Di bawah langit malam yang bertabur bintang, Alfi terbangun tepat jam tiga pagi. Seperti biasa, alarm alaminya bekerja dengan sempurna. Bagi seorang pemuda green flag tingkat dewa yang selalu memprioritaskan hidup sehat dan spiritualitas, rutinitas sepertiga malam adalah hal wajib.
Setelah mengambil air wudhu, Alfi menunaikan sholat tahajud dengan khusyuk. Suara lantunannya yang merdu memecah keheningan kamar. Usai sholat dan berdoa panjang, ia melanjutkan dengan tadarusan hingga fajar menyingsing. Begitu azan subuh berkumandang, ia kembali menapakkan kakinya di atas sejadah, bersujud, lalu menyambung tadarusnya hingga pukul enam pagi.
Pukul enam tepat, saat matahari mulai menyapa, Alfi menyambar tas olahraganya. Destination: gym lokal tempat ia rutin melatih otot dan menjaga stamina.
"Pagi, Bro Alfi! Mantap betul jam segini udah siap angkat besi," sapa resepsionis gym.
Alfi hanya tersenyum ramah, memasang handstrap, lalu mulai melakukan set deadlift. Beban demi beban ia angkat tanpa mengeluh. Di dalam hatinya, ia membatin: Jangankan barbel ratusan kilo, beban hidup setebal apa pun bakal aku tahan dengan ikhlas.
Selesai membakar kalori dan membentuk otot, tepat pukul sembilan pagi Alfi tiba di rumah. Ia langsung mandi bersenang hati, lalu melangkah ke dapur dengan celemek terpasang rapi. Buka sekadar masak mie instan atau rebus air, Alfi adalah chef serba bisa. Hari ini ia memotong daging sapi segar, meracik rempah-rempah pilihan untuk membuat sup iga yang gurih dan bumbu rendang yang meresap sempurna.
Setelah urusan dapur selesai, Alfi bersantai di sofa. Eits, santainya Alfi bukan sekadar scrolling media sosial tanpa arah. Sambil memegang ponselnya untuk mengikuti kuis pengetahuan umum dan membaca artikel kesehatan, ia tak pernah berhenti mengaji. Suara murottal halus terus mengalir dari bibirnya.
Memasuki waktu dzuhur, ia kembali berwudhu dan sholat. Jam satu siang, sesuai ritme hidup sehatnya, Alfi tidur siang sejenak untuk memulihkan energi hingga pukul tiga sore. Bangun tidur, ia bersiap wudhu lagi untuk sholat ashar.
Sore harinya, Alfi jalan-jalan keliling kompleks. Menghirup udara segar sore hari adalah cara terbaiknya menikmati hidup. Di jalan, ia sempat membantu tetangganya yang kerepotan mengurus balita, bahkan tanpa ragu ikut memotongkan kuku dan membantu mencebokkan anak tetangga yang menangis. Bagi Alfi, berguna untuk sesama adalah kebahagiaan.
Tak lupa, di rumahnya ia juga mengurus "peliharaan" uniknya. Kalau ada orang bertanya apa dia punya hewan peliharaan, Alfi cuma bisa terkekeh santai. Semua binatang ada di rumah aku... tapi keluarnya dari mulut aku kalau lagi ngelawak! humor garingnya yang selalu sukses bikin suasana cair.
Menjelang maghrib, Alfi kembali bersih-bersih diri, sholat, dan tadarusan. Untuk menu malam, jika ia ingin cemilan, ia tak perlu beli keluar. Mulai dari burger homemade, kebab isi daging tebal, martabak manis, hingga terang bulan bersarang sempurna, semuanya bisa ia bikin sendiri dari nol dengan bahan-bahan yang super sehat. Tangan yang tak henti berdoa itu juga sangat terampil meracik hidangan lezat.
Singkat cerita, Alfi adalah sosok yang sempurna. Religius, kekar, pandai memasak, penyayang anak kecil, dan mandiri.
Namun, ada satu rahasia besar yang tersembunyi di balik profil akun Instagram-nya yang bertuliskan @selvyayuu.
Malam itu, di sebuah kafe kekinian tempat anak muda Bandung nongkrong, Rian—seorang mahasiswa desain yang sudah tiga bulan ini dibuat mabuk kepayang oleh akun TikTok dan Instagram bernama @selvyayuu—sedang duduk gelisah.
Di media sosial, akun @selvyayuu baru saja mengunggah sebuah video caption panjang yang sangat terkenal:
"Ehekm, bismillah, aku bangunnya jam setengah tiga, as always aku sholat tahajud... aku juga bisa masak rendang, sup iga, opor... kalau kamu mau cemilan aku bisa bikin burger, kebab, terang bulan BUAT SENDIRI okay? Aku juga animal lovers... semuanya aku bisa, jd gmn?😝😝😝"
Rian yang membaca unggahan itu merasa seperti menemukan sosok wanita idaman dari surga. Gila, cewek zaman sekarang ada yang sereligius, se-sehat, dan secantik ini? pikir Rian. Dari foto profil yang dipasang @selvyayuu, nampak siluet seorang gadis berhijab anggun dari belakang dengan latar pemandangan alam.
