Di Sampingmu, Hingga Akhir Waktu.....
*************************************
Di sebuah desa yang jauh dari keramaian, hiduplah seorang anak laki-laki yang berbeda dari anak-anak lainnya. Ia adalah seorang mutan, korban eksperimen ilegal sebuah laboratorium yang telah memperlakukannya layaknya benda percobaan. Sejak kecil, ia harus menanggung penderitaan yang bahkan tidak seharusnya dialami seorang anak.
Entah bagaimana, ia akhirnya sampai di sebuah desa kecil. Namun, kehidupan yang diharapkannya akan menjadi lebih baik justru berubah menjadi mimpi buruk baru. Penduduk desa takut kepadanya. Mereka menganggapnya berbahaya karena kekuatan aneh yang dimilikinya. Tak seorang pun mau mendekatinya, apalagi menerimanya sebagai bagian dari mereka.
Akhirnya, anak itu diikat pada sebuah tiang di ujung desa. Para penduduk beralasan bahwa tindakan itu perlu dilakukan demi keselamatan bersama. Mereka tidak ingin mengambil risiko dengan membiarkan seorang mutan berkeliaran bebas di antara mereka.
Hari-harinya berlalu dalam kesepian. Ia hanya bisa melihat orang-orang berjalan melewatinya dari kejauhan. Beberapa menatapnya dengan jijik, sementara yang lain buru-buru pergi karena takut dirinya tiba-tiba mengamuk.
Lama-kelamaan, ia mulai terbiasa dengan semua itu. Ia tidak lagi berharap seseorang akan datang menolongnya. Baginya, manusia memang seperti itu. Mereka akan membenci sesuatu yang tidak mereka pahami, lalu menyebutnya monster agar tidak perlu merasa bersalah atas perlakuan mereka.
Namun, suatu hari, seorang gadis kecil datang menghampirinya.
Gadis itu seusianya. Dengan langkah ringan, ia membawa makanan yang kemudian diletakkannya di hadapan anak laki-laki tersebut.
Anak itu menatapnya penuh kecurigaan.
"Kenapa kamu ke sini?" tanyanya.
Gadis itu tersenyum. "Aku membawakan makanan untukmu."
"Kenapa? Kamu tidak takut kepadaku?"
Gadis kecil itu terdiam sebentar, seolah-olah sedang memikirkan pertanyaan yang aneh.
"Memangnya kenapa aku harus takut?"
Anak laki-laki itu tidak menjawab. Selama ini, ia hanya mengenal tatapan ketakutan dan kebencian. Ia tidak pernah membayangkan akan ada seseorang yang datang menghampirinya tanpa membawa senjata atau berniat menyakitinya.
Sejak hari itu, gadis kecil tersebut mulai sering datang. Hampir setiap hari, ia membawakan makanan, duduk di dekatnya, dan menceritakan berbagai hal yang dialaminya. Kadang-kadang, ia bercerita tentang teman-temannya di desa. Kadang-kadang, ia hanya mengoceh tentang sesuatu yang menurutnya menarik.
Anak laki-laki itu lebih banyak diam pada awalnya. Namun, perlahan-lahan, ia mulai terbiasa dengan kehadiran gadis tersebut. Ia mulai menantikan kedatangannya setiap hari.
Waktu berlalu, dan keduanya tumbuh dewasa.
Gadis itu tetap menemaninya, meskipun anak laki-laki yang dahulu dikenalnya kini telah tumbuh menjadi pria dengan tubuh besar dan kekuatan yang semakin mengerikan. Penampilannya mungkin membuat orang lain semakin takut, tetapi bagi gadis itu, ia tetaplah seseorang yang sama seperti dahulu.
Seseorang yang perlu ditemani.
Bersama gadis itu, sang mutan mulai mengenal kebahagiaan. Ia belajar tersenyum, tertawa, dan berbagi cerita. Untuk pertama kalinya, ia memiliki seseorang yang bisa ia percaya. Seseorang yang tidak pernah memandangnya sebagai monster.
