SEMUA YANG KUMAU ADA PADAMU
Cerpen Kai × Yura
1. Laki-Laki yang Terlalu Ramah
Yura memiliki satu masalah.
Bukan karena pekerjaannya menumpuk, bukan pula karena sahabatnya terus-menerus meminjam uang tanpa ingat mengembalikan.
Masalahnya bernama Kai.
Laki-laki itu memiliki senyum yang seharusnya dikenai pajak. Terlalu menawan untuk dibiarkan berkeliaran bebas, apalagi ketika ia menggunakannya kepada setiap perempuan yang ditemuinya.
Pagi itu, Yura melihat Kai berdiri di depan kedai kopi. Kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku, rambut sedikit berantakan, dan senyum santai yang membuat dua perempuan di hadapannya tertawa.
Salah satu perempuan bahkan memukul pelan lengannya.
Kai tertawa.
Yura berhenti melangkah.
"Oh."
Hanya satu kata, tetapi mengandung kekecewaan yang cukup untuk membatalkan tiga pernikahan.
"Kenapa?" tanya sahabatnya, Rena.
"Nggak apa-apa."
"Kamu menatap Kai seperti baru memergoki suamimu membawa pulang istri kedua."
Yura meliriknya. "Aku bahkan belum punya suami."
"Nah, berarti masih ada waktu untuk menyelidiki."
"Siapa yang mau menyelidiki?"
Rena menunjuk wajahnya. "Perempuan yang sejak tadi menatap laki-laki itu seolah ingin memesan peti mati untuknya."
Yura mendengus, lalu berjalan melewati kedai kopi dengan dagu terangkat.
Ia tidak peduli.
Sama sekali tidak.
Bahkan ketika Kai menyadari kehadirannya dan memanggil namanya.
"Yura!"
Ia terus berjalan.
"Yura, sepatu kamu bagus!"
Langkah Yura melambat sepersekian detik.
Sial.
Laki-laki itu bahkan memperhatikan sepatunya.
"Terima kasih," jawabnya tanpa menoleh.
"Kamu marah?"
"Nggak."
"Kalau nggak marah, kenapa jalannya seperti mau menagih utang negara?"
Yura akhirnya berhenti dan berbalik.
Kai berdiri beberapa langkah darinya, kedua tangan masuk ke saku celana. Senyumnya masih ada, seolah hidup tidak pernah memberinya masalah yang cukup serius untuk menghilangkan kebiasaan itu.
"Kamu selalu begini kepada semua perempuan?" tanya Yura.
Kai mengangkat alis. "Begini bagaimana?"
"Ramah. Perhatian. Suka memuji."
"Oh." Kai mengangguk pelan. "Kamu juga mau dipuji?"
Yura terdiam.
Laki-laki itu menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, bukan dengan cara yang membuatnya tidak nyaman, melainkan seperti sedang memikirkan sesuatu yang penting.
"Kamu cantik hari ini."
Jantung Yura mendadak berulah.
"Tapi," lanjut Kai.
Nah, kan. Pasti ada tapinya.
"Tapi apa?"
"Kamu akan terlihat lebih cantik kalau tidak cemberut."
Yura ingin melempar sepatunya.
Sayangnya, sepatu itu memang bagus.
"Dasar menyebalkan!"
Ia berbalik dan pergi, sementara tawa Kai terdengar dari belakang.
Dan yang paling menyebalkan dari semuanya adalah Yura tersenyum kecil sepanjang perjalanan menuju kantor.
---
2. Penyelidikan yang Tidak Profesional
Yura memutuskan bahwa menyukai seseorang tanpa mengetahui latar belakangnya adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Karena itu, ia melakukan penyelidikan.
Penyelidikan sederhana.
Sangat sederhana.
Ia hanya bertanya kepada beberapa orang tentang Kai.
"Kai? Dia baik," kata seorang rekan kerja.
"Sudah punya pacar?"
"Nggak tahu. Sepertinya belum."
"Sepertinya?"
"Dia dekat sama banyak perempuan."
Yura mengangguk dengan wajah serius, seolah baru menerima laporan rahasia negara.
Informasi itu membuatnya menyusun tiga kemungkinan.
Pertama, Kai memang playboy.
Kedua, Kai pandai menyembunyikan hubungan.