Selama seminggu terakhir, Rian gencar melakukan pedro alias pendekatan lewat Direct Message (DM). Ia terpesona dengan kepribadian "Selvy Ayu" yang sangat dewasa, perhatian, humoris, tapi tetap menjaga batas. Hingga akhirnya, malam ini "Selvy Ayu" setuju untuk first date dan bertemu langsung di kafe ini!
Rian menyesap kopi dinginnya. Jantungnya berdegup kencang seperti drum konser rock. Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh malam—sesuai janji mereka setelah waktu isya.
Tiba-tiba, seorang pria berbadan tegap, mengenakan kemeja kasual yang ngepres di bagian dada dan otot lengan yang kelihatan jelas, melangkah masuk ke kafe. Wajahnya tampan, bersih, dengan senyum ramah yang memikat. Pria itu mengedarkan pandangan, lalu matanya tertuju pada Rian yang memegang bunga mawar merah di meja pojok.
Pria perkasa itu berjalan mendekat dengan langkah mantap.
Rian membatin, Wah, mas-mas gym di sebelah gue gaya banget. Tapi tunggu... kok dia jalan ke meja gue?
Pria itu berdiri tepat di depan meja Rian, lalu tersenyum manis hingga lesung pipitnya terlihat.
"Halo, kamu Rian ya? Yang DM di Instagram?" suara pria itu bernada bass, dalam, dan sangat jantan.
Rian melotot, matanya hampir keluar. "Hah? Kamu siapa, Mas? Saya lagi nunggu cewek saya, pemilik akun @selvyayuu!"
Pria perkasa itu tertawa kecil, suara tawa yang begitu renyah. Ia kemudian duduk santai di kursi depan Rian, menyilangkan tangannya yang berotot, lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi Instagram. Di layar ponsel itu, terlihat jelas profil akun @selvyayuu dalam mode edit profile.
"Iya, benar. Aku Alfi. Akun @selvyayuu itu... milik aku," kata Alfi tanpa dosa, menyunggingkan senyum paling manisnya.
Rian mendadak tersedak ludahnya sendiri. "APAAAA?! J-jadi... gadis tahajud yang rajin ngegym, pinter masak rendang, suka bikin terang bulan sendiri, dan suka nyecebokin anak tetangga itu... COWOK OTO TANPAN KAYAK LU?!"
Alfi tertawa makin lepas. "Aduh, maaf ya bro! Nama asliku Alfi. 'Selvy Ayu' itu nama pena sekaligus gabungan nama mantan-mantanku waktu SMP buat akun jualan online dulu. Tapi postingan soal rutinitas jam setengah 3 pagi, tahajud, masak opor, angkat barbel, sampai bikin kebab sendiri itu 100% beneran rutinitas hidupku sehari-hari!"
Rian memegangi dadanya yang terasa sesak. Ekspektasinya tentang sosok ukhti idaman yang akan ia lamar langsung hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
"Tapi... tapi foto profilnya cewek berhijab?!" tanya Rian histeris tapi setengah berbisik.
"Oh, itu adik sepukuku! Foto dari belakang doang kan? Soalnya aku bingung mau pake foto apa," jawab Alfi santai. "Lagian di caption kan aku udah kasih petunjuk, 'angkatan barbel seberapa banyak bebannya juga aku tahan'. Masa cewek imut angkat barbel ratusan kilo?"
Rian terduduk lemas di kursinya, memandangi mawar merah di tangannya, lalu memandangi Alfi yang senyum-senyum tanpa dosa. Pria berotot di depannya ini memang benar-benar green flag sejati—religius, sehat, ahli masak, dan penyayang—hanya saja jenis kelaminnya sangat berbeda dari yang ia bayangkan!
"Jadi gimana, Bro Rian?" Alfi mengedipkan sebelah matanya bercanda, menirukan emotikon di caption-nya. "Mau aku bikinin martabak manis homemade, atau mau ikutan ngegym bareng aku besok jam 6 pagi? Jadi gmn? 😝😝😝"
Rian hanya bisa menghela napas panjang, lalu tertawa pasrah di tengah syok beratnya. Plot twist drakor jenis apa ini Tuhan?!
