"Nisa, kamu ga sekolah?" Ayah membangunkan aku yang sedang tertidur di atas ranjang empukku
"iya ayah, aku mau sekolah kok" aku beranjak terduduk, mengumpulkan segenap niatku untuk mandi, lalu sarapan bersama ayah. Dirumah memang hanya ada aku dan ayah, ibu sudah lama meninggal sedangkan ayah hanya seorang supir taksi yang harus membiayaiku sekolah. aku baru saja memasuki SMA umurku masih 16 tahun dan aku anak tunggal, tidak ada kakak ataupun adik, hanya ada ayah
"makan dulu, biar semangat belajarnya" ayah memberiku sepiring nasi goreng, lantas aku memakannya dengan khidmat, kemudian beliau mengantarku dengan mobil taksinya sampai di sekolah, aku mencium tangannya meminta doa padanya agar aku lancar belajar di sekolah
suatu malam ayah bertanya padaku, "nisa, cita-cita mu apa? "
aku terdiam, lalu menatap wajah ayah yang sudah tidak muda lagi
"ayah, apa aku bisa menjadi dokter?" tanyaku, beliau tersenyum
"tentu" jawabnya, aku berpikir sejenak, mengingat tetangga rumahku mengatakan bahwa biaya nya sungguh sangat tidak murah
"tapi ayah, biaya masuk kedokteran itu mahal kata orang-orang, apa aku bisa? sedangkan buat makan aja kita susah" ujarku lirih
ayah mengelus suraiku lembut
"ayah bakal berusaha apapun yang terbaik buat anak ayah, kamu ga usah pikirin biaya, fokus aja belajarnya, biaya itu urusan ayah"
"tapi ayah, aku gamau ngebebanin ayah"
"enggak Nisa, kamu itu harapan ayah satu-satunya, ayah semangat kerja karena Nisa juga semangat belajar, ayah makin semangat pas tau Nisa pengen jadi dokter, Nisa tenang aja, biaya itu urusan ayah"
aku memeluk ayah, meredam tangisku dalam dada ayah, ayah balas memelukku sambil mengelus suraiku
"ayah, Nisa bakal berusaha juga, Nisa bakal rajin belajar buat dapetin beasiswa"
hari-hari berlalu, saat ini adalah hari kelulusanku, ayah tentu datang menghadiri acara kelulusan SMA ku, meski tanpa sosok ibu, aku begitu senang ayah hadir disana, dan betapa senangnya aku akhirnya mendapatkan beasiswa untukku kuliah, mencapai cita-cita ku
"ayah, aku berhasil. semua karena doa ayah" aku memeluknya, ia tersenyum haru
"anak ayah emang hebat"
aku sekarang jadi mahasiswi kedokteran di salah satu universitas yang berada di kotaku, aku terus rajin belajar agar aku bisa membahagiakan ayah, hanya ayah satu-satunya keluarga yang aku punya
saat aku lulus kuliah dan bekerja di rumah sakit, aku jarang bertemu ayah, terlebih aku di tempatkan di luar kota, ayah sering menghubungi ku di saat aku sedang bekerja, aku tak sempat ke rumah ayah, padahal ayah hanya ingin bertemu denganku
hari itu, sungguh aneh, ayah tak lagi menelfonku, aku jadi tidak fokus bekerja, selesai bekerja aku memutuskan untuk pulang ke rumahku, setibanya aku disana ayah tak ada, aku mencarinya dengan panik sambil menangis karena aku memikirkan hal buruk tentang ayah
"ayaahhhh" panggilku di seluruh penjuru rumah, tak ada sahutan, aku menangis terduduk
tiba-tiba seseorang menepuk bahuku, aku terperanjat dan menoleh ke arahnya
"Nisa?" tanyanya
"ayaahhhh" aku memeluk ayah, aku bersyukur ayah baik-baik saja
"ayah, ayo ikut Nisa, tinggal sama Nisa" ucapku sambil menggenggam tangannya, ayah menggeleng
"ngga Nisa, ayah disini aja. rumah ini kenangan ayah sama ibumu, ayah gamau menjual atau meninggalkan rumah ini, kamu kerja aja disana gapapa, tapi sering-seringlah kesini, ayah kangen"
aku memeluk ayah
esoknya, aku kembali lagi ke tempat kerjaku, aku bertanya lagi pada ayah, tapi ayah tak mau ikut denganku
aku lega mengetahui ayah baik-baik saja, jadi aku bisa fokus bekerja
sebulan berlalu, aku akhirnya mendapat cuti untuk aku bisa pulang menemui ayah, sengaja aku tak menghubunginya, aku ingin memberinya kejutan, di jalan aku membelikan barang-barang keperluan ayah serta makanan kesukaan ayah, sampai dirumah aku heran mengapa ada banyak orang disana
aku melangkah kakiku menuju rumahku
"ada apa ini?" tanyaku, seseorang berlari memelukku
"yang sabar, ndok" itu tetanggaku, aku bingung dan perasaanku tak enak, lantas aku berlari masuk ke rumahku
betapa kagetnya aku melihat ayah terbujur kaku di sana, aku diam tak bergeming, lututku lemas, aku menjatuhkan barang-barangku dan memeluknya
"AYAAAHHHHHHHH"
"ayah maafin Nisa"
"harusnya ayah ikut Nisa"
"maafin Nisa ayah, banguuuunnnn"
aku menangis menjerit berusaha membangunkan ayahku, namun nihil
proses pemakaman ayah berjalan dengan lancar, semua orang turut berduka cita padaku, lalu tetangga samping rumahku memberikan sebuah surat padaku, aku menerimanya dan beliau pergi meninggalkanku
aku masih menangis, menangis di kamar ayah lalu mulai membuka suratnya
"Nisa anakku, ini ayah. ayah ga tau pas kamu baca surat ini ayah masij ada atau ngga, Nisa kamu harus semangat bekerja, maaf ayah ga bisa sering ngubungin kamu hp ayah rusak, ayah sayang sama kamu, maaf kalo ayah sering ganggu kamu pas kamu lagi kerja, ayah cuma kangen sama putri ayah. ayah ga nyangka kamu udah sebesar ini, dulu kamu masih kecil, masih sering minta gendong sama ayah, sekarang kamu udah besar. ayah bangga dan akan selalu bangga sama Nisa. jaga diri baik-baik, ayah pamit mau ketemu ibu, karena akhir-akhir ini ibu sering mampir ke mimpi ayah, jaga sholatmu ya Nisa, ayah pergi"
aku menangis, menyesali perbuatanku, seharusnya aku sering mengunjungi ayah meski aku sangat sibuk, aku harusnya tidak mengabaikan ayah saat itu
aku menyesal