Ketiga, semua orang di sekitarnya bersekongkol menutupi kejahatannya.
Kemungkinan ketiga memang terdengar berlebihan, tetapi Yura tidak ingin mengambil risiko.
Sore harinya, ia menemukan Kai duduk sendirian di sebuah kafe. Di hadapannya ada secangkir kopi dan laptop yang terbuka.
Yura berniat melewatinya.
Namun, kursi di seberang Kai kosong.
Dan Kai melihatnya.
"Kebetulan sekali," katanya.
Yura menatap kursi itu dengan curiga. "Kebetulan apa?"
"Kursinya kosong, kamu datang. Semesta mendukung."
"Semesta mungkin sedang kurang kerjaan."
"Tapi kamu duduk, kan?"
Yura baru menyadari bahwa dirinya memang sudah menarik kursi.
Ia segera duduk dengan wajah seolah tindakannya tadi merupakan keputusan yang sudah direncanakan sejak awal.
"Aku cuma mau istirahat."
"Tentu."
"Jangan percaya diri."
"Aku sedang berusaha."
"Berusaha apa?"
Kai menutup laptopnya.
"Membuat kamu betah di sini."
Yura kehilangan kata-kata selama dua detik penuh.
Dua detik yang sangat memalukan.
Ia segera mengambil menu.
"Aku mau pesan minum."
"Pesan saja. Aku traktir."
"Aku bisa bayar sendiri."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa mau mentraktir?"
Kai menopang dagu dengan satu tangan. "Karena aku ingin."
Jawaban itu terlalu sederhana.
Tidak ada rayuan panjang, tidak ada janji berlebihan. Hanya sebuah keinginan yang disampaikan dengan tenang.
Anehnya, justru itu yang membuat Yura kesulitan membalas.
Ia akhirnya memesan cokelat panas.
Selama hampir satu jam, mereka mengobrol tentang hal-hal remeh. Film yang buruk, makanan yang terlalu mahal, dan kebiasaan Kai yang selalu menghabiskan kentang goreng orang lain.
Yura tertawa lebih banyak daripada yang ia rencanakan.
Hingga sebuah pesan masuk ke ponsel Kai.
Makasih buat hari ini, Kai! Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai rumah. ❤️
Yura melihatnya sekilas.
Kai mengambil ponselnya dan membalas pesan tersebut tanpa terlihat terganggu.
Senyum Yura menghilang.
"Teman?" tanyanya, berusaha terdengar biasa.
Kai mengangguk. "Iya."
"Teman dekat?"
"Lumayan."
Yura mengaduk cokelat panasnya.
Oh, bagus.
Ternyata penyelidikannya belum selesai.
"Aku pulang dulu," katanya.
Kai menatap jam tangannya. "Baru juga sejam."
"Aku ada urusan."
"Urusan apa?"
"Urusan pribadi."
Kai mengangguk, lalu berdiri. "Oke. Aku antar ke depan."
"Aku bisa sendiri."
"Aku tahu."
Lagi-lagi jawaban itu.
Kai tidak memaksa. Ia hanya berjalan di samping Yura sampai ke pintu kafe.
Sebelum pergi, Yura menoleh.
"Kai."
"Hm?"
"Kamu sebenarnya orang seperti apa?"
Kai terdiam sebentar. Kemudian senyumnya muncul lagi.
"Kalau aku jawab baik, kamu percaya?"
"Nggak."
"Kalau aku jawab buruk?"
"Makin nggak percaya."
Kai tertawa kecil.
"Kalau begitu, kenali saja aku sendiri."
Yura tidak menjawab.
Namun, malam itu ia menyimpan nama Kai di ponselnya dengan tambahan satu kata.
Kai—perlu diselidiki.
---
3. Tere Vaaste
Kai bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta.
Setidaknya, itu yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.
Ia menyukai kebebasan, senang bercanda, dan tidak pernah merasa perlu terburu-buru menjalin hubungan hanya karena orang-orang di sekitarnya mulai berpasangan.
Lalu Yura datang.
Perempuan yang bisa tertawa lepas lima menit setelah mengomelinya. Perempuan yang berusaha terlihat tidak peduli, tetapi selalu ingat kopi apa yang ia pesan. Perempuan yang akan menyangkal tiga kali jika ditanya apakah ia sedang merindukan seseorang.
