Aku melihatnya, lelaki tua itu menyeret tubuh Sarah. Lalu, ia menguliti tubuh wanita yang sudah menjadi mayat, dengan sebilah pisau tajam.
"Rasakan kesakitan ini, kau memang pantas mati!" murkanya dibarengi dengan tertawa terbahak-bahak.
Lagi dan lagi, tanpa henti ... sejenak ia terpaku menatap nanar tubuh yang sudah tidak berbentuk itu. Jerit tangisnya pecah dalam keheningan malam. tetapi tak lama setelah itu, ia kembali tertawa dan dengan beringas menancapkan pisau ke arah dada, tepat mengenai jantung mayat wanita tersebut. Diiris secara pelan, kemudian melahapnya.
Seketika sekujur tubuhku terasa mual ingin rasanya Aku pergi berlari dari persembunyianku, tetapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.
Kulihat lagi, lelaki tua itu mencangkul tanah mengubur. Ia pun membersihkan sisa darah yang berceceran hingga tak ada bekas pembantaian yang terlihat sedikit pun. Lalu, ia berlalu pergi.
Jantungku berdebar tak beraturan, sekujur tubuhku menggigil tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
satu minggu kemudian.
Tempat kejadian peristiwa ngeri itu yang kebetulan adalah, sebuah lapangan cukup luas dijadikan tempat hiburan oleh warga setempat ... tak ada satu pun warga yang menyadari bahwa beberapa hari sebelumnya lapangan luas itu dijadikan tempat pembantaian.
Hal ganjil pun terjadi, dari mulai tanah yang keras untuk di gali ataupun tenda yang beberapa kali terkena angin. Hingga pada Akhirnya panggung pun ikut roboh.
beberapa orang merasa kebingungan, Tetapi mereka mencoba terus kembali memperbaiki.
"Kembalikan aku pada jasadku!" geram seorang lelaki. Seketika mengamuk, membabi buta. Sontak semua orang merasa tercengang. Beberapa orang mencoba menenangkan, sedangkan aku berlari, kakiku menginjak-injak tanah.
"Hey, ada apa denganmu ... Apa kamu pun ikut kerasukan!" gertak seseorang terheran.
Kuhentakan lagi dan lagi
"Coba ke sini, Pak. Ada yang kerasukan lagi!" teriaknya memanggil seseorang.
Aku terus memberontak berusaha memberi tahu
"Ada apa denganmu, Nak?" tanya seorang lelaki paruh baya padaku. Aku berusaha memberi tahu dengan terus menghentakan sebelah kakiku beberapa kali.
"Dia bisu," cetus seseorang dari arah belakang, "mungkin anak ini ingin memberi tahu sesuatu," lanjutnya.
Tamat