*1. Surat Warisan*
Aku tidak pernah kenal nenekku.
Ibuku hanya bilang, "Nenekmu itu pendiam. Dia tinggal sendiri di rumah kayu di pinggir hutan. Jangan tanya macam-macam."
Waktu ibu meninggal tahun lalu, aku mendapat surat dari pengacara. Sebuah kunci besi berkarat dan selembar surat dengan tulisan tangan yang sudah pudar.
_Untuk cucuku, Laras. Rumah ini untukmu. Jangan biarkan ia kosong lebih dari 7 hari. Ia tidak suka kosong. - Nenek_
Aku butuh uang. Kontrakanku habis. Jadi aku pergi ke rumah itu.
Rumah itu besar, dua lantai, dari kayu hitam yang sudah dimakan usia. Di sekelilingnya hanya ada hutan pinus yang sangat rapat, tidak ada rumah lain dalam jarak 1 kilometer. Dan di belakang rumah, ada danau kecil yang airnya hitam pekat, tidak memantulkan langit.
Hari pertama aku masuk, aku mencium bau yang aneh. Bukan bau kayu lapuk. Bau seperti... bau rambut basah yang sudah lama tidak kering.
Di ruang tamu ada 7 kursi. Semua menghadap ke satu arah: ke perapian yang sudah lama mati. Di atas perapian ada 7 foto. 6 foto sudah pecah kacanya, wajahnya tidak terlihat. 1 foto masih utuh, foto seorang anak perempuan kecil berambut panjang, tersenyum, tapi matanya dicoret dengan tinta hitam.
Aku memutuskan tidur di kamar lantai dua.
Malam pertama, jam 02:13, aku terbangun karena mendengar suara orang menghitung.
"...dua... tiga... empat..."
Suara anak kecil. Dari lantai bawah.
Aku turun dengan senter HP. Tidak ada siapa-siapa. 7 kursi itu masih di sana. Tapi posisinya berubah. Tadi semua menghadap perapian. Sekarang, satu kursi menghadap ke arah tangga. Menghadap ke aku.
Aku kembali naik, mengunci pintu kamar.
*2. Aturan Rumah*
Pagi harinya aku menemukan buku harian nenek di dalam lemari. Kulitnya dari kain goni, halamannya tebal.
Halaman pertama:
_ATURAN RUMAH:_
_1. Jangan hitung kursi. Biarkan ia menghitungmu._
_2. Jika mendengar ia menghitung sampai tujuh, tutup matamu. Jangan sampai ia melihatmu melihatnya._
_3. Jangan pernah melihat ke danau setelah jam 6 sore. Danau itu bukan air._
_4. Kalau ada yang mengetuk dari dalam lemari, jangan jawab. Itu bukan lemari._
Aku menganggap itu tulisan orang tua yang sudah pikun.
Hari kedua, aku mulai membersihkan rumah. Aku membuang 6 foto yang pecah itu ke danau belakang. Saat aku melempar foto terakhir, air danau beriak, padahal tidak ada angin. Dan dari dalam air, aku melihat pantulan. Bukan pantulanku. Pantulan 6 anak kecil berdiri di belakangku, berpegangan tangan.
Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
Malam kedua, suara menghitung itu datang lagi.
"...satu... dua... tiga... empat... lima..."
Lebih jelas. Lebih dekat. Dari dalam kamarku. Dari dalam lemari.
Aku ingat aturan nomor 4. Aku tidak menjawab.
Suara itu berhenti di angka lima. Lalu terdengar ketukan pelan dari dalam lemari. Tok... tok... tok...
Aku tidak bergerak sampai pagi.
Pagi hari ketiga, aku bangun dan melihat pintu lemariku terbuka sedikit. Di dalamnya ada rambut hitam panjang yang sangat banyak, menumpuk seperti sarang. Dan di antara rambut itu, ada kertas kecil.
_Kamu buang foto kami ya?_
*3. Yang Ketujuh*
Aku baru mengerti. Rumah ini tidak dihuni oleh satu hantu. Tapi oleh enam.
Nenekku punya 7 anak. Ibuku adalah anak ketujuh, yang berhasil kabur. 6 kakak ibuku meninggal di danau belakang rumah. Bukan tenggelam. Mereka dimasukkan ke danau oleh nenekku.
Aku menemukan halaman terakhir buku harian itu, yang sobek setengah.