Tanpa disadarinya, gadis itu telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
Ia mencintainya.
Mungkin ia tidak selalu mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi dalam hatinya, ia telah membayangkan masa depan bersama perempuan tersebut. Ia ingin suatu hari nanti bisa hidup bebas, meninggalkan tempat yang telah merampas kebebasannya, dan menjalani kehidupan sederhana bersama orang yang dicintainya.
Ia tidak membutuhkan kekayaan atau kekuasaan. Ia hanya ingin hidup tanpa rasa takut, bersama seseorang yang menerima dirinya apa adanya.
Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya.
Suatu hari, berbagai kemalangan mulai menimpa desa. Banyak hal buruk terjadi, dan penduduk mulai mencari seseorang untuk disalahkan. Ketakutan yang selama ini mereka pendam perlahan berubah menjadi kebencian. Mereka mulai percaya bahwa keberadaan sang mutanlah yang membawa kesialan bagi desa mereka.
"Semua ini pasti gara-gara dia!"
"Selama monster itu masih hidup, desa kita tidak akan pernah aman!"
Bisikan-bisikan itu semakin lama semakin keras, sampai akhirnya para penduduk memutuskan untuk menghabisinya.
Ketika mendengar kabar tersebut, perempuan yang dicintainya segera berlari menuju tempat sang mutan berada. Ia mendapati sekelompok penduduk telah berkumpul di sana, membawa senjata dan bersiap menyerangnya.
"Berhenti!" teriaknya.
Ia berdiri di hadapan pria itu, menghalangi jalan para penduduk.
"Jangan sentuh dia! Dia tidak melakukan apa pun kepada kalian!"
Salah seorang penduduk membentaknya. "Minggir! Kau tidak tahu betapa berbahayanya dia!"
"Aku mengenalnya lebih baik daripada kalian!" balas perempuan itu. "Dia tidak pernah menyakiti siapa pun di desa ini. Mengapa kalian terus menyalahkannya?"
Namun, orang-orang itu tidak mau mendengarkan. Ketakutan telah menguasai pikiran mereka, membuat mereka tidak lagi peduli pada apa yang sebenarnya terjadi.
Pertengkaran semakin memanas. Di tengah kekacauan itu, sebuah serangan menghantam tubuh perempuan tersebut.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Perempuan itu terhuyung sebelum akhirnya jatuh tepat di hadapan pria yang dicintainya.
Sang mutan membelalakkan mata. Ia berusaha meraih perempuan itu, tetapi tubuhnya masih terikat.
"Tidak..."
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Ia memandangi perempuan yang terbaring di hadapannya, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Ia menunggu perempuan itu membuka mata, tersenyum, lalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja seperti yang selalu dilakukannya ketika mereka masih kecil.
Namun, perempuan itu tidak bergerak.
"Hei, bangunlah..."
Tidak ada jawaban.
"Tolong... jangan seperti ini."
Air mata mulai mengalir di wajahnya.
Perempuan yang dahulu selalu datang menemuinya, yang telah menemaninya melewati tahun-tahun paling menyedihkan dalam hidupnya, kini telah pergi untuk selamanya.
Dan ia hanya bisa menyaksikannya.
Sesuatu di dalam dirinya akhirnya runtuh.
Tanah di sekitar mereka mulai bergetar. Bebatuan terangkat dari permukaan bumi, sementara udara terasa semakin berat. Ikatan yang selama bertahun-tahun menahannya pada tiang perlahan hancur, seolah-olah tidak lebih dari ranting rapuh di hadapan kekuatannya.
Sang mutan mengangkat kepalanya. Tatapannya berubah. Kesedihan yang memenuhi hatinya bercampur dengan amarah yang begitu besar hingga ia sendiri tidak mampu mengendalikannya.
Selama hidupnya, manusia telah merampas kebebasannya, mengurungnya, dan memperlakukannya seperti monster. Namun, ia masih mampu bertahan karena perempuan itu selalu berada di sisinya.
Sekarang, orang-orang yang sama telah membunuh satu-satunya orang yang dicintainya.
