Entah dari mana aku harus memulai cerita ini
suatu ketika aku pulang dari bandara dan gak sengaja' berpapasan dengan cowok yang paras rupawan ,hidung mancung
dan lebih parahnya kita gak sengaja'tabrakan.
" Aaww"
Bagai petir di siang bolong , gantung berdekatan lebih kencang dari biasanya .
Sampai ga sadar saya terjatuh dari genggaman nya.
"Aaww,kamu"
Dengan tidak sopan nya dia pergi begitu saja,tapi entah mengapa aku seakan mau ingin mengenal lebih jauh.
padahal mah aku paling malas yang namnya dekat sama cowok merepotkan,aku duduk d pinggir jalan sambil pegang koper dan diam diam saya memperhatikan dia …….
"apa dia ada masalah ya sepertinya dia sangat marah ,ah kenapa saya jadi kepo sih"
Beberapa hari kedepan emak emak di depan rumah ku pada heboh , kayak acara tauran aja.yang jelas sangat menggangu tidur ku.
" Apa sih yang mereka heboh kan,gak mungkin banget oppa Lee Min-ho datang ke komplek ini,omel ku sambil bangkit dari tidur ku".
Sehari setelah itu aku baru tau ternyata dia laki laki yang aku jumpai di bandara itu…..malamnya aku Gambung dong sama emak emak rempong untuk mencari tau laki-laki itu
Ahh jiwa kepo ku meronta,ternyata dia anak pemilik perumahan ini dan akan tinggal di kompleks ini juga ………….
Aku antara senang dan entalah pokoknya aku mengaguminya.aku takkan mengakui aku mencintainya, aku sudah tak mengerti bagaimana rasa jatuh cinta setelah aku melepas cinta pertamaku yang tak akan pernah bisa kumiliki.
Laki-laki itu berbeda dari beberapa laki-laki yang pernah membuatku kagum. Dia begitu dekat tapi juga begitu jauh. Aku tahu dia tapi tak cukup untuk dibilang aku mengenalnya.
Devan dia kakak kelasku sewaktu SMP dan sekarang menjadi suami sepupu ku. Aku cukup tahu tentang dia karena dia kakak salah satu temanku, nia. Jika aku tak salah ingat aku pernah membuatnya menangis saat aku masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Saat itu Devan ikut bermain dengan nia, aku dan beberapa temanku lainnya lempar in mereka lumpur. Umur kami hanya terpaut dua tahun. Tak kusangka laki-laki yang dulu tak sengaja kubuat menangis sekarang ,aku justru membuat ku menangis.
Devan lebih memilih sepupu di bandingkan saya
" Aishh kalau di ingat , ingin rasa nya melempar mereka berdua ke got."
"Udahlah kenapa aku , malah mengingat laki laki brengsek itu sih."
Malam hari saat aku mulai menyadari perasaanku, saat aku merasa ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Aku memimpikannya. Sudah lama tak seorang pun laki-laki datang pada mimpi indah ku. Sejak saat itu, aku selalu memperhatikannya. Saat dia lari pagi dan berjemur di taman dan membuat aku ingin memeluk nya, saat dia .... Aku tahu ini gila, aku terus memandanginya walau dia juga menatap searah denganku.
Aku memilih duduk didekat jendela pun awalnya karena dia. Dengan begitu aku bisa leluasa melihatnya saat dia berjalan melewati pagar yang dekat rumah ku. Tapi itu juga kadang membuat dadaku sesak, saat melihat seseorang perempuan berjalan mendekati nya.
Aku tak apa, hanya saat melihat mereka begitu akrab aku bertanya pada diriku sendiri “sudahkah dia memiliki seorang kekasih?”. Saat pertanyaan itu muncul aku merasa bodoh, dari dulu saat aku mengagumi seseorang aku selalu tahu bahwa dia sedang tidak memiliki kekasih tapi kali ini, aku tak tahu apa pun tentang hubungan pribadinya.
Hari dimana aku melihatnya akrab jalan bersama dengan seorang teman perempuannya melewati sebelah rumahku , hari itu juga setelah itu aku bertindak bodoh. aku melihatnya lagi berjalan kearah tempat parkir dengan teman laki - lakinya.
Aku melewatinya dan berbicara keras seakan saya tak takut bahwa dia anak pemilik perumahan ini . aku selalu bertingkah bodoh saat melihat nya.
"bisa kah kalian minggir aku mau lewat,teriakku."
seolah olah tak mengenal emang,
Karena memang kami tak saling mengenal betul.
Aku tahu aku dan dia berbeda jauh, dia anak orang kaya dan aku hanya gadis biasa. Dia si jenius dan aku bukan apa-apa.
Karena itu mengapa aku menyebutnya dekat tapi begitu jauh. Aku tak mungkin menggapainya. Saat perasaan keraguan itu muncul aku mencoba mempertegas perasaanku bahwa dia hanya mimpi indah dan mungkin tak akan jadi nyata. Aku mulai mencoba melupakannya. Aku berhasil tapi dia seakan merantai perasaanku, dia datang kealam mimpiku saat aku berada dibawah selimut hangatku. Andai dia tahu berapa kali aku mencoba melupakannya dan setiap aku berhasil dia akan datang kealam mimpiku. Hal itu membuatku frustasi dan kembali dia membelenggu perasaanku.
Tuhan kalau memang aku tak cukup dekat untuk menggapainya dan dia juga tak mampu merangkulku. Biarlah semuanya berakhir sampai disini. Aku selalu mengatakan itu tapi, persaanku tak secepat itu untuk berakhir sampai disini. Entah sampai kapan aku akan terus menjadi gadis bodoh yang melepas pergi cinta pertamanya bersama sepupu sendiri dan sekarang menjadi gadis bodoh yang mengagumi tak terlihat sedikit pun. Aku saat ini masih menjadi gadis bodoh saat ku sadari dia tersenyum melangkah kearah ku dan melewati ku begitu saja seakan tak sadar aku berdiri di sini menatapnya menunggunya menyapa ku.