Edinburgh tidak pernah benar-benar netral. Kota itu adalah panggung batu raksasa yang gemar menguji daya tahan ego manusia. Jika musim dingin sebelumnya Arini Santiana, Daffa Iskandar, dan Anthony White mengubur perih di bawah salju keikhlasan, maka musim semi kali ini datang membawa jenis dingin yang lain: dingin yang berjelaga, tajam, dan dikemas dalam koper kulit mahal berlogo desainer Paris.
Kincir angin takdir berputar saat sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan Princes Street. Dari pintu penumpang, melangkah keluar seorang wanita berpakaian trench coat warna abu-abu charcoal. Penampilannya presisi—rambut dipotong bob tegas, kaca mata hitam menutupi sebagian wajahnya, dan garis bibirnya tertekuk dalam sinisme yang terlatih.
Namanya Katherine Subrata.
Bagi pembaca majalah Investigasi Warta—sebuah penerbitan independen yang paling ditakuti para koruptor dan konglomerat hitam di Jakarta—Katherine adalah pena beracun. Bagi industri media digital, ia adalah algojo retorika. Namun bagi Anthony White dan Daffa Iskandar, wanita itu adalah badai masa lalu yang membawa dossier penuh kebusukan.
Katherine datang bukan untuk menikmati gerimis puitis Edinburgh yang sering diagungkan Arini di media sosial. Katherine datang untuk menghancurkan sebuah narasi.
Toko buku bekas di kawasan Old Town sore itu berbau kertas lapuk dan asap teh hitam. Arini sedang mengatur deretan buku sastra klasik ketika lonceng pintu berdenting nyaring.
"Rupanya ini tempat sang 'Penyair Edinburgh' mengurasi estetikanya," suara wanita itu dingin, mengalun penuh satire yang terukur.
Arini menoleh. Katherine melepas kacamata hitamnya, menatap Arini dari atas ke bawah dengan tatapan menguliti—jenis tatapan yang biasa digunakan jurnalis investigasi saat menghadapi tersangka tindak pidana pencucian uang.
"Maaf, toko hampir tutup—"
"Aku tahu siapa kau, Arini Santiana," potong Katherine, melangkah santai menyusuri rak buku sembari mengetukkan kuku akriliknya pada sampul-sampul tebal. "Mahasiswi beasiswa yang mengkapitalisasi rasa iba netizen lewat video-video puitis berdurasi tiga puluh detik. Membungkus drama cinta segitiga tragis dengan narasi agama dan keikhlasan. Mengagumkan. Pemasaran emosional yang sangat rapi."
Arini mengerutkan kening, dadanya berdesir cemas. "Siapa Anda?"
"Katherine. Katherine Subrata," jawabnya, melempar sebuah majalah ber-cover tebal ke atas meja kasir. Di sampul majalah Investigasi Warta edisi terbaru itu, terpampang foto makam tua dan skema silsilah keluarga. "Aku adalah orang yang paham betul bahwa di dunia ini tidak ada kebetulan yang puitis. Yang ada hanya konspirasi yang terencana, atau kebodohan yang dirayakan."
Arini menatap sampul majalah itu dengan tangan gemetar. "Apa maksud semua ini?"
"Maksudku?" Katherine tersenyum pahit, senyum yang sama sekali tak menyentuh matanya. "Maksudku, saudaramu yang suci—Daffa Iskandar—dan pria Skotlandia yang mendadak alim itu—Anthony White—bukanlah dua jiwa yang tersesat dalam takdir romantis. Mereka adalah produk dari pembagian warisan senilai jutaan poundsterling yang sengaja disembunyikan."
Satire kehidupan memang selalu lebih ironis daripada novel picisan.
Dalam laporan investigasi sepanjang dua belas halaman yang disusun Katherine dengan disiplin pers yang ketat, fakta-fakta dibedah tanpa ampun. Ayah Daffa—pria yang selama ini dicitrakan Daffa sebagai sosok sepuh yang dilanda rasa salah seumur hidup—ternyata adalah mantan pejabat eksekutif sebuah konsorsium minyak yang melarikan dana investasi ke rekening luar negeri di Isle of Man atas nama ibu kandung Anthony.
