Setelah ayahnya meninggal, Snow tidak diperlakukan selayaknya di rumahnya sendiri. Atas perintah ibu tirinya, Sang Ratu, para dayang tidak lagi memperlakukan dirinya sebagai puteri dari kerajaan itu. Tidak ada lagi pelayanan yang selama ini dia terima, tidak ada gaun dan perhiasan yang membalut tubuhnya lagi, pun tidak ada makanan layak yang bisa dicerna olehnya.
Semua itu adalah perbuatan Sang Ratu, Snow akan mengingatnya selalu.
Tidak hanya semua perlakuan tidak pantas yang dia terima, Snow bahkan diasingkan ke dalam hutan, ke sebuah pondok kecil di mana tujuh orang pria tinggal di sana. Kesehariannya setelah itu menjadi seperti neraka. Snow harus melakukan pekerjaan rumah setiap harinya, jika meninggalkan salah satunya maka dia akan dihukum cambuk atau mendapatkan pukulan dari tongkat yang biasanya dipakai untuk menghaluskan beras guna dijadikan tepung.
Seperti belum cukup semua penderitaannya itu, Snow bahkan harus kehilangan mahkotanya secara paksa. Dia harus melayani nafsu bejat ketujuh pria itu kapan pun. Tubuhnya tidak lagi miliknya.
Muak dengan semua itu, Snow pun merencanakan sebuah pembalasan dendam.
Pertama, dia akan melenyapkan ketujuh pria yang sudah membuatnya menderita selama satu tahun belakangan ini. Dia memasukkan racun ke dalam makanan yang dibuatnya hingga ketujuh pria itu meregang nyawa begitu menyantapnya.
Kemudian Snow menyelinap masuk ke dalam istana dan menyamar sebagai seorang dayang. Dia merendam semua apel yang akan dihidangkan pada makan malam Sang Ratu dalam air yang telah tercampur dengan racun yang sama. Dia memastikan sendiri apel-apel itu dikonsumsi oleh ibu tirinya itu.
Setelah Sang Ratu meregang nyawa, menyusul ketujuh pria brengs*k itu, Snow meninggalkan istana bersama anak yang ada dalam kandungannya. Meskipun harus meninggalkan tanah kelahirannya, setidaknya dia sudah membuat orang-orang itu hilang dari dunia dengan tangannya sendiri.