Hujan baru saja reda ketika Sania turun dari angkot di depan rumah bercat putih pudar itu. Jalan kampung masih basah, memantulkan sisa cahaya sore yang jatuh di antara kabel-kabel listrik dan daun mangga yang bergerak pelan tertiup angin.
Ia memeluk map kain berisi hasil gambar desain busana yang baru saja ia bawa pulang dari kampus. Langkahnya ringan, meski dadanya sejak pagi terasa penuh oleh sesuatu yang tak bernama.
Dari teras rumah, suara tawa terdengar—tawa perempuan yang lembut, rapi, dan nyaris selalu terdengar seperti musik yang pelan.
Sania mengenal tawa itu.
Itu suara Naira.
Adik kandungnya.
Sania berhenti di depan pintu, menarik napas panjang, lalu masuk.
“Pulangan, Mbak?” sapa Naira dari ruang tamu.
Sania menoleh. Naira berdiri di dekat jendela dengan gaun rumah warna krem, rambutnya yang hitam panjang dikepang satu sisi. Wajahnya tenang, matanya teduh, dan gerak-geriknya selalu seperti orang yang tak pernah tergesa-gesa.
“Ya,” jawab Sania singkat. “Ibu mana?”
“Ke warung Bu Rukiah. Katanya mau beli gula.”
Sania mengangguk. Ia hendak melangkah ke kamar, tetapi suara lain muncul dari arah dapur.
“Eh, Sania sudah pulang?”
Sania membeku.
Suara itu milik Adam.
Ia menoleh perlahan.
Adam berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan kemeja abu-abu yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya sedikit basah di bagian depan, mungkin karena hujan tadi. Wajahnya tampan dengan cara yang tidak berusaha memikat siapa pun—justru itulah yang membuat banyak orang memperhatikannya. Tatapannya jernih, suaranya tenang, dan sikapnya selalu seperti orang yang tahu apa yang ia inginkan.
Sania mengenalnya sejak kelas dua SMA. Mereka satu lingkungan, satu masjid remaja, satu kegiatan bakti sosial, dan satu kebiasaan saling sindir yang lama-lama berubah menjadi perasaan yang tak pernah sempat ia akui sepenuhnya.
“Ngapain di sini?” tanya Sania, berusaha terdengar biasa.
Adam mengusap telapak tangannya pada celana. “Aku mau ngobrol sama Naira.”
Sania menatapnya, lalu menatap adiknya. Naira menunduk sebentar, kemudian tersenyum kecil.
“Adam tadi mampir bawa buku yang kemarin aku pinjam,” kata Naira pelan.
Buku.
Sania ingin tertawa, tetapi dadanya justru terasa sesak.
“Bagus,” katanya datar. “Kalian memang akrab sekarang.”
Adam menangkap nada itu. “Sania—”
“Kalau mau ngobrol, silakan. Aku ke kamar.”
Ia berjalan melewati mereka tanpa menunggu jawaban. Di dalam kamar, Sania meletakkan map desainnya di meja belajar lalu duduk di tepi ranjang. Napasnya naik turun tak teratur.
Sudah tiga bulan ia memendam rasa itu. Tiga bulan sejak Adam mulai lebih sering datang ke rumah. Tiga bulan sejak ia menyadari bahwa setiap kali Adam tersenyum padanya, hatinya seperti orang bodoh yang berharap terlalu jauh.
Dan hari ini, semua itu runtuh hanya dengan satu kalimat: Adam datang untuk Naira.
Sania menutup mata.
“Kenapa harus Naira?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, nyaris seperti keluhan pada langit.
Di luar kamar, suara langkah terdengar. Pintu diketuk pelan.
“Sania,” panggil Adam.
Ia tidak menjawab.
“Boleh aku masuk?”
“Tidak.”
Hening sebentar.
“Aku akan tetap ngomong dari sini.”
Sania mengusap wajahnya. “Kalau mau ngomong, ngomong saja.”
Suara Adam terdengar lebih rendah dari biasanya. “Aku mau jujur. Aku suka Naira.”
Sania tertawa pendek, pahit. “Bagus. Selamat.”
“Dari dulu aku bingung gimana cara bilangnya.”
“Buat apa bilang ke aku?”
