Ketika waktu sedang berlalu, Ketika langkah kaki semakin bergema, Ketika suara nyaring datang silih bergantian, Entah kenapa aku merasa hal aneh melingkupi tubuhku. Tidak seperti melindungiku, tapi seolah mencekikku.
Jika kalian menebak ini hanyalah ilusi atau sekedar delusi semata, kalian benar-benar salah kaprah. Karena, rasanya terlalu nyata untuk dikatakan sekedar delusi ringan. Nafasku seolah putus-putus, Jantungku berdebar begitu kencang. Rasanya, Aku seperti sekarat saja.
Bukan! Ini terlalu ringan untuk sekedar sekarat. Ini lebih dari itu.
Jiwa...
Jiwaku mengkhianati tubuhku. Jiwaku seolah memaksa untuk meninggalkan ragaku. Dia mengkhianatiku. Jiwaku...
Leherku semakin tercekik. Udara seolah terampas paksa dari paru-paruku. Aku tak dapat merasakan tubuhku sendiri. Tubuhku mati rasa. Tapi tidak dengan perasaan berdebar yang mencekik ini.
"..." Aku bahkan gagal mengeluarkan suaraku. Tidak, bukan gagal, tapi suaraku hilang entah kemana. Ragaku juga telah mengkhianatiku. Dia tak lagi berada dibawah kendali pikiranku.
Tapi... Telingaku masih berfungsi. Sangat baik malahan. Atau terlalu baik? Aku bukan hanya bisa mendengar suara. Tapi juga bisa memperkirakan berapa jauh sumber suara.
Rasanya menyenangkan mempunya telinga yang tajam.
Namun tidak bagiku.
Seluruh tubuhku terasa sakit
Ketajaman telingaku juga bisa mendengar suara teriakan teredam. Bukan teriakan kegembiraan, tapi teriakan kesakitan.
Teriakan itu seolah tertahan dan tertimbun oleh sesuatu. Aku tak bisa memastikan apa yang menimbunnya. Tapi yang pasti, seluruh tubuhku masih tercekik. Ditambah lagi dengan teriakan tak manusiawi ini.
Aku takut...
Sangat Sangat Takut...
Lagi-lagi aku mendengar sebuah suara. Suara bedebum keras. Lalu diikuti dengan cahaya yang menyilaukan.
Aku kaget dan takut.
Aku sangat yakin jika beberapa waktu lalu aku tak bisa melihat apapun. Tapi sekarang? Aku bisa melihat dengan jelas. Cahaya yang begitu terang dan menyilaukan, tapi seolah menjanjikan siksaan.
Ragaku kini terasa lemas tak berdaya. Setelah munculnya cahaya itu, seluruh perasaan takutku hilang begitu saja dan digantikan dengan rasa tunduk tak terbantahkan. Pikiranku terasa konslet saat itu juga.
"..."
Suara itu begitu keras! Sangat keras! Aku bisa mengerti, tapi aku tidak bisa kembali mengingat apa yang dia katakan. Aneh. Aku sangat yakin jika seluruh dunia bisa mendengar suaranya. Aku pasti akan dianggap gila jika berkata suara keras itu berasal dari cahaya menyilaukan tadi.
Dan satu keanehan muncul di benakku.
Pikiranku bisa berpikir layaknya orang normal. Lalu kenapa aku seolah tidak bisa menjalankan pikirku selayaknya.
Ketakutanku kembali hadir kala cahaya menyilaukan tadi menghilang dan digantikan dengan kegelapan total.
Lalu aku merasa sesuatu yang besar, keras, panjang, dan tumpul menghantam tubuhku sebanyak 10 kali. Aku bisa memprediksi jika tubuhku akan memar di beberapa tempat, atau mungkin semuanya.
Seluruh tubuhku seolah kembali mendapatkan sensitifitasnya namun masih kehilangan fungsi geraknya.
Pukulan tadi memang berhenti, namun terganti dengan sesuatu yang lain. Seperti sesuatu yang panjang dan lembek melingkari tubuhku. Aku rasa itu ular? Mungkin saja. Ular itu menjerat tubuhku, sangat ketat, aku bahkan bisa merasakan dan mendengar beberapa tulangku yang patah.
Tak sampai disitu saja, Aku juga bisa merasakan seseolah tubuhku dimakan oleh sesuatu. Dimakan? Iya. Rasanya seperti digigit semut. Tapi ini terlalu mengerikan rasanya. Daging dan kulitku seolah dikoyak paksa. Sangat perih.
Sesuatu seolah menghantamku paksa. Aku tak tahu pasti apa yang menghantamku tadi, tapi rasanya benar-benar sakit. Benda itu tak terdefinisikan.
Lalu aku kembali mendengar terikan kesakitan dan penuh keputusasaan.
Seluruh tubuhku bergetar hebat. Perasaan takut benar-benar memenuhi segala pikiran dan perasaanku.
Tapi, entah kenapa ditengah perasaan takut dan sakit yang tak terdefinisikan ini, Aku masih bisa berpikir dengan sangat normal dan sehat? Seolah-olah semua yang terjadi ini sangat tak mempan padaku. Aku bahkan bisa mendeskripsikan detail perasaan dan pikiranku.
"..."
Suara itu lagi. Suara kencang yang begitu tegas meminta kejelasan. Aku mendengarnya, Aku bisa memahaminya, Tapi aku tak bisa mengulangi ucapannya atau sekedar memikirkan ulang ucapan keras itu.
Sekarang... Aku tak bisa berpikir lagi.
Aku tidak tahu kenapa. Tapi, pikiranku seolah ditutup paksa secara perlahan.
Tapi percayalah, Sesuatu yang tak bisa kutebak wujudnya masih melingkupi tubuhku, menyiksa tubuhku semakin keras.
Dan satu pikiran kembali muncul, Kenapa setelah semua ini? Aku masih tak paham apa yang terjadi padaku.
Dimulai dari suara derap langkah kaki yang menjauh, Jiwa dan raga yang seolah terpisah paksa, Pikiran yang terus dan masih saja berjalan, Sensitifitas tubuhnya yang menurun, Cahaya yang menyilaukan mata, Ucapan yang bisa dia mengerti namun tak bisa ia ingat apa isinya, lalu hantaman benda keras yang tumpul, atau ribuan hewan kecil yang seolah memakan tubuhnya dan sesuatu seperi seekor ular yang mencengkram tubuhnya erat.
Aku... Pikuranku tertutup paksa... Aku tidak bisa... La...gi...