Damar tidak pernah menyukai malam.
Bukan karena gelap.
Ia hanya tidak suka suasana setelah pukul sepuluh malam, ketika gang tempat tinggalnya menjadi sunyi dan suara kendaraan mulai jarang terdengar.
Dulu, ayahnya selalu menjemputnya jika pulang malam.
Sekarang tidak ada lagi yang menunggu.
Sejak kehilangan pekerjaan, Damar lebih sering bekerja sebagai pengantar makanan.
Ia mengambil pesanan sebanyak mungkin sampai larut malam.
Suatu malam, sekitar pukul sebelas, motornya mogok di ujung gang.
Ia mendorong motor sambil mengumpat pelan.
Ketika hampir sampai bengkel, ia melihat sesuatu.
Sebuah lampu kecil menyala di depan rumah tua.
Lampu itu berbeda dari lampu jalan.
Warnanya kekuningan.
Di bawahnya ada kursi plastik.
Seorang lelaki tua duduk di sana.
“Motornya rusak?” tanyanya.
“Iya, Pak.”
“Dorong saja sampai sini.”
Damar berhenti.
“Kenapa?”
“Biar terang.”
Damar akhirnya mendorong motornya mendekati lampu.
Lelaki tua itu memperkenalkan diri sebagai Pak Seno.
Ternyata rumahnya adalah rumah terakhir di gang tersebut.
“Lampu ini saya nyalakan setiap malam,” katanya.
“Biar apa?”
“Biar orang yang pulang tidak merasa gang ini sudah ditinggalkan.”
Damar tersenyum.
“Padahal rumah Bapak sendiri.”
Pak Seno tertawa.
“Dulu banyak anak muda pulang malam. Sekarang tinggal beberapa.”
Sejak malam itu, Damar sering melewati rumah Pak Seno.
Setiap kali lampu itu menyala, ia merasa sedikit lebih tenang.
Suatu malam hujan turun deras.
Damar melihat Pak Seno masih duduk di kursinya.
“Pak, masuk. Hujan.”
“Sebentar lagi.”
“Kenapa?”
Pak Seno menunjuk ujung gang.
Seorang perempuan sedang berjalan membawa payung.
“Dia bekerja di rumah sakit,” katanya. “Biasanya pulang sekitar jam sebelas.”
Damar memperhatikan.
Perempuan itu melewati lampu.
Pak Seno tersenyum.
“Sudah sampai.”
Barulah ia masuk rumah.
Damar mulai mengerti.
Lampu itu bukan sekadar penerangan.
Ada seseorang yang selalu memastikan orang lain punya cahaya ketika pulang.
Beberapa minggu berlalu.
Damar kemudian mengetahui bahwa Pak Seno tinggal sendirian sejak istrinya meninggal.
Anaknya bekerja di luar kota.
“Tidak kesepian, Pak?”
“Kadang.”
“Terus kenapa tidak ikut anak?”
Pak Seno tersenyum.
“Karena rumah ini punya pekerjaan.”
“Pekerjaan?”
“Menjadi tempat seseorang merasa aman ketika melewatinya.”
Damar tidak tahu harus menjawab apa.
Suatu malam, ia melihat lampu itu mati.
Ia mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi.
Tetap sunyi.
Damar akhirnya meminta bantuan tetangga.
Pak Seno ditemukan jatuh di kamar mandi.
Untungnya masih sadar.
Ia kemudian dibawa ke rumah sakit.
Setelah beberapa hari, kondisinya membaik.
Damar datang menjenguk.
“Lampunya siapa yang nyalakan sekarang, Pak?”
Pak Seno tertawa.
“Kamu.”
Damar terkejut.
“Saya?”
“Kalau kamu mau.”
Malam itu, Damar pulang dan mengambil tangga.
Ia mengganti bohlam yang rusak.
Sejak hari itu, Damar yang menyalakan lampu tersebut.
Awalnya ia melakukannya karena janji kepada Pak Seno.
Lama-lama menjadi kebiasaan.
Ia mulai memperhatikan orang-orang yang lewat.
Perempuan rumah sakit.
Satpam.
Penjual makanan.
Mahasiswa.
Seorang ibu yang pulang membawa anak.
Mereka semua melewati lampu itu.
Tidak ada yang tahu siapa yang menyalakannya.
Tidak ada yang berterima kasih.
Namun Damar tidak keberatan.
Beberapa bulan kemudian, Damar mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah perusahaan logistik.
Ia tidak lagi bekerja sampai tengah malam.
Tetapi setiap pukul sepuluh, ia masih menyempatkan diri menyalakan lampu di ujung gang.
Suatu malam, Pak Seno duduk di kursinya.
“Damar.”
“Iya, Pak?”
“Sekarang kamu sudah punya alasan untuk pulang.”
Damar tersenyum.
“Dulu Bapak yang ngajarin.”
Pak Seno menggeleng.
“Bukan saya.”
“Lalu?”
“Lampu itu.”
Damar tertawa.
Mereka duduk dalam diam.
Di depan mereka, cahaya kuning jatuh ke jalan yang basah.
Damar akhirnya memahami bahwa tidak semua kebaikan harus besar.
Kadang seseorang hanya perlu menyalakan satu lampu.
Mungkin tidak bisa menerangi seluruh kota.
Tetapi cukup untuk membuat satu orang tahu bahwa jalan pulang masih ada.