“Karena…” Adam berhenti. “Karena aku nggak mau ada salah paham.”
Sania berdiri. Pintu kamar dibuka sedikit. Adam masih di depan, wajahnya serius.
“Jadi selama ini kamu datang ke rumah, ngobrol sama aku, bercanda sama aku, itu semua cuma karena kamu mau deket sama adikku?” tanya Sania.
“Bukan begitu.”
“Terus bagaimana?”
Adam menarik napas panjang. “Aku menghargai kamu. Kamu teman yang baik. Tapi perasaanku bukan ke kamu.”
Kata-kata itu masuk seperti pisau yang tidak berteriak, justru karena begitu tenang.
Sania menatapnya lama. “Sejak kapan?”
“Sejak beberapa bulan lalu. Aku sempat menahan diri.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku mau jujur sebelum semuanya makin rumit.”
Sania menutup pintu kamar perlahan, lalu membukanya lagi. “Kalau begitu, selamat. Kamu jujur.”
Adam tidak bergerak. “Sania…”
“Pergi dulu, Adam.”
Ia menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk dan melangkah pergi. Dari celah pintu, Sania melihat Naira berdiri di ujung lorong, wajahnya pucat.
Mata mereka bertemu.
Sania langsung menutup pintu.
Malam itu rumah terasa terlalu sempit. Ibu pulang membawa gula, ayah baru kembali dari bengkel menjelang Isya, dan semua orang makan malam seperti biasa. Naira lebih pendiam dari biasanya. Adam sudah pulang sebelum magrib, menyisakan udara canggung yang mengendap di ruang tamu.
Sania menunduk pada piringnya. Nasi, sayur asem, tempe goreng. Semua terasa hambar.
Ibu memandangnya sekilas. “Kamu kenapa, Ni? Dari tadi diam saja.”
“Capek, Bu.”
Ayah mengangguk, tak bertanya lebih jauh.
Naira mengaduk sayurnya pelan. “Mbak, kalau habis makan kita ngobrol bentar, ya?”
Sania tidak menjawab.
Setelah makan, Naira masuk ke kamar Sania. Ia berdiri di dekat pintu, jemarinya saling menggenggam.
“Aku nggak mau bikin Mbak sakit hati,” katanya pelan.
Sania menatap langit-langit. “Tapi kamu bikin.”
Naira menghela napas, lalu duduk di kursi dekat meja belajar. “Aku nggak pernah minta Adam suka sama aku.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Lalu apa?”
Sania menoleh. “Masalahnya, orang yang aku suka ternyata suka adikku sendiri.”
Naira terdiam.
Sania tertawa kecil, tapi suaranya patah. “Lucu, ya. Aku yang selama ini berusaha keras tampil biasa-biasa saja di depan Adam, ternyata kalah sama kamu yang memang dari lahir sudah cantik, lembut, anggun. Kamu tinggal duduk, orang-orang suka. Aku harus bicara keras, berjalan cepat, dan berdebat baru dianggap ada.”
“Jangan bilang begitu.”
“Kenapa? Karena benar?”
Naira berdiri mendekat. “Mbak, aku tidak pernah ingin dibandingkan.”
“Dan aku tidak pernah ingin kalah dari adikku sendiri.”
Kalimat itu menggantung di udara. Naira menahan air mata, tetapi tidak jatuh. Ia hanya mengangguk kecil.
“Kalau Mbak mau marah, marahlah. Tapi jangan benci aku.”
Sania memejamkan mata. “Aku nggak benci kamu.”
“Lalu?”
“Aku benci keadaan.”
Naira duduk di lantai, bersandar pada ranjang. “Aku juga bingung.”
Sania memandang adiknya. Naira memang berbeda. Sejak kecil ia selalu lembut, suka menolong, tidak suka suara keras. Sania justru sebaliknya—cepat bicara, cepat bereaksi, sering dianggap keras kepala. Mereka sering berbeda pendapat, tapi tetap saling menjaga. Kini, perbedaan itu terasa seperti jurang.
“Adam bilang apa ke kamu?” tanya Sania akhirnya.
Naira menatap tangannya. “Belum sempat bilang apa-apa. Baru beberapa kali ngobrol.”
“Terus kamu?”
“Aku… belum tahu.”
Sania mendengus pelan. “Bagus sekali. Dua orang bikin aku pusing.”