_...aku harus melakukannya. Danau itu lapar. Kalau tidak kuberi, ia akan mengambil rumah ini. Aku sudah beri 6. Tinggal satu lagi, yang bungsu. Tapi ia lari. Laras, kalau kamu baca ini, jangan kembali. Ia sudah menunggu yang ketujuh untuk genap. Danau itu selalu minta genap..._
Aku langsung packing. Jam 5 sore aku mau keluar dari rumah itu.
Tapi semua pintu dan jendela tidak bisa dibuka. Kayu rumah itu seperti menjadi lunak, seperti kulit.
Jam 6 sore lewat.
Dari jendela belakang, aku melihat danau itu. Air hitamnya surut. Di dasar danau yang kering, ada 6 tubuh anak kecil berbaring, semua menghadap ke atas, ke arah kamarku. Dan di tengah mereka, ada satu lubang kosong berbentuk tubuhku.
Lalu aku mendengar suara itu lagi, tepat di belakang leherku. Bukan dari lemari lagi.
"...enam... tujuh..."
Seseorang berbisik, "Akhirnya pas."
Aku menutup mata. Seperti aturan nomor 2.
Tapi sudah terlambat. Aku sudah melihatnya melihatku.
Di foto ketujuh yang masih utuh di atas perapian, mata yang tadi dicoret tinta hitam itu sekarang terbuka. Dan ia tersenyum ke arahku.
Dan kursi ketujuh di ruang tamu, yang selama ini kosong, sekarang ada yang menduduki.
*4: Danau Yang Bukan Air*
Aku tidak berani membuka mata.
Suara napas anak kecil itu ada tepat di belakangku. Dingin. Bau rambut basah itu semakin kuat.
"...tujuh... sudah tujuh..."
Aku ingat aturan nomor 2 dari nenek: _Jika mendengar ia menghitung sampai tujuh, tutup matamu. Jangan sampai ia melihatmu melihatnya._
Aku tutup mata sekuat tenaga. Air mataku keluar.
Suara itu tertawa kecil. "Kamu sudah melihat. Tadi kamu lihat danau. Kamu sudah lihat tempat tidur kami."
Tiba-tiba hening.
Aku pelan-pelan membuka mata. Kamar kosong. Tidak ada siapa-siapa.
Tapi di lantai, ada jejak kaki basah kecil. Bukan satu. Enam pasang. Semua mengelilingi tempatku berdiri, membentuk lingkaran. Dan di tengah lingkaran itu, ada jejak ketujuh yang baru, masih meneteskan air hitam.
Jejakku.
Aku lari ke lantai bawah. 7 kursi itu sekarang semua berbalik menghadap ke tangga. Semua terisi. Aku tidak bisa melihat wajah mereka karena rambut panjang hitam menutupi seluruh kepala mereka. Rambut yang sama seperti yang ada di lemari.
Mereka duduk diam. Tidak bergerak. Tapi aku bisa dengar mereka menghitung bersamaan, pelan, seperti doa.
"...satu... dua... tiga... empat... lima... enam..."
Mereka berhenti di enam. Menunggu.
Kursi ketujuh kosong. Kursi itu untukku.
Aku lari ke pintu belakang, ke arah danau. Pintu itu akhirnya bisa terbuka.
Danau di belakang rumah sudah tidak ada airnya sama sekali. Dasar danau itu bukan tanah. Dasar danau itu adalah kaca hitam raksasa. Dan di bawah kaca itu, aku bisa melihat.
Ada rumahku. Rumah kayu ini. Tapi dilihat dari bawah. Terbalik.
Dan di dalam rumah kaca yang terbalik itu, ada aku. Ada 6 anak kecil mengelilingiku. Dan ada seorang wanita tua, nenekku, berdiri di sudut dengan wajah menyesal.
Nenekku di bawah kaca itu menatapku dan menggerakkan bibirnya: "JANGAN DUDUK."
Aku mengerti. Danau ini bukan danau. Ini adalah penutup. Penutup untuk rumah yang sebenarnya di bawah. Rumah kayu ini hanyalah tutupnya. Yang di bawah itulah rumah yang asli. Dan enam anak itu tidak tenggelam. Mereka jatuh ke bawah. Ke rumah cermin.
Aturan nomor 3: _Jangan pernah melihat ke danau setelah jam 6 sore. Danau itu bukan air._
Karena setelah jam 6 sore, kaca itu menjadi bening. Dan yang di bawah bisa melihat yang di atas. Dan mereka bisa naik kalau ada yang kosong.