Jeritan penuh amarah mengguncang desa.
Kekuatan yang selama ini terpendam dalam tubuhnya meledak tanpa kendali. Tanah terbelah, bangunan-bangunan runtuh, dan pepohonan tercabut dari akarnya. Dalam waktu singkat, desa yang dahulu menjadi tempat tinggalnya berubah menjadi reruntuhan.
Tidak ada yang mampu menghentikannya. Para penduduk yang dahulu begitu yakin bahwa mereka bisa mengendalikan sang mutan kini tidak berdaya menghadapi kekuatan yang telah mereka bangkitkan sendiri.
Desa itu hancur bersama orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Namun, setelah semuanya berakhir, sang mutan tidak merasakan kemenangan sedikit pun.
Ia tidak merasa lega. Ia tidak merasa bahagia. Bahkan, ia tidak lagi peduli dengan kehancuran yang telah dibuatnya.
Ia hanya merasa kosong.
Perlahan, ia menghampiri tubuh perempuan yang dicintainya. Ia berlutut, kemudian mengangkatnya dengan hati-hati, seolah-olah sedikit gerakan saja bisa menyakitinya.
"Aku sudah bebas sekarang," bisiknya dengan suara bergetar. "Kita bisa pergi ke mana pun yang kita mau."
Air matanya jatuh membasahi wajah perempuan itu.
"Tapi kenapa kau tidak bangun?"
Ia memeluk tubuhnya erat-erat.
"Kau bilang kita akan selalu bersama..."
Suaranya pecah.
"Jadi, kenapa kau meninggalkanku sendirian?"
Tidak ada jawaban selain kesunyian yang menyelimuti reruntuhan desa.
Setelah sekian lama menangis, sang mutan akhirnya berhenti berbicara. Ia menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Sebanyak apa pun ia menangis, sebanyak apa pun orang yang telah ia bunuh, perempuan itu tidak akan pernah kembali.
Ia kemudian menggali tanah dengan kekuatannya dan membuat sebuah liang. Dengan hati-hati, ia membaringkan perempuan itu di dalamnya, lalu merebahkan diri di sampingnya.
Ia tidak lagi peduli apakah dirinya akan hidup atau mati. Ia tidak ingin mencari musuh baru, tidak ingin membalas dendam lagi, dan tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan hidupnya sendirian.
Jika kematian datang menjemputnya, ia tidak akan melawan.
Sebelum tanah menutupi tubuh mereka, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah perempuan itu.
Kemudian, ia memejamkan mata.
Tanah perlahan menutup liang tersebut, mengubur mereka bersama kenangan tentang kehidupan yang tidak pernah sempat mereka jalani.
Sejak hari itu, waktu terus berjalan tanpa mereka.
Tahun berganti menjadi puluhan tahun. Puluhan tahun menjadi ratusan tahun, hingga akhirnya ribuan tahun berlalu. Desa yang pernah dihancurkan sang mutan telah lama hilang. Tidak ada lagi bangunan yang tersisa, tidak ada lagi penduduk yang mengingat tragedi tersebut, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa jauh di bawah tanah, dua orang sedang terbaring berdampingan.
Sementara itu, di dalam tidurnya, sang mutan menemukan kebahagiaan yang tidak pernah berhasil ia dapatkan ketika masih terjaga.
Dalam mimpinya, ia berhasil membangkitkan perempuan yang dicintainya. Perempuan itu kembali membuka mata dan tersenyum kepadanya. Mereka meninggalkan desa, berjalan menyusuri padang rumput, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat, dan hidup bersama tanpa ada seorang pun yang menghalangi mereka.
Tidak ada lagi rantai yang mengikatnya. Tidak ada lagi orang-orang yang takut kepadanya. Tidak ada lagi kematian yang memisahkan mereka.
Mereka menjalani kehidupan yang dahulu hanya bisa mereka impikan.
Hari demi hari berlalu dalam kebahagiaan. Sang mutan tidak lagi merasa kesepian. Ia bisa mendengar suara perempuan itu, melihat senyumnya, dan menggenggam tangannya seolah-olah semuanya benar-benar terjadi.
