Pada suatu sore yang tenang, seorang siswi bernama Alya duduk sendirian di bangku taman sekolah. Di tangannya terdapat selembar kertas putih yang sudah terlipat beberapa kali. Kertas itu bukan kertas biasa, melainkan surat yang ditulis oleh sahabatnya, Nara, sebelum pindah ke kota lain.
Alya masih mengingat hari ketika Nara berpamitan. Mereka berjanji akan tetap menjadi sahabat meskipun jarak memisahkan. Namun, seiring berjalannya waktu, pesan-pesan mereka semakin jarang dibalas.
“Apakah Nara sudah melupakanku?” gumam Alya sambil menatap langit senja.
Ia kemudian membuka kembali surat tersebut dan membaca tulisan yang sudah dihafalnya.
“Alya, jika suatu hari kita tidak lagi berjalan berdampingan, jangan menganggap persahabatan kita telah berakhir. Ada orang-orang yang mungkin jauh dari pandangan, tetapi akan selalu dekat di hati.”
Tanpa sadar, Alya tersenyum. Ia akhirnya menyadari bahwa persahabatan tidak selalu harus dibuktikan dengan pertemuan setiap hari. Terkadang, kenangan dan ketulusan sudah cukup untuk menjaga seseorang tetap berarti.
Keesokan harinya, Alya memutuskan untuk menulis surat balasan. Ia menceritakan semua hal yang terjadi di sekolah, mulai dari kejadian lucu di kelas hingga rindunya terhadap kebersamaan mereka.
Setelah selesai, Alya memasukkan surat itu ke dalam amplop dan mengirimkannya melalui kantor pos.
Beberapa minggu kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan itu berasal dari Nara.
“Alya, terima kasih karena masih mengingatku. Aku juga merindukanmu. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi.”
Alya membaca pesan itu berulang kali dengan hati bahagia. Hari itu, ia memahami satu hal penting: jarak mungkin dapat memisahkan dua orang, tetapi tidak selalu mampu menghapus ikatan yang tulus.
Senja kembali datang, mewarnai langit dengan jingga keemasan. Alya menyimpan surat lama itu di dalam buku hariannya, sebagai pengingat bahwa beberapa orang memang pergi menjauh, tetapi kenangan bersama mereka akan selalu menemukan tempat untuk pulang.