Naira mendongak. “Mbak, aku nggak akan ambil dia kalau itu menyakitkan buat Mbak.”
Sania menatapnya tajam. “Jangan bicara seperti itu. Adam bukan barang yang bisa diambil.”
Naira menunduk. “Maaf.”
Sania mengusap wajahnya, lalu menghela napas panjang. “Sudah. Kita berhenti untuk malam ini.”
Naira berdiri. “Mbak marah?”
“Sedikit.”
“Besok?”
“Besok belum tentu.”
Naira tersenyum tipis, lalu keluar kamar.
Saat pintu tertutup, Sania memukul bantalnya sendiri sekali, keras, lalu membenamkan wajah ke sana.
“Kenapa harus dia?” gumamnya.
Tidak ada yang menjawab.
***
Sejak malam itu, rumah menjadi medan yang aneh.
Adam tidak datang selama dua hari. Naira pun lebih sering diam. Sania berusaha bersikap seperti biasa di kampus, tetapi teman-temannya cepat menangkap perubahan.
Sore di perpustakaan fakultas, Rengganis—teman sebangkunya—mencondongkan tubuh. “Kamu kenapa? Wajahmu kusut terus.”
Sania menutup buku sketsa. “Aku cuma capek.”
“Capek atau patah hati?”
Sania mendengus. “Kamu sok tahu.”
“Berarti patah hati.”
Sania menatapnya tajam, tetapi Rengganis hanya tersenyum. Gadis itu memang selalu punya cara menyebalkan untuk menebak isi kepala orang.
“Siapa dia?” tanya Rengganis.
“Bukan urusanmu.”
“Kalau bukan urusanku, kenapa kamu kelihatan mau meledak?”
Sania diam.
Rengganis menggeser kursinya lebih dekat. “Kalau kamu mau cerita, aku dengar. Kalau nggak mau, ya sudah. Tapi jangan simpan sendiri sampai jadi racun.”
Sania menatap buku sketsanya. “Aku suka seseorang.”
“Bagus.”
“Dia menolakku.”
“Lebih kurang bagus.”
“Yang bikin gila, dia suka adikku.”
Rengganis terdiam sejenak. “Wah.”
“Wah apa?”
“Wah, itu rumit.”
Sania tertawa tanpa humor. “Terima kasih atas analisisnya.”
Rengganis mengangkat tangan. “Maaf. Tapi dengar ya, Sania. Kamu boleh sedih. Kamu boleh marah. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk menghancurkan dirimu sendiri.”
“Kalau kamu di posisiku, kamu akan apa?”
Rengganis berpikir. “Aku akan cari tahu apakah adikmu benar-benar suka dia, atau cuma bingung karena perhatian.”
Sania terdiam.
“Dan kalau memang mereka saling suka,” lanjut Rengganis, “kamu harus memilih: mau tetap jadi orang yang baik, atau jadi orang yang menyimpan luka sampai semua orang ikut terluka.”
Kata-kata itu menempel di kepala Sania sepanjang perjalanan pulang.
Di rumah, ia mendapati Naira sedang menyiram tanaman di halaman. Adam juga ada di sana, membantu memperbaiki kursi kayu yang patah. Mereka berdiri cukup jauh, tetapi ada sesuatu yang tenang di antara keduanya yang membuat Sania ingin berbalik lagi.
Namun ia sudah terlanjur terlihat.
“Pulang, Mbak?” sapa Naira.
Sania mengangguk.
Adam menegakkan badan. “Aku mau bicara sebentar.”
Sania hampir menolak, tetapi ayahnya keluar dari ruang tamu sambil membawa koran. “Kalau mau bicara, di teras saja. Jangan ribut di dalam.”
Tiga pasang mata menatapnya. Sania tak punya pilihan.
Mereka duduk di teras. Angin sore membawa bau tanah basah. Adam memulai lebih dulu.
“Aku minta maaf kalau kemarin aku terlalu langsung.”
Sania menatap jalan depan rumah. “Kamu jujur. Itu saja.”
“Aku nggak mau menyakitimu.”
“Sudah terlambat.”
Adam diam.
Naira duduk di ujung bangku, jarinya meremas ujung rok. “Mbak, aku ingin jelasin sesuatu.”
