Jemari Erick terasa kaku, ya, benar saja karena ia sudah tidak pernah lagi memegang senjata. Pria yang paling ditakuti itu memilih tidak lagi memegang senjata baik pistol maupun lainnya.
"Pantas saja kau belum juga menikah, karena semua wanita takut padamu Erick." Ia masih mengingat betul apa yang dikatakan mendiang ibunya.
Benar, semakin ia mencoba menembus bayangan gelap. Semakin sulit untuk ia dapatkan. Karena itu semua menyangkut keselamatan keluarga kecilnya suatu saat nanti.
Hingga kini ia tak lagi ingin menyentuh dunia gelap. Jacket lamanya dengan lambang burung elang dan juga terdapat tulisan. The Black Eagle Family. Membuat pria itu tersenyum getir.
Saat ia memutuskan untuk pindah ke New york. Banyak sekali seorang yang mencoba memprovokasinya. Agar Erick bergabung dengan klan mereka.
"Tidak, Tuan. Trimakasih untuk tawarannya, tapi aku tidak ingin suatu saat nanti keluargaku berada dalam bahaya." itu ujarnya saat terjadi perkumpulan konferensi di Turkis yang di pimpin langsung oleh Tom.
Tom mengerti, akhirnya ia tidak memaksa lagi. Satu kali saja dan Erick tak mau. Tom tidak memaksa lagi. Baginya seorang bertobat tidak masalah. Mungkin mereka sudah menemukan jalan kebenaran. Ia menghargai setiap apapun keputusan.
"Tuan, maaf. Aku diminta bibi Yad agar mengantarkan ini untukmu." ujar gadis cantik berhijab bermata cokelat lembut dan tidak berganti menatapnya.
"Katakan terimakasih."
Si gadis mengangguk pelan. Cantik, memakai gaun panjang gamis dan berhijab. Tatapan mata biru Erick memandangnya tanpa berkedip.
Seketika, pria itu tersadar. Seperti ada sebuah magnet besar yang membuatnya terpikat langsung oleh gadis berhijab itu.
"Siapa dia?"
Bibi Yad menyahut dari kejauhan dan tersenyum. "Dia, Melek Sahin."
"Bibi dari mana, mengapa dia yang mengantar makananku."
"Maafkan aku, aku sangat sibuk memotong rumput nak."
Melek Sahin, nama itu seperti sebuah sihir yang menembus kepala Erick. Bahkan setiap harinya pria itu tidak berhenti memikirkannya. Entah sebuah kebetulan atau bagaimana.
Setiap hari, Melek selalu melewati jalan tempat tinggalnya menuju masjid. Membawa mukenah dan Al-Quran.
Tidak ada kesedihan di wajahnya. Ia selalu tersenyum lembut.
Mushaf Al-quran ia baca dengan merdu. Erick bahkan mendengarnya sendiri. Tempat tinggal mereka tak jauh.
Dalam hati Erick, "Apa yang ia baca. Mengapa begitu merdu dan sangat membuat hati tenang."
Erick terus mendengarkan setiap Mushaf yang keluar dari bibir gadis itu.
Dalam benaknya. Ia ingin sekali belajar tentang islam. Bagaimana caranya agar ia bisa menjadi pria yang lebih baik walaupun masalalunya cukup kelam.
"Dia memang gadis muslim yang tunduk patuh pada Allah." kata bibi Yad, yang memecah keheningan. "Tuan, dia adalah gadis yatim piatu. Hidupnya selalu dalam penderitaan. Dulu saat orang tuanya masih hidup. Ayahnya sangat jahat dan keras kepada Melek. Aku kasihan sekali melihatnya."
Erick mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan bibi Yad.
Dalam benak hati Erick. Apa dia akan menerimanya. Menerima segala kekurangan Erick.
Disaat itulah, setiap huruf hijaiah yang keluar dari bibirnya. Melek lah yang mengajarinya. Melek mengajari juga bagaimana tata cara membaca setiap huruf dan bacaan yang benar.
"Terimakasih Melek, kau sudah mengajarkan banyak tentang islam kepadaku."
Melek tersenyum. Ia bahkan meminta agar Erick membaca buku-buku sejarah miliknya saat dulu ia kuliah.
"Tak apa Erick. Kau harus banyak belajar jika kau memang ingin tahu tentang islam."
"Kau adalah guru bagiku."
Melek tersenyum, pipinya memerah. Ia bahkan tak menyangka jika Erick menganggapnya demikian.
