Di sudut dermaga Pelabuhan Merak, angin malam berhembus membawa bau garam yang pekat dan dingin yang meresap hingga ke tulang. Lampu-lampu kapal di kejauhan tampak seperti kunang-kunang raksasa yang mengapung di atas Selat Sunda. Malam itu, aku berdiri gemetar, menggenggam jemari Mas Rian—seorang mualim muda di sebuah kapal kargo interinsuler.
"Kamu yakin mau nunggu Mas?" bisiknya lembut. Matanya yang hitam legam menatapku penuh kasih, namun ada garis ketegasan khas lelaki pelaut di sana.
"Yakin, Mas. Tapi aku takut..." aku menunduk, menatap ujung sepatuku.
Malam itu, kami baru saja membicarakan tanggal pernikahan yang disepakati kedua keluarga: enam bulan lagi. Namun, alih-alih diliputi rasa bahagia yang membuncah, dadaku justru sesak oleh gelombang kecemasan. Di media sosial dan ruang berita, kabar duka sedang gencar-gencarnya disiarkan: seorang jurnalis investigasi senior hilang secara misterius saat melakukan peliputan independen mengenai jalur pelayaran ilegal dan cuaca ekstrem di sekitar Selat Sunda. Kapal kecil yang ditumpanginya ditemukan hanyut tanpa awak di dekat Pulau Sangiang.
Hilangnya jurnalis itu seolah menjadi pengingat mengerikan bagiku: laut adalah benua liar yang tak pernah berbelas kasih.
Beberapa hari setelah keberangkatan Mas Rian, kecemasan itu berubah menjadi monster yang menggerogoti jiwaku. Dalam masa pacaran yang sudah berorientasi pada pernikahan ini, rasanya ujian datang dari segala arah. Bukan hanya ragu pada jarak, tapi ragu pada ketahanan mentalku sendiri.
Suatu malam, aku mengeluh kepada Mbak Arini, seorang kawan senior di tempat kerja yang suaminya juga seorang pelaut senior. Aku menumpahkan segala ketakutanku, menyatakan niatku untuk mundur sebelum segalanya terlanjur jauh.
Mbak Arini tersenyum tipis, menatapku dengan tatapan penuh pemahaman. Ia memegang tanganku erat-erat.
"Agak berat sih, Dek. Takutnya kamu memang nggak sanggup ngerasain kek gini," ujar Mbak Arini pelan. "Tapi boleh ga sih aku mundur? Menikah itu urusan kamu dan dia, juga urusan hati kamu. Tanyakan hati kamu, minta petunjuk dalam doa. Apalagi casenya seperti kamu yang sudah ada niat menikah..."
Ia menghela napas panjang, mengingat kenangan masa lalunya sendiri. "Kalau kita pacaran dan sudah ada niat menikah, di situ ujian berbagai macam berdatangan. Fyi, suamiku juga pelaut. Tanyakan hati kamu... kedepannya kalau menikah, siap ga tanpa komunikasi kalau tiba-tiba ga ada sinyal? Siap ga kalau berantem tapi LDR? Siap ga ditinggal berbulan-bulan?"
Mbak Arini menepuk punggung tanganku. "Namanya dua kepala jadi satu itu susah banget, Dek. Apalagi ditambah kita harus menyatukan dua kepala itu dalam kondisi LDR. Tapi, trust me... selama kamu bisa terima semua konsekuensinya, kalau sudah satu kepala, semua jalan terasa ringan."
Kata-kata Mbak Arini menggantung di udaraku sepanjang malam. Setiap kali aku berlutut dalam sejadah dan Doa Sepertiga Malam, aku menanyakan hal yang sama pada hatiku: Siapkah aku menjadi rumah bagi seorang pengelana samudra?
Ujian sejati datang dua bulan kemudian.
Badai tropis menerjang wilayah perairan barat Indonesia. Televisi tak henti-hentinya menayangkan berita tentang gelombang tinggi di Selat Sunda. Di saat yang sama, tim SAR menggencarkan pencarian jurnalis yang hilang tersebut, yang diduga dihantam gelombang tinggi atau mengalami kecelakaan mematikan di perairan yang sama.
