Langit umur 17. Kelas 2 SMA. Tinggi sudah 178 cm, lebih tinggi dari Arya. Main basket. Tidak lagi pakai tas dinosaurus.
Dari kecil dia tau: Ada Ibu Laras di foto, Ibu yang melahirkan dia terus ke surga. Ada Ibu Kirana, Ibu Susu yang jadi Ibu.
Tapi tau sebagai fakta beda dengan tau sebagai rasa.
Umur 6 tahun, dia bangga cerita: "Ibu Kirana pahlawan daster!"
Umur 17 tahun, dia mulai hitung-hitungan.
Di pelajaran Biologi, materi genetik. Bu Guru bilang: "Golongan darah anak mengikuti orang tua."
Langit golongan darah O. Arya golongan darah AB. Laras golongan darah A.
Kirana golongan darah O.
Malam itu Langit buka Google di paviliun Merpati yang sekarang sudah direnovasi jadi lebih layak tapi tetap kecil.
AB + A tidak bisa jadi O.
Langit diam. Untuk pertama kalinya umur 17 tahun, dia ngerti arti "Ibu Susu" bukan cuma cerita haru, tapi arti biologis: Dia tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Ibu yang 17 tahun ini dia panggil Ibu, yang tiap jam 2 pagi masih cek dia sudah pulang atau belum.
***
Makan malam di paviliun. Menu: sayur asem, tempe goreng, sambal. Menu yang sama dari Langit umur 2 hari sampai 17 tahun. Kirana masak.
Bumi sekarang umur 12 tahun, SMP kelas 1, lagi cerita bola.
Langit tidak makan.
"Ibu... golongan darah Langit O ya?"
Kirana yang lagi tuang sayur, tangan berhenti.
Arya yang lagi buka laptop kerja, tutup laptop.
"Iya, Langit O," jawab Kirana pelan.
"Kenapa Langit O? Ayah AB, Ibu Laras A. Tidak mungkin O."
Paviliun yang biasanya rame suara Bumi, jadi sepi. Hanya suara freezer Rumah ASI di belakang yang berdengung.
Arya berdiri. "Langit, kita ngobrol di dalam."
"Di sini aja, Yah! Biar Bumi juga dengar! Jadi selama ini Langit bohong? Teman-teman Langit bilang Langit anak pungut presiden! Bener ya?"
Kirana nangis. Bukan nangis drama. Nangis diam, air mata netes ke sayur asem.
Bumi umur 12 tahun bingung, peluk Kirana.
Langit umur 17 tahun meledak, bukan karena benci, tapi karena takut. Takut yang selama ini dia panggil Ibu ternyata bukan ibu beneran, dan sewaktu-waktu bisa pergi seperti Ibu Laras pergi.
"Langit cuma bayi yang butuh ASI kan, Bu? Setelah Langit besar, Ibu tidak butuh Langit lagi kan?"
Itu kalimat paling menyakitkan yang pernah keluar di paviliun Merpati.
Kirana tidak jawab. Dia hanya buka laci meja makan paviliun. Laci yang 17 tahun tidak pernah dibuka Langit.
***
Tulisan tangan Kirana, tiap hari:
- Hari 1: Langit minum 30ml, tidur 3 jam. Ayah Arya tidur di sofa.
- Hari 10: Langit minum 60ml, gumoh. Ayah panik.
- Hari 30: Langit berat naik 500 gram. Ibu nangis.
- ... sampai hari 180.
Gelang rumah sakit: *BAYI LAKI-LAKI WIJAYA - 2,9 KG - RSPAD - IBU LARAS WIJAYA*
Foto USG: Bukan USG Langit. USG anak Kirana yang meninggal. Tulisan: *Anak Ibu Kirana - 7 bulan - Tidak sempat lahir? Tidak, sempat lahir 2 bulan, meninggal pneumonia.*
Kirana kasih buku itu ke Langit.
"Langit, Ibu memang bukan ibu yang lahirkan Langit. Ibu Laras yang lahirkan. Tapi buku ini bukti Ibu susuin Langit 180 hari, tiap 2 jam, sambil gendong anak Ibu yang baru meninggal. Kalau Langit cuma butuh ASI, Ibu sudah pergi hari ke-7. Tapi Ibu tinggal 17 tahun di paviliun kecil ini, pakai daster yang sama, cuci piring yang sama, karena Ibu butuh Langit, bukan Langit butuh Ibu."
Langit baca buku itu, halaman demi halaman, tulisan tangan Kirana yang blepotan karena nulis sambil gendong.
Halaman terakhir: *Hari 180: Langit sudah bisa bubur. Kontrak habis. Tapi Ibu tidak mau pulang. Karena Langit sudah panggil Ibu, bukan Mbak.*
Langit umur 17 tahun nangis di lantai paviliun, peluk kaki Kirana.
"Maafin Langit, Bu... Langit takut..."
