Ini bukan pertama kalinya. Pria bernama Xander Hayes terlihat begitu muram. Aura wibawa di wajahnya hilang seketika, karena ia selalu mengingat mendiang istrinya yang sudah tiada.
"Hai, Tuan. Kenapa kau diam saja, sini mari berkebun. Mari menikmati musim semi dengan bahagia." ucap seorang gadis cantik.
Amber Brooks namanya, gadis cantik itu sangat ceria. setiap hari, ia menyiram bunga-bunga indah yang berada di halaman rumah kayu miliknya.
Saat tak ada respon dari pria itu. Amber menghentikan aktifitasnya. Ia memilih untuk datang dan menghampiri pria itu. Langkahnya pelan. Menjejak rumput dan berjalan pelan.
"Tuan?"
Seketika Xander mendongak, menatap wajah cantik sang gadis. Tatapan mereka bertemu.
"Kenapa kau diam saja, apa kau tidak ingin menikmati musim semi ini?"
Xander tersenyum getir, ia bahkan tidak memikirkan musim semi atau yang lain. Bayangan dikepalanya hanyalah Eloise.
Tangan Amber terulur, menepuk bahu si pria karena ia hanya diam saja. "Hei?"
Seketika Xander tersadar. Pria itu menjawab, "Ya, aku hanya memikirkan mendiang istriku."
Amber menggelengkan kepala. "Hei Tuan, maafkan aku, aku tidak bermaksud ikut campur dalam urusanmu. Tapi jika seorang sudah tiada. Jangan terlalu larut." itu ujar Amber.
Xander memperhatikan bibir gadis itu bergerak-gerak terus berbicara.
"Kita harus melihat kedepan. Karena kehidupan kita akan terus berjalan. Biarkan yang sudah tiada. Yang penting kita harus tetap datang untuk berziarah."
Xander tertegun. Benar memang yang dikatakan jika diulang-ulang.
"Sekarang, mari menikmati musim semi ini."
Amber tertawa riang. Ia berlari kembali untuk menyiram bunga-bunga miliknya.
Jika yang dikatakan sang gadis ia rasa benar. Pria itu berpikir dua kali. Tidak ada gunanya memikirkan seseorang yang telah tiada. Apa selama ini ia larut? Kehidupan terus berjalan bukan?
Hari demi hari Xander menjalani kehidupan dengan baik. Musim semi ternyata membawa Xander kedalam kehidupan lebih baik. Ditambah sekarang ada seorang teman yang bernama Amber.
Gadis itu benar-benar ceria, setiap harinya ia tidak pernah terlambat untuk menyiram bunga yang mekar di halaman rumahnya.
Desa Cold spring. Bersinar cerah pagi ini, tapi ada yang kurang menurut Xander. Ia tak melihat sama sekali Amber. Rumah kayu miliknya tertutup rapat.
Tanamanya juga kering seolah ia tidak bangun untuk menyiram bunga-bunga itu.
"Hei, dimana gadis ceria itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Bunga-bunga tulip, daffodil, dan lavender yang biasanya segar mulai layu karena tak tersentuh air. Jendela rumah tertutup rapat, sementara tirai putih di balik kaca tak bergerak sedikit pun.
Xander berdiri cukup lama di depan pagar kayu. "Aneh, biasanya dia sudah tertawa sejak matahari terbit."
Perasaan tak enak mulai memenuhi pikirannya. Dengan ragu, ia melangkah mendekati beranda lalu mengetuk pintu.
"Amber?"
Tak ada jawaban. "Amber, apa kau di dalam?"
Tetap sunyi. Xander mengerutkan kening. Saat hendak berbalik, seorang wanita tua yang tinggal di rumah sebelah menghampirinya.
"Kau mencari Amber?"
Xander mengangguk. "Iya. Apa dia pergi?"
Wanita tua itu menghela napas panjang.
"Tadi, dini hari ambulans datang menjemputnya."
"Apa?"
Wanita itu mengangguk, "Demamnya tinggi dan penyakit lamanya kambuh."
Jantung Xander berdegup kencang. "Penyakit?"
Wanita tua itu tersenyum pilu. "Amber mengidap penyakit jantung sejak kecil. Dokter mengatakan, jika usianya mungkin tidak panjang. Tapi anak itu selalu tersenyum agar orang lain tidak ikut bersedih."