HP-ku bisu. Sudah lima hari tidak ada kabar dari Mas Rian. Pesan WhatsApp-ku hanya centang satu.
Di sinilah letak ujian LDR yang paling membunuh: ketika rasa cemas bercampur dengan prasangka dan emosi yang tertahan. Sebelum hilang sinyal, kami sempat berselisih paham mengenai hal sepele—tentang undangan pernikahan. Berantem dalam kondisi LDR adalah neraka kecil; kamu tidak bisa menatap matanya, tidak bisa memeluknya untuk meredakan amarah, dan kini, komunikasi terputus total saat emosi belum reda.
Pikiranku membayangkan hal-hal buruk. Apakah kapalnya dihantam badai seperti yang dialami jurnalis malang itu? Apakah Mas Rian selamat? Atau apakah dia sengaja mematikan ponselnya karena marah padaku?
Dalam ketidakpastian yang menyiksa, aku teringat nasihat Mbak Arini: Tanyakan hatimu.
Malam itu, di tengah rintik hujan, aku pasrah. Aku menata hatiku. Aku berhenti menyalahkan jarak dan pekerjaan Mas Rian. Aku menyadari bahwa jika aku mencintainya, aku harus siap mencintai gelombang yang membawanya pergi. Aku berjanji pada diriku sendiri: jika Mas Rian kembali dengan selamat, aku tidak akan lagi meragukan takdir kami. Aku siap menyatukan dua kepala ini, sekencang apa pun angin LDR menerpa.
Hari ketujuh, ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk via SMS satelit:
"Dek, maaf baru ada sinyal. Kapal kami sempat berlindung di balik pulau karena badai Selat Sunda, dan kami ikut membantu tim SAR memantau lokasi hilangnya jurnalis itu. Mas selamat. Mas rindu kamu."
Airmataku menetes deras membaca pesan pendek itu. Dinding keraguan yang kubangun berton-ton runtuh seketika. Rasa takut mundur menguap, berganti dengan tekad yang bulat.
Satu bulan kemudian, Mas Rian bersandar di dermaga. Ketika dia turun dari tangga kapal dengan seragam dinasnya yang sedikit kusam dan wajah yang letih, aku tidak lagi melihatnya sebagai ancaman ketakutanku, melainkan sebagai takdir yang harus kupeluk.
Kami berdua berjalan di sepanjang pesisir Selat Sunda sore itu. Ombak masih bergulung, dan berita jurnalis yang hilang kini menjadi pengingat betapa berharganya setiap detik kehidupan. Mas Rian menggenggam tanganku erat-erat, seolah tidak akan pernah melepasnya lagi.
"Mas tahu ini nggak mudah buat kamu," kata Mas Rian pelan, menatap lurus ke horizon laut.
"Awalnya memang berat, Mas," jawabku mantap, menatap samping wajahnya. "Tapi aku sudah tanyakan pada hatiku. Aku siap. Kita mungkin terpisah samudera, tapi selama hati kita satu kepala, semua jalan akan terasa ringan."
Mas Rian tersenyum, lalu menarikku ke dalam pelukannya di bawah langit sore Selat Sunda yang berangsur teduh. Di sana, di antara desir angin dan deburan ombak, aku menemukan jawaban atas doa-doaku: pernikahan kami bukan tentang meniadakan badai, melainkan tentang belajar berlayar bersama di tengahnya.
***
Resepsi pernikahan kami digelar sederhana di sebuah aula kecil dekat pesisir. Hari itu, angin Selat Sunda berhembus lembut, seolah ikut merayakan keputusan besar yang telah kuambil. Mas Rian tampak gagah dengan seragam putih mualimnya, sementara aku mengenakan kebaya putih sederhana. Nasihat Mbak Arini terus bergeming di kepalaku: kalau sudah satu kepala, semua jalan terasa ringan.
Namun, laut selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan manusia bahwa ketenangan di permukaannya sering kali merupakan kebohongan paling manis.
