Di Desa sungai ibul, setiap tanggal 17 Agustus pasti ramai. Bendera merah putih berkibar di tiap rumah, dan lapangan desa disulap jadi arena lomba.
Ada Dito, anak umur 7 tahun. Jujur dia belum ngerti betul kenapa tiap tahun harus lomba-lomba. Yang dia tahu: ada hadiah, ada sorak-sorak, dan seru banget.
"Bu, lomba apa aja hari ini?" tanya Dito sambil narik baju ibunya.
"Lomba karung, makan kerupuk, sama tarik tambang," jawab ibunya sambil nyiapin pita merah di kepala Dito.
Dito manggut-manggut. Nggak paham artinya kemerdekaan, tapi semangatnya nomor satu.
Pas lomba karung dimulai, Dito loncat-loncat kayak kodok. Jatuh bangun, ketawa, terus nyalip temen-temennya. Menang!
Lomba makan kerupuk? Dito ngunyah sampai pipinya penuh remah. Menang lagi!
Tarik tambang? Dia paling kecil, tapi teriaknya paling kencang. "Satu dua tarik!" Timnya menang.
Sore itu Dito pulang bawa 3 kantong plastik berisi piala plastik, pensil, dan biskuit. Dadanya membusung.
Waktu naik ke panggung buat nerima hadiah dari Pak Lurah, Dito memberanikan diri nanya,
"Pak Lurah, kenapa saya menang terus? Apa saya hebat kayak pahlawan?"
Pak Lurah ketawa, terus nyelethuk sambil nyubit pipi Dito,
"Hehe, iya dong. Kamu barusan 'memerdekakan' biskuit dari bungkusnya, 'memerdekakan' karung dari tanah, dan 'memerdekakan' tim kamu dari kekalahan!"
Semua orang ketawa. Dito bengong sebentar, lalu ikut ketawa juga.
Malamnya di rumah, Dito tiduran sambil memeluk pialanya. Di kepalanya kebayang dirinya pakai jubah kayak superhero.
"Berarti... jadi pemenang itu rasanya kayak jadi pahlawan ya," gumamnya.
Dia belum mengerti betul sejarah 17 Agustus. Tapi hari itu dia ngerti satu hal: berjuang, nggak nyerah, dan bikin orang lain ketawa bareng... itu rasanya merdeka.
*TAMAT*