Buat cerpen 4000 kata yang temanya ringan tapi cocok buat gen z novel toon, disertai plot twist ala room coom drakor : @selvyayuu:ehekm, bismillah, aku bangunnya jam setengah tiga, as always, aku selalu sholat tahajud dan jam 3 selesai aku tadarusan sampai jam setengah lima aku lanjut lagi sholat subuh setelah itu aku tadarusan sampai jam 6 dan aku bersiap siap untuk pergi olahraga ya paling ngegym tenang aja aku hidup sehat ko, angkat barbel seberapa byk bebannya juga aku tahan beban apapun APAPUN beban hidup juga, dan jam 9 aku pulang, aku lanjut mandi, dan aku memasak ehem aku disini memasak bukan sekedar memasak air dan mie telur saja ya, aku bisa masak rendang, sup iga, opor, semuanya aku bisa tinggal kasih tau aja mau masak apa, dan aku lanjut beristirahat bermain hp EITS aku juga bermain hp aku belajar kok dan aku juga tidak pernah stop mengaji, jadi aku bermain hp sambil mengaji, hingga dzuhur aku mengambil wudhu dan lanjut sholat, jam 1 aku istirahat tidur siang aku sehat gais ya, sampai jam 3, aku bermain hp sebentar dan lanjut mengambil wudhu lagi untuk sholat ashar dan aku selesai sholat lanjut keliling komplek mencari udara segar sore as always melakukan hidup sehat dan aku pulang mandi terus bersiap diri untuk sholat maghrib setelah sholat maghrib aku tadarusan tidak lupa yaa, dan aku lanjut memasak makanan malam, setelah itu aku mengambil wudhu lagi sambil menunggu isya, setelah itu aku tadarusan, tangan saya tak henti berdoa kepada yang maha esa. dan kalau kamu mau cemilan gabakal aku beliin terus, bcz aku bisa membuat banyak cemilan sendiri yang sehat like a burger, kebab, martabak, terang bulan BUAT SENDIRI okay? aku juga animal lovers semua binatang ada dirumah aku, dirumah aku keluarnya dri mulut ak mksdnya, hehe, ku juga sering membantu mencebokkan anak tetangga, semuanya aku bisa, jd gmn?
Di sebuah sudut Kota Bandung yang sejuk, alarm ponsel menyalakan melodi lembut tepat pukul 02.30 WIB. Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter yang tertata sangat rapi, seorang pemuda bernama Alfi terbangun tanpa jeda snooze.
Matanya terbuka segar. Tidak ada istilah mengeliat malas atau mengeluh ngantuk. Bagi Alfi, sepertiga malam adalah waktu paling sakral untuk menata jiwa sebelum menghadapi hiruk-pikuk dunia.
Ia melangkah ke kamar mandi, mengambil air wudhu dengan usapan yang tenang, lalu mengenakan sarung tenun halus dan baju koko putih bersih. Di atas sejadah bulu berwarna hijau zaitun, Alfi menunaikan sholat tahajud delapan rakaat plus witir. Setiap sujudnya panjang dan penuh penghayatan. Usai salam, tangannya menengadah khusyuk, melafalkan doa-doa kebaikan untuk orang tua, sahabat, hingga kelancaran hidupnya.
Pukul 03.00 WIB, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an mulai mengalir merdu dari bibirnya. Alfi bertadarus hingga fajar menyingsing. Begitu azan Subuh bergema dari masjid kompleks, ia segera menunaikan sholat Subuh berjamaah, lalu melanjutkannya dengan tadarus pagi sampai jam menunjukkan pukul 06.00 tepat.
Pagi itu, sinar matahari hangat mulai menerobos jendela. Alfi menutup mushafnya, merapikan sejadah, dan beranjak ke lemari. Ia mengganti baju kokonya dengan kaos drifit hitam yang membungkus ketat dada tegapnya dan celana training olahraga.
"Waktunya investasi tubuh," gumamnya pelan sambil mengikat tali sepatu kets.
Alfi melangkah keluar rumah menuju gym langganannya yang berjarak sepuluh menit jalan kaki. Di sepanjang jalan kompleks, ia menyapa beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman atau bersiap ke pasar. Senyumnya ramah, badannya tegap, dan energinya sangat positif.
Tiba di gym, Alfi langsung disambut oleh beberapa member lain dan instruktur lokal.
"Pagi, Bro Alfi! Jam segini udah siap bantai otot lagi?" sapa Bang Doni, personal trainer bertato naga di lengan kanan.
"Harus dong, Bang. Hidup sehat itu pilihan, bukan wacana," balas Alfi tertawa renyah.
Tanpa banyak wacana, Alfi memasang handstrap, mengambil posisi di area free weight, dan mulai melakukan set deadlift. Beban pelat besi bertumpuk di kiri dan kanan barbel. Sambil menghembuskan napas teratur, ia mengangkat beban tersebut dengan formasi tubuh yang presisi. Otot bisep dan punggungnya berkilat terkena keringat pagi.
Di dalam hatinya, Alfi tersenyum sendiri. Jangankan barbel puluhan kilo ini, beban hidup setebal apa pun bakal aku tahan dengan ikhlas.
Pukul 09.00 WIB tepat, Alfi sudah kembali ke rumahnya. Setelah mendinginkan suhu tubuh dan mandi hingga segar berseri, ia mengenakan celemek bergaris merah-putih di atas kaos santainya. Waktunya beraksi di area kekuasaannya yang kedua: dapur.