Dalam mimpi tersebut, ia akhirnya mendapatkan apa yang selalu diinginkannya.
Ia hidup bersama perempuan itu selamanya.
Hingga suatu hari, sekelompok pendaki gunung melintasi kawasan hutan yang belum banyak dijelajahi. Mereka sedang menyusuri jalur berbatu ketika salah seorang dari mereka menginjak sebidang tanah yang tampak berbeda dari sekitarnya.
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergemuruh.
"Apa itu?!"
Mereka berusaha menjaga keseimbangan ketika tanah mulai bergetar hebat. Retakan menjalar ke berbagai arah, bebatuan berjatuhan, dan permukaan tanah perlahan amblas.
Para pendaki segera menjauh.
Dari dalam tanah, sebuah tangan muncul.
Sesosok pria perlahan bangkit dari liang yang telah tertutup selama ribuan tahun. Tubuhnya dipenuhi debu, rambutnya berantakan, dan matanya terbuka dengan tatapan kosong.
Ia berdiri sempoyongan, seolah-olah belum sepenuhnya menyadari keadaan di sekelilingnya.
Namun, beberapa saat kemudian, wajahnya berubah.
Ia menoleh ke segala arah dengan napas memburu.
"Di mana...?"
Ia berjalan beberapa langkah, lalu kembali menoleh dengan gelisah.
"Di mana dia?!"
Pria itu mulai mengangkat bebatuan dan menggali tanah dengan tangannya. Ia tidak memedulikan para pendaki yang ketakutan, bahkan tidak menyadari bahwa dirinya telah terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
"DI MANA DIA?!"
Ia terus menggali sampai tangannya menyentuh sesuatu yang keras.
Pria itu berhenti.
Dengan hati-hati, ia membersihkan tanah di sekitarnya.
Sebuah tengkorak terbaring di dalam liang.
Ia menatapnya dalam diam. Kemudian, pandangannya tertuju pada sebuah kalung tua yang masih melingkar di lehernya.
Tangannya mulai gemetar ketika ia mengambil kalung tersebut.
Di dalam liontinnya tersimpan sebuah foto yang telah kusam, tetapi masih cukup jelas untuk memperlihatkan wajah seorang gadis yang tersenyum.
Gadis yang dahulu datang membawakannya makanan.
Gadis yang menemaninya sejak kecil.
Gadis yang dicintainya hingga ia rela menghancurkan seluruh desa demi kematiannya.
Pria itu mengenali wajah tersebut seketika.
Bibirnya bergetar.
"Tidak..."
Ia menggelengkan kepala, seolah-olah menolak apa yang dilihatnya.
"Tidak mungkin..."
Ia menggenggam kalung itu erat-erat, kemudian memeluknya ke dada.
Air matanya jatuh satu per satu, sebelum akhirnya ia menangis sejadi-jadinya.
Selama ribuan tahun, ia telah hidup dalam mimpi yang begitu indah. Ia mengira telah berhasil mendapatkan kembali perempuan yang dicintainya dan menjalani kehidupan yang dahulu direnggut dari mereka.
Namun, semuanya hanyalah mimpi.
Perempuan itu tidak pernah kembali. Tidak ada kehidupan abadi yang mereka jalani bersama. Yang tersisa hanyalah tulang belulang, sebuah kalung tua, dan kenangan yang telah bertahan melintasi ribuan tahun.
Ia bahkan tidak tahu berapa lama dirinya tertidur. Baginya, mimpi itu terasa begitu nyata, seolah-olah ia baru saja memejamkan mata.
Namun, ketika terbangun, ia mendapati bahwa seluruh kehidupan yang dikenalnya telah lenyap.
Pria itu terus menangis sambil mendekap kalung tersebut. Ia tidak lagi peduli pada apa pun di sekitarnya.
Sampai akhirnya, ia menyadari keberadaan para pendaki.
Ia menoleh ke arah mereka.
