Jika Edinburgh adalah tempat luka dibekukan, maka Lembah Harau di Sumatra Barat adalah tempat ingatan dicairkan secara paksa. Tebing-tebing granit menjulang tinggi ratusan meter, mengapit hamparan sawah hijau yang diselimuti kabut tipis setiap pukul enam pagi. Di sinilah, di sebuah rumah panggung kayu tua yang berdiri di dekat gemercik Air Terjun Sarasah Murai daerah Payakumbuh, Arini Santiana mencoba merakit kembali puing-puing jiwanya yang hancur.
Tidak ada lagi riuh rendah netizen, tidak ada kamera canggih, dan tidak ada arsitektur Gotik yang dingin. Arini sengaja melarikan diri ke lembah tersembunyi ini—daerah yang tak pernah tersentuh dalam lembar sejarah keluarganya maupun jejak digitalnya.
Namun, takdir dalam garis hidup Arini Santiana tidak pernah ditulis dengan tinta yang tenang. Penulis skenario semesta seolah gemar menyisipkan helai-helai teka-teki baru tepat ketika panggung dianggap telah usai.
Suara langkah kaki di atas papan kayu teras rumah panggung mengejutkan Arini yang sedang menyeduh kopi daun kawa. Pagi itu gerimis tipis membasahi tebing granit Harau.
Seorang wanita paruh baya berkerudung panjang dengan tatapan mata yang teduh namun tegas berdiri di ambang pintu. Di tangannya, wanita itu memegang sebuah tas kulit tua bermotif etnik yang tampak sangat lusuh.
"Arini Santiana?" panggil wanita itu. Suaranya serak, sarat akan beban bertahun-tahun yang tak terucapkan.
Arini meletakkan cangkirnya, dahinya berkerut cemas. "Ya, saya. Ibu siapa?"
Wanita itu melangkah masuk tanpa diundang. Matanya menyapu sekeliling ruangan kayu yang bersahaja sebelum akhirnya menatap tepat ke manik mata Arini.
"Namaku Nurma. Aku adalah juru ketik pribadi almarhum ayah Daffa selama belasan tahun di Jakarta... dan aku adalah wanita yang mengunci pintu belakang panti asuhan Griya Kasih Ibu sepuluh tahun lalu."
Cangkir kopi di tangan Arini hampir saja terlepas. Udara pagi di Lembah Harau mendadak terasa begitu beracun.
"Apa... apa maksud Ibu?" suara Arini gemetar, refleks melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada dinding kayu.
"Selama sepuluh tahun ini, kau dan Daffa hidup dalam kebohongan yang dirancang dengan sangat rapi," Nurma membuka tas kulitnya, mengeluarkan sebuah buku harian berkelembaran kusam dan beberapa lembar foto hitam-putih. "Daffa pikir ayahnya adalah dalang pembakaran itu. Kau pikir ayah Daffa adalah pembunuh ibumu. Dan majalah Investigasi Warta milik Katherine Subrata hanya menelan mentah-mentah dokumen permukaan yang disengaja dibocorkan."
Nurma meletakkan foto-foto itu di atas meja kayu.
Di dalam foto tersebut, tampak ibu Arini—Ratih Santiana—berdiri berdampingan dengan seorang pria asing berwajah Timur Tengah-Eropa. Dan di samping mereka, berdiri seorang wanita muda yang memegang bayi kembar.
"Ibumu, Ratih Santiana, tidak pernah tewas dalam kebakaran itu, Arini," bisik Nurma, sebuah kenyataan yang menghantam kesadaran Arini seperti hantaman batu granit Harau.
Plot twist terbesar dalam hidup Arini baru saja dimulai.
Kebakaran sepuluh tahun lalu bukanlah aksi pembungkaman oleh ayah Daffa, melainkan sebuah rekayasa besar yang dirancang oleh ibu Arini sendiri—Ratih Santiana—bersama ibu kandung Anthony White!
Ratih Santiana dan ibu Anthony ternyata adalah dua wanita yang bekerja sama menguras dana konsorsium minyak milik ayah Daffa. Ketika kasus itu tercium, Ratih memalsukan kematiannya sendiri dengan mengorbankan jenazah seorang staf panti, membakar gedung tersebut, dan melarikan diri ke luar negeri menggunakan paspor palsu.
