Kakiku akhirnya berhasil mencapai kelas baru untuk satu tahun ke depan ini. Pandanganku mengedar untuk melihat orang-orang yang sudah tiba lebih dulu, hingga netraku menemukannya. Dia duduk di sana, bersama gadis lainnya, dan tampak begitu asik dalam perbincangan hingga tawa menghias atmosfer di antara mereka.
Aku menyadari kalau dia sempat menatap ke arahku, tidak lama, karena dia langsung membuang pandangannya ke arah lain. Jujur, itu terasa menyakitkan. Dadaku terasa seperti ditusuk ratusan jarum.
Tidak tahu pastinya, tetapi hari di mana kami saling menyatakan bahwa menyukai seseorang bisa diasumsikan sebagai awal dari renggangnya hubungan pertemanan di antara kami. Setelahnya masing-masing dari kami menjadi 'terlalu sibuk' tentang orang yang kami sukai itu. Komunikasi antara kami semakin minim, bahkan saat di kelas hanya membicarakan 'orang yang kami sukai' itu. Tidak ada lagi tentang 'diri kami sendiri' seperti dulunya.
Hingga hari pembagian rapor beberapa pekan yang lalu. Di antara aku dan dia, tidak ada yang menyadari bahwa kami ... memandang orang yang sama.
Lelucon dunia selucu itu sampai aku dan temanku sendiri ternyata menyukai orang yang sama.
Setelah itu, hubungan yang sebelumnya renggang itu semakin menjadi. Tidak ada komunikasi lagi di antara kami saat libur sekolah, bahkan hanya pesan singkat pun tidak ada. Terlihat tidak ada yang ingin membicarakan hal 'itu'.
Dan sekarang, aku tampaknya harus mendeklarasikan hubungan pertemanan kami yang putus seutuhnya. Dengan dia yang lebih memilih untuk duduk di bangku yang lain, tidak seperti dua tahun sebelumnya bersamaku, itu sudah cukup membuktikan bahwa dia tidak ingin memperbaiki apa pun di antara kami.
Jadi, tidak ingin menghiraukan lebih jauh, aku pun melanjutkan langkahku menuju sebuah meja di jejeran kedua yang dekat dengan pintu. Duduk bersama seorang laki-laki berkacamata yang aku tidak ketahui namanya.
Jika dia memilih untuk duduk di tempat lain, maka aku pun juga bisa melakukan itu.