Maya mematut di depan kaca.
Sudah cantik!
Membuka pintu rumah menyambut suaminya.
"Kamu tahu?Tadi aku lihat wanita cantik sekali!"
Maya tertunduk.
"Ohya?"
Lagi..Tanpa melihatnya yang sudah berdandan mencoba secantik mungkin. Suaminya langsung memasuki rumah tanpa melihatnya.
Mereka sudah menikah 10 Tahun.
Maya memang tidak mengharap dipuji banyak.
Dia menyadari kekurangannya banyak.
Menikah pun dulu karena didesak sudah lebih dari umur 20 tahun belum nikah seperti aib saja.
Kalau mengingatnya rasanya alasan seperti itu konyol sekali.
"Mau minum apa,Bang?" tanya Maya menawarkan.
"Kopi susu aja.Jangan kemanisan ya!Aku gak suka!"
jawab Raka memberi peringatan.
Maya langsung membuatkan kopi susu untuk Raka selagi Raka mandi.
Setelah Raka mandi dan sudah berpakaian.
Raka meminum kopi susunya.
"Ck ahhh...Mana makanku?
Ambilin dong!"
Maya berjalan ke dapur dan mengambilkan makan untuk Raka lalu menyerahkannya ke Raka.
"Apa ini?Tadi pagi aku juga makan pake ini!
Sayur lodeh sama ayam goreng!
Apa ga ada lauk lain?
Ga masak lagi apa?"
Maya menggeleng.
Ya..Maya dan anak anaknya juga makan yang sama seperti ini hari ini.
Apa masalahnya?
"Aku mau mie aja.Masakin dong!
Mie rebus terus digorengin bawang putih kasih cabe juga sama telor!"
Maya menarik nafas dalam-dalam.
(Sabar ...Sabar...)
"Iya Bang.Maya masakin dulu."
Maya berjalan ke dapur memasakkan mie instan sesuai semua perintah Raka.
Setelah siap.
Maya membawanya kehadapan Raka.
"Taroh aja di meja!Nanti aku makan!
Masih panas kan?melepuh nanti mulutku makan panas begitu!Taroh aja disana!" Raka menunjuk meja dengan matanya masih fokus menonton YouTube dari ponselnya.
Maya menaruh mie di meja makan.
"Bang.Aku ke kamar duluan ya."
Maya undur diri menuju kamar.
Tetap disana juga percuma.
Maya merebahkan diri di kamar.
Mencoba sekeras mungkin tertidur lelap.
(Tidurlah..Lelaplah..Aku sedih.
Aku tidak mau menangis dihadapannya.
Berdandan seperti inipun tidak dilihat.
Apa pernah dilihat?
Ohya..tidak..Yasudah..memang tidak terlihat mungkin ya memang tidak menarik.)
Pintu kamar terbuka.
Raka memasuki kamar.
Merebahkan dirinya di sebelah Maya.
Lanjut menonton YouTube dari ponselnya.
Bicara sambil lalu.
"May..Maya.." panggil Raka mungkin mengetes Maya sudah lelap tidur atau belum.
"Hm?Iya Bang?" jawab Maya.
Tubuhnya membelakangi Raka.
"Tadi kamu denger?
Aku lihat cewe cantik banget tadi.
Ya...memang di minimarket gitu pada cantik-cantik sih..pada pinter pinter gitu ya dandan..Wah..."
"Iya...kalau aku?apa aku udah cukup cantik atau pinter dandan ga?" Maya mencoba bertanya.
"Ey...Kamu mah..kali cuma pake bedak aja.
Janganlah!Jangan kaya gitu!Mau ngapain?"
"Ya kali aja biar bisa diliat Abang."
"Ga usah!ga perlu!Mau ngapain emang?
Lagian orang dirumah aja.
Ga cantik amat juga.
Mau diapain emang?"
"Oh .Ya udah.." Maya mengusap matanya.Menahan isaknya.
(Tenang...Sabar..Sabar...besok adalah hari yang beda...
Walaupun kemarin atau Setahun atau 5 tahun yang lalu Raka bilang kaya gitu.
Besok pasti Raka bakal lebih baik kata-katanya kalau bicara padaku.)
Setelah itu Maya terlelap.
--------
Keesokan harinya.
Maya sudah menyiapkan sarapan di meja.
Raka baru bangun dari tidur.
"Bang.Sudah bangun?
Aku mau anter sekolah dulu Aziz.
Makanan di meja ya.
Kopi juga udah aku bikin.
Aku pergi dulu."
Maya pamit sambil tersenyum kecil.
"Ayo Aziz.Kita berangkat."
Maya menuntun tangan Aziz menuju motornya untuk berangkat sekolah.
Ini hari yang beda.
Beri senyum untuk dunia.
Apa yang kemarin.
Biar jadi sedih hari kemarin!
Hari ini hari yang beda.
Temukan senyum yang beda!
Maya meyakinkan dirinya.
Walaupun nyatanya..Raka tidak pernah berubah.
*****selesai******