Ayah Daffa? Pria itu justru adalah korban utama yang ditipu habis-habisan oleh Ratih dan ibu Anthony. Ayah Daffa datang malam itu untuk menyelamatkan berkas, sementara Daffa yang berusia 18 tahun nekat menerobos api untuk menyelamatkan Arini karena rasa bersalah ayahnya yang ditipu.
"Lalu... kenapa Daffa menyembunyikanku? Kenapa Daffa bilang ayahnya yang membakar panti itu?" jerit Arini, air matanya pecah melintasi pipinya.
"Karena ayah Daffa sengaja mengaku sebagai pelakunya!" tegas Nurma, matanya ber-air. "Ayah Daffa tahu bahwa jika polisi menyadari Ratih masih hidup, Ratih akan diburu oleh kartel minyak internasional. Demi melindungi Ratih—wanita yang sebenarnya diam-diam dicintai oleh ayah Daffa—pria tua itu mengambil seluruh kesalahan itu ke pundaknya sendiri hingga hari kematiannya! Daffa tumbuh dengan percaya bahwa ayahnya adalah monster, padahal ayahnya adalah seorang pelindung yang rela hancur nama baiknya!"
Arini terduduk di lantai kayu, membopong kepalanya.
Seluruh narasi hidupnya runtuh. Trauma yang menyiksanya selama sepuluh tahun, rasa bersalah Daffa yang membelenggu pria itu untuk mencintainya, dan keputusan Anthony untuk memeluk Islam... semuanya berdiri di atas pondasi kebohongan yang dirangkai oleh ibu Arini sendiri.
Tiga jam kemudian, sebuah mobil travel berhenti di jalan tanah depan rumah panggung.
Dua pria turun dari mobil tersebut di bawah naungan gerimis Lembah Harau.
Daffa Iskandar melangkah dengan wajah lelah, mantel hitamnya penuh selimut debu perjalanan panjang dari Airport Minangkabau. Dan di sampingnya, Anthony White melangkah dengan kemeja kasual, memegang tasbih kayu yang kini tak pernah lepas dari jemarinya.
Arini berdiri di teras, menatap dua pria yang pernah mengisi lembar-lembar hidupnya di Edinburgh.
"Daf..." suara Arini tertahan di tenggorokan.
Daffa menatap Arini dengan pandangan yang sarat akan duka yang tak lagi bisa disembunyikan. "Nurma sudah menceritakan semuanya padamu, Rin?"
Arini mengangguk perlahan. Air matanya mengalir tanpa suara. "Kenapa kau tidak pernah memeriksanya lebih dalam, Daf? Kenapa kau membiarkan dirimu hidup sebagai anak pembunuh selama sepuluh tahun?"
Daffa tersenyum pahit—sebuah senyum khas karakter melodrama yang telah menerima ketidakadilan takdir dengan lapang dada.
"Karena aku lebih memilih membenci ayahku sendiri, daripada melihatmu hancur mengetahui ibu yang kau puja ternyata adalah dalang dari seluruh neraka ini, Arini," ujar Daffa, suaranya parau. "Aku menanggung beban itu agar kau bisa tumbuh tanpa membenci darahmu sendiri."
Anthony melangkah mendekati Arini. Pria Skotlandia itu menatap tebing-tebing granit Harau yang mengurung mereka, lalu menatap Arini.
"Dan aku..." suara Anthony bergetar dalam bahasa Indonesia yang makin fasih. "Aku datang ke sini bukan untuk menuntut warisan ibuku lagi, Arini. Ibu kita berdua... telah menghancurkan hidup ayah Daffa. Uang itu kini telah resmi diserahkan ke Yayasan Fatimah White di Jakarta. Tapi hatiku... hatiku masih terikat pada teka-teki ini."
Gerimis membalut Lembah Harau menjadi sunyi yang mencekam.
Di teras rumah panggung itu, tiga jiwa kini berdiri tanpa ada lagi rahasia, tanpa ada lagi trauma palsu, dan tanpa ada lagi narasi estetika media sosial. Yang tersisa hanyalah tiga manusia dengan perasaan yang terlanjur terurai namun tak tahu bagaimana cara menyatukannya kembali.