Kai menyukainya.
Masalahnya, Yura tampaknya menganggapnya sebagai tersangka kriminal.
Malam itu, ia duduk di balkon apartemennya sambil mendengarkan Tere Vaaste.
Lagu itu belakangan terlalu sering diputar.
Bukan karena ia sedang patah hati.
Bukan pula karena ia sedang berharap seseorang kembali.
Ia hanya membayangkan Yura.
Entah bagaimana, setiap kali bagian favoritnya terdengar, wajah perempuan itu muncul begitu saja dalam pikirannya.
Senyum Yura ketika tertawa.
Tatapannya ketika kesal.
Cara perempuan itu mengangkat dagu saat berusaha menyembunyikan rasa malu.
Kai tersenyum sendiri.
"Parah," gumamnya.
Ia mengambil ponsel dan membuka percakapan mereka.
Pesan terakhir dari Yura hanya berupa foto seekor kucing dengan ekspresi galak.
Tanpa keterangan.
Kai membalas dengan foto kucing lain yang terlihat sama kesalnya.
Yura menjawab hampir seketika.
Yura: Kucingmu mirip kamu.
Kai: Ganteng?
Yura: Menyebalkan.
Kai: Berarti kamu memperhatikan aku.
Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Yura: Ge-er.
Kai tertawa.
Ia ingin mengatakan bahwa Yura tidak perlu berusaha keras menyelidikinya. Bahwa perempuan-perempuan yang dilihatnya bersama dirinya memang hanya teman. Bahwa ia belum pernah membawa siapa pun ke dalam hatinya.
Tetapi Kai juga tahu, kalimat seperti itu akan terdengar seperti pembelaan seorang tersangka.
Jadi, ia memilih menyimpan satu hal untuk dirinya sendiri malam itu.
Bahwa di antara sekian banyak orang yang pernah ditemuinya, hanya ada satu orang yang membuatnya tersenyum tanpa alasan.
Dan perempuan itu sedang sibuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak menyukai Kai.
---
4. Bukan Satu-Satunya, Tapi yang Dipilih
Dua minggu kemudian, Yura akhirnya mengetahui kebenarannya.
Bukan dari hasil penyelidikan.
Bukan dari pengakuan Kai.
Melainkan dari seorang perempuan yang menghampirinya di kantor.
"Kamu Yura, ya?"
Yura mengangguk hati-hati.
"Aku teman Kai. Dia pernah cerita tentang kamu."
Jantung Yura berhenti bekerja selama satu detik.
"Dia cerita apa?"
Perempuan itu tersenyum lebar. "Katanya ada perempuan yang galak sekali kalau digoda, tapi dia malah ingin menggodanya lagi."
Yura ingin menghilang ke dalam pot bunga terdekat.
"Dia bilang begitu?"
"Iya. Oh, ngomong-ngomong, aku sudah punya pacar. Kai itu memang baik sama semua orang, jadi jangan salah paham, ya."
Yura membeku.
Jangan salah paham.
Kalimat yang selama ini ia butuhkan justru membuat pipinya panas.
Jadi, Kai bukan playboy.
Laki-laki itu hanya... Kai.
Seseorang yang dibesarkan oleh seorang ibu yang mengajarinya memperlakukan perempuan dengan hormat. Seseorang yang tidak menganggap keramahan sebagai janji cinta.
Dan seseorang yang ternyata membicarakan dirinya ketika ia tidak ada.
Sore itu, Yura menemukan Kai di taman dekat kantor.
"Aku mau bertanya," katanya.
Kai yang sedang membaca sesuatu di ponselnya mengangkat wajah. "Silakan, Bu Penyidik."
Yura mengabaikan julukan itu.
"Kamu punya pacar?"
"Nggak."
"Pernah punya?"
"Nggak."
"Kenapa?"
Kai berpikir sebentar. "Belum ketemu orang yang tepat."
Yura menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Oh."
"Kamu?"
"Apa?"
"Punya pacar?"
"Nggak."
"Kenapa?"
Yura mengangkat dagu. "Belum ketemu orang yang tepat."
Kai tersenyum tipis.
"Kalau begitu, kita senasib."