Jangan bayangkan anak kosan yang cuma bisa merebus air dan menyeduh mie instan pakai telur setengah matang. Dapur Alfi adalah laboratorium kuliner. Pagi ini, ia meracik bumbu rendang lengkap dengan serundeng sangrai, memotong daging sapi kualitas unggul, serta menyiapkan kuah sup iga rempah yang aroma pala dan kayumanisnya langsung menyeruak ke seluruh penjuru rumah. Tak lupa, kuah opor ayam kampung gurih juga sedang mendidih perlahan di kompor sebelah.
"Memasak itu art sekaligus meditasi," bisik Alfi seraya mencicipi kuah sup iga dengan sendok kayu. "Pas rasanya."
Setelah seluruh hidangan matang dan tertutup rapi di meja makan, Alfi beristirahat di sofa empuk ruang tamu. Ia mengambil ponsel pintar berlayar lebar miliknya. Namun, jangan salah. Aktivitas "bermain HP" ala Alfi sangat jauh dari sekadar doomscrolling konten sampah.
Sambil jemarinya menggeser artikel tentang perkembangan teknologi kognitif dan ilmu gizi terbaru, bibirnya tetap pelan melantunkan hafalan Al-Qur'an. Ia memanfaatkan waktu luang untuk belajar sekaligus muroja'ah.
Azan Dzuhur berkumandang. Alfi berwudhu, melaksankannya tepat waktu, dan dilanjutkan tidur siang teratur pada pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Tidur siang bagi Alfi adalah resep pemulihan sel-sel otak paling alami.
Pukul 15.00, ia bangun dengan tubuh kembali bugar, sholat Ashar, lalu bersiap untuk rute rutin sore hari: jalan-jalan keliling kompleks mencari udara segar.
Sore itu, suasana kompleks terlihat cukup ramai. Saat melintasi rumah Ibu Siska di RT 04, Alfi melihat wanita setengah baya itu sedang kerepotan menggendong balitanya yang menangis histeris karena celemot makanan dan popok yang kotor, sementara anak tertuanya menangis minta dicarikan mainan.
"Aduh, Mas Alfi! Ya Allah, kebetulan banget lewat!" seru Bu Siska panik.
"Kenapa, Bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alfi mendekat.
"Ini si kecil pup banyak banget, terus adiknya nangis. Suami saya belum pulang kerja. Boleh tolong pegangin adiknya atau bantu cebokin si kecil enggak? Ibu kepikiran pusing!"
Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa wajah jijik, Alfi tersenyum lebar. "Tenang, Bu. Sini si kecil sama saya, saya bantu bersihin dan cebokin di kamar mandi luar. Ibu tenangin adiknya dulu."
Dengan kelembutan seorang kakak penyayang, Alfi memandikan dan mencebokkan balita Bu Siska hingga bersih wangi, lalu membedakinya dengan penuh kesabaran. Bu Siska sampai terharu menatap pemuda bertubuh tegap dan berotot itu begitu telaten mengurus balita.
"Mas Alfi ini benar-benar idaman para ibu-ibu buat jadi menantu! Udah ganteng, kekar, rajin ibadah, pinter ngurus anak lagi!" puji Bu Siska tulus.
Alfi hanya tertawa rendah. "Haha, bisa aja Bu Siska. Saya juga pecinta binatang kok, Bu."
"Lho? Mas Alfi pelihara binatang di rumah?"
"Bukan pelihara di kandang, Bu. Tapi semua nama binatang ada di rumah saya... keluarnya dari mulut saya kalau lagi ngelawak sama temen-temen!" celetuk Alfi sambil terkekeh garing.
Bu Siska tertawa terbahak-bahak mendengar humor receh tersebut.
Setelah membantu tetangganya, Alfi pulang ke rumah. Menjelang Maghrib, ia mandi lagi, bersiap sholat Maghrib, dilanjutkan tadarus hingga waktu Isya. Sebelum tidur, jika lidahnya ingin mengecap cemilan gurih atau manis, Alfi tak pernah membelinya di luar secara konsumtif. Ia memilih membuat sendiri di dapur.
Malam itu, dengan cekatan ia membuat adonan roti burger whole wheat, mengolah daging cincang dengan bumbu herbs, membuat martabak manis bersarang dengan toping keju panggang, hingga mencetak terang bulan mini dan kebab isi daging saus spesial.
Sambil menunggu adonan mekar, tangannya tak henti menengadah berdoa kepada Sang Maha Kuasa. Hidupnya benar-benar sebuah ritme harmoni antara kerja keras, kesehatan fisik, keterampilan, dan spiritualitas yang kokoh.
Hanya saja... ada satu hal unik yang menjadi rahasia Alfi di dunia maya.