"Nak, sini kalian sebaiknya makan." panggil bibi Yad.
Erick dan Melek segera menghampiri wanita itu. Sejak saat itu mereka memutuskan tinggal bertiga. Tinggal bersama seperti keluarga kecil pada umumnya.
"Aku melihat perubahan banyak pada Erick. Dulu dia saat baru datang dari New York tidak seperti ini."
Melek tersenyum, demikian dengan Erick. Ia bahkan tak menyangka jika dirinya yang selalu berada dalam dunia gelap, kini hidupnya tenang tanpa senjata dan darah.
Bertahun-tahun ia selalu berada dalam dunia yang selalu berhasil membuat orang lain merasa ketakutan. Dengan sebuah pistol, belatih dan juga darah dimana-mana.
Sampai ia ke Turki pun pemimpinnya yang meminta agar pria itu bergabung padanya tapi ia terus menolak ajakan itu hanya untuk hidup tenang.
Saat azhan berkumandang. Bibi Yad dan Melek mengambil Wudhu. Benar saja. Erick memandang mereka. Ia seorang non muslim, saat memandang Bibi Yad dan Melek menunaikan ibadahnya. Erick merasa hatinya begitu tenang.
"Apakah aku juga harus belajar dengan tata cara ibadah mereka. Entah sejak kapan aku merasa, jika mempelajari islam tidak sesulit itu. Sejak mendengar kata Allah aku merasa sangat tenang."
Setelah Bibi Yad dan Melek selesai menunaikan ibadahnya. Tak lama kemudian Erick mendekat.
"Bibi, aku sudah membuat keputusan."
"Katakan Nak."
"Aku akan memeluk islam, mulai detik ini."
Mata Melek membulat, gadis itu terkejut. Ia tak menyangka jika Erick mengatakan demikian.
"Masy Allah." ujar Bibi Yad.
Melek tersenyum, ia sangat bahagia. "Kalau begitu. Aku memberimu ini."
Melek mengulurkan sebuah sarung, peci, kemeja dan sajadah.
"Apa ini?" tanya Erick.
"Jika kau ingin memasuki islam. Kelak kau akan menjadi imam. ini pakaiannya Erick."
Seorang ustad datang kerumah Bibi Yad. Dan membantu Erick untuk mengucapkan syahadat agar pria itu sah dalam memeluk islam.
"Alhamdulillah." ucap semua orang yang begitu terlihat senang dan mengucap syukur.
Kini setelah berbulan-bulan lamanya ia belajar tenang islam huruf hijaiah dan menjadi muslim.
Suara merdu Erick selalu berkumandang saat Azhan tiba. Erick selalu shalat tepat waktu. Tak lupa ia juga selalu mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah. Untuk kehidupan yang begitu membuatnya jauh lebih baik saat ini.
"Melek,"
Melek menoleh menatap Erick. "Apa?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu."
"Katakan saja."
"Kelihatanannya kalian sangat serius."
"Kebetulan juga ada Bibi Yad disini."
"Ada apa Nak?"
"Melek, apakah kau mau menikah denganku. Dengan menerima segala kekuranganku?"
Erick mengembuskan napas panjang. Jemarinya yang dahulu tak pernah gemetar saat menarik pelatuk pistol, kini justru bergetar ketika menggenggam sebuah kotak cincin sederhana.
"Melek?"
Gadis itu mengangkat wajahnya. "Ya?"
Erick menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Dulu aku dikenal sebagai pria yang membawa ketakutan ke mana pun aku pergi. Hari ini aku hanya ingin menjadi laki-laki yang membawa ketenangan untuk keluargaku."
Ia berlutut di hadapan Melek. "Aku memang tidak bisa menghapus masa laluku. Namun aku berjanji akan menghabiskan sisa hidupku untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik. Melek Şahin, maukah kau menjadi pendamping hidupku? Menjadi makmumku hingga akhir hayat?"
Air mata Melek jatuh tanpa mampu ditahan. Ia menoleh kepada Bibi Yad yang mengangguk sambil tersenyum haru. "InsyaAllah, aku bersedia."
Senyum Erick mengembang. Pria yang pernah ditakuti banyak orang itu merasakan kemenangan terbesar dalam hidupnya. Bukan karena senjata, bukan karena kekuasaan, melainkan karena Allah telah memberinya hidayah dan menghadirkan seorang perempuan salehah yang membimbingnya menuju cahaya.