“Silakan.”
“Aku nggak pernah berniat bikin Mbak merasa kalah.”
Sania menoleh. “Aku tidak kalah.”
“Bukan begitu maksudku.”
Adam menyela dengan suara tenang, “Sania, aku harus bilang sesuatu juga.”
Ia menatap ke depan, bukan pada Sania. “Aku suka Naira karena dia membuatku merasa tenang. Dia lembut, tapi bukan berarti lemah. Dia mendengarkan tanpa menghakimi. Saat aku sedang kacau, dia tidak memaksaku bicara.”
Sania mendengar semua itu seperti orang yang dipaksa menelan sesuatu yang pahit.
Adam melanjutkan, “Tapi aku juga sadar, selama ini aku terlalu dekat denganmu tanpa memikirkan perasaanmu. Itu salahku.”
Sania menatapnya. “Kamu baru sadar sekarang?”
“Ya.”
“Bagus sekali.”
Adam menunduk. “Aku tidak minta kamu memaafkan sekarang.”
Sania tertawa kecil. “Memang kamu pikir maaf itu bisa dibeli dengan kalimat sopan?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa ngomong?”
“Karena aku ingin jujur.”
Sania menatap wajahnya yang tenang itu, dan untuk pertama kalinya ia melihat Adam bukan sebagai seseorang yang harus dimenangkan, melainkan manusia biasa—yang punya pilihan, dan pilihannya membuatnya terluka.
Naira berkata lirih, “Mbak, kalau aku mundur, aku akan menyesal.”
Sania terdiam.
“Kalau aku menolak Adam hanya karena Mbak suka dia, aku akan menyesal seumur hidup. Tapi kalau aku menerima dia, aku juga nggak mau kehilangan Mbak.”
Sania mengalihkan pandangannya ke halaman. Daun mangga bergoyang pelan. Suara motor lewat di kejauhan.
“Jadi kamu minta aku apa?” tanya Sania akhirnya.
Naira menggeleng. “Aku nggak minta apa-apa.”
Adam ikut berbicara, “Aku hanya ingin semuanya tetap baik.”
Sania menatap mereka berdua, lalu tertawa pendek. “Lucu. Kalian bicara seolah aku orang yang harus mengizinkan.”
“Bukan begitu,” kata Adam cepat.
“Lalu bagaimana?”
Sania berdiri. Bangku kayu berderit pelan. “Aku akan jawab nanti.”
Ia masuk ke rumah sebelum siapa pun sempat menahan.
Malam itu ia tidak menangis. Itu justru lebih menakutkan.
Ia duduk di meja belajar, membuka buku sketsa, lalu mulai menggambar tanpa arah. Gaun-gaun, garis-garis, potongan kain, semuanya muncul seperti pelampiasan. Ia menggambar terlalu keras sampai ujung pensil patah.
Di tengah sunyi, suara ibu terdengar dari luar kamar.
“Sania.”
“Ya, Bu?”
Pintu terbuka sedikit. Ibu masuk membawa dua gelas teh hangat. Wajahnya lembut, tapi matanya tajam seperti orang yang sudah lama mengamati sesuatu.
“Kamu kenapa akhir-akhir ini?”
Sania menunduk. “Nggak apa-apa.”
Ibu duduk di tepi ranjang. “Kalau memang nggak apa-apa, kamu nggak akan menghindari makan malam, nggak akan diam terus, dan nggak akan menatap adikmu seperti itu.”
Sania terdiam.
Ibu menyerahkan satu gelas teh. “Kamu suka Adam.”
Sania hampir menjatuhkan gelas. “Ibu tahu?”
“Kalau ibu tidak tahu, ibu bukan ibumu.”
Sania menunduk, malu dan kesal sekaligus. “Aku bodoh.”
“Tidak. Kamu hanya terlambat mengerti bahwa perasaan tidak selalu memilih orang yang tepat.”
Sania mengusap matanya cepat. “Aku merasa seperti orang jahat.”
“Kenapa?”
“Karena aku membenci Naira hanya karena dia disukai orang yang aku suka.”
Ibu menggeleng. “Kamu tidak membenci Naira. Kamu terluka.”
“Bedanya apa?”
“Bedanya, orang yang membenci akan ingin melukai balik. Orang yang terluka hanya ingin semuanya berhenti sakit.”
