🛑‼️Disclaimer ini bukan asli buatan ku ini ada campur tangan google juga jadi dimohon jangan hujat🛑‼️
.
.
Oliver berjalan dengan langkah konstan, sesekali matanya melirik ke arah kerumunan untuk memastikan tidak ada orang yang menyenggol Violetta. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan kecil bergaris—kebiasaannya saat mendatangi tempat baru.
"Oliver, lihat! Wahana bianglala di sana antreannya tidak terlalu panjang," ucap Violetta sambil menunjuk wahana kincir raksasa yang berputar lambat di tengah pasar malam.
Oliver mendongak, menganalisis struktur besi wahana tersebut. "Secara mekanika fisik, struktur bianglala itu menggunakan sistem keseimbangan beban yang cukup standar. Kecepatan putarannya hanya sekitar 0,5 meter per detik, jadi tingkat risikonya sangat rendah. Kita bisa naik."
Saat bilik mereka mencapai titik tertinggi, seluruh pemandangan kota dan gemerlap lampu pasar malam di bawah sana terlihat sangat memukau.
Angin malam yang dingin berembus lewat celah jendela, membuat Violetta sedikit mengeratkan jaket ungunya.
"Wah... indah sekali," bisik Violetta, matanya yang berwarna ungu memantulkan kilauan lampu kota. "
"Oliver, lihat ke atas sana. Langit malam ini bersih sekali."
Oliver tidak langsung melihat ke langit. Ia justru tertegun menatap wajah Violetta dari samping yang tampak begitu anggun di bawah sinar bulan. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang tidak logis—sebuah anomali biologis yang selalu gagal ia jelaskan dengan teori medis setiap kali berada di dekat gadis ini.
"Oliver?" Violetta menoleh karena merasa diperhatikan.
Oliver buru-buru mengalihkan pandangannya ke luar jendela, berdehem pelan untuk menutupi salah tingkahnya.
"Ah, ya. Sudut elevasi kita saat ini sekitar 30 meter dari permukaan tanah. Jarak pandang ke atmosfer sangat ideal. Itu di sebelah utara... kamu bisa melihat rasi bintang Orion dengan jelas. Tiga bintang sejajar itu adalah sabuknya."
Violetta tidak fokus pada bintangnya, melainkan pada tangan Oliver yang berada di atas kursi. Dengan gerakan lembut, Violetta menyelipkan jemarinya ke sela-sela jari Oliver, menggenggamnya erat. Tangan Violetta terasa agak dingin karena angin malam.
Oliver terkejut, tubuhnya sempat kaku sesaat. Namun, melihat Violetta yang tersenyum manis sambil menyandarkan kepalanya di bahu rompi rajutnya, perlahan tubuh Oliver menjadi rileks.
Ia membalas genggaman tangan Violetta dengan erat, menyalurkan kehangatan tubuhnya sendiri.
"Terima kasih sudah menemaniku malam ini, ilmuwan fisikaku," bisik Violetta pelan.
Oliver tersenyum tipis—senyuman tulus yang sangat langka. "Sama-sama, Violetta. Kurasa... berada di sini bersamamu jauh lebih berharga daripada semua data pengamatan di laboratorium."
.
.
🛑‼️Disclaimer sekali lagi ini bukan asli buatan ku ini ada campur tangan google juga jadi dimohon jangan hujat🛑‼️