Halo, namaku Mutiara.
Aku baru saja pindah ke rumah baru. Rumah pertama yang kubeli pakai uang tabunganku sendiri. Rasanya bangga, karena akhirnya anak kuliahan sepertiku bisa punya atap sendiri.
Tapi jujur, aku agak takut. Rumahnya tua. Catnya sudah mengelupas, halamannya ditumbuhi rumput liar, dan udaranya apek.
Waktu serah terima kunci, penjualnya sempat berbisik, "Neng, rumah ini ada penghuninya lho."
Aku cuma tertawa. Masa sekarang masih percaya hantu? Tahayul.
Aku dorong pintu kayunya. Debu tebal langsung menyambut. Aku batuk-batuk. "Wajar, namanya juga lama tidak ditinggali," gumamku, mencoba menguatkan diri.
Sore itu kuhabiskan untuk menyapu dan mengepel. Lelah sekali. Saat maghrib tiba, listrik tiba-tiba mati. _Ceklek._
"Aduh, padahal token baru isi," keluhku. Aku cek meteran di luar, lampunya masih hijau. Aneh. Saat aku kembali ke dalam, lampu ruang tamu menyala sendiri.
Dan di lantai yang baru saja kupel bersih, ada jejak kaki kecil yang basah. Mengarah dari pintu depan menuju dapur. Padahal aku sendirian.
"Hei? Ada orang?" panggilku.
Tidak ada jawaban. Hanya suara air menetes dari dapur. _Tik... tik... tik..._
Dengan sapu di tangan, aku ikuti jejak itu. Lampu dapur mati. Gelap. Aku sorotkan flash HP ke wastafel tua yang berkerak. Kerannya menetes, padahal siang tadi sudah kupastikan tidak bocor. Di dalam air keruh di wastafel itu, ada rambut hitam panjang yang mengambang, lalu pelan-pelan tertarik ke bawah, seolah ada yang menyelam di dalamnya.
Tiba-tiba dari belakangku terdengar tawa anak kecil, dekat sekali di telingaku.
"Kakak sudah pulang ya?"
Aku berbalik.
Di ambang pintu berdiri anak perempuan kecil, sekitar 6 tahun, memakai daster putih lusuh kebesaran. Dia tersenyum lebar. Di tangannya, dia menggendong sebuah kepala. Kepala anak kecil yang sama persis dengan dirinya. Mata kepala itu masih berkedip.
"Kakak cari ini ya? Tadi jatuh di wastafel," katanya sambil menyodorkan kepala itu.
Aku menjatuhkan sapu. Anak yang berdiri itu tidak punya kepala.
Aku tidak berpikir lagi. Aku lempar HP dan lari sekencang-kencangnya ke pintu depan. Tapi rumah yang tadi hanya 5 langkah, tiba-tiba terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Di belakangku terdengar langkah kecil berlari. _Plek plek plek._
Aku menabrak koperku sendiri dan jatuh. Pintu depan sudah di depan mata, tapi terkunci padahal tadi tidak kukunci. Kudobrak-dobrak. "TOLONG!"
Di pantulan kaca jendela, aku melihat anak itu sudah selangkah di belakangku. Dia tidak lagi tersenyum. Kepala di tangannya menangis kencang.
Lalu dia berbisik, menunjuk saku celanaku, "Kuncinya di saku Kakak."
Tanganku meraba saku. Kunci besi itu ada, dingin seperti es. Dengan tangan gemetar aku membukanya. _Ceklek!_
Pintu terbuka. Aku lompat keluar dan lari tanpa menoleh lagi sampai ke masjid kecil di ujung gang.
Di teras masjid, seorang ibu menghampiriku. "Kamu Mutiara ya? Yang baru pindah di rumah ujung itu?"
Aku mengangguk dengan napas terputus.
Ibu itu menghela napas. "Rumah itu sudah 3 tahun kosong, Nduk. Dulu yang menempati ibu dan anak kecil. Anaknya terpeleset di dapur yang bocor itu, kepalanya terbentur wastafel. Tidak tertolong. Ibunya stres dan tidak lama setelah itu gantung diri di ruang tengah."
Darahku serasa berhenti.
Malam itu aku tidur di masjid.
Paginya, aku kembali dengan Pak Ustadz. Siang yang terik. Pintu rumah terbuka dengan mudah. Di dalam, rumah terasa rapi. Koperku sudah berdiri tegak di dekat pintu.
Pak Ustadz masuk ke dapur dan mulai mengaji. Ayat Kursi menggema pelan. Rumah yang dingin menjadi hangat.
Saat di tengah bacaan, keran menetes lagi. Dan di pojok dapur yang gelap, mereka muncul lagi.
Kali ini anak kecil itu utuh. Kepalanya sudah menempel. Di sebelahnya ada perempuan tinggi berbaju daster bunga-bunga, ibunya. Mereka tidak terlihat menyeramkan sama sekali. Hanya terlihat lelah dan kesepian.
Anak itu melambai. "Makasih ya Kak, sudah mau temenin. Sekarang aku sudah tidak bosan lagi."
Ibunya mengangguk pelan kepada Pak Ustadz, seperti mengucapkan terima kasih.
Lalu mereka hilang, seperti asap tertiup angin.
Keran berhenti menetes. Bau apek itu hilang.
Malam itu adalah malam pertama aku benar-benar tidur di rumahku sendiri. Tenang.
Hanya saja, di atas meja dapur, ada sebuah jepit rambut kecil berwarna kuning. Aku membiarkannya tetap di sana.
Tamat