Dua minggu setelah malam pertama kami, Mas Rian kembali mendapat panggilan berlayar. Kali ini jalurnya bukan sekadar pelayaran kargo rutin, melainkan pengawalan armada logistik khusus yang melintasi titik-titik rawan di Selat Sunda hingga perairan luar Sumatra. Aku melepasnya di dermaga dengan senyum yang kupaksakan, menggenggam janji yang kami ikatkan di hadapan penghulu.
Satu bulan pertama berlalu dengan pola LDR yang sudah kubayangkan: pesan singkat yang tertunda jam-jaman, panggilan telepon yang terputus-putus oleh signal dead-zone, dan malam-malam sepi di mana aku hanya bisa menatap peta pelayaran di ponselku. Aku sudah belajar berdamai dengan semua itu.
Hingga suatu sore, sebuah paket tanpa nama pengirim tiba di rumah kami.
Paket itu dibungkus amplop cokelat tebal berlak segel kedap air. Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk hitam dan selembar catatan kecil bertuliskan tangan dengan tinta yang sedikit luntur:
"Jika Rian tidak pulang dalam 30 hari, buka isi flashdisk ini. Jangan serahkan ke kepolisian sebelum kamu menontonnya sendiri. - D.A."
Jantungku berdegup kencang. D.A.? Darel Adinegoro—nama jurnalis investigasi yang dilaporkan hilang di Selat Sunda beberapa bulan lalu, sosok yang beritanya sempat membuatku ragu untuk menikahi Mas Rian!
Dengan tangan gemetar, aku mencolokkan flashdisk tersebut ke laptop. Sebuah folder terbuka, berisi belasan rekaman video pendek, dokumen log kapal yang dipindai, serta beberapa rekaman suara berformat WAV.
Aku mengklik video paling atas. Wajah Darel Adinegoro muncul di layar. Matanya cekung, bajunya kotor oleh selutut lumpur dan oli mesin, namun tatapannya tajam.
"Video ini dibuat tanggal 12 Mei... kalau kalian menyaksikan ini, berarti kapal saya sudah dihancurkan atau saya sudah tidak bernyawa," suara Darel bergetar di tengah deru angin laut yang terekam mik. "Masyarakat mengira saya mengejar kasus pembuangan limbah kimia ilegal di Pulau Sangiang. Itu hanya pengalihan isu. Yang sebenarnya terjadi di Selat Sunda adalah jaringan penyelundupan cagar budaya dan senjata rahasia skala internasional—yang dilindungi oleh oknum perwira pelayaran dan pengusaha logistik."
Darel menghela napas panjang dalam video, lalu menyebutkan sebuah nama kapal kargo beserta jajaran perwiranya.
Namaku mendadak surut dari aliran darahku. Napasku tertahan.
Nama kapal yang disebutkan Darel adalah MV Samudra Perkasa—kapal yang saat ini sedang dinakhodai oleh Mas Rian sebagai Mualim I. Dan nama pertama yang disebut Darel sebagai perantara utama jaringan tersebut adalah Mualim Rian Hartanto.
Duniaku runtuh seketika.
Pikiranku berputar hebat. Lelaki yang setiap malam kudoakan, lelaki yang mengusap air mataku di dermaga dan berjanji akan menjadi suami yang jujur... apakah dia seorang penjahat? Apakah drama hilangnya jurnalis ini sejak awal melibatkan suamiku sendiri?
Aku mengingat kembali pesan SMS satelit yang dikirim Mas Rian beberapa bulan lalu saat jurnalis itu pertama kali hilang: "Mas selamat. Kapal kami sempat berlindung... dan ikut membantu tim SAR memantau lokasi hilangnya jurnalis itu."
Apakah itu bukan sekadar bantuan kemanusiaan? Apakah itu bentuk pencarian untuk memastikan Darel Adinegoro benar-benar membisu di dasar laut?