Anthony White bukan sekadar anak dari wanita yang hilang. Anthony adalah pemegang hak waris tunggal dari rekening bernilai fantastis tersebut. Dan Hidayah? Bersyahadat?
"Daffa mengetahui keberadaan rekening itu sejak masih di Jakarta, Arini," bisik Katherine, memiringkan kepalanya dengan tatapan penuh simpati yang buatan. "Dia tidak menyusul Anthony ke Edinburgh untuk menjalankan amanah agama sang ayah. Dia datang untuk memastikan uang itu tidak jatuh penuh ke tangan anak luar nikah ibunya. Dan caranya? Dengan menggunakanmu sebagai umpan, lalu berpura-pura menjadi gurunya."
"Bohong!" suara Arini pecah. Air mata membakar pelupuk matanya. "Daffa tidak seperti itu! Aku mengenalnya lima tahun!"
"Manusia bisa memalsukan kebaikan selama bertahun-tahun jika imbalannya cukup besar, Sayang," Katherine terkekeh pelan—sebuah satire tajam yang menelanjangi kepolosan Arini. "Kau tahu apa yang paling lucu dari generasi kalian? Kalian begitu mudah terharu oleh narasi. Sedikit petikan gitar, kata-kata pasrah, dan pemandangan salju, lalu kalian pikir kalian sedang menyaksikan keajaiban Tuhan. Padahal di balik layar, ada kalkulasi angka yang sangat dingin."
Katherine melangkah mendekati jendela toko, menatap jalanan cobblestone yang mulai basah.
"Aku melacak Daffa sampai ke Jakarta minggu lalu. Dia tidak sedang 'menyembuhkan luka hati' di pesantren atau rumah retret. Dia sedang mencoba mencairkan sertifikat deposito atas nama ibu Anthony dengan dokumen syahadat Anthony sebagai bukti pembaharuan status hukum. Tragis, bukan? Pria yang kau tangisi di media sosial itu sedang memperdagangkan iman saudaranya sendiri."
Malam itu, Edinburgh dihempas angin badai dari arah utara. Arini terduduk di lantai flatnya, dikelilingi dokumen-dokumen cetakan yang ditinggalkan Katherine.
Ponselnya di atas meja berdering tanpa henti. Notifikasi media sosialnya meledak. Katherine telah menerbitkan artikel investigasi itu di portal berita online Investigasi Warta dengan judul yang membakar: "Sajadah di Atas Rekening Gelap: Drama Hidayah dan Perebutan Warisan di Edinburgh."
Netizen yang sebelumnya mengagungkan cerita mereka kini berbalik arah dengan keganasan yang luar biasa.
@netizen_kritis: Anjirrr! Ternyata cuma manipulasi warisan?! Daffa jahat banget, Arini cuma dijadikan tameng!
@bukan_pujangga: Gila, drama keikhlasan di TikTok kemarin ternyata settingan buat nutupin kasus korupsi keluarga? Gue merasa dibodohi satu Indonesia!
@filsafat_jalanan: Dee Lestari menangis melihat kehalusan skenario penipuan ini. Tere Liye pasti geleng-geleng kepala lihat moralitas hipokritnya.
Setiap komentar terasa seperti cambukan es di punggung Arini. Kehangatan yang ia bangun lewat kameranya—kehangatan yang dipercayai jutaan orang—kini hancur berkeping-keping, menjadi lelucon moralis di internet.
Pintu flatnya mendadak terbuka. Anthony berdiri di sana.
Wajah pria Skotlandia itu hancur. Bukan karena bekas pukulan seperti malam salju lalu, melainkan karena kehampaan yang tak terkira. Tangannya memegang salinan majalah Investigasi Warta.
"Arini..." suara Anthony gemetar, hampir serak. "Apakah ini benar?"
Arini mendongak, matanya merah dan sembab. "Aku... aku tidak tahu, Anthony. Katherine bilang..."
"Daffa..." Anthony melempar majalah itu ke lantai, lalu mencengkeram rambut ikalnya sendiri. Ia tertawa hysteris—tertawa dalam bahasa Inggris dan Melayu yang tercampur aduk oleh rasa frustrasi. "Dia mengajariku membaca Al-Fatihah... dia mengajariku artinya pasrah... hanya agar aku menandatangani dokumen pengalihan aset itu saat aku dalam kondisi emosional terbawah?!"
