Tok...tok...tok...
Pintu kamarku diketuk dari luar.
“Iya!” Ucapku seraya menyambar hijab yang tergeletak di atas ranjang.
“Sudah siang, Ndok! Kamu ndak kerja?” Tanya ibuku dari balik pintu yang masih terkunci tersebut.
“Iya, Bu! Sebentar!” Jawabku. Sedangkan kakiku kini nampak bergerak menyepak helai demi helai rambut yang berserakan di lantai itu ke kolong tempat tidur.
Aku berlari mendekati pintu itu. Ibu masih berdiri di sana dengan daster baru yang kemarin kubelikan. Wanita dengan kulit wajah mulai mengeriput itu tampak diam. Pandangan matanya tidak tertuju pada wajah ataupun mataku, melainkan pada kening jenongku yang sudah tidak memiliki anak rambut itu. Membuatku yang menyadari hal itu pun buru-buru merapikan hijabku agar objek pandang ibu teralihkan.
“Makan dulu sebelum berangkat. Ibu sudah masak!” Ucap Ibu kemudian.
Aku tersenyum, lalu menganggukkan kepalaku. Wanita itu kemudian berbalik badan, berjalan mendekati meja makan meninggalkan diriku yang masih berdiri di depan pintu kamar tidur.
Tak ada perbincangan di antara kami. Ibu sibuk dengan piring-piring kotornya, sedangkan aku mulai menyantap sarapan pagiku. Rumah sudah sepi. Sepertinya ayah sudah berangkat bekerja. Sedangkan adikku pasti sudah berangkat ke sekolah. Ini sudah hampir pukul delapan.
“Bu!” Aku kembali membuka obrolan.
“Hmm...” jawabnya.
“Uang sekolah Tyas sudah aku kasih ke Tyas kemarin,” ucapku setelah menyelesaikan sarapanku.
Ibu diam sejenak, kemudian menoleh ke arahku.
“Iya. Makasih ya, Ndok. Sudah bantu Ibu!” ucapnya. Aku tak menjawab, hanya membalas senyuman Ibu kemudian menenggak air putih di hadapanku.
“Ya sudah, Putri berangkat dulu, Bu! Sudah siang,” ucapku seraya mendekatinya. Ku ulurkan tanganku, berniat untuk ‘salim’ pada wanita yang telah melahirkanku ke dunia itu. Namun...
“Maaf, jika perkataan Ibu selama ini sering menyakitimu.”
Aku terdiam mendengar kalimat yang keluar dari bibir ibuku.
“Ibu hanya wanita tua dari kampung yang bodoh. Tidak mengerti tentang apa yang terjadi padamu saat ini. Ibu sekarang hanya bisa berdoa, semoga kamu bisa melewati semua ujian hidupmu, bisa sembuh, dan bisa mengejar semua mimpi mimpimu,” ucap Ibu dengan wajah yang nampak haru.
“Terima kasih, Bu. Mendengar hal seperti ini saja sudah membuat Putri bahagia. Putri mengerti. Putri tidak pernah benci pada siapapun,” ucapku.
Ibu tersenyum. Ia kemudian menggerakkan tangannya meraih tubuhku lalu memelukku. Hangat sekali rasanya pelukan itu. Membuatku menjadi lebih tenang. Seolah aku mendapatkan tempat yang nyaman untuk sekedar beristirahat dari lelahnya perjuanganku menghadapi penyakit ini
Ya, namaku Putri. Usiaku dua puluh lima tahun. Aku adalah seorang penderita Trikotilomania (TTM). Trikotilomania sendiri adalah suatu gangguan yang melibatkan dorongan berulang yang tak tertahankan untuk mencabut rambut tubuh. Dorongan untuk mencabut rambut dari kulit kepala, alis, atau area lain dari tubuh. Trikotilomania merupakan salah satu bentuk gangguan mental yang ditandai dengan tindakan berulang berupa menarik dan mencabuti rambut baik itu di kepala, wajah, ataupun area tubuh lain atau dikenal pula sebagai hair-pulling disorder atau gangguan mencabuti rambut.
Aku sudah mengidap penyakit ini sejak usiaku masih sebelas tahun. Kala itu, aku masih duduk di bangku SD kelas lima. Aku sempat sembuh saat masuk bangku SMP. Namun kemudian kambuh lagi saat aku mulai beranjak dewasa hingga hari ini. Awalnya aku tidak menyadari bahwa aku terkena penyakit mental. Dulu, aku berpikir bahwa aku hanyalah anak nakal yang tidak bisa dinasehati. Ibuku berkali kali memarahiku. Karena dengan mencabuti rambutku, kepalaku pun lama lama menjadi penuh pitak hingga botak di beberapa bagian. Aku dianggap aneh, gila, hingga orang tuaku sendiri pun mencemoohku. Maklum, aku hanyalah anak penjual jamu di kampung yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Orang tuaku tidak mengerti mengenai hal hal yang demikian. Sehingga ketika mereka melihat anaknya memiliki perilaku aneh, maka mereka beranggapan bahwa aku mulai gila, atau diganggu makhluk tak kasat mata.
Trikotilomania memang bukanlah penyakit mematikan. Wujudnya tak nampak. Tapi efeknya pada mental dan hidupku sangatlah terasa. Aku berubah dari gadis periang menjadi pribadi yang tertutup. Aku tidak percaya diri dengan penampilanku. Aku menjadi gadis pemurung yang sering melamun. Masa remajaku terbuang, masa mudaku ku habiskan dengan meratapi nasib sebagai gadis botak yang aneh. Semakin dewasa aku mulai bisa menerima keadaanku. Walaupun hingga saat ini aku belum bisa bangkit dan seratus persen sembuh dari penyakitku, setidaknya kini aku lebih bisa ikhlas. Kini di usiaku yang sudah menginjak dua puluh lima tahun, aku memberanikan diri untuk terjun ke dunia literasi. Menuangkan unek-unek ku melalui tulisan yang dapat dibaca oleh banyak orang. Setidaknya dengan begitu aku punya media untuk berbagi keluh kesahku. Menjelaskan tentang diriku sekaligus mendapat penghasilan dari sana.
Aku memang sakit. Aku memang belum sembuh. Tapi jika kesembuhan tidak bisa ku dapatkan, maka setidaknya biarkan hatiku ikhlas dengan takdir yang sudah Allah tuliskan.
END...