduk sudah ditempati kardus-kardus buku baru.
Aku duduk di lantai yang dingin itu, di tempat kami biasa duduk bersila sampai kaki kesemutan. Aku bawa buku tulis baru. Warna biru juga, sama persis. Aku beli 3 di Gramedia kemarin. Aku tulis sendirian dengan air mata yang jatuh ke kertas.
_88. Bima harusnya ada di sini dan bilang "Nara Lelet, tulisan kamu jelek."_
_89. Bima harusnya minjem penghapus lagi hari ini._
_90. Bima harusnya ngajak bolos ke perpus lagi..._
Aku tidak bisa melanjutkan. Dadaku sesak seperti diremas. 30 hari menahan rindu itu ternyata lebih berat daripada 2 tahun menahan sebal.
Tiba-tiba HP ku yang ada di sebelahku bergetar hebat. Layarnya menyala. Nama yang sudah 30 hari tidak menyala itu muncul.
BIMA PRATAMA sedang melakukan panggilan video.
Tanganku gemetar hebat sampai hampir menjatuhkan HP. Jantungku berdegup seperti mau keluar. Aku usap air mata dan ingusku dengan lengan baju dan mengangkatnya.
Wajah Bima muncul di layar. Tapi bukan Bima yang aku kenal.
Dia kurus sekali. Tulangnya menonjol di pipi. Kepalanya botak plontos, tidak ada rambut berantakan kesayangannya itu. Dia pucat, pucat seperti kertas HVS. Dia ada di sebuah ruangan putih yang silau. Bukan kamarnya yang penuh poster. Ada selang oksigen di hidungnya. Ada infus di tangannya. Di belakangnya ada mesin yang berbunyi tit... tit... tit...
"Nara Lelet," suaranya serak, sangat serak, tapi senyumnya masih sama, senyum miring berantakan yang selalu mengejekku.
"Bima? Ya Allah, Bima? Kamu di mana? Kamu sakit? Kamu kenapa botak? Kamu..." Aku panik, kata-kataku berantakan. Air mataku yang baru berhenti, mengalir lagi lebih deras.
Dia batuk. Batuk yang dalam dan menyakitkan. "Di Surabaya. Di rumah sakit. Rumah Sakit... Dr. Soetomo. Maaf ya, baru bisa hubungin kamu sekarang. HP ku disita Mama dari hari pertama. Katanya aku harus istirahat total, gak boleh main HP."
"Rumah sakit kenapa? Kamu kenapa di rumah sakit? Kecelakaan?"
Dia diam sebentar, menatapku dari layar dengan mata yang sudah cekung tapi masih berbinar. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Aku gak pindah karena Bapakku dipindah dinas, Ra."
Satu kalimat itu membuat seluruh perpustakaan, seluruh sekolah, seluruh dunia berhenti berputar.
"Terus? Kenapa?"
"Aku sakit. Dari kelas 10 akhir, setelah libur semester. Leukemia. Kanker darah stadium akhir. Dokter di sini bilang aku harus kemoterapi intensif di Surabaya karena di sana ada rumah sakitnya yang lengkap. Di Jakarta gak bisa. Bapakku bohong ke sekolah biar anak-anak di kelas gak kasihan sama aku. Biar mereka inget aku sebagai Bima yang ngeselin. Aku juga yang minta. Aku gak mau kamu tau. Aku mau kamu inget aku sebagai Bima yang tukang maling penghapus, bukan Bima yang botak, muntah-muntah, dan sekarat."
Kata-kata itu jatuh satu per satu seperti jarum yang ditusukkan ke jantungku. Pelan, dalam, dan mematikan.
Leukemia. Kanker. Kemoterapi. Botak. Pucat. Selang.
Semua teka-teki 30 hari ini, semua tanda-tanda yang aku anggap sepele, terjawab dalam satu panggilan video 3 menit.
Kenapa dia pucat di minggu terakhir sebelum pindah. Kenapa dia sering izin tidak masuk dengan alasan demam. Kenapa dia sering mimo di kelas karena mual. Kenapa dia menulis nomor 87 dengan tangan gemetar. Kenapa dia tidak berani pamitan langsung.
Dia bukan pindah. Dia pergi untuk berjuang hidup.
Aku tidak bisa bicara. Aku hanya bisa menangis dengan suara yang kutahan, dengan mulut terbuka, tanpa suara, di lantai perpustakaan yang berdebu itu. Di layar, Bima juga menangis. Air matanya mengalir di pipinya yang tirus.
"Eh, jangan nangis. Jelek tau kalau nangis. Hidung kamu meler lagi," katanya lagi, kalimat andalannya yang selalu dia pakai setiap kali aku menangis.
"Kenapa kamu bohong, Bim? Kenapa kamu gak bilang dari awal? Kita punya Buku Ilegal sampai nomor 87! Kita janji mau sampai 100! Kita janji mau kuliah bareng! Kenapa kamu pergi sendirian?" aku berteriak, suaraku pecah, tidak peduli kalau ada pustakawati yang mendengar.
