Namaku Alena.
Selama tiga tahun menikah dengan Dimas, aku tidak pernah sekalipun menceritakan siapa diriku sebenarnya.
Bukan karena aku malu.
Aku hanya ingin tahu satu hal.
Apakah keluarga suamiku akan menerimaku kalau mereka mengira aku bukan siapa-siapa?
Jawabannya ternyata tidak.
Sama sekali tidak.
“Alena, kamu itu sudah tiga tahun menikah dengan Dimas. Masa sampai sekarang masih hidup dari uang suamimu?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut Ibu Mertua saat makan malam.
Aku yang sedang menuangkan air ke gelas Dimas hanya tersenyum.
“Aku juga bekerja, Bu.”
“Bekerja?”
Beliau tertawa kecil.
“Jualan kue dari rumah itu kamu sebut bekerja?”
Aku diam.
Dimas yang duduk di samping ibunya hanya sibuk melihat ponsel.
Aku menatapnya sebentar.
Biasanya dia akan membelaku.
Malam itu tidak.
“Sudahlah, Bu,” ucap Dimas akhirnya. “Jangan dibahas.”
Aku sempat tersenyum.
Kupikir dia akan membelaku.
Ternyata dia melanjutkan,
“Alena memang harus belajar lebih mandiri.”
Senyumku langsung hilang.
Aku menaruh gelas di meja.
“Baik.”
Hanya itu yang keluar dari mulutku.
Aku tidak marah.
Tidak menangis.
Aku hanya mulai mengerti.
Tiga tahun ternyata belum cukup untuk membuat mereka mengenalku.
---
Pernikahanku dengan Dimas sebenarnya tidak pernah mendapat sambutan hangat.
Dimas adalah anak sulung keluarga Pratama.
Ayahnya mempunyai perusahaan kontraktor yang sudah berdiri puluhan tahun.
Sedangkan aku?
Di mata mereka, aku hanyalah perempuan biasa yang datang dari keluarga sederhana.
Mereka tidak tahu bahwa sejak usia dua puluh dua tahun, aku sudah membangun perusahaan sendiri.
Perusahaan itu bernama Arunika Group.
Awalnya hanya sebuah bisnis kecil dari garasi rumah.
Sekarang perusahaan itu mempunyai ratusan karyawan dan beberapa cabang.
Tapi selama menikah, aku tidak pernah membawa nama perusahaan itu ke rumah.
Bahkan mobil yang biasa kupakai selalu kutukar dengan mobil sederhana.
Aku ingin hidup seperti pasangan biasa.
Aku ingin dicintai sebagai Alena.
Bukan sebagai pemilik perusahaan.
Sayangnya, keluarga Dimas justru menilai manusia berdasarkan apa yang terlihat.
Dan aku memilih diam.
Sampai suatu hari, perusahaan milik keluarga Dimas mengalami masalah besar.
Pagi itu Dimas pulang dengan wajah pucat.
Dia bahkan tidak menyentuh sarapan yang sudah kubuat.
“Ada masalah?” tanyaku.
Dimas mengusap wajahnya.
“Perusahaan Papa kena masalah.”
“Apa?”
“Proyek besar dibatalkan. Bank juga menahan beberapa fasilitas kredit.”
Aku terdiam.
“Separah itu?”
Dimas mengangguk.
“Kalau dalam dua bulan kita nggak dapat investor atau proyek baru, perusahaan bisa bangkrut.”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena aku tahu sesuatu yang Dimas tidak tahu.
Perusahaan keluarganya memang sedang dalam masalah.
Dan beberapa hari sebelumnya, laporan mengenai perusahaan itu sudah sampai ke mejaku.
Arunika Group sedang mempertimbangkan mengambil alih salah satu proyek mereka.
Aku belum memberikan keputusan.
Kini aku tahu siapa yang sedang berada di ujung tanduk.
---
Malamnya, keluarga besar berkumpul.
Ayah mertua duduk dengan wajah tegang.
“Dimas, kamu harus cari jalan keluar.”
“Aku sudah mencoba, Yah.”
“Hubungi teman-temanmu.”
“Sudah.”
“Bank?”
“Tidak ada yang mau memberikan tambahan pinjaman.”
Ruangan mendadak sunyi.
Kemudian Ibu Mertua tiba-tiba menatapku.
“Alena.”
Aku mengangkat kepala.
“Iya, Bu?”
“Kamu punya kenalan pengusaha, kan?”
Aku mengernyit.
“Kenalan?”
“Bukankah kamu sering jualan ke orang-orang kantor?”
Aku hampir tertawa.
Jadi setelah tiga tahun dianggap miskin, sekarang aku mendadak dianggap punya koneksi?
“Ada beberapa,” jawabku.
“Kalau begitu, coba minta bantuan.”
Dimas menatapku.
“Len, kalau kamu punya kenalan yang bisa membantu, tolong.”
Aku memandang suamiku cukup lama.
“Kalau aku bisa membantu, apakah keluarga ini akan menerimaku?”
