Panasnya terik matahari mengikuti langkah kaki gadis kecil itu, terlihat dengan jelas bajunya yang basah kuyup oleh keringat, dari pelipisnya yang perlahan mengalir indah ke pipi gembilnya menuju leher putih jenjang itu dan berakhir terserap kaos hitam lusuh miliknya.
Banyak pasang mata yang memperhatikannya, tak sedikit dari mereka yang menatapnya iba.
Tidak, ia bukanlah seorang gadis pengemis yang duduk begitu saja di pinggir jalan, yang meminta belas kasih para pejalan kaki untuk memberikannya sedikit uang.
Di lihatnya bekas luka kecil di telapak tangannya yang belum juga mengering, di sentuhnya pelan dan membuat bibirnya mengeluarkan suara ringisan kecil.
Ia mencoba menahan rasa perihnya.
' tak mengapa, ini sudah biasa '
Batinnya dalam hati.
Gadis kecil itu kembali berdiri dan kembali berjalan.
" Aku harus pergi kemana ? " ucapnya dengan pelan, bertanya pada dirinya sendiri.
Gadis kecil itu masih terus berjalan tak tentu arah.
Sinar matahari pun mulai meredup, melambaikan perpisahan untuk pagi, yang tersisa hanya cahaya senjanya.
Tak terasa hari mulai gelap, dan gadis itu terus berjalan dengan kedua kaki kecilnya.
Matanya mengerjap beberapa kali melihat cahaya yang begitu terang di ujung jalan sunyi itu.
' Ah, taman itu ' Batinnya sambil tersenyum.
Di langkahkannya kaki kecilnya berjalan mendekati salah satu bangku di taman itu.
Berdiri sejenak, menatap bangku kayu jati panjang itu.
Perlahan ia berjalan ke arah samping bangku, seperti ingin melihat sesuatu.
" Yes, masih ada. " ucapnya dengan nada yang gembira saat berdiri tak jauh dari sebuah pohon besar di samping bangku taman itu.
Di usapnya pelan ukiran kasar itu, perlahan mata gadis itu mulai berkaca-kaca.
" Ibu..andai ibu masih ada, aku tak akan seperti ini " ucapnya masih dengan memandang ukiran kecil itu.
" Aku tidak akan mempunyai ibu tiri dan kabur dari rumah, jika kecelakan itu tidak terjadi mungkin aku, ibu dan ayah tentunya akan hidup bahagia " Sambungnya lagi.
Tanpa sengaja tetesan air mulai mengalir indah di pelupuk matanya, namun dengan kasar gadis kecil itu menyapu air mata di wajahnya.
Di pohon kayu itu terdapat ukiran kecil yang bertulis kan..
' Salsa & Mama '
" Ibu... Salsa rindu ibu "
Runtuh sudah pertahanannya, tanpa bisa di tahan, lelehan liquid bening itu kembali mengalir dengan derasnya, sambil terisak si gadis kecil membenamkan wajahnya dalam diam.