NovelToon NovelToon

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Part 1: Siapa?

System Glitch

Waktu: 07:15 AM

Kepalanya terasa seperti baru saja dihantam palu godam. Bukan sekadar pusing biasa, melainkan denyutan brutal yang seolah ingin membelah tengkoraknya menjadi dua.

Stella menarik napas dengan kasar, langsung tersedak oleh udara yang dipenuhi aroma menyengat. Bau alkohol murahan yang menguap bercampur dengan parfum bernuansa musk sintetik dan floral yang saking tajamnya, membuat isi perutnya bergejolak mual.

Ia membuka mata perlahan. Pandangannya kabur selama beberapa detik, dihiasi bintik-bintik hitam, sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar berpola ukiran emas yang luar biasa mewah. Sayup-sayup terdengar ritme konstan rintik hujan yang membentur kaca jendela besar di sisi ruangan.

Ini bukan kamarnya. Dan yang lebih penting... ini bukan hidupnya.

Ingatan terakhirnya sebelum kegelapan menelan kesadarannya adalah rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Sebuah kecelakaan? Penyakit? Semuanya masih terasa buram. Ia hanya ingat rasa dingin yang merayapi ujung-ujung jarinya, napas yang terputus, dan kemudian... tidak ada apa-apa. Kehampaan total.

"Ugh..." Stella mengerang, memaksakan diri untuk bertumpu pada sikunya dan duduk.

Tubuhnya terasa sangat aneh. Ada sensasi ringan yang tidak familier, tapi di saat yang sama otot-ototnya terasa lemas tak bertenaga, seolah ia baru saja berlari maraton sejauh puluhan kilometer.

Pandangannya menyapu sekeliling ruangan. Ia berada di sebuah Presidential Suite bergaya klasik khas Eropa. Dari celah gorden tebal berwarna burgundy yang sedikit terbuka, ia bisa melihat siluet gedung-gedung tua kota London yang diselimuti kabut pagi yang basah.

Namun, pesona kota London sama sekali tidak tercermin di dalam kamar ini. Kondisinya lebih mirip kapal pecah setelah diterjang badai.

Pecahan gelas kaca berserakan di atas karpet beludru merah, bantal-bantal sofa terlempar sembarangan ke segala arah, dan di ujung kasur king-size yang berantakan, teronggok sebuah gaun malam berwarna merah menyala yang robek parah di bagian kerahnya.

Dengan tangan yang masih gemetar, Stella menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

Napasnya tercekat seketika.

Matanya membelalak horor menatap tubuhnya sendiri. Ia hanya mengenakan pakaian dalam sutra hitam yang sangat, sangat minim.

Terlalu terbuka sampai-sampai ia merasa seperti sedang tidak memakai apa-apa. Kepanikan mulai merambat naik dari perut ke tenggorokannya, mencekik pita suaranya.

Tanpa membuang waktu, ia segera menyambar jubah mandi putih tebal berlogo The Grand Savoy London yang tersampir sembarangan di kursi terdekat.

Ia membungkus tubuhnya rapat-rapat, mengikat sabuknya kuat-kuat seolah itu adalah baju zirah pelindungnya, lalu terhuyung-huyung melangkah menuju kamar mandi bermarmer hitam di sudut ruangan.

Saat ia menyalakan lampu dan menatap bayangannya di cermin wastafel, Stella menahan napas. Tangannya mencengkeram tepi wastafel kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Orang asing menatap balik ke arahnya.

Wajah di cermin itu bukanlah wajahnya yang dulu. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa struktur wajah ini memiliki pesona yang sangat kuat.

Garis keturunan campuran Asia-Amerika terlihat sangat kental dan tegas tulang pipi yang tinggi dan elegan, mata monolid yang tajam namun memikat, serta hidung bangir yang proporsional.

Tidak ada rambut merah menyala yang norak, melainkan gelombang rambut gelap kecokelatan yang sebenarnya terlihat sangat mahal. Seharusnya, itu adalah wajah yang bisa membuat siapa saja menoleh dua kali di jalan.

Sayangnya, kecantikan alami itu terkubur di bawah riasan yang mengerikan dan berlebihan. Eyeliner hitam tebal telah meluber ke bawah matanya akibat air mata atau keringat, membuatnya terlihat seperti rakun yang kurang tidur.

Lipstik merah terang menodai gigi, dagu, bahkan sudut bibirnya. Rambut bergelombangnya kusut masai seperti sarang burung yang baru saja diterjang angin topan.

Belum lagi aroma parfum menyengat yang sedari tadi menguar dari pori-pori kulitnya sendiri.

Itu sama sekali bukan wanginya. Ia benci wangi semacam ini. Ia selalu lebih suka sesuatu yang tenang, menenangkan, seperti aroma White Tea & Peony.

"Apa-apaan ini? Tubuh siapa ini?" Stella bergumam, suaranya terdengar serak, parau, dan sangat asing di telinganya sendiri.

Ia dengan panik menyalakan keran berlapis emas. Air es yang dingin mengalir deras.

Stella menangkupkan air ke wajahnya, mencucinya secara brutal, menggosok sisa-sisa makeup tebal itu hingga kulitnya memerah, berharap semua kegilaan ini hanyalah mimpi buruk akibat demam tinggi.