Angin sore bergerak lembut di antara pepohonan. Untuk pertama kalinya, Yura tidak merasa perlu menyelidiki apa pun.
Ia hanya ingin tahu satu hal.
"Kai, kalau aku bilang aku tertarik sama kamu, kamu akan bagaimana?"
Kai memasukkan ponselnya ke saku.
"Aku akan senang."
"Sesederhana itu?"
"Harus pakai formulir?"
Yura tertawa, lalu memukul pelan lengannya.
Kai ikut tertawa sebelum akhirnya menatapnya dengan lebih serius.
"Aku juga tertarik sama kamu, Yura."
Senyum Yura perlahan menghilang, digantikan tatapan tidak percaya.
"Sejak kapan?"
"Sejak kamu marah karena mengira aku playboy."
"Itu bukan jawaban romantis!"
"Aku sedang jujur."
"Setidaknya kamu bisa bilang sejak pertama kali melihatku."
Kai memiringkan kepala.
"Kalau aku bilang begitu, kamu percaya?"
Yura menyipitkan mata. "Tidak."
"Nah, makanya aku memilih jawaban yang lebih masuk akal."
Yura tertawa lagi. Kali ini tanpa berusaha menyembunyikannya.
Kai mengulurkan tangan.
"Boleh aku mengajakmu berkencan? Bukan sebagai teman, bukan sebagai laki-laki yang sedang kamu selidiki. Sebagai seseorang yang ingin mengenalmu lebih jauh."
Yura menatap tangannya.
Ia tidak ingin menjadi perempuan yang kehilangan akal hanya karena seorang laki-laki tersenyum. Ia juga tidak ingin terburu-buru menyerahkan hatinya tanpa mengenal orang yang akan menerimanya.
Namun, ia ingin mencoba.
"Baiklah," jawabnya sambil menyambut tangan Kai. "Tapi aku punya syarat."
"Apa?"
"Jangan membuatku menebak-nebak kalau ada sesuatu yang penting."
Kai mengangguk. "Setuju."
"Jangan menggoda perempuan lain di depanku hanya untuk membuatku cemburu."
"Aku tidak pernah sengaja membuatmu cemburu."
"Bagus."
"Sekarang giliranku."
Yura mengangkat alis.
"Kalau kamu penasaran tentang sesuatu, tanyakan langsung kepadaku. Jangan membentuk pengadilan sendiri di dalam kepalamu."
Yura terdiam.
Kemudian ia tertawa kecil. "Baiklah."
Kai menggenggam tangannya dengan hangat.
Tidak ada janji bahwa mereka tidak akan pernah salah paham lagi. Tidak ada sumpah bahwa hubungan mereka akan selalu sempurna.
Hanya dua orang yang sepakat untuk saling mengenal, saling mendengarkan, dan berhenti bersembunyi di balik dugaan masing-masing.
Bagi Yura, itu sudah cukup untuk sebuah permulaan.
---
5. Semua yang Kumau
Beberapa bulan kemudian, Yura duduk di sebuah kafe bersama Kai.
Di antara mereka ada dua cangkir minuman, sepiring kentang goreng, dan satu ponsel yang memutar lagu Vaaste pelan-pelan.
Yura menyandarkan dagu di telapak tangannya.
"Kai."
"Hm?"
"Kamu tahu nggak, dulu aku mengira kamu punya banyak pacar."
Kai mengambil kentang goreng. "Aku tahu."
Yura langsung menegakkan tubuh.
"KAMU TAHU?"
"Ekspresimu waktu melihatku bersama teman-temanku itu sulit dilupakan."
"Kenapa kamu tidak menjelaskan?"
"Kamu tidak bertanya."
Yura membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Menyebalkan.
Laki-laki itu benar.
"Aku juga mengira kamu tidak serius denganku," lanjut Kai.
Yura menatapnya. "Kenapa?"
"Karena kamu selalu berusaha terlihat tidak menyukaiku."
"Aku punya harga diri!"
"Aku tahu. Itu salah satu hal yang kusukai darimu."
Yura mendadak kehilangan keberanian untuk membalas.
Kai meletakkan kentang gorengnya, lalu meraih tangan Yura di atas meja.