Sania menatap ibu lama-lama. “Kalau aku mengalah, aku kalah.”
“Kalau kamu menerima kenyataan, kamu dewasa.”
Kalimat itu membuat Sania diam.
Ibu menggenggam tangannya. “Besok, ajak Adam bicara. Bukan untuk meminta penjelasan, tapi untuk memberi keputusan. Lalu bicara dengan Naira. Kalian dua saudara. Jangan biarkan satu laki-laki memutuskan hubungan kalian.”
Sania menunduk. “Aku takut kalau aku ikhlas, aku akan terasa kecil.”
Ibu tersenyum pelan. “Ikhlas tidak membuatmu kecil. Ikhlas justru tanda bahwa hatimu lebih besar dari lukanya.”
***
Keesokan harinya, Sania meminta Adam menemuinya di taman kecil dekat sungai belakang kampus. Tempat itu sepi pada sore hari. Bangku semen di bawah pohon ketapang menjadi tempat mereka duduk berhadapan.
Adam datang tepat waktu.
“Kamu mau bicara?” tanyanya.
Sania mengangguk. “Aku sudah pikirkan.”
Adam menunggu.
Sania menarik napas. “Aku suka kamu. Sudah lama. Aku nggak tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh, tapi aku sadar sekarang. Dan ya, aku sakit hati karena kamu memilih Naira.”
Adam menegang.
“Namun aku tidak akan memaksa kamu menyukai aku. Aku juga tidak akan memaksa Naira menjauh darimu kalau memang kalian saling suka.”
Adam menatapnya, seolah tak yakin apakah ia boleh bernapas.
Sania melanjutkan, suaranya lebih pelan tetapi tegas. “Aku hanya minta satu hal.”
“Apa?”
“Jangan perlakukan Naira seperti pelarian. Kalau kamu memang ingin bersamanya, cintai dia dengan sungguh-sungguh. Dan jangan pernah bohongi aku soal apa pun lagi.”
Adam menunduk, lalu mengangguk. “Aku janji.”
Sania menatap sungai yang mengalir di bawah jembatan kecil. “Aku tidak bilang ini mudah. Tapi aku memilih berhenti melawan sesuatu yang tidak bisa aku ubah.”
Adam berkata pelan, “Terima kasih.”
Sania menoleh tajam. “Jangan berterima kasih padaku seolah aku baru saja memberi hadiah.”
Adam tersenyum kecil, pahit. “Maaf.”
“Sudah.”
Ia berdiri. “Aku selesai bicara.”
“San—”
“Adam.”
Ia menatapnya.
Sania menghela napas. “Kalau kamu benar-benar mencintai Naira, buktikan pada keluargaku. Pada ayahku. Pada ibuku. Pada dia. Jangan buat dia menyesal.”
Adam berdiri juga. “Aku akan lakukan itu.”
Sania mengangguk sekali, lalu pergi.
Begitu jarak di antara mereka cukup jauh, lututnya terasa lemas. Ia berhenti di bawah pohon asam di pinggir jalan, menahan dada yang berdebar keras. Tidak ada air mata. Yang ada hanya rasa kosong yang aneh, seperti rumah setelah semua perabot dikeluarkan.
Namun di balik kekosongan itu, ada sedikit ruang yang baru.
Ruang untuk bernapas.
***
Hubungan Adam dan Naira tidak langsung menjadi mudah.
Ayah Sania menolak ketika Adam datang melamar secara sopan dua bulan kemudian.
“Masih muda,” kata ayah, bersandar di kursi rotan. “Kamu mau kuliah selesai dulu, baru bicara macam-macam.”
Adam tidak membantah. “Saya paham, Pak.”
Ayah meliriknya. “Dan satu lagi. Jangan main-main dengan anak saya.”
“Saya serius.”
Sania yang duduk di ruang tamu hampir tertawa mendengar ketegangan itu. Naira di sampingnya memegang ujung baju dengan gugup.
Ibu akhirnya bicara. “Kalau serius, buktikan. Bukan dengan kata-kata saja.”
Adam menunduk hormat. “Saya akan buktikan.”
Setelah ia pulang, Naira menatap Sania dengan wajah cemas. “Mbak marah?”