Xander terdiam. Selama ini, gadis yang selalu menyuruhnya tersenyum ternyata menyimpan rasa sakit sendirian.
Tanpa berpikir panjang, Xander segera menuju rumah sakit di kota terdekat.
Di ruang perawatan, Amber terbaring lemah.
Wajahnya pucat. Namun, ketika melihat Xander datang, senyum kecil kembali menghiasi bibirnya.
"Tuan, kau datang?"
Xander menarik kursi dan duduk di samping ranjang. "Kenapa kau tidak pernah mengatakan kalau kau sakit?"
Amber terkekeh, "Kalau aku terus mengeluh, siapa yang akan menikmati musim semi?"
Xander menunduk. "Maaf, aku bahkan tidak pernah menyadarinya."
Amber menggeleng. "Aku justru senang. Karena sekarang kau sudah tidak murung lagi."
Ucapan itu membuat dada Xander sesak. "Aku berubah karena dirimu."
Amber memandang keluar jendela. Bunga sakura bermekaran diterpa angin.
"Tuan?"
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti aku juga pergi, jangan bersedih terlalu lama."
"Tidak," Xander langsung menggeleng. "Jangan bicara seperti itu."
Amber tersenyum lembut. "Ingat kata-kataku dulu. Kehidupan akan terus berlanjut."
Air mata Xander akhirnya jatuh. Sejak kepergian Eloise, ia menangis bukan karena masa lalu, melainkan karena takut kehilangan seseorang lagi.
Beberapa minggu kemudian, kondisi Amber perlahan membaik. Ia diperbolehkan pulang.
Setibanya di rumah, hal pertama yang dilihatnya adalah halaman yang dipenuhi bunga bermekaran.
Amber tertegun. "Siapa yang menyiram semua ini?"
Xander muncul dari belakang sambil membawa selang air. "Aku."
Amber tertawa kecil. "Jadi sekarang Tuan sudah menjadi tukang kebun?"
"Aku hanya meneruskan kebiasaan seseorang."
Mereka tertawa bersama. Sejak hari itu, setiap pagi mereka merawat taman bersama.
Xander kembali belajar menikmati hidup.
Ia tak lagi menghabiskan waktu dengan penyesalan.
Musim semi berganti menjadi musim panas.
Persahabatan mereka berubah menjadi rasa yang tak bisa disembunyikan.
Suatu sore, di bawah pohon sakura yang mulai kehilangan kelopaknya, Xander menatap Amber dengan sungguh-sungguh.
"Amber."
"Ya?"
"Terimakasih."
"Hanya itu?"
"Bukan."
Xander mengeluarkan sebuah cincin sederhana.
"Dulu aku pikir hidupku berhenti saat Eloise pergi."
Amber terdiam. "Tapi kau mengajarkanku bahwa mengenang seseorang bukan berarti berhenti melangkah."
Air mata Amber menggenang di pelupuk matanya. Ya Tuhan.
"Karena itu, maukah kau berjalan bersamaku untuk sisa hidup ini?" ujarnya.
Amber menutup mulutnya sambil menangis bahagia "Ya, aku mau."
Xander memeluknya dengan hangat. Di bawah langit biru Desa Cold Spring, bunga-bunga bermekaran seakan ikut menjadi saksi kisah cinta mereka berdua.
Beberapa tahun kemudian. Di halaman rumah kayu yang sama, dua gadis kecil berlarian mengejar kupu-kupu di antara hamparan bunga. Gadis kecil itu terkirik geli.
Amber sedang menyiram tanaman seperti biasanya, sementara Xander membantu memangkas bunga mawar.
Pria itu tersenyum memandang langit. "Dulu aku mengira musim semi hanya akan mengingatkanku pada kehilangan."
Amber menggenggam tangannya. "Dan sekarang?"
"Sekarang musim semi selalu mengingatkanku bahwa setelah musim dingin yang panjang, kehidupan selalu menemukan cara untuk kembali mekar."
Angin berembus lembut membawa kelopak bunga berterbangan. Dan di dalam hati Xander, kenangan tentang Eloise tetap hidup sebagai bagian dari masa lalu yang indah, sementara Amber menjadi alasan mengapa ia kembali percaya pada masa depan.
TAMAT.