"Aku tau. Makanya aku bawa bukunya. Aku udah lanjutin sampai nomor 99 di sini, di rumah sakit, waktu aku lagi gak muntah. Mau dengerin? Ini tugas terakhirku sebelum tidur lama." Dia mengambil Buku Ilegal kami yang lusuh itu dari samping bantalnya. Buku itu ada di pangkuannya yang kurus. Covernya yang dibungkus kertas kado itu sudah sobek.
Dia membukanya dengan tangan yang berinfus dan gemetar hebat.
Dia membacakan dengan suara pelan, terbata-bata, tapi jelas:
_88. Nara harus tetap ranking 1, biar ada yang ngalahin. Jangan kasih Dinda ranking 1._
_89. Nara gak boleh nangis lama-lama, maksimal 5 menit, karena nanti matanya bengkak._
_90. Nara harus buang semua penghapus pinjaman Bima yang di paket itu, karena Bima mau minjem yang baru nanti kalau sembuh._
_91. Nara harus tetap ke perpustakaan lantai 3, biar tempat kita gak berdebu._
_..._
_98. Nara harus janji, gak boleh lupain Bima._
_99. Kalau Bima gak ada, Nara harus tetap nulis daftar ini sampai 100, sendirian gak apa-apa. Bima akan baca dari atas._
Dia berhenti di nomor 99. Napasnya berat sekali. Mesin di belakangnya berbunyi lebih cepat. Tit tit tit tit.
"Nomor 100 kamu yang tulis ya, Ra. Aku kasih tugas terakhir sebagai teman sebangku yang tukang maling penghapus. Tulis yang bagus ya, yang bikin aku bangga."
Aku mengangguk sambil menangis sejadi-jadinya, air mataku sudah menggenang di layar HP. "Iya. Iya, aku tulis. Aku tulis sekarang. Kamu jangan matiin teleponnya dulu, Bim. Jangan dulu. Ceritain lagi nomor 88 sampai 99, aku belum denger jelas."
Dia tersenyum. Senyum paling tulus, paling damai, paling ikhlas yang pernah aku lihat selama 2 tahun duduk di sebelahnya. Senyum yang tidak ada beban.
"Nara, makasih ya udah jadi sebelah bangkuku selama 2 tahun. Itu adalah 2 tahun terbaik dalam hidupku yang pendek ini. Makasih ya..."
Video call terputus.
Tulisan di layar: Panggilan Video Berakhir. Durasi 4:12.
Aku coba telepon balik dengan tangan yang gemetar hebat. Tidak diangkat. "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." Aku coba lagi. Lagi. Lagi. Sampai 20 kali. Tidak aktif.
Sore harinya, jam 5.30, saat aku masih duduk di lantai perpustakaan yang sudah gelap, aku dapat telepon dari nomor tak dikenal dengan kode area Surabaya.
Suara seorang ibu paruh baya, serak karena menangis. "Halo, Nara ya? Ini Mama Bima. Kamu Nara teman sebangku Bima ya?"
"Iya, Tante, saya Nara... Bima mana Tante? HP nya mati..."
"Bima sudah tidak ada, Nak. Tadi siang. Jam 2 siang, 10 menit setelah video call sama kamu. Dia... dia pergi dengan tenang. Dia senyum. Dia sempat bilang, dia senang sekali bisa video call sama kamu. Dia titip ini. Dia bilang kamu harus tulis nomor 100. Dia bilang kamu ranking 1 tercantik kalau nangis, tapi jangan sering-sering."
Dunia menjadi senyap. Tidak ada suara hujan. Tidak ada suara mesin. Tidak ada suara detak jantungku. Yang ada hanya denging panjang.
Aku pulang ke rumah dengan langkah gontai seperti mayat hidup. Aku tidak makan malam. Aku kunci kamar. Aku buka buku tulis biru baruku yang masih kosong. Aku buka halaman terakhir. Tangan ku gemetar hebat sampai pulpenku hampir jatuh.
Aku menulis nomor 100 dengan air mata yang menetes dan membuat tintanya luntur.
100. Ternyata jarak terpendek antara dua orang bukan bangku sebelah, tapi doa. Dan ternyata daftar kita tidak berakhir di 100, Bim, tapi akan terus aku lanjutin sampai aku menyusulmu. Sampai ketemu lagi di sebelah bangku yang tidak akan pernah kosong lagi di surga nanti. Tunggu aku di sana, jangan maling penghapus orang lain.
"Teman sebangkumu selamanya, Nara."
Bangku sebelahku di kelas 12-B besok masih akan ada Dinda yang wangi vanilla. Guru akan tetap menerangkan gravitasi. Bel akan tetap berbunyi jam 7.00.
Tapi di hatiku, bangku itu akan selalu kosong dan penuh dalam waktu yang bersamaan. Kosong karena tidak ada lagi yang akan menarik bajuku dan bilang "Nara Lelet", dan penuh karena di sana pernah duduk seseorang yang mengajarkanku bahwa 30 hari bisa terasa seperti 30 tahun kalau yang pergi adalah alasanmu datang ke sekolah setiap pagi.
Dan aku akan tetap datang ke sekolah setiap pagi, untuk menjaga bangku itu tetap penuh.