Tokoh Tetap:
1. Sumire (FC) 150cm, tubuh sintal berisi, rambut ikal hitam sebahu, berkacamata, hazel Jawa-Belanda. Trance Medium, Reiki Practitioner. 2. Takio Amamiya (MC) 175cm, atletis proposional, model & public figure, gift vision masa depan.
Sinopsis Part 5:
Setelah melihat kematian mereka sendiri di tahun 1582, Sumire dan Takio mengerti kenapa nama Amamiya terus memanggil. Janji itu bukan untuk membangun kembali kuil yang terbakar. Janji itu untuk akhirnya hidup sebagai manusia biasa.
🌹CERITA PART 5
Rooftop itu masih sepi setelah lilin padam.
Sumire dan Takio masih saling memeluk di lantai, napasnya masih berantakan karena baru saja keluar dari past life regression yang terlalu dalam. Tokyo di bawah mereka berkedip-kedip seperti lautan bintang yang berisik.
Takio yang pertama bicara, suaranya serak.
"Jadi... kita mati di sana ya?"
Sumire menggeleng pelan di dalam pelukannya, air matanya masih jatuh. "Tidak. Kita pulang. Beda."
Takio mengernyit. "Pulang?"
Sumire akhirnya melepas pelukannya, duduk bersila lagi. Ia mengambil deck oracle yang tadi berantakan karena trance. Ia tidak mengocoknya. Ia hanya memegangnya.
"Kamu ingat kata-kata terakhir miko itu?" tanya Sumire. "Carilah aku lagi saat nama Amamiya masih ada tapi kuilnya sudah tidak ada. Saat itu kita tidak perlu lagi jadi miko dan samurai."
Takio mengangguk. Kalimat itu masih menggema di kepalanya.
"Itu sekarang," bisik Sumire sambil menatap Tokyo. "Kuil Amamiya yang besar itu sudah tidak ada. Yang ada cuma Desa Ainokura yang kecil dengan kuil kecilnya. Nama kamu masih Amamiya, tapi kamu bukan penjaga kuil. Kamu aktor. Aku bukan miko. Aku hanya Sumire."
Takio terdiam. Selama 28 tahun hidupnya, ia membenci marganya karena berat. Semua orang mengharapkan dia menjadi penjaga tradisi, menjadi sempurna. Tapi malam ini ia baru paham.
Marga itu bukan beban. Marga itu adalah penanda janji yang sudah ditepati.
"Jadi janji kita..." Takio mencoba merangkai kata.
"Adalah untuk berhenti menjadi pahlawan," Sumire tersenyum, untuk pertama kalinya setelah trance berat itu. Senyumnya tulus, bukan senyum medium yang menenangkan klien. "Di kehidupan itu, kita sibuk menjaga kuil, menjaga desa, menjaga semua orang sampai kita lupa menjaga satu sama lain. Makanya kita berjanji, di kehidupan selanjutnya kita hanya mau jadi manusia biasa."
Takio menatap Sumire lama. Tanpa kacamata, tanpa deck, tanpa status public figure. Hanya Sumire yang matanya bengkak karena menangis.
"Manusia biasa seperti apa?" tanya Takio pelan.
Sumire tertawa kecil. "Yang kalau sakit, bilang sakit. Yang kalau takut lampunya terlalu terang, bilang lampunya terlalu terang. Bukan samurai yang tahan pedang patah, bukan miko yang tahan kuil terbakar."
Takio menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya vision di kepalanya benar-benar diam. Tidak ada suara masa depan. Tidak ada bisikan masa lalu. Hanya suara angin rooftop dan napas Sumire.
Ia meraih tangan Sumire. Bukan untuk disalurkan Reiki. Hanya untuk digenggam.
"Aku tidak mau jadi petani sendirian," kata Takio, mengulang janji 400 tahun lalu dengan suara yang jauh lebih ringan. "Kamu masih mau jadi tabib desa?"
Sumire menggenggam balik. Tangannya yang biasa hangat karena Reiki, malam ini hangat karena manusia.
"Aku mau jadi tabib yang kalau lelah, boleh tidur di futon yang sama tanpa tirai washi," jawabnya.
Malam itu, di rooftop Tokyo yang biasanya jadi tempat Takio kabur dari dunia, mereka tidak melakukan ritual apa-apa lagi. Tidak ada dupa, tidak ada mantra.
Mereka hanya duduk berdua, berbagi satu selimut tipis, melihat hujan tipis turun lagi untuk keempat kalinya. Tanpa mendung. Hanya untuk mereka.
Di bawah, Sato-san manajernya menelpon berkali-kali. Di tas Sumire, notifikasi klien yang butuh dibersihkan rumahnya juga bergetar.
Tapi mereka tidak mengangkatnya.
Karena malam itu, untuk pertama kalinya dalam 400 tahun, samurai dan miko itu akhirnya boleh istirahat.
Dan menjadi Sumire dan Takio saja.
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG KE PART 6 : AKAR YANG MELILIT (FINAL)
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah sampai di Part 5 yang paling jujur ini. Ini bukan tentang kuil besar atau pedang lagi, tapi tentang janji untuk menjadi manusia biasa yang saling menjaga. Kalau part ini membuatmu hangat, itu artinya janjimu sendiri juga sedang dipanggil pulang.
Jangan lupa tinggalkan komentar positif ya biar energi Kuil Hujan tetap selaras 🌹
Love,
Selly Agtus WP
IG: @javawitch13 @poembyselly