"Aku tidak membutuhkan seseorang yang selalu setuju denganku," katanya. "Aku ingin seseorang yang berani mengatakan kalau aku salah. Seseorang yang punya hidupnya sendiri, impiannya sendiri, dan tetap memilih berjalan bersamaku."
Yura menatapnya lama.
"Kamu sedang merayuku?"
"Berhasil?"
Yura mencoba menahan senyum. Gagal.
"Sedikit."
"Kalau begitu, aku harus berlatih lagi."
"Jangan terlalu percaya diri."
Kai tertawa, lalu mengusap punggung tangan Yura dengan ibu jarinya.
Di luar jendela, matahari mulai turun. Cahaya senja menyentuh meja mereka, membuat dunia terasa lebih tenang daripada biasanya.
Yura memandang laki-laki di hadapannya.
Ia pernah mengira cinta berarti menemukan seseorang yang tidak memiliki kekurangan. Seseorang yang tidak akan membuatnya cemburu, tidak akan membuatnya ragu, dan selalu tahu apa yang harus dikatakan.
Ternyata bukan itu.
Cinta adalah menemukan seseorang yang bersedia menjelaskan ketika ada kesalahpahaman. Seseorang yang tidak meminta kita mengecilkan diri agar ia merasa besar. Seseorang yang membuat kita merasa aman untuk bertanya, tertawa, berdebat, dan tetap menjadi diri sendiri.
Kai bukan laki-laki sempurna.
Yura pun bukan perempuan tanpa prasangka.
Namun, mereka sedang belajar.
Belajar mempercayai, bukan sekadar menebak.
Belajar mengungkapkan perasaan, bukan menyembunyikannya di balik lelucon atau gengsi.
Dan belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus kehilangan diri sendiri.
"Yura," panggil Kai.
"Ya?"
"Kalau suatu hari nanti kita menikah, kamu mau lagu apa untuk diputar?"
Yura hampir tersedak minumannya.
"Siapa yang bilang kita akan menikah?"
"Aku sedang bertanya, bukan mengirim undangan."
Yura menendang pelan kakinya di bawah meja.
Kai tertawa.
"Aku belum menjawab!" seru Yura.
"Jadi, kamu mau?"
"Aku belum bilang begitu!"
"Tapi juga belum bilang tidak."
"KAI!"
Tawa Kai memenuhi sudut kafe.
Yura menggeleng, tetapi tangannya tetap berada dalam genggaman laki-laki itu.
Di dalam hati, ia sudah memiliki jawabannya sendiri.
Jika suatu hari nanti mereka memilih untuk berjalan bersama seumur hidup, ia tidak membutuhkan kisah cinta yang membuat semua orang iri. Ia tidak membutuhkan janji-janji yang terlalu indah untuk dipercaya.
Ia hanya ingin tetap bisa tertawa seperti ini.
Berdebat tentang hal-hal kecil.
Membicarakan impian tanpa takut ditinggalkan.
Dan pulang kepada seseorang yang mencintainya bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia adalah dirinya sendiri.
Yura menatap Kai yang masih tersenyum jahil.
"Kalau menikah nanti," katanya akhirnya, "aku yang memilih lagunya."
Kai mengangkat alis.
"Kesepakatan yang bagus."
"Dan kamu tidak boleh protes."
"Baik."
"Dan jangan menggodaku di depan tamu."
Kai berpura-pura berpikir.
"Kalau aku menggoda pengantin sendiri, boleh?"
Yura menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Laki-laki ini benar-benar tidak ada obat.
Namun, ketika Kai tertawa dan menarik tangannya dengan lembut, Yura ikut tertawa.
Sebab ternyata, dari semua hal yang pernah ia inginkan, yang paling berarti bukanlah menemukan laki-laki tanpa cela.
Melainkan menemukan seseorang yang membuatnya ingin tinggal, tanpa harus berhenti menjadi dirinya sendiri.
Dan di hadapan Kai, Yura akhirnya mengerti.
Terkadang, semua yang kita mau memang tidak datang dalam bentuk seseorang yang sempurna.
Terkadang, ia datang sebagai seseorang yang membuat kita merasa cukup.
Seseorang yang, ketika dunia terasa terlalu ramai, tetap menjadi tempat paling sederhana untuk pulang.
— Tamat —