Hujan gerimis merintik di teras kedai "Seblak Jeletot". Kirana sedang khusyuk mengunyah kerupuk basah dengan kepedasan level 5. Matanya berair, hidungnya kumat kempis, dan bibirnya sudah dower kayak habis disengat lebah. Tapi, demi gengsi di depan gerombolan anak hits sebelah, Kirana pantang menyerah.
"Hah... hah... gampang ini mah," gumam Kirana sambil menyeka keringat di dahi dengan tisu yang sudah menumpuk.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat. Seorang cowok tinggi dengan jaket hitam dan rambut agak basah karena hujan mendadak duduk di kursi kosong tepat di depan Kirana.
Itu Bagas. Cowok paling tampan—tapi juga paling jahil—di kampus Kirana.
"Wajah lu kenapa, Kir? Kayak abis ditolak cintanya sama Squidward," ledek Bagas tanpa dosa, lalu langsung mengambil es teh manis milik Kirana dan meminumnya sampai tandas.
"Woy! Itu es teh gue!" jerit Kirana dengan suara serak-serak basah khas orang kepedasan.
Bagas tersedak, lalu menatap mangkuk Kirana. "Bentar... lu makan level 5? Lu kan nggak kuat pedes, sok-sok pamer banget!"
"Dih, siapa yang sok-sok! Gue kuat, ya! Hah... hah..." Kirana berusaha memasukkan sosis pedas lagi ke mulutnya, tapi tangannya gemetaran. Matanya makin berkaca-kaca, bukan cuma karena pedas, tapi karena es teh penyelamat hidupnya baru saja dihabiskan Bagas.
Melihat mata Kirana yang mulai berair bening, raut wajah Bagas yang tadinya penuh ledekan mendadak berubah. Dia mendesah pelan, menggeleng-gelengkan kepala.
"Dasar batu," gumam Bagas.
Bagas berdiri, berjalan cepat ke kasir kedai. Tak sampai dua menit, dia kembali membawa sebuah mangkuk kecil berisi es batu, susu murni dingin, dan sebotol air mineral hangat.
Plak!
Bagas menaruh susu murni itu tepat di depan Kirana.
"Minum dulu. Jangan dipaksain," kata Bagas pelan. Suaranya berubah lembut, beda 180 derajat dari nada menyebalkannya tadi.
Kirana mendongak, menatap Bagas yang tiba-tiba duduk agak miring, menyandar ke meja sambil memperhatikan Kirana. Dengan canggung dan bibir masih bergetar, Kirana meneguk susu murni itu sampai separuh. Rasa terbakar di lidahnya perlahan surut.
"Makasih..." bisik Kirana pelan, malu setengah mati.
"Lagian, gaya-gayaan banget," kata Bagas sambil meraih tisu, lalu tiba-tiba mengulurkan tangannya ke wajah Kirana.
Deg!
Jantung Kirana serasa melompat keluar dari dada. Tangan Bagas yang hangat dengan lembut menyapu sisa bumbu cabai di pinggir bibir Kirana, lalu mengusap pelan dahi Kirana yang keringatan.
Jarak wajah mereka cuma sejengkal. Kirana bahkan bisa mencium aroma parfum Bagas yang segar bercampur bau hujan.
"Lu tuh kalau kena serangan jantung gara-gara cabai, yang repot siapa? Gue juga, kan?" bisik Bagas sambil menatap mata Kirana dalam-dalam. Ada senyum tipis di bibirnya.
"K-kenapa jadi lu yang repot?" tanya Kirana gagap.
"Ya repotlah. Masa calon pacar gue pingsan di warung seblak, nggak gue tolongin?"
BARRR!
Bukan suara petir di luar kedai yang bikin Kirana kaget, tapi perkataan Bagas. Wajah Kirana yang tadinya merah karena cabai, sekarang makin merah padam kayak kepiting rebus.
"Lu... lu ngomong apa sih?!" Kirana salah tingkah, hampir menyenggol botol kecap.
Bagas tertawa lepas. Tawa khasnya yang bikin mata cowok itu menyipit manis. Dia meraih helmnya, lalu memakaikannya ke kepala Kirana. Dia juga yang menguncikan tali helmnya di bawah dagu Kirana dengan telaten.
"Hujan udah reda. Ayo pulang," ajak Bagas berdiri, mengacak-acak pelan helm yang dipakai Kirana.
"Tapi motor gue gimana?"
"Biar adik gue yang ambil ntar malam. Sekarang lu naik ke motor gue. Takutnya lu pingsan di jalan gara-gara ketagihan seblak... atau ketagihan tatapan gue." Bagas mengedipkan sebelah matanya.
Kirana cuma bisa melongo. Sambil berjalan mengekor di belakang Bagas, Kirana memegangi dadanya yang berdegup kencang luar biasa.
Gila, pikir Kirana. Ternyata pedasnya seblak level 5 masih kalah bikin nyesek dibanding kelakuan Bagas yang bikin baper mendadak ini!