"Anthony, tenang dulu—"
"Bagaimana aku bisa tenang?!" jerit Anthony, matanya merah menyala. "Aku memeluk agama ini karena aku pikir aku menemukan kebenaran! Aku pikir aku menemukan persaudaraan! Tapi ternyata... agama ini cuma stempel legalitas buat dia untuk mengambil harta ibuku!"
Anthony berlutut di lantai, membopong wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah—tangis seorang pria yang merasa seluruh fondasi jiwanya diperkosa oleh pengkhianatan paling halus.
Tiga hari kemudian, hujan turun lebat di Edinburgh. Daffa Iskandar berdiri di pelataran St Giles' Cathedral. Ia baru saja mendarat dari Jakarta setelah terbang dua puluh jam, menyusul gemparnya pemberitaan yang dibuat Katherine.
Wajah Daffa kurus, matanya cekung, dan ia tidak lagi membawa ransel hitam berisikan sajadah yang dulu selalu melekat padanya. Di seberangnya, Katherine Subrata berdiri bersedekah tangan, memegang payung hitam dengan senyum kemenangan seorang jurnalis yang berhasil membongkar skandal besar.
Arini dan Anthony berdiri beberapa meter di belakang Katherine.
"Kau menghancurkan segalanya, Katherine," kata Daffa pelan. Suaranya datar, tanpa nada defensif.
"Aku tidak menghancurkan apa-apa, Daffa," sahut Katherine dengan nada khas jurnalis independen yang merasa memegang moralitas tertinggi. "Aku hanya menulis kenyataan. Tugas pers adalah menelanjangi kebohongan, terutama kebohongan yang dibungkus rapat oleh agama dan romansa picisan. Kau memanfaatkan adik tirimu, kau memanfaatkan Arini, dan kau memanfaatkan Tuhan."
Daffa menatap Katherine, lalu beralih menatap Anthony dan Arini.
"Kalian ingin tahu kebenarannya?" Daffa menarik sebuah map hitam tebal dari dalam jaketnya. Ia tidak menyerahkannya pada Katherine, melainkan melangkah maju dan meletakkannya langsung di tangan Anthony.
"Buka, Anthony. Jangan baca artikel jurnalis yang merasa dirinya paling suci ini. Baca dokumen hukum yang sebenarnya."
Jemari Anthony yang dingin membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat surat penolakan hak waris dan pembentukan yayasan amal.
"Ayahku memang salah," suara Daffa mulai bergetar, namun tatapannya menancap lurus. "Beliau memang menyimpan uang itu di rekening ibumu. Dan ya, aku tahu keberadaan uang itu sebelum aku berangkat ke Edinburgh."
Katherine terkekeh dingin. "Lihat? Dia mengaku—"
"Tapi aku tidak pernah berniat mengambil satu sen pun dari uang itu untuk diriku sendiri!" potong Daffa dengan teriakan yang membelah suara derasnya hujan.
Daffa menunjuk dokumen di tangan Anthony. "Lihat tanggalnya, Anthony! Dokumen pengalihan itu bukan untuk mengalihkan harta itu ke rekeningku! Dokumen itu adalah sertifikat pembentukan yayasan pendidikan anak yatim di Jakarta atas nama ibu kandungmu! Aku mengurus pencairannya di Jakarta minggu lalu justru untuk menyerahkan seluruh aset korupsi ayahku kembali kepada masyarakat, atas namamu!"
Anthony terpaku. Mata birunya menyapu baris-baris hukum di kertas tersebut. Nama yayasan itu tertera jelas: Yayasan Fatimah White. Dan nama Anthony White tercantum sebagai pembina tunggal dengan hak mutlak.
"Aku sengaja tidak memberitahumu malam itu," bisik Daffa, air matanya kini bercampur dengan air hujan yang menetes dari dahinya. "Karena aku ingin kau bersyahadat murni karena Allah, Anthony. Bukan karena kau merasa bersalah atas uang ibumu, dan bukan karena kau kasihan padaku."
Daffa menoleh ke arah Katherine, yang kini wajahnya memucat seketika. Kesombongan jurnalisnya runtuh dalam hitungan detik saat menyadari fakta yang ia bungkus dengan sinisme ternyata meleset dari inti kebenaran moral.
