|599 words|
._.
"GENIUS CREEPY"
Adalah bagaimana mereka menjulukiku.
Dengan segala kengerian, darah dan pekik ngeri yang tak nyata, mereka mengatakan bahwa aku adalah seniman yang genius. Goresan di atas kanvas dengan warna monoton ---merah, hitam, merah, hitam lagi--- membuat mereka ikut merasakan pesan di balik semua lukisanku.
Pesan kematian.
Begitu menyenangkan menjadi seorang pelukis. Kau bisa melukis apapun tanpa takut dikecam, setidak pantas apapun lukisanmu, setidak manusiawi apapun lukisanmu, setidak waras apapun lukisanmu.
Mereka hanya akan berpikir, "toh, itu hanya sebuah lukisan."
Dan ya! Itu memang sebuah lukisan. Mereka benar, tak ada yang salah dari segi manapun. Kecuali bagi orang-orang sok suci yang menganggap organ yang tercecer, darah menggenang, bangkai, dan kematian adalah inspirasi terburuk.
Sedangkan di sini, aku berdiri dengan bangga. Di pameran ketigaku di gallery seniku sendiri. Membuktikan bahwa lukisanku begitu diminati. Dan tentu saja bukan hanya satu-dua orang yang berkunjung ke sini. Mereka ribuan! Datang dari pelosok negeri hanya demi melihat lukisanku. Dan aku.
Ya, aku yang tampan ini.
"Lihat siapa yang sukses begitu cepat, sedangkan kerjanya hanya tidur di kelas!" Sebuah tepukan mendarat di bahuku bersamaan dengan sebuah kepala muncul.
Aku menoleh dan langsung terkekeh saat melihat siapa yang mengganggu ketenanganku ketika menatap salah satu lukisan. "Jangan berkata begitu, pak pengusaha! Anda juga sukses walaupun beberapa kali ditendang keluar saat pelajaran."
Kami berdua pun tertawa kecil. Randy Walter, pria di sampingku dengan tubuh yang lebih pendek, adalah sahabatku sejak SMA. Ia sudah menyukai gaya lukisanku sejak awal. Dan aku selalu menyukai otaknya yang cerdas meskipun jarang digunakan.
"Aku suka lukisanmu yang itu," katanya. Tangannya yang memegang wine terangkat dan menunjuk sebuah lukisan tak jauh dari tempat kami berdiri. Lukisan seorang gadis kecil setengah botak yang mendongak dengan rongga mata kanan kosong, sementara mata kirinya putih, pipinya penuh luka dan lebam. Dan gadis itu mengangkat tangannya yang terkepal, mencengkeram bola mata kanannya yang benyek dan mencipratkan darah. Dan tentu saja, latarnya hitam.
"Kau bercanda? Itu lukisan lamaku. Biasanya kau menyukai yang terbaru," seruku sambil menyesap wineku.
Randy menggeleng. "Aku suka lukisan terbarumu. Tapi itu adalah favoritku."
"Begitukah?" tanyaku retoris, "kau mau aku melukis hal yang serupa? Sepertinya kau suka ketika objekku anak-anak."
Dan Randy Walter pun terbahak sampai winenya bergetar. "Tidak ... bukan itu. Kau seharusnya paham, sahabatku."
Aku mengangkat sebelah alisku. "Jangan samakan otak kita. Ingat, aku otak kanan dan kau yang kiri."
"Ya, ya ... aku mengerti. Maksudku, aku menyukai lukisan itu karena objeknya, kawan! Objeknya! Seharusnya kau tahu!" Randy berseru sambil menatapku dan tersenyum.
Aku tahu maksudnya, sangat paham. Gadis di lukisan itu begitu mirip dengan anak gadisnya yang mati bulan lalu.
Aku tak menjawab, hanya menyesap minumanku lagi sambil membalas senyumannya. Kami berdua larut dalam hening. Membiarkan orang-orang berlalu lalang dan merasakan kesan lukisanku yang mendalam.
Setelah hampir seharian ini pameranku berjalan lancar, aku pun berniat pulang. Aku berjalan keluar dari pintu belakang menuju mobil mewahku yang terparkir di sana.
Aku segera menyalakan mobilku, dan melaju cepat menuju ke rumah kecil di ujung jalan. Rumah yang sampai kini selalu menjadi tempatku pulang. Rumah yang aku bangun bersama Randy ketika kami pengangguran dulu. Rumah yang jauh lebih membuatku nyaman daripada apartemen mewahku sendiri.
Aku memarkirkan mobilku agak jauh, tak ingin ada yang tahu tentang rumah itu. Dan aku pun berlari kecil sambil menutup kepalaku dengan tudung jaket.
Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati Randy sudah ada di sana.
"Kemarin aku sudah membereskan isteriku yang gila itu. Besok aku mau kau menggali makamnya dan momotretnya, lalu segeralah melukis wanita itu tersiksa di neraka."
Dan sekali lagi, aku hanya tersenyum penuh arti padanya. Jasad dan kengerian adalah inspirasiku. Pembunuhan dan kepuasan adalah hidup Randy.
._.