Di sisi lain Kota Bandung, di dalam sebuah kamar kosan mahasiswa yang berantakan dengan kertas sketsa dan kaleng minuman berkafein, seorang pemuda bernama Rian sedang menatap layar ponselnya dengan mata berbinar-binar.
Rian adalah mahasiswa semester akhir jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Seperti mayoritas anak muda Gen Z lainnya, Rian sangat aktif di TikTok dan Instagram. Dan selama tiga bulan terakhir, hidup Rian berubah total gara-gara satu akun Instagram bernama @selvyayuu.
Akun @selvyayuu adalah fenomena tersendiri di linimasa Rian. Akun itu tidak pernah menampilkan wajah pemiliknya secara jelas. Foto profilnya hanya berupa siluet seorang gadis berhijab anggun dari tampak belakang, berdiri di atas bukit dengan latar pemandangan matahari terbit yang estetik. Namun, yang membuat Rian dan ribuan pengikut lainnya terpikat setengah mati adalah caption dan unggahan Daily Routine yang sering dibagikan oleh akun tersebut.
Malam itu, akun @selvyayuu baru saja mengunggah sebuah postingan reels baru berlatar foto pemandangan dapur bersih dan sajian hidangan lezat. Caption-nya ditulis dengan gaya bahasa khas Gen Z yang centil, percaya diri, namun memancarkan aura solehah luar biasa:
@selvyayuu: ehekm, bismillah, aku bangunnya jam setengah tiga, as always, aku selalu sholat tahajud dan jam 3 selesai aku tadarusan sampai jam setengah lima aku lanjut lagi sholat subuh setelah itu aku tadarusan sampai jam 6 dan aku bersiap siap untuk pergi olahraga ya paling ngegym tenang aja aku hidup sehat ko, angkat barbel seberapa byk bebannya juga aku tahan beban apapun APAPUN beban hidup juga, dan jam 9 aku pulang, aku lanjut mandi, dan aku memasak ehem aku disini memasak bukan sekedar memasak air dan mie telur saja ya, aku bisa masak rendang, sup iga, opor, semuanya aku bisa tinggal kasih tau aja mau masak apa, dan aku lanjut beristirahat bermain hp EITS aku juga bermain hp aku belajar kok dan aku juga tidak pernah stop mengaji, jadi aku bermain hp sambil mengaji, hingga dzuhur aku mengambil wudhu dan lanjut sholat, jam 1 aku istirahat tidur siang aku sehat gais ya, sampai jam 3, aku bermain hp sebentar dan lanjut mengambil wudhu lagi untuk sholat ashar dan aku selesai sholat lanjut keliling komplek mencari udara segar sore as always melakukan hidup sehat dan aku pulang mandi terus bersiap diri untuk sholat maghrib setelah sholat maghrib aku tadarusan tidak lupa yaa, dan aku lanjut memasak makanan malam, setelah itu aku mengambil wudhu lagi sambil menunggu isya, setelah itu aku tadarusan, tangan saya tak henti berdoa kepada yang maha esa. dan kalau kamu mau cemilan gabakal aku beliin terus, bcz aku bisa membuat banyak cemilan sendiri yang sehat like a burger, kebab, martabak, terang bulan BUAT SENDIRI okay? aku juga animal lovers semua binatang ada dirumah aku, dirumah aku keluarnya dri mulut ak mksdnya, hehe, ku juga sering membantu mencebokkan anak tetangga, semuanya aku bisa, jd gmn? 😝😝😝
Rian membaca caption itu berulang-ulang sampai napasnya tersengal-sengal karena terharu.
"Gila... Gila banget!" Rian menepuk dahinya sendiri. "Zaman sekarang masih ada cewek spesies begini?! Jam setengah tiga bangun tahajud, rajin mengaji, jago masak rendang sama opor, pinter bikin kebab sendiri, penyayang anak kecil sampai mau cebokin anak tetangga, humoris, terus rajin ngegym pula?!"
Rian membayangkan sosok "Selvy Ayu" di dalam pikirannya. Di kepala Rian, Selvy Ayu adalah sosok ukhti cantik nan anggun, berwajah lembut ala aktris drakor rom-com, berhati emas, ramping namun fit karena rajin angkat barbel imut lima kilo di gym.
"Ini bukan sekadar green flag lagi... ini sudah jalur hijau jalan tol menuju surga!" pekik Rian histeris.
Selama seminggu terakhir, Rian tidak tinggal diam. Ia melakukan aksi pedro—pendekatan ror—yang sangat masif melalui Direct Message (DM). Rian yang pandai bersilat kata dan memiliki selera humor menarik ternyata berhasil memancing balasan dari akun @selvyayuu.
Respon dari @selvyayuu sangat menyenangkan. Bahasanya santai, perhatian, dewasa, namun tetap menjaga jarak sopan khas gadis muslimah terpelajar. Rian merasa chemistry mereka sangat klop. Bahkan, saat Rian curhat tentang stresnya mengerjakan tugas akhir DKV, akun @selvyayuu memberikan semangat dengan nasihat-nasihat religius yang menyejukkan hati.