"Kau pikir kau bisa menguji keikhlasan manusia hanya dengan angka-angka di rekening bank, Katherine?" satire Daffa menghantam wanita itu tanpa ampun. "Kau jurnalis yang hebat untuk urusan dokumen, tapi kau buta untuk urusan hati. Kau melihat konspirasi di tempat di mana orang sedang berusaha menyembuhkan luka sejarah."
Langit Edinburgh mendadak hening. Gerimis perlahan reda, menyisakan pendar cahaya sore yang menerobos celah awan kelabu.
Anthony memegang dokumen itu erat-erat di dadanya. Ia menatap Daffa—saudaranya yang sempat ia kutuk dalam hati selama tiga hari terakhir.
"Daf..." suara Anthony serak. "Maafkan aku..."
Daffa menggeleng pelan, mengukir senyum lelahnya yang khas. "Jangan minta maaf. Kau berhak marah. Aku yang terlalu bodoh karena merasa bisa mengatur takdir dengan menyembunyikan kenyataan."
Arini melangkah mendekati kedua pria itu. Kameranya tergantung di lehernya, namun ia tak berniat merekam apa pun. Di hadapannya, keindahan tidak lagi membutuhkan bingkai estetika media sosial. Keindahan itu nyata di dalam retaknya ego manusia yang saling mengampuni.
Katherine Subrata membalikkan badan tanpa mengucap sepatah kata pun. Untuk pertama kalinya dalam karier kewartawanannya, ia melangkah pergi dengan rasa kalah—bukan karena dikalahkan oleh hukum, melainkan dikalahkan oleh jenis keikhlasan yang tidak masuk dalam logika investigasinya.
Arini menatap Daffa dan Anthony yang kini berdiri bersisian di bawah naungan batu-batu tua St Giles.
" Edinburgh benar-benar tempat yang aneh, ya?" bisik Arini pelan, air matanya mengering disapu angin sore. "Ia membiarkan kita dihancurkan sampai ke akar-akarnya, hanya untuk menunjukkan bagian mana dari diri kita yang benar-benar jujur."
Daffa menatap Arini untuk terakhir kalinya—tatapan seorang pria yang kini benar-benar telah selesai dengan perasaannya.
"Aku akan kembali ke Jakarta malam ini, Rin," ujar Daffa lembut. "Yayasan itu membutuhkan pengawasan, dan aku harus menyelesaikan apa yang dimulai ayahku."
"Kau tidak akan kembali ke sini?" tanya Anthony.
Daffa meremas bahu Anthony—genggaman seorang kakak pada adik kandungnya. "Tugasku di sini sudah selesai, Anthony. Aku membawamu pulang pada agama-Mu, dan kau mengajariku arti melepaskan yang sejati. Jaga Arini. Jaga caramu bersujud."
Daffa membalikkan badan, melangkah menyusuri Royal Mile yang mulai lengang. Langkah kakinya mantap, tanpa keraguan, meninggalkan dua jiwa yang memperhatikan punggungnya sampai menghilang di belokan jalan.
Malam harinya, Arini duduk di meja kerjanya. Ponselnya menyala.
Ia tidak menghapus unggahan-unggahan lamanya, juga tidak mematikan kolom komentar yang masih bergejolak. Namun, ia mengunggah satu video terakhir.
Sebuah gambar statis: tasbih kayu milik Anthony yang tergeletak di atas dokumen yayasan, dengan latar belakang lampu-lampu jalanan Edinburgh yang temaram.
Tanpa musik instrumental yang mendayu-dayu. Tanpa kata-kata puitis yang menjual kesedihan. Hanya satu baris kalimat yang ditulisnya dengan kejujuran paling dalam:
"Pada akhirnya, keikhlasan bukan tentang tidak memiliki luka, melainkan tentang keberanian untuk melihat kebenaran di balik jelaga. Terima kasih, Edinburgh. Salam kami telah selesai."
Arini mematikan ponselnya, menutup laptopnya, dan melangkah ke jendela. Di luar sana, Edinburgh berdiri tenang—sebuah kota kuno yang akan terus menyimpan cerita tentang bertemunya dosa, doa, dan cinta yang akhirnya menemukan bentuknya yang paling murni.