Masa sekolah, banyak yang bilang itu masa terbaik dari semua masa. Tapi, itu tidak berlaku untukku. Yah, aku lebih baik dirumah.
Ketika anak lain menikmati berbincang dan bercanda bersama teman sebangku, bahkan teman sekelas. Dimana aku berada? Aku duduk seorang diri dengan tumpukan buku. Hidupku tak ubahnya seperti buku usang.
Siapa yang tertarik berteman denganku? Wajah ku jelek. Sekolah dari beasiswa. Keunggulan hanya nilai. Yah nilai, dan itu satu-satunya alat semua orang mendekati aku. Selama dua tahun aku merasa seperti lap untuk membersihkan kotoran dimeja.
Tuhan kenapa hidupku seperti ini? Tak ada yang ikhlas berteman dengan ku. Apakah aku harus seperti mereka? ~ batin ku menatap langit atap kelasku.
Terkadang aku ingin seperti mereka, ikut bergosip tentang anak-anak muda jaman sekarang atau sekedar menjadi pendengar dan ikut tertawa bersama. Nyatanya, aku masih duduk dipojokan dan menenggelamkan diri pada tulisan huruf di kertas.
"Aku benci siang hari, semua tak menganggapku ada!"
Seakan emosiku terpancing dengan semua fikiranku. Aku mengambil tas dan tanpa peduli lagi dengan jam sekolah. Langkah kaki ku berjalan menuju pintu kelas. Namun baru berapa langkah, ada langkah yang menghalangi jalanku. "Minggir!"
"Ayo bolos bersama." ajak seorang siswa dengan suara teramat familiar.
Spontan aku mengangkat wajah dan melihat siapa yang berbicara denganku. "Ka Lee?"
Lee menggenggam tanganku dan membimbingku untuk keluar kelas bersamanya. Bibirku kelu, tatapan semua orang siap menerkam ku mentah-mentah. Tapi lihatlah Lee masih dengan santainya membawa ku pergi dari bara api siang hari di sekolah.
"Duduk!" titah Lee setelah keduanya sampai di taman.
Aku duduk dengan wajah menunduk. Satu tangan memegang dagu ku dan mengangkat wajahku. Tatapan mata kami bertemu, sungguh mata Lee begitu menawan. "Kenapa ka?"
"Jika kamu merasa lelah, jangan teruskan. Hidupmu bukan dari mereka. Cukup menjadi dirimu sendiri dan buatlah bangga kedua orang tuamu! Mereka yang rugi jika menolak mu sebagai teman. Mau berteman denganku?" Lee menyodorkan tangan kanan dengan senyuman manisnya.
Sungguh ucapan Lee, membuat hatiku tersentuh. Aku mengangguk dan menyambut tangan Lee dengan hangat. "Terimakasih Ka Lee."
"Dalam pertemanan tidak ada kata maaf dan terimakasih. Senyumlah, air mata ini terlalu berharga. Jangan buang untuk mereka yang menginjak harga dirimu."