Hingga akhirnya, keajaiban itu terjadi tadi sore.
Lewat DM, Rian memberanikan diri mengajak bertemu secara langsung. Dan luar biasanya, akun @selvyayuu menyetujuinya! Mereka berjanji untuk bertemu untuk pertama kalinya (first date) di sebuah kafe berkonsep glasshouse yang romantis di kawasan jalan Riau, Bandung, tepat pukul 19.30 WIB setelah waktu Isya.
"Malam ini... malam penentuan hidup gue," ujar Rian di depan cermin.
Ia mengenakan pakaian terbaiknya: kemeja kasual warna krem yang disetrika licin, celana chino gelap, menyemprotkan parfum aroma vanilla-sandalwood favoritnya, dan tak lupa membeli seikat bunga mawar merah segar di toko bunga langganan. Rian bertekad, jika tatap muka ini berjalan lancar, ia ingin langsung mengajak Selvy Ayu menjalin hubungan serius menuju jenjang pernikahan!
Pukul 19.15 WIB, Rian sudah tiba di kafe. Suasana kafe sangat mendukung: lampu-lampu gantung berwarna warm white yang redup romantis, alunan musik jazz akustik yang mengalun lembut, serta semilir angin malam Bandung yang dingin.
Rian memilih meja nomor 12 di dekat area taman dalam. Ia meletakkan seikat mawar merah di atas meja, lalu memesan dua cangkir hot cappuccino. Tangannya gemetar halus setiap kali melihat layar jam di ponselnya.
19.25 WIB.
19.28 WIB.
19.30 WIB.
Jantung Rian bergedup sangat kencang, bagaikan guncangan gempa bumi berturut-turut. Setiap kali pintu kaca kafe terbuka dan terdengar suara denting bel, mata Rian langsung mengarah ke sana, berharap melihat sosok gadis berhijab anggun melangkah masuk dengan senyum malu-malu.
Namun, yang melangkah masuk pada pukul 19.32 WIB justru seorang pria bertubuh sangat tegap.
Pria itu mengenakan kemeja kasual warna navy yang dipasangkan dengan sangat pas di badannya, memperlihatkan garis bahu yang lebar, dada tegap, dan otot lengan yang tercetak jelas di balik kain. Wajahnya sangat tampan dengan rahang tegas, kulit bersih segar, dan potongan rambut comma hair ala aktor Korea kekinian. Pria itu membawa aroma wangi maskulin yang segar dan mahal.
Semua pengunjung wanita di kafe itu sempat menoleh kagum menatap pria tersebut.
Rian yang melihat pria perkasa itu sempat membatin iri dalam hati: Buset, mas-mas gym tingkat dewa dari planet mana nih? Ganteng banget, badannya kayak Kapten Amerika versi lokal. Tapi ah, bodoh amat, gue cuma fokus nunggu Ukhti Selvy Ayu!
Rian kembali menatap pintu depan dengan gelisah.
Namun, langkah kaki pria berotot itu ternyata tidak menuju ke kasir atau meja kosong lainnya. Pria itu justru melangkah mantap lurus menuju ke arah... meja nomor 12! Meja Rian!
Rian mengerutkan keningnya bingung saat pria itu berhenti tepat di depan mejanya. Pria itu menatap seikat bunga mawar merah di meja, menatap Rian, lalu menyunggingkan senyum yang sangat manis hingga lesung pipit di pipi kirinya terlihat jelas.
"Halo. Kamu Rian, kan? Yang pesan meja nomor 12 atas nama Rian?" tanya pria itu. Suaranya terdengar sangat dalam, bass, jantan, dan penuh wibawa.
Rian berkedip cepat tiga kali, bingung. "Ehh... iya, benar, Mas. Saya Rian. Tapi maaf ya Mas, meja ini udah di-book. Saya lagi nunggu janji sama cewek saya... pemilik akun Instagram @selvyayuu."
Pria berotot itu terkekeh pelan. Suara tawa yang begitu renyah dan santai. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, pria itu memundurkan kursi di hadapan Rian dan langsung duduk dengan santai, menyilangkan kakinya yang panjang.
"Iya, aku tahu," kata pria itu santai sambil tersenyum ramah.
Rian makin bingung dan agak risih. "Maaf, Mas? Tahu dari mana? Mas temannya Selvy ya? Atau kakaknya yang bertugas mengawal? Selvy-nya mana, Mas? Di luar?"
Pria tampan perkasa itu menghela napas pendek, lalu merogoh saku kemeja navy-nya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel pintar berlayar besar, membuka aplikasi Instagram, lalu meletakkannya di atas meja dan menggesernya perlahan ke hadapan Rian.
Layar ponsel itu menampilkan halaman profil Instagram.