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menonton satu per satu rekaman di flashdisk tersebut. Semakin dalam kubuka, semakin banyak kejanggalan yang muncul. Dalam salah satu dokumen manifes kapal yang bocor, terdapat tanda tangan digital Mas Rian yang menyetujui pemuatan kontainer "kategori khusus" tanpa pemeriksaan Bea Cukai.
Aku teringat ucapan Mbak Arini: "Pernikahan itu menyatukan dua kepala." Tapi bagaimana jika kepala orang yang kucintai menyimpan rahasia berdarah yang bisa menghancurkanku?
Tiga hari kemudian, Mas Rian memberi kabar bahwa kapalnya akan bersandar darurat di Pelabuhan Merak untuk pengisian bahan bakar selama enam jam sebelum melanjutkan pelayaran ke Selat Malaka. Ia memintaku datang ke dermaga untuk bertemu sebentar.
Aku datang membawa tas kecil. Di dalam tas itu, tersembunyi flashdisk milik Darel Adinegoro.
Suasana dermaga malam itu sangat mirip dengan malam saat aku hampir memutuskan untuk mundur dari hubungan kami. Gelombang Selat Sunda menghempas lambung-lambung kapal baja dengan suara berdentum berat. Cahaya lampu merkuri pelabuhan membuat bayangan kami memanjang di atas lantai beton yang basah oleh gerimis.
Mas Rian berjalan mendekat, tersenyum lebar. Raut wajahnya tampak sangat lelah, namun matanya memancarkan kerinduan yang jujur. Ia hendak memelukku, tapi aku melangkah mundur satu pijakan.
Senyum di wajahnya perlahan memudar. "Dek? Kamu kenapa?"
"Mas... siapa Darel Adinegoro?" tanyaku langsung tanpa basa-basi. Suaraku gemetar di udara dingin.
Raut wajah Mas Rian berubah seketika. Matanya menyempit, ada kejut yang sangat jelas menjalar di raut mukanya sebelum ia dengan cepat menguasai diri.
"Dia... jurnalis yang hilang itu, kan? Kenapa tiba-tiba tanyakan dia?"
Aku mengeluarkan flashdisk hitam dari saku jaketku dan mengacungkannya di hadapan Mas Rian. "Dia mengirim ini ke rumah kita sebelum dia hilang. Namamu ada di dalam dokumen ini, Mas. Kamu terlibat penyelundupan di Selat Sunda. Kamu... kamu penyebab dia hilang?"
Mas Rian menatap flashdisk itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memandangi sekeliling dermaga yang sepi.
"Ikut Mas ke dalam mobil sewaan di ujung dermaga," bisiknya pelan tapi tegas. "Di sini tidak aman."
Di dalam mobil yang terkunci rapat di sudut remang pelabuhan, Mas Rian mematikan mesin. Suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara rintik hujan yang menghantam kaca depan.
"Jelaskan padaku, Mas. Sebelum aku pergi dan menyerahkan ini ke polisi," desakku dengan air mata yang mulai menetes.
Mas Rian menyandarkan kepalanya ke kemudi. Saat ia menegakkan tubuhnya kembali, matanya berkaca-kaca—sebuah pemandangan yang belum pernah kulihat dari sosok lelaki tegas ini.
"Plot twist-nya bukan seperti yang kamu bayangkan, Dek," suara Mas Rian terdengar berat dan serak.
Ia membuka dompetnya, mengeluarkan sebuah kartu identitas berlipat yang tersembunyi di balik lapisan kulit rahasia. Kartu itu bertuliskan logo Badan Intelijen dan Direktorat Polisi Perairan.
"Mas bukan penjahatnya," kata Mas Rian pelan. "Mas adalah informan kunci Badan Intelijen yang ditugaskan menyusup ke dalam jaringan MV Samudra Perkasa sejak dua tahun lalu. Tugas Mas adalah memetakan siapa saja sindikat internasional yang memanfaatkan jalur Selat Sunda."
Aku terpaku. Mualim jujur yang kuncintai... ternyata seorang agen penyamaran?
"Lalu... Darel Adinegoro?" tanyaku gagap.
"Darel tidak mati," potong Mas Rian. "Dan Darel tidak pernah mengirim paket itu kepadamu untuk mengancamku."
