La tua Cantate; Nyanyianmu.
____________________
Ku tarik dan ku gulung jalaku lalu kumasukan kembali ke dalam kapal kecilku.
Subuh. Ketika sang mentari belum menampakan dirinya, hanya secercah sinar sayupnya yang membias di atas buih lautan.
Aku hanyalah seorang nelayan kecil. Yang hanya bisa menafkahi keluarganya dengan menjual hasil tangkapannya sehari-hari.
Sekolah? Waktu telah lama berlalu sejak aku memilih untuk meninggalkan jalan itu. Untuk apa sekolah, jika kau tak memiliki uang? Pikirku saat itu.
Tanganku terasa kaku, menebar jala semalaman telah membuatnya keram. Aku berjalan ke bagian belakang kapal kecilku. Menyalakan mesin dan mulai mengendalikan kapal itu menuju ke arah pantai.
Kicauan burung camar riuh terdengar saat sang mentari terbit di ufuk timur. Aku tak peduli.
***
Setelah menyandarkan kapalku ke pelabuhan, ku isi semua ikan hasil tangkapanku ke dalam ember lalu memikulnya dan berjalan menjauhi pantai.
"Selamat pagi pak," ucapku saat tiba di depan rumah seorang pemilik rumah makan. Bapak itu melihatku lalu melambaikan tangannya, memanggilku mendekat.
"Mari. Biar saya lihat," Kuserahkan ember yang masih kupikul padanya.
Setelah mengamati beberapa menit dia pun berkata, "Ikannya semua bagus, biar saya beli. Sabar sebentar ya nak."
Si tuan rumah kemudian menaruh ember tadi, lalu bergegas memasuki rumahnya.
Beberapa menit berlalu. Kemudian dia kembali sambil memengang timbangan di tangannya. "Maaf ya nak, tadi nyari timbangannya. Jadi agak lama."
"Tidak apa-apa pak," ucapku sambil tersenyum. Jika orangnya memang ingin membeli, untuk apa aku meminta lebih.
Dia kemudian menaruh timbangan tersebut kebawah serta mengeluarkan kantong kresek dari sakunya dan mulai mengisi satu persatu ikan dari emberku.
Melihat itu, aku bergerak maju dan membantu mengisinya. Setelah semua habis terisi, dia mengangkat dan menaruhnya keatas timbangan.
"4,5 nak. Saya beli 500, bagaimana?" Bapak tadi berbalik menatapku dan bertanya. Wajahku tersenyum, harga yang dia tawarkan lebih tinggi dari yang kukira.
"Bo..boleh pak. Terimakasih," jawabku. Dia kemudian mengeluarkan beberapa lembar daun merah dan mulai menghitung.
"...empat, lima. Ini," sambil menyodorkan kertas di gengamannya kepadaku.
Kujularkan tanganku dan kuraih, tak lupa ku ucapkan terimakasih sekali lagi.
"Sampai nanti nak. Datang kesini ya, kalo tangkap yang bagus," ucap bapak itu saat melihatku hendak pergi.
"Iya pak," jawabku, lalu melangkahkan kaki ku untuk membawa diriku menjauh. Menuju ke arah Rumahku.
***
"Ma... Iko pulang!" Teriakku memanggil ibuku. Tak berapa lama kemudian pintu pun di buka.
"Bagaimana hasilnya nak?" Tanya ibuku setelah aku berjalan masuk.
Aku mengeluarkan uang tadi dari saku dan menyerahkannya pada ibu, "Lumayanlah ma. Cukup buat bayar spp-nya Ana."
Ana, adik perempuanku yang kini duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat ayahku pergi, sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengurus masa depan adik semata tersayangku itu.
Setidaknya aku setiap hari dapat mendengar nyanyiannya dan nyanyian ibuku yang bernyanyi dengan bahagianya.
Itu sudahlah cukup bagiku.
======================
By. Juliana_B-X8R
Penulis novel: "Rin Rin"