Di bagian atas layar, tertulis nama pengguna: @selvyayuu.
Dan tepat di bawah foto profil siluet wanita berhijab itu, terdapat tombol biru besar bertuliskan: Edit Profile.
Rian membeku. Matanya melotot selebar-lebarnya. Otaknya serasa mengalami blue screen mendadak.
"M-m-mas... ini... maksudnya apa?" suara Rian mendadak mencicit gersang.
Pria itu mengulurkan tangan kanannya yang berotot dan berurat tegas, menawarkan jabat tangan dengan sangat sopan.
"Perkenalkan, nama asliku Alfi. Dan akun @selvyayuu itu... adalah akun pribadi milik aku," ujar Alfi dengan senyum paling polos dan tanpa dosa di muka bumi.
DUARRR!
Rasanya seperti ada petir menyambar di dalam ruangan kafe ber-AC tersebut. Rian merasa dadanya dihantam barbel seratus kilogram. Pandangannya berputar-putar, matanya bolak-balik menatap layar ponsel yang menampilkan profil @selvyayuu, lalu menatap pria tegap berpundak lebar di depannya, lalu kembali ke layar ponsel.
"G-G-GAK MUNGKIN!" Rian hampir berteriak histeris, membuat beberapa pengunjung di meja sebelah menoleh kaget. Rian dengan cepat menutupi mulutnya sendiri, napasnya tersengal-sengal.
"Mas... Mas jangan becanda ya! Ini prank kan?! Mana kamera tersembunyinya?!" Rian mengedarkan pandangan panik ke sudut-sudut kafe. "Ini pasti acara prank TikTok kan?! Selvy Ayu yang asli lagi sembunyi di balik tirai kan?!"
Alfi tersenyum simpatik, menepuk bahu Rian pelan dengan tangannya yang kekar. "Tenang dulu, Bro Rian. Tarik napas... hembuskan... tenang."
"Gimana gue bisa tenang, Mas?!" bisik Rian histeris dengan wajah pucat pasi. "Jadi... jadi selama ini... sosok ukhti impian gue yang bangun jam setengah tiga pagi buat sholat tahajud..."
"Itu aku. Aku beneran bangun jam 2.30 pagi setiap hari buat tahajud," potong Alfi jujur.
"...yang habis subuh lanjut tadarusan sampai jam 6 pagi..."
"Itu juga aku. Murottal hafalan Al-Qur'anku alhamdulillah lancar."
"...yang rajin ngegym dan angkat barbel..."
"Iya, itu aku juga. Ini otot lengan hasil angkat beban rutin tiap pagi jam 6 sampai jam 9," ujar Alfi sambil memamerkan bisepnya yang mengembang sempurna di balik kemeja.
Rian memegangi kepalanya yang mendadak pusing tujuh keliling. "...yang jago masak rendang, sup iga, opor ayam..."
"Resep rahasia keluarga. Bumbunya meresap sampai ke serat daging paling dalam. Kalau kamu mau, kapan-kapan aku masakin rendang buatan tanganku sendiri," tawar Alfi antusias.
"...yang suka main HP sambil mengaji, tidur siang jam 1 sampai jam 3, keliling kompleks sore-sore, terus..." Rian menelan ludah dengan susah payah, "...yang suka bantu mencebokkan anak tetangga?!"
"Haha, itu beneran! Tadi sore aku habis bantu cebokin anak balita Bu Siska di RT 04. Kasihan ibunya repot banget," jawab Alfi dengan nada polos tanpa beban.
Rian terduduk lemas, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tatapan kosong menatap langit-langit kafe. Dunianya serasa runtuh. Seluruh fantasi romantis ala drakor rom-com yang sudah ia susun indah di kepalanya selama tiga bulan terakhir—tentang bagaimana ia akan bergandengan tangan dengan Ukhti Selvy Ayu yang anggun—seketika menguap digantikan oleh sosok mas-mas gym bertubuh kekar yang siap mengajaknya bench press!
"Tapi... TAPI KENAPA NAMA AKUNNYA @SELVYAYUU?!" tanya Rian dengan nada frustrasi yang ditahan. "Kenapa bukan @alfi_gym_bro atau @mas_tahajud_kekar?!"
Alfi tertawa kecil, menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal dengan agak malu-malu.
"Aduh, maaf banget ya, Bro. Itu ada sejarahnya," jelas Alfi santai. "Waktu aku masih SMP dulu, aku pernah bikin akun jualan online buat bantu bisnis baju olahragaku. Nah, nama 'Selvy Ayu' itu sebenarnya singkatan dari gabungan nama mantan-mantanku waktu zaman cinta monyet SMP dulu! 'Selvy' itu Selena dan Vina, 'Ayu' itu Rahayu! Pas akunnya udah gede dan followers-nya banyak, aku males ganti username karena sayang aja gitu algoritmanya udah terbentuk."