Kesedihan di wajahnya perlahan berubah menjadi kemarahan. Ia teringat bahwa orang-orang itulah yang telah membangunkannya dari mimpi indahnya, memaksanya kembali menghadapi kenyataan yang begitu menyakitkan.
Tanah mulai bergetar di bawah kakinya. Bebatuan terangkat ke udara, dan kekuatan yang mengerikan kembali menyelimuti tubuhnya.
Para pendaki mundur ketakutan.
Pria itu mengangkat tangannya, bersiap menghancurkan mereka.
Namun, tepat sebelum menyerang, ia tiba-tiba berhenti.
Ia menatap orang-orang di hadapannya. Mereka tidak mengenalnya. Mereka tidak mengetahui masa lalunya, tidak pernah menyakitinya, dan tidak pernah membunuh perempuan yang dicintainya.
Mereka hanyalah orang-orang asing yang kebetulan melintasi tempat ia tertidur.
Perlahan, bebatuan yang melayang mulai jatuh ke tanah.
Tangannya terkulai.
Kemudian, tanpa sepatah kata pun, ia berlutut dan bersujud. Tangisnya kembali pecah, kali ini lebih memilukan daripada sebelumnya.
Para pendaki saling berpandangan. Mereka masih takut kepada sosok yang mampu mengguncang tanah hanya dengan kekuatannya. Namun, melihat pria itu menangis seperti seseorang yang telah kehilangan segalanya, mereka mulai merasa iba.
Salah seorang pendaki memberanikan diri mendekat.
Ia berlutut di samping pria itu, lalu mengelus pundaknya dengan lembut.
Pria mutan itu tidak menoleh.
Beberapa pendaki lainnya ikut mendekat. Seorang gadis mengeluarkan botol air dari tasnya dan menyodorkannya. Gadis lain memberikan makanan yang dibawanya.
"Minumlah," katanya pelan.
"Kamu pasti lapar."
Pria itu mengangkat kepalanya sedikit. Ia menatap air dan makanan yang diberikan kepadanya, kemudian memandangi wajah orang-orang di sekelilingnya.
Mereka tidak berteriak ketakutan kepadanya. Mereka tidak memanggilnya monster. Mereka juga tidak berusaha mengusir atau menyakitinya.
Mereka justru mendekat dan mencoba menghiburnya.
Ketika seorang gadis menyodorkan makanan ke tangannya, ingatan tentang masa lalu kembali muncul.
Ia teringat seorang gadis kecil yang dahulu datang membawakan makanan di ujung desa. Gadis yang duduk di sampingnya dan mengajaknya berbicara ketika seluruh penduduk menjauhinya. Gadis yang tidak pernah takut, meskipun semua orang menganggapnya monster.
Pria itu menatap makanan di tangannya dengan mata berkaca-kaca.
Untuk sesaat, ia merasa seolah-olah kembali ke masa kecilnya.
Dahulu, seorang gadis telah menunjukkan kepadanya bahwa masih ada manusia yang mampu berbuat baik. Sekarang, ribuan tahun kemudian, orang-orang asing melakukan hal yang sama.
Ia mulai memahami sesuatu yang selama ini sulit diterimanya.
Tidak semua manusia kejam.
Tidak semua orang akan menyakitinya hanya karena dirinya berbeda.
Dunia memang pernah merenggut seseorang yang paling berharga dalam hidupnya, tetapi bukan berarti seluruh manusia pantas dibenci.
Ia masih merindukan perempuan itu. Kerinduan tersebut tidak akan hilang hanya karena beberapa orang asing memperlakukannya dengan baik. Ia juga tidak bisa begitu saja melupakan semua penderitaan yang pernah dialaminya.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi ingin melampiaskan rasa sakitnya kepada orang lain.
Ia menerima air dan makanan itu dengan tangan gemetar. Air matanya kembali mengalir, tetapi kali ini ia tidak mengangkat tangan untuk menyerang siapa pun.
Ia hanya duduk di sana, membiarkan orang-orang asing itu menemaninya.