Sania menyandarkan kepala ke sofa. “Kalau aku marah, aku sudah lempar dia pakai sandal.”
Naira tertawa kecil. “Jadi?”
“Jadi aku hanya capek.”
Naira menggenggam tangan Sania. “Terima kasih.”
Sania menatap genggaman itu. “Jangan berterima kasih seperti aku sedang berkorban besar.”
“Tapi kamu memang berkorban.”
Sania menggeleng. “Tidak. Aku hanya belajar kalah dengan elegan.”
Naira memejamkan mata sebentar, lalu menempelkan kepalanya di bahu Sania. “Aku tetap sayang Mbak.”
Sania mengusap rambut adiknya, kali ini tanpa rasa ingin menang. “Aku juga.”
Waktu berjalan.
Adam tidak menjadi pria yang romantis berlebihan. Ia tetap sama: tenang, keras kepala, dan kadang terlalu serius. Tapi ia berubah dalam hal yang penting. Ia tidak lagi datang ke rumah hanya untuk Naira; ia datang sebagai orang yang tahu batas, menghormati keluarga, dan tidak menghindari Sania.
Sania pun berubah. Ia tidak lagi menahan diri untuk membenci sesuatu yang sudah berlalu. Ia lebih sering tertawa, lebih fokus pada kuliahnya, dan mulai serius mengirim desainnya ke lomba-lomba mahasiswa. Rengganis yang melihat itu hanya berkata, “Nah, itu baru Sania.”
Pada akhir semester, desain Sania terpilih untuk dipamerkan di acara kampus. Ia membuat satu busana bertema “Laut Setelah Hujan”—gaun sederhana dengan potongan tegas di bagian bahu, namun lembut di bagian rok. Saat namanya diumumkan, ia tidak langsung percaya.
Di belakang panggung, Naira memeluknya erat. “Mbak, selamat!”
Adam berdiri tak jauh, tersenyum bangga.
Sania menatap mereka bergantian, lalu berkata, “Kalau kalian berdua datang ke pameran, jangan berdiri terlalu dekat. Aku bisa salah fokus.”
Naira tertawa. Adam mengangkat alis. “Itu pujian atau ancaman?”
“Dua-duanya.”
Mereka tertawa bersama.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari Adam menolak perasaannya, Sania tidak merasa dadanya ditarik ke bawah. Ia masih ingat sakitnya, tetapi sakit itu tidak lagi memimpin hidupnya.
Malam setelah pameran, ia duduk di teras rumah bersama Naira. Lampu jalan menyala redup. Dari dalam rumah terdengar suara ayah menonton berita, ibu menyiapkan minuman hangat.
Naira memeluk lututnya. “Mbak.”
“Hmm?”
“Kalau dulu aku tahu Adam suka aku, aku takut Mbak akan benci aku selamanya.”
Sania menatap langit. “Aku sempat marah.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku sadar satu hal.”
“Apa?”
Sania tersenyum tipis. “Kalau seseorang memang bukan untuk kita, memaksa hanya membuat kita kehilangan lebih banyak. Kadang yang paling sulit bukan melepaskan orangnya, tapi melepaskan harapan yang kita bangun sendiri.”
Naira diam mendengar.
Sania melirik adiknya. “Tapi jangan salah paham. Aku tetap akan memarahi kamu kalau kamu bikin aku kesal.”
Naira tertawa. “Siap, Mbak.”
Pintu depan terbuka. Adam muncul membawa dua kotak kecil berisi kue dari toko dekat terminal.
“Boleh ikut duduk?” tanyanya.
Sania meliriknya. “Kalau bawa kue, boleh.”
Adam duduk di sisi lain bangku, lalu menyerahkan satu kotak ke Sania dan satu ke Naira. “Aku pikir kalian berdua pantas merayakan.”
Sania membuka kotaknya. “Kamu jadi baik sekali sekarang.”
“Dulu aku tidak baik?”
“Dulu kamu menyebalkan.”
Naira tertawa kecil. Adam menggeleng pasrah.
Mereka makan kue dalam keheningan yang nyaman. Tidak ada kecanggungan yang dulu begitu tajam. Hanya malam, angin, dan tiga orang yang pernah tersakiti oleh keadaan, lalu memilih tidak membiarkannya menghancurkan mereka.