Ntit Tit Tit.
Ponsel jadul di kantong celana Alika berbunyi. Saat ia masih menyelesaikan tugasnya, bersih bersih saat warung makan tempatnya bekerja akan tutup.
Ntit Tit Tik.
Ponsel itu berbunyi lagi, tapi Alika tak menggubrisnya.
Ntit Tit Tit.
Lagi lagi notif SMS itu terdengar kembali. Dan respon Alika tetap sama. Tetap membiarkan ponsel itu ber tit tat tit tut, hingga keberapa kali.
Pekerjaannya selesai. Penunjuk waktu telah hampir pukul 11 malam. Memang berbahaya dan beresiko tinggi, baginya yang seorang perempuan harus mengayuh sepedanya seorang diri. Tapi apalah daya, itu satu satunya alat trasportasi yang Alika miliki.
Siapalah Alika, hanya anak gadis lulusan sekolah kejuruan jurusan Tata Boga, yang setelah lulus tak punya biaya untuk melanjutkan ke bangku universitas sesuai ijazahnya.
Bersyukur ada satu rumah makan yanh menerimanya bekerja fulltime dengan waktu bergantian.
Yah, walay hanya sebagai tukang bersih bersih dan cuci piring. Bukan sebagai Koki, seperti yang ia inginkan.
30menit berlalu, akhirnya Alika tak hanya tina di rumah dengan selamat. Kini bahkan tubuh lelahnya sudah bertemu kasur tipis di kamar kostnya. Dan memiliki waktu untuk membuka ponsel yang sudah penuh dengan SMS dari orang yang tidak ia kenal.
Unknow : "Aku ingin melihatmu dan selalu melihat sisa hidupku di depan mataku."
Alika bingung.
Unknow : "Aku ingin menjadi orang yang bisa membuatmu tertawa dan tersenyum setiap hari."
Alika mengeryitkan alisnya, tak mengerti.
Unknow : "Aku tidak pernah menemukan kata-kata untuk mengatakan bahwa kamu adalah orang yang aku pikirkan setiap hari."
"Siapa....?" Batin Alika.
Unknow: "Bisakah kamu memberiku arahan ke hatimu? Sepertinya aku telah kehilangan diriku di matamu."
Alika makin penasaran.
Unknow : "Caramu bisa membuatku tertawa bahkan di hari-hari tergelap membuatku merasa lebih ringan dari apa pun."
Alika hanya mampu mengeleng geleng, terhibur dengan semua isi kalimat pada SMS itu, tapi juga tak punya petunjuk tentang siapa pengirim SMS tersebut.
Unknow : "Kamu sudah tiba di kost mu, Alika?" Isi pesan yang baru masuk. Tepat saat Alika akan menyudahi membaca semua SMS penuh kata sanjungan terhadapnya.
"Alika : "Kamu siapa?" Hanya dua kata itu yang mampu Alika tulis untuk membalas banyaknya SMS yang masuk ke ponselnya.
Unknow : "Nanti kamu juga akan tau siapa aku, yang terpenting. Kamu terima cintaku. Oke my Alika." Balas SMS itu seolah memaksa.
Hah... Yang benar saja. Bagaimana Alika bisa menerima cinta itu, jika orang dan namanya saja Alika tak tau.
Tamat.