Setelah beberapa waktu, pria tersebut berdiri dan memandangi mereka untuk terakhir kalinya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, lalu berbalik menuju liang tempat tengkorak perempuan yang dicintainya ditemukan.
Ia mulai menggali tanah dan mengangkat bebatuan, membuka kembali tempat yang dahulu menjadi tempat peristirahatan mereka.
Dengan sangat hati-hati, ia mengembalikan tulang belulang perempuan itu ke dalam liang. Ia meletakkan kalung bergambar wajahnya di samping tengkorak tersebut, lalu berlutut di hadapannya.
Untuk waktu yang lama, ia hanya terdiam.
Ia teringat semua yang pernah mereka lalui bersama. Ia teringat senyumnya, tawanya, dan impian sederhana yang dahulu ingin mereka wujudkan.
Ia juga teringat hari ketika perempuan itu meninggal di hadapannya, hari ketika ia menghancurkan desa, dan ribuan tahun yang telah berlalu tanpa pernah ia sadari.
Sekarang, ia tahu bahwa tidak semua manusia kejam. Ia telah melihat sendiri bahwa kebaikan masih ada di dunia ini.
Namun, ia tidak ingin mencari kehidupan baru.
Ia tidak ingin membalas dendam lagi, tidak ingin menghancurkan apa pun, dan tidak ingin terus berjuang menghadapi dunia yang sudah begitu asing baginya.
Ia hanya ingin kembali ke tempat perempuan yang dicintainya beristirahat.
Pria itu perlahan membaringkan dirinya di dalam liang, tepat di samping tulang belulang perempuan tersebut. Ia menggeser tubuhnya mendekat, lalu meletakkan tangannya di tanah di antara mereka.
"Aku kembali..."
Bisikannya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.
Ia tidak tahu apakah dirinya akan bermimpi lagi. Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan terbangun, atau apakah ada kehidupan setelah kematian yang memungkinkan mereka bertemu kembali.
Kali ini, ia tidak lagi berusaha mencari jawaban.
Ia hanya ingin beristirahat.
Dengan kekuatannya, ia menarik tanah dan bebatuan untuk menutupi liang tersebut. Perlahan-lahan, cahaya matahari menghilang dari pandangannya hingga akhirnya kegelapan menyelimuti tempat itu.
Para pendaki yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa terdiam. Mereka tidak mengetahui siapa pria itu, dari mana asalnya, atau apa yang telah terjadi dalam kehidupannya. Mereka hanya bisa meninggalkan tempat itu dengan membawa kenangan tentang seseorang yang menangis begitu dalam, seolah-olah telah kehilangan seluruh dunianya.
Waktu kembali berjalan.
Musim berganti, pepohonan tumbuh di atas tanah yang menutupi liang mereka, dan peradaban manusia terus berkembang. Tidak ada yang mengetahui bahwa jauh di bawah permukaan bumi, seorang pria mutan sedang berbaring di samping perempuan yang dicintainya.
Tidak ada lagi suara yang memanggil namanya. Tidak ada lagi makanan yang dibawakan setiap hari. Tidak ada lagi percakapan tentang impian dan masa depan.
Hanya keheningan yang menemani mereka.
Pria itu tertidur kembali, kali ini tanpa kemarahan dan tanpa keinginan untuk membalas dendam kepada siapa pun. Ia telah mengetahui bahwa dunia tidak sepenuhnya kejam, tetapi ia memilih meninggalkannya dan kembali ke tempat yang menyimpan kenangan paling berharga dalam hidupnya.
Di sampingnya, tulang belulang perempuan itu tetap terbaring.
Dunia di atas mereka terus berjalan menuju masa depan, sementara keduanya kembali beristirahat berdampingan, jauh dari kebencian, penderitaan, dan waktu yang telah merenggut segalanya.
Dan entah sampai kapan, di tempat yang tak lagi diingat manusia itu, mereka tetap berada di sana.
Di samping satu sama lain, hingga akhir waktu.
Tamat.(create by Paulus Waruwu)