"Lalu sekarang bagaimana?" bisik Arini, suaranya tenggelam di antara gemercik Air Terjun Sarasah Murai di kejauhan. "Daffa... kau membiayai hidupku sepuluh tahun bukan karena rasa bersalah ayahmu, tapi karena kau memang melindungiku dari kenyataan pahit tentang ibuku. Apakah... apakah selama ini ada sedikit saja rasa cinta yang murni dari dirimu untukku? Tanpa bayang-bayang utang darah?"
Daffa menatap Arini. Matanya yang teduh kini berkaca-kaca. Ia melangkah satu tapak mendekati Arini, memegang jemari wanita itu yang dingin.
"Cinta itu tak pernah tercemar oleh kebohongan ibumu, Arini," aku Daffa penuh penyesalan dan ketulusan yang memilukan. "Aku mencintaimu sejak hari pertama kau membaca buku di perpustakaan Jakarta. Tapi hari ini... setelah semua kebenaran ini terbongkar, aku sadar bahwa tanganku terlalu kotor oleh sejarah keluarga kita untuk bisa menggenggammu."
Arini beralih menatap Anthony.
"Dan kau, Anthony?" tanya Arini. "Kau berdiri di sini... sebagai mualaf yang menemukan jalannya, atau sebagai pria yang masih mengharapkan jawaban atas perasaannya?"
Anthony menatap tasbih di tangannya, lalu menatap Arini dan Daffa bergantian.
"Aku memeluk Islam karena aku menemukan kebenaran di tengah kepalsuan dunia ini, Arini," ujar Anthony pelan namun tegas. "Tapi aku tak bisa membohongi hatiku... bahwa di kota dingin itu, kau adalah alasan pertamaku untuk melihat cahaya. Namun sekarang, setelah tahu bahwa kau adalah anak dari wanita yang merancang takdir kelam keluarga kita... aku tak tahu apakah rasa ini adalah cinta, atau sekadar ikatan trauma yang belum selesai."
Angin lembah bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering ke udara.
Arini Santiana berdiri di antara Daffa Iskandar dan Anthony White. Di satu sisi, ada Daffa—pria yang mengorbankan masa mudanya, menanggung beban fitnah demi melindunginya dari kenyataan pahit tentang ibunya sendiri. Di sisi lain, ada Anthony—pria mualaf yang terikat darah dan sejarah kelam darinya, namun memancarkan harapan baru yang jujur di tengah kehamparan jiwanya.
Tidak ada keputusan yang mudah. Tidak ada kata usai yang sempurna.
"Kalian berdua..." suara Arini bergetar, menatap dua pria di depannya. "Kalian membawaku keluar dari kegelapan Edinburgh, tapi Lembah Harau ini mengingatkanku bahwa aku harus belajar berdiri di atas kakiku sendiri sebelum memilih siapa yang akan berjalan di sampingku."
Daffa melepaskan pegangan tangannya pada jemari Arini. Ia mengukir senyum terakhirnya—sebuah senyum penutupan yang menggantung.
"Aku akan menunggu di Jakarta, Arini. Bukan sebagai pelindungmu lagi, tapi sebagai pria yang menghormati keputusanmu."
Anthony mengangguk pelan, menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu teras. "Dan aku akan tetap berada di jalur ini, Arini. Entah nanti jalan ini membawaku kembali padamu, atau membawaku pada takdir lain yang telah ditulis-Nya."
Arini melangkah ke tepi teras, menatap tebing-tebing granit Harau yang berdiri kokoh tak bergeming dihantam waktu.
Cinta segitiga ini tidak berakhir dengan pernikahan yang megah atau perpisahan yang tragis. Cinta ini menggantung di udara Payakumbuh yang dingin—membuka sebuah ruang hampa di mana masa lalu telah selesai dibongkar, namun masa depan masih berupa lembaran putih yang belum tersentuh tinta.
Di bawah gerimis yang tak kunjung reda, Arini menggenggam jemarinya sendiri di dada. Hatinya masih bergetar untuk dua nama, dan lembah batu itu menjadi saksi bisu atas sebuah cerita cinta yang dibiarkan bernapas dalam ketidakpastian yang abadi.
-TAMAT-