Aku mendengar suara pintu kayu berderit dari belakangku.
Tujuh kursi itu sekarang berdiri. Mereka berjalan. Pelan. Menuju pintu belakang. Menuju aku.
*5: Hitungan Terakhir*
Aku tidak punya pilihan. Aku kembali masuk ke rumah dan mengunci pintu belakang.
Aku mengambil minyak tanah di gudang dan menyiramkan ke 6 foto yang tadi kubuang, yang sekarang sudah kembali lagi ke atas perapian dengan sendirinya. Foto-foto itu basah, tapi berbau minyak.
Aku mengambil korek.
Suara langkah kaki kecil itu sudah di depan pintu dapur.
Tok... tok... tok... Ketukan dari aturan nomor 4.
Kali ini aku jawab.
"Siapa?" teriakku.
Hening. Lalu suara anak kecil menjawab, pelan sekali, dari balik pintu:
"Kami. Kami mau genap."
Pintu dapur terbuka sendiri.
Enam anak berambut panjang itu berdiri di sana. Wajah mereka akhirnya terlihat. Pucat. Mata mereka hitam semua, tanpa putih. Mereka tersenyum, tapi senyum mereka terlalu lebar.
"Kamu yang ketujuh," kata yang paling depan. "Ibu janji tujuh. Ibu baru kasih enam. Kamu yang terakhir."
Aku menyalakan korek.
"Tidak," kataku. "Aku bukan yang ketujuh. Aku yang membakar."
Aku melempar korek ke perapian.
Api langsung besar. Membakar foto, membakar kursi pertama. Anak-anak itu menjerit. Bukan jeritan marah. Jeritan lega.
Rumah kayu tua itu sangat mudah terbakar. Dalam 2 menit, seluruh ruang tamu sudah api.
Aku lari keluar lewat jendela depan. Aku jatuh di tanah hutan yang basah.
Aku melihat rumah itu terbakar. Kayunya meletup-letup seperti ada air di dalamnya.
Dan dari tengah api, aku melihat 6 anak kecil itu berjalan keluar. Tidak terbakar. Mereka berjalan ke arah danau kaca.
Mereka berdiri di tepi danau. Menatapku.
Lalu mereka melompat, satu per satu, masuk ke dalam kaca hitam itu. Tidak ada riak. Mereka hanya... masuk ke bawah.
Anak terakhir berhenti. Menoleh padaku. Ia mengulurkan tangan.
"Ayo?"
Aku menggeleng.
Ia tersenyum. Senyum pertama yang normal. "Terima kasih sudah bebaskan kami. Sekarang giliranmu jaga rumah."
Lalu ia masuk ke dalam kaca.
Api di rumah perlahan mati dengan sendirinya, padahal tidak ada hujan. Rumah itu tidak hangus total. Hanya hangus setengah. 7 kursi itu hangus menjadi abu. Tapi di tengah abu itu, ada satu kursi baru yang utuh. Kursi kayu kecil yang belum pernah ada sebelumnya.
Dan di atas perapian yang hangus, ada 8 foto sekarang. 7 foto anak-anak itu, semua sudah tidak dicoret matanya. Mereka semua tersenyum normal. Dan foto kedelapan... foto itu masih kosong. Bingkainya kosong, menunggu.
Aku mengerti tugas nenek sekarang.
Rumah ini memang tidak boleh kosong lebih dari 7 hari. Karena kalau kosong, yang di bawah akan naik dan mencari yang ketujuh.
Dan sekarang, aku adalah penjaganya.
Aku masuk kembali ke rumah yang setengah hangus itu. Aku duduk di kursi baru itu. Menghadap ke danau kaca yang sekarang sudah terisi air hitam lagi.
Aku mengambil buku harian nenek dan menulis di halaman baru:
_ATURAN BARU:_
_1. Hitung terus. Jangan sampai berhenti di enam._
_2. Jika ada cucu lain yang datang, bilang rumah ini sudah dijual._
_3. Jangan pernah biarkan bingkai kedelapan terisi._
Di luar, hutan berbisik. Dan dari dalam danau kaca, aku bisa mendengar suara pelan, menghitung lagi dari awal.
"...satu..."
Aku menutup buku harianku. Menunggu. Karena sekarang, akulah yang harus menjawab.
"...dua..."
*TAMAT*