Bab 1, Sebab & Akibat
Bagi Langit, dunia berjalan di atas garis lurus yang pasti: hukum kausalitas. Ada aksi, ada reaksi. Ada pemicu, ada akibat. Tidak ada peristiwa yang jatuh dari langit tanpa sebab, termasuk perasaan manusia. Jika kamu menyukai secangkir kopi hitam di pagi hari, penyebabnya jelas: rasa pahit yang menetralkan kantuk atau aroma kafein yang merangsang saraf otak.
Namun, sore itu di sudut perpustakaan kampus, sebuah variabel tak terduga duduk di hadapannya. Namanya Kirana.
Kirana adalah tipe orang yang percaya pada hal-hal mistis dan abstrak. Dia menyukai senja bukan karena pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer, melainkan karena menurutnya "senja itu puitis." Dan hari ini, gadis itu kembali membawa topik favoritnya yang selalu membuat Langit mengerutkan dahi.
"Kamu terlalu rumit, Langit," ujar Kirana seraya menyesap teh melatinya. "Cinta itu sederhana. Dia tidak butuh alasan. Kalau kamu mencintai seseorang dan kamu bisa menyebutkan alasannya satu per satu, itu bukan cinta. Karena cinta sejati itu tidak bisa dijelaskan dengan bahasa."
Langit meletakkan buku fisika kuantum yang sedang dibacanya. Ia menatap Kirana dengan pandangan tidak setuju.
"Persetan dengan teori romantis seperti itu," sahut Langit datar. "Sesuatu tidak mungkin datang tanpa penjelasan. Bagaimana bisa sebuah fenomena terjadi tanpa adanya penyebab? Hukum sebab-akibat itu nyata. Sama seperti teks eksplanasi yang selalu mempertanyakan bagaimana dan mengapa sesuatu bisa terjadi."
Kirana terkekeh pelan. "Logika tidak bisa dipakai untuk mengukur hati, Langit."
"Bisa," potong Langit cepat. "Saat seseorang bilang dia jatuh cinta 'tanpa alasan', otaknya sebenarnya sedang dibanjiri dopamin dan oksitosin. Ada pemicunya: mungkin cara bicaranya, rasa aman yang diberikan, atau sekadar memori masa kecil yang terpicu. Manusia saja yang terlalu malas melacak alasannya, lalu berlindung di balik kata 'ajaib'."
Kirana menopang dagu, menatap Langit dengan binar mata yang sulit diartikan. "Lalu, kalau suatu hari kamu jatuh cinta padaku, apa sebabnya?"
Pertanyaan itu membuat atmosfer di antara mereka mendadak membeku. Langit terdiam, kehilangan kata-kata selama beberapa detik—sebuah komplikasi yang sangat langka bagi seorang manusia berbasis logika seperti dirinya.
Bab 2: Memaknai Kata "Jatuh"
"Kebanyakan orang hanya fokus pada akibatnya saja," lanjut Langit, mencoba mengalihkan getaran aneh di dadanya. Ia memajukan badannya, menatap Kirana lebih dalam. "Mereka cuma ingat frasa 'Jatuh Cinta'. Tapi mereka lupa, dalam frasa itu ada kata 'Jatuh'"
Kirana menaikkan alisnya. "Lalu?"
"'Jatuh' adalah sebuah kondisi di mana kamu mengalami kesedihan, rasa sakit, atau kekecewaan," jelas Langit dengan suara pelan namun tegas. "Sama seperti saat kamu berjalan di trotoar, kakimu tersandung batu, lalu kamu tersungkur. Lututmu terbentur, mengeluarkan darah, dan kamu menangis karena sakitnya nyata."
Langit menyandarkan punggungnya kembali. "Mencintai seseorang berarti kamu secara sukarela menyerahkan diri pada gaya gravitasi. Kamu melepaskan kontrol. Dan ketika kamu jatuh, siap-siap saja untuk kemungkinan lututmu berdarah."
Kirana tidak tertawa kali ini. Ia menatap Langit dengan tatapan hangat yang membuat Langit merasa pertahanan logikanya perlahan goyah.
"Tapi Langit," bisik Kirana pelan. "Orang-orang tetap belajar berjalan meskipun tahu mereka pernah jatuh dan berdarah, bukan? Karena rasa sakit dari jatuh tidak pernah menghentikan manusia untuk sampai ke tempat yang mereka tuju."
Bab 3: Tergelincir
Beberapa minggu setelah percakapan di perpustakaan, hukum kausalitas terbukti bekerja dengan sangat kejam pada Langit.
Pemicunya sederhana: Kirana mendadak sakit dan tidak masuk kuliah selama empat hari.
Akibatnya? Langit tidak bisa fokus belajar. Pikiran rasionalnya berantakan. Setiap kali melihat bangku kosong di sebelah kanan kelas, dadanya terasa sesak. Secara biologis, otaknya merindukan stimulus yang biasa diberikan oleh kehadiran Kirana. Secara psikologis, Langit harus mengakui satu hal yang paling dihindarinya.
Sore itu, Langit berdiri di depan pagar rumah Kirana sambil membawa semangkuk bubur hangat dan obat. Ketika pintu terbuka dan Kirana muncul dengan wajah pucat namun tersenyum lembut, Langit tahu dia telah kalah.
Ia telah tergelincir. Gravitasi emosional itu menariknya terlalu kuat.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Kirana heran.
Langit menatap gadis di hadapannya. Ia bisa saja menjelaskan secara ilmiah bahwa tindakannya adalah hasil dari empati sosial dan ikatan emosional yang terbangun selama berbulan-bulan. Tapi Langit memilih untuk jujur pada hukum sebab-akibatnya sendiri.
"Sebabnya karena kamu tidak ada," kata Langit pelan. "Dan akibatnya, saya tidak bisa melakukan apa pun dengan benar sepanjang minggu ini."
Kirana tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Jadi... kamu jatuh?"
Langit menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Ya. Aku jatuh. Dan aku tahu risikonya. Aku tahu suatu hari nanti ini mungkin akan terasa sakit seperti tersandung batu dan membuat lututku berdarah. Tapi kali ini, aku tidak akan lari dari reaksinya."
Di bawah naungan langit sore yang perlahan meredup, Langit akhirnya memahami satu hal: cinta memang memiliki sebab dan akibat. Dan sebab terbaik untuk jatuh cinta adalah keberanian untuk menerima segala rasa sakit yang mungkin datang bersamanya.
"Cinta bukan misteri tanpa alasan. Ia adalah sebab dan akibat. Dan bagi mereka yang berani melangkah, jatuh adalah risiko yang telah diperhitungkan."