Masa-masa SMP adalah masa di mana hati kecil mulai belajar mengenal debar yang asing. Di situlah aku pertama kali merasakan apa yang namanya "suka" pada pandangan pertama, atau setidaknya, suka setiap kali melihatnya lewat di koridor kelas.
Namanya sebut saja Rian. Di mata aku dan teman-teman sekelasku, Rian itu tipe cowok yang punya pesona sendiri—ganteng, bandelnya khas anak remaja, dan punya tatapan mata yang seolah menyimpan banyak cerita. Sayangnya, anak-anak seangkatan tahu kalau Rian sering bikin ulah dan agak "nakal". Belakangan aku baru tahu, kenakalannya itu pelarian dari rumah karena keluarganya yang broken home. Alih-alih takut, entah kenapa ada rasa iba dan kagum yang bercampur aduk di dalam dadaku. Tapi, tentu saja, perasaan itu kusimpan rapat-rapat di dalam hati. Mana mungkin aku berani bilang? Aku kan cuma siswi biasa yang hobi duduk di bangku tengah sambil pura-pura fokus mendengarkan guru mencatat di papan tulis.
Belum selesai debar hatiku karena Rian, masa-masa SMP-ku juga diwarnai drama lain yang nggak kalah bikin salah tingkah. Suatu hari, ada seorang adik kelas yang tiba-tiba naksir aku. Niatnya mungkin ingin pdkt, tapi caranya justru bikin aku ilfil setengah mati. Setiap kali aku lewat di depan kelasnya, gerombolan teman-temannya langsung berteriak heboh, "Cieee... hUUU cieee... dipanggil tuh sama si anu!" Rasanya ingin sekali, saat itu juga, aku menelan bumi saking malunya diteriaki seisi koridor sekolah.
Drama sekolah makin menjadi-jadi ketika ada seorang murid pindahan baru—cewek yang cantiknya kelewatan, tinggi, dan badannya body goals banget. Nggak butuh waktu lama buat dia dan Rian untuk dekat, PDKT, lalu akhirnya jadian.
Di sinilah puncak kepanikan sekaligus momen paling mendebarkan terjadi.
Gara-gara kedekatan Rian dengan si anak baru, tiba-tiba berhembus gosip panas di sekolah: aku dikabarkan pernah pacaran sama Rian.
Duh, mendengarnya saja aku sudah jantungan! Rasanya ingin terbang ke planet lain. Puncaknya, si cewek yang sudah jadian sama Rian itu tiba-tiba datang menghampiriku dan bertanya langsung dengan tatapan menyelidik, "Kak, beneran ya kakak pernah pacaran sama Rian?"
Dengan jantung yang berdegup kencang seperti mau copot, mati-matian aku mempertahankan poker face-ku. Sambil tersenyum santai, aku jawab, "Hah? Nggaklah, mana mungkin!"
Padahal dalam hati? Astaga, aku ingin teriak sejadi-jadinya. Mana mungkin aku kasih tahu dia kalau aku memang pernah suka sama Rian, tapi hanya sebatas suka dalam diam dan kupendam sendiri sampai terbawa mimpi!
Sekarang, kalau mengenang masa-masa itu, aku cuma bisa senyum-senyum sendiri. Cinta pertama di masa SMP ternyata nggak harus berakhir indah atau jadian. Kadang, cukup dengan rasa berdebar-debar, salah tingkah di kantin, dan rahasia kecil yang cuma disimpan sendiri, itu sudah menjadi kenangan paling manis yang bikin masa remaja terasa berwarna.