***
Langit tetap kabur malam itu. Bukan karena benci. Karena malu sudah bikin Ibu nangis.
Dia naik motor listrik Arya, tidak pakai Paspampres, ke alamat di buku catatan Kirana: Kontrakan petak belakang Stasiun, tempat Kirana dulu tinggal sebelum ke Istana.
Kontrakan sekarang sudah jadi *Rumah ASI Kirana*. Malam tutup, tapi ada ibu penjaga.
Langit duduk di depan kontrakan petak itu, lihat wastafel kecil tempat Kirana dulu buang ASI ke wastafel sambil nangis karena anaknya meninggal.
Dia baru ngerti: Kirana yang kehilangan anak, malah kasih nyawa ke dia yang kehilangan ibu. Dua orang kehilangan ketemu di jam 2 pagi.
Arya dan Kirana dan Bumi nyusul jam 11 malam. Tidak marah.
Arya duduk sebelah Langit di depan wastafel.
"Langit, Ayah juga bukan bapak yang sempurna. Ayah presiden, tapi Ayah tidak bisa kasih ASI. Ayah cuma bisa tidur di sofa paviliun. Ibu Kirana yang kasih semua."
Kirana duduk sebelah satunya, bawa termos teh hangat, kebiasaan dari 17 tahun lalu.
"Langit, Ibu tidak pernah lahirkan Langit. Tapi Ibu pernah kehilangan anak. Jadi waktu Langit minum ASI Ibu, Ibu ngerasa anak Ibu yang meninggal hidup lagi lewat Langit. Jadi kalau Langit bilang Ibu tidak butuh Langit, salah. Ibu butuh Langit biar luka Ibu sembuh."
Bumi umur 12 tahun yang ikut, tidur di pangkuan Kirana di depan kontrakan Bekasi, seperti dulu Langit tidur di dada Kirana.
***
Mereka pulang ke paviliun jam 1 pagi, naik motor bertiga: Arya nyetir, Kirana di tengah gendong Bumi tidur, Langit di belakang peluk Kirana.
Sampai paviliun, Langit ambil spidol, tulis di stiker baru, tempel di atas freezer, di bawah stiker-stiker lama:
*"DARI LANGIT UMUR 17: TERIMA KASIH IBU KIRANA SUDAH MAU JADI IBU SUSU LANGIT. SEKARANG LANGIT SUDAH BESAR, TIDAK MINUM SUSU IBU LAGI, TAPI MASIH BUTUH IBU UNTUK BANGUNIN SAHUR DAN CUCI BAJU BASKET YANG BAU. - LANGIT, ANAK IBU LARAS DAN ANAK IBU KIRANA"*
Kirana baca, nangis ketawa.
Bumi bangun, baca, terus tulis di bawahnya pakai crayon:
*"BUMI JUGA - ANAK IBU KIRANA - TIDAK BUTUH SUSU LAGI TAPI BUTUH UANG JAJAN"*
Arya baca, ketawa paling kencang malam itu.
***
Langit umur 27. Bukan presiden. Jadi dokter anak di RSPAD, tempat dia lahir.
Bumi umur 22. Kuliah kedokteran, mau jadi dokter anak juga.
Arya umur 62. Sudah bukan presiden. Sudah pensiun. Tinggal di paviliun Merpati yang sekarang resmi jadi museum kecil: *Museum Paviliun Merpati - Tempat Presiden Belajar Ganti Popok.*
Kirana umur 46. Masih pakai daster bunga. Kepala Yayasan Rumah ASI Kirana yang sekarang punya 12 cabang di seluruh Indonesia. Semua gratis.
Di peresmian Rumah ASI ke-12 di Papua, wartawan tanya Langit yang sudah jadi dokter:
"Dokter Langit, apa rasanya jadi anak presiden dan anak ibu susu?"
Langit jawab, pakai jas dokter, di depan freezer ASI:
"Saya bukan anak presiden. Saya anak 2 ibu. 1 ibu lahirkan saya terus ke surga, 1 ibu susuin saya terus tinggal di paviliun 27 tahun pakai daster yang sama. Kalau tanpa 2 ibu itu, saya tidak jadi dokter hari ini. Saya masih bayi nangis 2 hari tidak berhenti."
Di belakang panggung, Kirana, Arya, dan Bumi tepuk tangan. Bukan sebagai mantan presiden dan ibu negara. Sebagai keluarga yang 27 tahun lalu ketemu karena 1 bayi lapar jam 2 pagi.
Dan di paviliun Merpati yang sekarang jadi museum, freezer masih berdengung pelan. Isinya masih botol-botol 100ml gratis.
Dan di atas freezer, stiker-stiker dari umur Langit 2 hari sampai 27 tahun masih ditempel, tidak pernah dicabut, jadi bukti:
Bahwa 1 botol ASI bisa selamatkan 1 bayi, dan 1 ibu susu bisa selamatkan 1 keluarga, dan 1 keluarga itu bisa selamatkan banyak bayi lain.
*****