Mas Rian menatapku lurus-lurus, matanya memancarkan kepedihan yang mendalam.
"Darel Adinegoro adalah kakak kandungmu sendiri yang hilang sepuluh tahun lalu—yang selama ini kamu kira sudah meninggal karena kecelakaan laut sewaktu kamu masih kecil. Dia tidak hilang di Selat Sunda karena diculik sindikat. Mas yang menyembunyikan Darel di sebuah safehouse di Lampung untuk melindunginya dari kejaran kapten kapal kami."
Duniaku serasa berputar melenting. Kakak kandungku? Mas Darel—kakak lelaki yang hanya kuingat samar-samar dalam memori masa kecilku, yang menghilang tanpa jejak saat aku baru berusia delapan tahun?
"Paket itu dikirim oleh jaringan sindikat yang mulai mencium penyamaran Mas," lanjut Mas Rian dengan nada tegang. "Mereka merekayasa bukti dalam flashdisk itu seolah-olah Mas yang memalsukan manifes, agar kamu ragu padaku dan memancing Mas keluar dari pelindungan markas. Mereka tahu, satu-satunya kelemahan Mas di bumi ini adalah kamu."
Belum sempat aku memproses seluruh kebenaran yang menghantam mental ini, terdengar suara dentuman keras di kaca jendela mobil sebelah kanan.
PRANG!
Kaca mobil pecah berkeping-keping. Tangan berpakaian seragam pelampung hitam merangsek masuk, berusaha membuka kunci pintu dari dalam.
"Tiarap!" teriak Mas Rian seraya memeluk kepalaku dan menekan tubuhku ke bawah dashboard.
Mas Rian menyalakan mesin mobil secara instan, menancap gas hingga ban terdengar mencicit keras di atas beton basah. Mobil melaju liar menghindari dua kendaraan hitam yang tiba-tiba memblokir jalur keluar dermaga. Suara letupan senjata api terdengar samar di antara gemuruh angin laut.
"Mas! Siapa mereka?!" teriakku histeris dalam posisiku yang terukur di lantai mobil.
"Kapten kapal dan jaringannya! Penyamaran Mas terbongkar begitu kamu melangkah ke dermaga malam ini—mereka mengintai ponselmu sejak paket itu terkirim!" Mas Rian memutar kemudi secara dramatis, membuat mobil meliuk menghindari barikade.
Di tengah kejar-kejaran yang mencekam menuju jalan raya pesisir, telepon di dashboard bernada khusus berdering keras. Mas Rian menekan tombol speaker.
"Rian! Bawa adikku ke dermaga lama di dekat Pulau Sangiang sekarang! Tim Ditpolairud sudah mengepung perairan!" suara dari seberang telepon berteriak di antara deru angin. Suara itu... suara yang persis sama dengan rekaman video jurnalis Darel Adinegoro!
"Mas Darel?!" seruku spontan dari bawah.
"Dek... ini Mas Darel. Maafkan Mas menghilang belasan tahun. Bertahanlah, Rian akan membawamu selamat!"
Mobil kami meluncur deras menembus kegelapan malam Selat Sunda, dikejar oleh bayang-bayang kejahatan yang selama ini tersembunyi di balik ketenangan laut. Di sampingku, Mas Rian menggenggam stir dengan satu tangan, dan tangan satunya lagi meraih jemariku yang dingin dan bergetar hebat.
Di tengah kepungan bahaya dan teka-teki masa lalu yang terkuak drastis ini, ucapan Mbak Arini kembali bergaung di sanubariku dengan makna yang jauh lebih dalam: Menikah itu bukan hanya tentang menyatukan dua kepala di saat tenang, tapi tentang tetap menjadi satu kepala ketika badai terbesar dalam hidup berusaha memisahkanmu.
Aku menggenggam erat tangan suamiku—seorang pelaut, seorang pelindung, dan takdir yang tidak akan pernah kutinggalkan lagi, seberapa ganas pun Selat Sunda mencoba menguji kami.