Tidak ada yang menjawab.
Ibu Mertua malah mengerutkan dahi.
“Ini bukan waktunya membahas perasaan.”
Aku mengangguk pelan.
“Baik.”
Aku berdiri.
“Besok aku akan menghubungi seseorang.”
---
Keesokan paginya, aku datang ke kantor Arunika Group.
Begitu pintu lift terbuka, beberapa karyawan langsung berdiri.
“Selamat pagi, Bu Alena.”
Aku mengangguk.
“Pagi.”
Sekretaris pribadiku, Rani, langsung menyambut.
“Bu, rapat dengan tim legal jam sepuluh.”
“Batalkan.”
Rani terlihat bingung.
“Kenapa, Bu?”
“Aku mau bahas proyek keluarga suamiku.”
Rani terdiam.
“Perusahaan Pratama?”
“Iya.”
“Bukankah mereka sedang hampir bangkrut?”
Aku menatapnya.
“Itulah masalahnya.”
Rani membuka berkas.
“Kalau Arunika mengambil proyek itu, kita harus mengeluarkan dana cukup besar.”
“Aku tahu.”
“Dan secara bisnis, risikonya lumayan tinggi.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku tidak mengambil keputusan sebagai istri Dimas.”
Rani menunggu.
“Aku mengambil keputusan sebagai pemilik perusahaan.”
---
Siang itu aku kembali ke rumah.
Dimas sudah menunggu.
“Bagaimana?”
Aku meletakkan tas.
“Aku sudah bicara dengan seseorang.”
“Siapa?”
Aku tersenyum.
“Pemilik Arunika Group.”
Wajah Dimas berubah.
“Kamu kenal?”
“Kenal.”
“Bisa bantu?”
“Bisa.”
Dimas terlihat lega.
“Syukurlah.”
Aku menatapnya.
“Tapi ada syarat.”
“Apa?”
“Perusahaan kalian harus menerima kontrak baru dengan Arunika.”
Dimas langsung mengangguk.
“Apa pun syaratnya.”
Aku berdiri.
“Kalau begitu, besok datang ke kantor.”
“Jam berapa?”
“Jam sembilan.”
Dimas tersenyum.
“Terima kasih, Len.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat tatapan hangat di matanya.
Namun aku tahu sesuatu yang belum dia ketahui.
Besok, saat dia datang ke kantor itu, semuanya akan berubah.
---
Pukul sembilan tepat.
Dimas datang bersama ayah dan ibunya.
Mereka memasuki gedung Arunika Group dengan pakaian formal.
Aku sudah menunggu di ruang rapat.
Namun mereka melewatiku.
Mereka bahkan tidak menyadari aku duduk di ujung meja.
Ayah mertua berbicara kepada sekretarisku.
“Kami ingin bertemu pemilik perusahaan.”
“Tunggu sebentar, Pak.”
Pintu terbuka.
CEO Arunika Group masuk.
Aku.
Dimas langsung berdiri.
Wajahnya berubah.
Ibunya membeku.
Ayahnya menatapku seperti tidak percaya.
“A-Alena?”
Aku berdiri dengan tenang.
“Selamat datang di Arunika Group.”
Tidak ada yang berbicara.
Aku melanjutkan,
“Perusahaan yang selama ini kalian kira tidak lebih dari tempat jualan kue di rumah.”
Dimas menatapku lama.
“Kamu...”
“Iya.”
Aku menarik kursi.
“Duduklah.”
Ibunya masih berdiri.
“Kamu pemilik perusahaan ini?”
Aku mengangguk.
“Sudah sejak sebelum kita menikah.”
Dimas terlihat seperti kehilangan kata-kata.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Aku menatapnya.
“Karena aku ingin tahu apakah kalian akan menghargai aku tanpa melihat hartaku.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku membuka dokumen di depanku.
“Kontrak ini bisa menyelamatkan perusahaan keluarga kalian.”
Ayah mertua menatapku.
“Alena...”
Aku mengangkat tangan.
“Tapi ada satu hal.”
Mereka menunggu.
“Aku tidak akan memberikan kontrak ini karena aku menantu kalian.”
Aku menatap satu per satu.
“Aku memberikannya karena perusahaan kalian masih memiliki potensi.”
Kemudian aku menatap Dimas.
“Dan untuk pernikahan kita…”
Dimas menelan ludah.
Aku mengambil sebuah amplop dari meja.
“Aku rasa kita perlu membicarakannya setelah rapat selesai.”
Wajah Dimas langsung berubah.
“Len…”
Aku berdiri.
“Sekarang mari kita bicara soal bisnis.”
Untuk pertama kalinya, keluarga suamiku tidak melihatku sebagai menantu miskin.
Mereka melihatku sebagai perempuan yang selama ini berdiri jauh di atas mereka.
Dan yang paling membuat Dimas terpukul bukanlah kenyataan bahwa istrinya seorang pengusaha.
Melainkan isi amplop yang ada di atas meja.
Surat yang sudah kutandatangani sejak tadi malam.