Pacarku Andi, adalah seorang pelupa. 4 tahun pacaran, dia selalu jadi orang terakhir yang mengucapkan selamat ulang tahun di hari teristimewaku itu, alasannya ya karena lupa itu. Padahal aku sendiri yang memasang alarm pengingat ultahku di ponselnya. Jam 00.01 tanggal 20 Februari. Harapanku, Andi bisa kayak cowok-cowok romantis yang menelpon kekasihnya, jadi orang pertama yang ngasih ucapan happy birthday atau ... kasih surprise, pagi buta bawa blackforest ke kamarku lalu membangunkanku dengan kecupan. Kalau Andi? Ih boro-boro.
Tahun ini juga gitu deh kayaknya. Pagi tadi dia menelponku, cuma bilang mau dinas keluar kota doang tanpa ucapan 'hepi besdey beiby' uuuh, kesel aku tuh sama dia. Sebegitu tidak istimewanyakah aku, sampai ultahku dia lupakan terus.
"Alisa kok bete? Keluar yuk, makan malam," ajak mama yang tampaknya sudah rapi.
"Malas mam," sahutku datar. Lupa-nya Andi kali ini benar-benar bikin aku bad mood.
"Ayolah sayaaang, masa hari istimewa kok malah cemberut. Cepatlah bersiap, dan pakai ini ..." kata mama sambil menaruh papper bag diatas tempat tidurku.
"Apa ini, ma?" Aku penasaran.
"Bingkisan dari seseorang."
"Siapa, papa ya?"
"Ck ... ada deh, buruan. Mama papa tunggu kamu di bawah," ujar mama sambil melenggang keluar kamarku.
"Wow," aku terpesona sendiri melihat tampilanku di cermin. Gaun sederhana selutut berwarna broken white keluaran butik ternama di kotaku beserta sepatu transparan bertumit rendah tampak manis saat kukenakan. Membuatku bertanya-tanya siapakah gerangan yang tahu persis apa yang cocok untukku.
"Cantik!" Komentar mama saat melihatku menghampiri mereka yang juga sudah rapi.
"Ayo berangkat," ajak papa tanpa bertanya aku mau makan malam di mana. Ah, sepertinya papa sudah punya rencana sendiri sehingga tampak tenang melajukan mobilnya ke tempat tujuan, yaitu 'Violet Resto'. Restoran mewah yang sudah lama ingin kuhampiri tapi selalu urung kudatangi karena Andi tidak mau.
"Kita langsung ke rooftop," kata papaku. Aku dan mama menurut, mengekori papa menuju meja yang nampaknya sudah dipesan.
Tidak lama setelah kami duduk, para pelayan mulai memgantar pesanan. Aku hanya tersenyum miris, punya pacar tapi makan malam di hari ulang tahun malah sama mama dan papa aja.
"Selamat malam, selamat datang di Viola Resto ... malam ini sangat spesial karena ada seorang gadis bernama Alisa yang sedang berbahagia atas pertambahan usia-nya," ucap vokalis yang berada di pamggung kecil bersama tim band akustik-nya. "Nona Alisa ... terimalah persembahan istimewa dari seseorang yang spesial." Prok, prok, prok, kudengar tepukan dari beberapa tamu yang juga sedang bersantap di rooftop.
Terdengar intro lagu mulai dimainkan, 'It's a beautiful night, we're looking for something dumb to do
Hey baby, I think I wanna marry you,'
Eh ... suara itu kok aku kayak kenal? Sayangnya, suasana yang remang-remang, membuat aku tidak dapat melihat penyanyinya dengan jelas, yang pasti itu penyanyinya cowok, bukan vokalis perempuan tadi.
Lho ... penyanyi itu turun dari panggung dan berjalan ke arahku. "Ma, penyanyinya kok kayak Andi, ya?" Bisikku.
"Berapa lama gak ketemu sih, sampai lupa sama pacar sendiri?" Jawab mama sambil tersenyum.
Aku makin ternganga saat penyanyi itu berjalan semakin dekat ke arahku.
Don't say no, no, no, no, no
Just say yeah, yeah, yeah, yeah, yeah
And we'll go, go, go, go, go
If you're ready, like I'm ready - musik berhenti, Andi yang sudah berdiri di hadapanku langsung berlutut sambil memberikan sebuah kotak beludru berwarna biru tua.
Andi membuka kotak itu, "Selama ini aku selalu lupa hari ultahmu, tapi kali ini dan seterusnya tidak akan terjadi lagi. Alisa, terimalah kado istimewaku ini," katanya lalu mengambil cincin bertahtakan berlian itu dan menyelipkan di jari manisku tanpa meminta persetujuanku. "Pas, cantik sekali," gumam Andi.
Aku terharu bahkan sampai meneteskan air mata, ternyata Andi yang pelupa ini bisa juga bersikap romantis. Hadiah ulang tahunku kali ini bakalan tidak akan kulupakan seumur hidupku.
"Gimana, pa?" Tanya Andi pada papaku.
"Ok. Udah siap semua," sahut papa yang malah membuatku bingung, apa sih yang mereka rencanakan? Tiba-tiba di layar, ada tayangan yang menampilkan foto-fotoku dan Andi, sejak kami masih berstatus teman, trus pacaran ... sampai foto waktu kami jalan-jalan ke pantai, minggu kemaren.
Prok! Andi menepukkan tangannya satu kali dan suasana menjadi terang benderang, sehingga aku bisa melihat dengan jelas semua tamu yang ada di situ adalah keluarga dan sahabat dekat kami.
"Terima kasih, Andi," ujarku bahagia sambil memeluknya.
"Iya, sayang. Persiapkan dirimu untuk kejutan selanjutnya," bisik Andi.
"Apa lagi?"
Baru kusadari panggung kecil tempat tim band tadi sudah berubah fungsi, digantikan meja dimana ada seseorang berpeci duduk di situ.
"Ayo," kata papa pada Andi sambil berjalan menghampiri pria berpeci itu dan duduk semeja.
Tidak lama terdengar ucapan 'syah'.
Masya Allah, ini sungguh luar biasa. Ternyata Andi tidak se-pelupa yang aku duga. Aku ulang tahun, dilamar kemudian dinikahi di hari yang sama.