Aku masih merasa bingung , mengapa aku bisa melihat tubuhku sendiri.
Aku berlari mencari cahaya dan menemukan sebuah rumah yang sangat aku kenal rumah nenekku .
Tempat aku sering menghabiskan liburan sekolahku dan bertualang menjadi tokoh apapun yang aku inginkan dari bajak laut , koki kungfu , pembalap super dan raja pahlawan.
" Bangun !!! sahut nenek sedikit berteriak berusaha membangunkan Joko.
Joko masih terlelap karena kelelahan habis lembur balapan liar semalam.
Nenek akhirnya menggigit bahu Joko supaya bangun dari tidur kebonya.
" Aduh sakit " teriak Joko kesakitan digigit Nenek Murni yang sudah ompong.
" Bangun ko , cepat cuci muka ke pasar " teriak nenek Murni di telinga Joko.
" Iya iya pagi nek " jawab Joko, bangun dari tempat tidur mencium tangan neneknya dan pergi ke kamar mandi mencuci muka , mengikat rambut panjangnya dan memakai sandal jepitnya yang butut.
Joko segera ke pasar membeli bahan bahan untuk membuat manisan buah dan kerupuk jadul yang akan Jesi jual nanti sore di pasar malam.
Sesampainya di pasar pagi Joko mulai berkeliling membeli barang - barang kebutuhan buat jualan Jesi.
Setelah selesai Joko membeli tiga bungkus nasi kuning buat sarapan di rumah dan bergegas pulang dengan sepeda bututnya.
Sesampainya di rumah Joko segera ke dapur dan meletakkan semua bahan belanjaannya di dapur.
Jesi muncul dengan seragam sekolah putih dan rok biru terlihat rapi dan cantik seperti bunga .
" Selamat pagi kak " sapa Jesi kepada Joko dan mencium sekilas tangan Joko.
" Hmm asem , kakak belum mandi ya " goda Jesi.
" Sudah tau setiap pagi aku sibuk ke pasar ya pasti belum mandi lah Jes " aku Joko jujur lalu duduk di kursi meja dapur.
" Joko sini nasi kuningnya " sahut nenek Murni lembut menyiapkan piring buat sarapan nasi kuning Jesi , Joko dan dirinya sendiri.
" Selamat pagi nek " sapa Jesi sambil mencium tangan neneknya dan duduk di samping Joko.
" Pagi Jes , makan dulu nasi kuningnya baru ke sekolah " titah nenek Murni berjalan mengambilkan tiga gelas plastik dari rak dapur.
Jesi mengambil gelas plastik dari tangan neneknya dan menuangkan air putih ke dalam ketiga gelas plastik yang dibawa neneknya.
Mereka sarapan bersama dalam rasa bahagia yang sederhana. Selesai sarapan Jesi segera pamit berangkat ke sekolah karena takut terlambat masuk sekolah. Setelah mencium tangan nenek Murni dan Joko , Jesi segera berjalan ke sekolah dengan cepat.
Setelah Jesi pergi ke sekolah nenek Murni dan Joko mulai mencuci , mengupas dan memotong panjang buah yang akan dijadikan manisan dan menyimpannya dalam kontainer makanan lalu dimasukkan ke dalam kulkas satu pintu yang ada di dalam dapur rumah mereka.
Selesai membuat manisan , Joko dan nenek Murni mulai mengupas ubi kayu , ubi jalar dan sukun lalu mencucinya dan meletakkan di dalam baskom plastik yang berisi air garam.
Setelah ditiriskan Joko lalu mulai memotong tipis memanjang ubi kayu , ubi jalar ,pisang kipas dan sukun lalu meletakkan di dalam baskom secara terpisah.
Selama Joko memotong bahan , Nenek Murni menumis sambal tomat hingga harum dan matang lalu mendinginkannya.
Selesai menumis sambal tomat nenek Murni mulai membuat campuran adonan tepung terigu dan bumbu buat celupan gorengan.
Setelah rata campuran adonan tepung , nenek Murni mulai mencelupkan potongan ubi jalar dan.menggorengnya hingga matang dan meniriskan gorengan ubi jalar yang sudah matang.
Setelah selesai menggoreng ubi jalar , nenek Murni lanjut menggoreng pisang kipas , sukun dan ubi kayu.
Selama nenek Murni menggoreng Joko mulai membungkus sambal tomat ke dalam plastik es lilin dan mengikatnya , sebagian lagi sambal dituang ke dalam botol saji sampai habis. Joko segera pergi mandi buat bersiap jualan di warung depan rumah nenek Murni.
Selesai mandi Joko segera menyusun semua gorengan yang sudah jadi dimasukkan ke dalam loyang jualan dan dibawa ke atas meja lapak jualan depan rumah nenek Murni.
Joko berjualan di depan rumah sementara nenek Murni mandi dan berjualan.
Joko akan pergi bekerja di bengkel Haji Nizam dan memutar radio siaran berita kota yang mengabarkan keramaian kota seputar tempat tinggalnya.
Inilah realita kehidupan Joko sekarang semenjak kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya , Joko dan Jesi terpaksa numpang hidup bersama nenek Murni di rumahnya di kota B.
Joko memutuskan berhenti sekolah dan membantu nenek Murni jualan dan bekerja di bengkel haji Nizam untuk biaya hidup sehari - hari dan untuk biaya sekolah Jesi.
Pada malam harinya Joko akan berubah menjadi pembalap liar mempertaruhkan hidup di jalan demi segepok uang taruhan buat mewujudkan mimpinya punya bengkel sendiri.
Tamat.