"Terus foto profilnya?! Foto cewek berhijab dari belakang itu siapa?!" cecar Rian lagi, masih mencari celah kebenaran.
"Oh, itu foto adik sepukuku! Waktu itu kita lagi liburan bareng ke Bromo, terus foto dari belakang karena pemandangannya bagus. Aku pajang aja buat foto profil biar estetik," jawab Alfi santai.
Rian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, meratapi nasibnya. "Aduh Gusti... gue udah beli mawar merah... gue udah pakaikan parfum paling wangi... gue udah bayangin masa depan..."
Alfi menatap seikat mawar merah di meja, lalu terkekeh pelan. "Aduh, mawarnya bagus banget, Bro. Makasih ya, walaupun salah sasaran."
"Terus caption kamu yang panjang itu..." Rian menatap Alfi dengan sisa-sisa harapan terakhir. "Masa gak ada indikasi kalau kamu cowok?!"
"Lho, kan di caption aku udah kasih clue sangat jelas!" kata Alfi membela diri. "Aku kan tulis: 'angkat barbel seberapa banyak bebannya juga aku tahan'. Masa cewek imut angkat barbel ratusan kilo? Terus aku juga tulis humor: 'semua binatang ada dirumah aku, keluarnya dri mulut ak mksdnya'. Itu kan candaan khas bapak-bapak atau cowok tongkrongan!"
Rian makin tak bisa berkata-kata. Jika dipikir-pikir kembali dengan akal sehat dan tanpa membutakan diri oleh ekspektasi visual, semua tulisan di caption tersebut memang 100% akurat menggambarkan kehidupan Alfi! Tidak ada kebohongan satu kalimat pun. Alfi memang benar-benar pria green flag tingkat dewa: sangat religius, super sehat, ahli memasak kuliner berat maupun cemilan homemade, penyayang anak kecil, mandiri, dan humoris. Hanya saja... jenis kelaminnya bukan seorang wanita!
Melihat Rian yang masih shock berat dan tertunduk lemas, Alfi merasa sedikit bersalah sekaligus merasa lucu. Ia menepuk-nepuk bahu Rian dengan penuh rasa persahabatan.
"Sori ya, Bro Rian. Aku beneran gak ada niat buat catfishing atau bohongin kamu. Waktu kamu DM dan kita sering diskusi soal sketsa DKV, agama, dan pola hidup sehat, aku merasa nemu temen ngobrol yang nyambung banget! Makanya pas kamu ajak ketemu, aku oke-oke aja. Aku pikir kamu udah tahu dari gaya bahasaku kalau aku ini cowok."
Rian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kesadarannya yang berantakan. Ia memandang pria berotot di depannya. Meskipun impian asmaranya hancur berantakan, Rian harus mengakui bahwa Alfi adalah pribadi yang sangat ramah, jujur, dan memang menyenangkan diajak bicara.
"Ya sudahlah..." desah Rian pasrah, lalu meminum hot cappuccino-nya yang mulai dingin untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. "Ini plot twist drakor paling tragis sekaligus kocak sepanjang sejarah hidup gue."
Alfi tertawa renyah, melambaikan tangan ke arah pelayan kafe. "Mbak! Tolong tambah menu martabak manis sama cemilan sehatnya ya, saya yang bayar semuanya malam ini!"
Pelayan kafe mengangguk ramah. Alfi kemudian kembali menatap Rian dengan tatapan penuh semangat dan kedipan mata menggoda yang kocak.
"Nah, karena sekarang kita udah kenalan secara resmi," ujar Alfi menirukan gaya tulisan di caption populernya dengan nada bercanda, "kalau kamu mau cemilan malam ini, gak bakal aku beliin terus... karena kapan-kapan bisa aku bikin sendiri di rumah, like a burger, kebab, atau terang bulan. BUAT SENDIRI, okay?"
Rian yang mendengar itu tak sanggup lagi menahan tawanya. Rasa syok dan kekecewaannya seketika lebur menjadi tawa terbahak-bahak yang lepas.
"Gila lu, Mas Alfi!" gelak Rian sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Jadi gimana, Bro Rian?" Alfi mengedipkan sebelah matanya bercanda, persis seperti emotikon di akhir caption-nya. "Mau aku masakin rendang gurih besok di rumahku, atau mau ikut aku ngegym bareng jam 6 pagi besok? Jadi gmn? 😝😝😝"
Rian tertawa makin kencang di tengah kafe malam itu, mengangkat cangkir kopinya ke udara. "Oke deal! Tapi syaratnya, ajarin gue cara angkat barbel biar badan gue bisapun tegap kayak lu, Mas!"
Di bawah naungan lampu kafe yang hangat, malam penantian yang berawal dari kesalahpahaman romantis itu pun berubah menjadi awal dari sebuah persahabatan bromance paling unik, sehat, dan kocak antara seorang mahasiswa DKV dan pemuda green flag pemilik akun @selvyayuu.