**
Kita berdua telah lama melupa...
Hingga akhirnya tak saling sapa...
*
Kenangan itu...
Tersingkir dari hatimu...
Reff : ...?
=====
Sepenggal lagu sedang aku coba rangkai kembali.
Tapi, sudah beberapa hari ini aku kesulitan mencari kata-kata yang sesuai dengan isi lagu tersebut.
Terlalu sulit meniru irama seorang Penyanyi Papan atas, apalagi itu Ariel Noah.
Mungkin memang harus menentukan ceritanya dulu supaya lagu tersebut bisa selesai.
Kira-kira, cerita yang bagaimana ya? Kalau dari isinya, itu hanya perasaan berharap pada seseorang yang sudah lama hilang, agar dia bertanya. Atau, sekedar sapa kabar saja.
Sebut saja dia itu "Desember" karena fakta kebenarannya memang dia lahir di bulan tersebut, bulan yang sama dengan bulan kelahiranku.
Jika diulas kembali, awal ceritanya terjadi saat Kelas 3 SMP. Saat itu...
====
Sore hari di sekolah...
Usai pembahasan Hiking untuk Pelantikan Dewan Pramuka Junior, semua Dewan Pramuka Senior sedang bubar pasar. Aku pun hendak pulang. Dan, tiba-tiba saja aku merasakan seseorang mendekat padaku.
Memberi jabat tangan, "selamat ulang tahun ya!" serunya dengan nada yang lembut.
"Oh, iya. Terimakasih, Des." Jawabku seraya menerima jabat tangannya.
Untuk sejenak saja, begitu dekat aku melihatnya.
Rambutnya, tertiup angin sore...
Matanya, berkedip lentik...
Bibirnya, tersenyum hebat...
Hebatnya lagi dialah Desember. Siswi tercantik di Kelas 3A, kelas yang terhalang satu ruang dari Kelasku, 3C.
Di saat yang bersamaan, aku berpikir tentang suatu hal. "Kenapa dia mengucapkannya sekarang? Ulang tahunku 'kan kemarin. Ada-ada saja dia ini." Lantas aku mengucapkannya mengenai apa yang aku pikirkan.
"Des, ulang tahunku itu kemarin loh?"
"Oh, iya maaf. Aku telat memberi ucapan selamat," ucapnya dengan wajah memerah.
Kemudian, jabat tangan pun terlepas. Aku berjalan menuju gerbang sekolah, bersamanya.
"Cie, Des!" ejek teman Desember, namanya Juni.
"Cia, cie! Apaan itu maksud mulutmu?" tanyaku sambil tersenyum malu-malu.
"Ya sudah, Yudhie. Aku pulang dulu, sampai ketemu besok pagi ya!" serunya, lantas melangkah cepat.
"Syuut!"
Tanganku melambai, tak mau di tahan lagi. Seolah kedekatanku dengan Desember kini mulai ada kejelasan.
Yang sejelasnya sejak dulu, sejak pertama melihatnya, sejak mendaftar sekolah, dan sejak saat itu juga aku sudah menyukainya.
Hanya saja, keberanianku di dahului oleh kakak kelasku yang kini terakbarkan sudah putus hubungan dengan Desember.
Pantas bila dia berani mendekatiku, meski aku sendiri tidak menyangkanya. "Mana ada siswi tercantik di Kelas 3A menyukai seorang Yudhie?" pikirku seraya melangkah ke tempat parkir untuk mengambil sepeda.
Anehnya, aku berbicara dengan sepedaku yang berwarna merah. "Kau tahu? Saat aku mengelapmu sampai berkilau kemarin itu, Des tiba-tiba datang bukan?" tanyaku.
"Iya, dia datang bersama teman kita, Juli. Dia juga bertanya hal aneh." Jawab sepedaku.
"Iya, ia menanyakan alamat teman kita yang jauh di selatan. Tapi, aku kira maksudnya bukan begitu," lanjutku sambil menuntun sepeda.
"Iya, mungkin dia ingin melihatmu? Atau mengunjungimu?" Ujar sepedaku.
"Hahaha! Kau aneh! Tapi bisa jadi begitu. Sudahlah, biar itu jadi misteri sendiri! Baiknya kita lekas pulang!" seruku seraya mulai mengayuh sepeda.
====
Esoknya, di pagi itu...
Aku yang sudah ada di sekolah pun sudah ditunggu olehnya, Desember.
Semua Dewan Pramuka Senior sudah bersahutan bersepeda ke gunung, di mana lokasi survei untuk Hiking akan kami kunjungi.
"Yudhie! Bonceng dia ya!" teriak Juni.
"Juni!" bentak Desember dengan wajah yang malu-malu.
"Gak! Nanti aku kena marah pacarnya! Hahaha!" balasku seraya mengayuh sepeda.
"Payah kamu!" seru sepedaku.
Sampai di lokasi, aku bersama Dewan Pramuka Senior yang lainnya pun melaksanakan survei. Kami tentukan semuanya sampai selesai. Di sela waktu selama menjelajahi lereng gunung, Desember dan Juni selalu menempelku, membuat yang lainnya curiga jikalau aku dan dia ada hubungan lebih daripada sekedar teman.
Memang benar, ada...
Suatu hari, di masa laluku...
Desember yang bernama asli Ravita, dia memintaku menemuinya jauh hari setelah masa Hiking.
Dan apapun yang akan terjadi di hari pertemuanku dengannya, semuanya akan terungkap dalam suatu Novel yang mungkin akan menyelesaikan laguku, lagu antara aku dengannya yang sudah bertahun-tahun tiada kabar, atau bertanya sapa. "Bagaimana kabarmu?"
***SELESAI***