Alkisah,
Pada dahulu kala, long time ago in my hearth, terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Dari kata ramban. Soalnya ada hewan ternak di situ sehingga perlu di carikan rumput untuk makanannya, ramban.
Rakyatnya hidup tenteran dan damai. Gemah ripah loh jinawi. Ayem, toto, tur raharjo.
Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Yang terjadi terjadilah. Yang dia tahu, hanyalah menyambung nyawa.
Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Di serang. Di jajah. Njajah deso milang kori. Penjajahan oleh bangsa sendiri.
Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Karena kalah taktik. Dan tik tak, tik bum.
Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging. Prambanan itu di triyamboko. Sedangkan pengging ada di boyolali. Mbolali. Po yo lali. Opo yo lali. Alias Bajul kesupen.
Dan rombongan bala tentara itu, wala pasukan, walaing, dipimpin oleh Bandung Bondowoso. Dekat Wonosobo. Jadi Bandung Wonosobo. Lebih dekat soalnya.
Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. Sadis. Dan orowodol. Yang bukan hak nya di makan. Bukan miliknya di renggut secara paksa. Begitu gitu pokoknya.
“Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!” ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya. Supaya patuh. Tidak macam-macam. Tidak aneh-aneh. Dan suka demo.
Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan Jin. Jin Haho, Jin Kartubi. Banyak. Jin Lea juga. Banyak.
Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. Meskipun anak raksasa. Namun cantik. Raksasa yang cantik. Tapi langsing. Tidak tembem. Serta jangkung. Makanya namanya Jonggrang. Alias Jlanggrung. Tinggi. Melebihi rata-rata. Melebihi gadis desa pada umumnya. Gadis desa amat harum baunya fiscis.
Jonggrang juga menjadi Jonggring. Dari Loro Jonggrang menuju Kalasa. Karena berdekatan. Jonggrang Kalasa. Jonggring Salaka. Hanya otak atik kata. Ujung Giri Kailasha. Di puncak Gunung Kailasha. Gunung tinggi tempat istana para dewa. Jonggring Salaka.
Yang nyatanya antara Kalasa dengan Jonggring Salaka, banyak terdapat tempat yang di sucikan. Suci, seperti tempat para dewa. Sehingga tidak menutup kemungkinanan kalau Kalasan dahulu dijadikan tempat yang di sucikan. Karena banyak bangunan-bangunan suci.
“Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku,” pikir Bandung Bondowoso. Berpikir doang tapi. Pikir-pikir apanya, apanya, apanya dong.
Esok harinya, Bondowoso mendekati Roro Jonggrang. “Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku?” Tanya Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang.
Roro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso.
“Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya”, ujar Loro Jongrang dalam hati.
“Apa yang harus aku lakukan?”
Roro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan.
Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.
“Bagaimana, Roro Jonggrang?” desak Bondowoso. Akhirnya Roro Jonggrang mendapatkan ide.
“Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya,” Katanya.
“Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?”.
“Bukan itu, tuanku,” kata Roro Jonggrang.
“Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah.”
“Seribu buah?” teriak Bondowoso. Banyak banget kan. Kalau ondol-ondol, seribu mungkin mudah. Ini candi. Yang satunya, yang perwara saja, bisa dua milyar. Ini seribu. Maka bisa di bayangkan. Dengan mengalikan saja sudah banyak nol nya. Belum kalau ngglundung satu. Maka akan kebingungan.
“Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam.” Bandung Bondowoso menatap Roro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Ini permintaan apa ngeles. Aneh-aneh banget.
Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Candi seribu. Candi sewu.
Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya.
“Saya percaya, tuanku bisa membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!” kata penasehat.
“Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!” ujarnya senang. Bakalan bisa melakukan semua itu. Mewujudkan apa keinginan putri raksasa namun cantik. Putri yang jangkung. Putri Jonggrang. Jadi apapun keinginannya bakalan di turuti.
Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Altar yang dari batu. Altar pembakaran di candi pembakaran. Sembari membakar kemenyan soalnya. Selain itu kayu-kayu persembahan. Kayu harum. Cendana, gaharu. Yang harum-harum. Upacara api. Sembari membakar persembahan kayu harum.
Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. Sambal komat-kamit mbah dukun baca mantra.
“Pasukan jin, bantulah aku!” teriaknya dengan suara menggelegar.
Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Gunung longsor, tarung podo dene gunung. Lemah bungkah. Bledug mangampak. Panjeleng sapi gumarang. Kayu seprangkul rong prangkul, rubuh ketrajang goro-goro. Jagad lir kagiri giri. Kinocak kocak gambiro loyo.
Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. Ada yang kuat. Ada yang lemah. Jin kuat. Dengan badan besar. Taring besar juga. Dan ada juga yang jin mata satu. Seperti Cyclops. Ada yang berambut gimbal. Serta jin Banaspati. Si raja hutan. Banyak banget bentuknya. Sebab ini jin.
“Apa yang harus kami lakukan Tuan?” tanya pemimpin jin.
“Bantu aku membangun seribu candi,” pinta Bandung Bondowoso. Semua itu mudah bagi jin. Soalnya memang hebat. Jangankan candi. Kota saja di bangun semalaman. Contohnya kota alengka pura. Yang di bangun hanya semalam. Setelah di bakar oleh Anoman obong. Dengan cepat terbangun kembali.
Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Ada yang angkat batu, ada yang turun batu. Ada yang main semen. Ada juga yang menyambung pakai putih telur. Soalnya kuningnya di makan sendiri. Buat jamu kuat nan perkasa.
Dalam waktu singkat, bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah. Seribu. Sewu. Candi sewu. Candi yang berjumlah sangat banyak.
Sementara itu, diam-diam Roro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin.
“Wah, bagaimana ini?” ujar Roro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Soalnya akalnya sudah hilang. Hilang akal. Makanya perlu di cari.
Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. Daun-daun kering. Maupun semak-semak basah. Yang mudah terbakar pokoknya. Hutan saja kalau kering mudah terbakar. Sehingga ngeluarin asap. Asap yang memedihkan mata. Tak ada kebaikan di tengah gambaran kebakaran hutan kering. Yang ada kepedihan. Yang menguras air mata.
“Cepat, bakar semua jerami itu!” perintah Roro Jonggrang.
Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Lesung jumengglung. Sru imbal-imbalan.
Dung… dung…dung!
Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.
Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing.
“Wah, matahari akan terbit!” seru jin. Takut matahari. Takut panas nanti hangus, gosong. Bule gosong. Seperti Drakula takut matahari. Jika terkena matahari akan langsung terbakar hangus. Jin juga demikian. Bakalan kelihatan pokoknya. Kelihatan itunya. Anunya. Ya itu.
“Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari,” sambung jin yang lain. Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin.
Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Roro Jonggrang ke tempat candi.
“Candi yang kau minta sudah berdiri!”. Roro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu.
Ternyata jumlahnya hanya 999 buah! Cuma…
“Jumlahnya kurang satu!” seru Loro Jonggrang.
“Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan”.
Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka.
“Tidak mungkin…” kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Roro Jonggrang.
“Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!” katanya sambil mengarahkan jarinya pada Roro Jonggrang.
Ajaib!
Roro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Orang jadi batu. Yang keras seperti batu. Karena memang benar benar batu. Sehingga kala bule gosong mengamtinya dan memuntir telinganya jadi grumping. Itu benar benar batu. Wanita jadi batu. Batu yang cantik. Sehingga banyak yang terpesona. Untuk kemudian di buat demikian. Jadi tak ada hidung. Kena punter soalnya.
Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Roro Jonggrang. Sesuai nama si patung. Wanita yang jadi patung. Seorang rara yang jadi lara, patung. Patung itu tidak di sembah, orang biasa. Kalau arca yang di sembah. Seperti dewa atau sesembahan.