Tiba-tiba, sebuah suara elektronik yang dingin, datar, dan tanpa emosi menggema tepat di dalam tengkoraknya. Bukan melalui telinga, melainkan beresonansi langsung di dalam otaknya.

[ Ding! ]

[ Mendeteksi anomali pada detak jantung Host. ]

[ Proses netralisasi racun tingkat menengah di dalam aliran darah sedang berlangsung... 90%... 100%. Selesai. ]

[ Sinkronisasi jiwa 100% berhasil. Selamat datang di London, Host. ]

Gerakan tangan Stella membeku di udara. Air menetes perlahan dari dagunya, jatuh ke dalam wastafel dengan bunyi tik... tik... tik... yang mendadak terdengar sangat keras.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Kamar mandi marmer itu kosong melompong. Hanya ada dirinya dan pantulannya di cermin.

"Siapa itu?! Siapa yang bicara?!" teriaknya, suaranya melengking menembus kesunyian kamar hotel mewah tersebut.

Jantungnya berdebar sangat kencang hingga nyaris melompat keluar dari rusuknya.

"Keluar! Jangan macam-macam denganku, aku bisa lapor kepolisian London sekarang juga! Di mana kau menyembunyikan speaker-nya?!"

[ Peringatan: Host terdeteksi mengalami tingkat kepanikan yang berisiko merusak pemulihan sel. Menyarankan Host untuk mengatur napas dan bersikap lebih rasional. ]

"Rasional?! Kau menyuruhku rasional setelah aku bangun di tubuh orang lain dan ada suara robot di kepalaku?!"

Stella menyambar sebuah botol kaca berisi bath salt dari rak, memegangnya tinggi-tinggi layaknya senjata mematikan.

Matanya menyalang liar ke setiap sudut ruangan, bersiap melempar botol itu ke siapa pun yang berani melangkah masuk.

Bukannya ketakutan atau memberikan ancaman balik, suara itu malah menghela napas.

Ya, suara elektronik tak berwujud itu terdengar menghela napas panjang dengan sangat manusiawi, seolah sedang menghadapi anak kecil yang merepotkan.

Tiba-tiba, udara di depan wajah Stella beriak. Setitik cahaya kebiruan muncul, berputar seperti pusaran air kecil, lalu membesar seukuran bola bisbol.

Cahaya itu meledak kecil dengan bunyi poof! yang pelan. Asap tipis mengepul di udara.

Dari balik asap itu, perlahan muncul sebuah siluet.

Itu adalah seekor rubah. Tapi bukan rubah biasa. Ukurannya tak lebih besar dari seekor anak kucing berusia dua bulan.

Bulunya seputih salju, terlihat luar biasa lembut dan bersih. Ia melayang begitu saja di udara, sekitar tiga puluh sentimeter dari wajah Stella, mengibaskan kesembilan ekor kecilnya dengan gerakan yang sangat elegan dan penuh kebanggaan.

Namun, yang membuat Stella kehilangan kata-kata hingga rahangnya nyaris jatuh ke lantai adalah ekspresi wajah hewan itu.

Rubah itu menyilangkan kedua kaki depannya di depan dada, menatap Stella dengan pandangan meremehkan yang luar biasa sombong.

Matanya yang berwarna biru es memancarkan kecerdasan dan keangkuhan yang tak wajar untuk seekor hewan peliharaan.

"Turunkan botol kaca itu, Bodoh. Kau pikir bisa melukaiku dengan benda murahan begitu? Atau kau mau memecahkannya lalu menangis karena kakimu tertusuk beling?"

Mulut kecil rubah itu bergerak, dan suara sarkas yang jernih keluar darinya, tak lagi terdengar seperti robot penerjemah.

Stella membelalak. Cengkeramannya mengendur. Botol bath salt di tangannya terlepas, jatuh berdebum ke atas keset handuk di lantai. "K-kucing mutan... bisa bicara?"

To be Continued

Bab 2: Transmigrasi & Sistem?

Masih di waktu yang sama.

Rubah itu menggeram pelan, telinganya terlipat ke belakang karena tersinggung. "Aku rubah ekor sembilan! Spesies legendaris, asal kau tahu! Namaku Vix, dan aku adalah Sistem Pemandu Eksekutif yang baru saja menyelamatkan nyawa menyedihkan mu lima menit yang lalu!"

Vix mendengus kesal, terbang sedikit lebih dekat hingga ujung hidung merah mudanya hampir menyentuh dahi Stella.

"Dengar, Nona Banyak-Tanya. Kau sekarang berada di dalam tubuh Stella Odette Rosewood. Dan asal kau tahu, nyawamu saat ini sedang berada di ujung tanduk."

"Tunggu, tunggu, tunggu... tubuh siapa? Rosewood?"

Tepat saat nama itu disebut, rasa sakit yang luar biasa kembali menyerang kepala Stella. Ia mengerang, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.

Rentetan ingatan asing mulai memaksa masuk, menabrak dinding pikirannya seperti kereta barang yang lepas kendali.

Kilasan cahaya lampu kelab malam elit. Suara musik dentuman bass yang memekakkan telinga. Wajah seorang gadis muda yang tersenyum manis... tidak, itu senyum licik.

Adik tirinya. Air mata buaya yang menetes membasahi pipi gadis itu. Sebuah gelas champagne kristal yang disodorkan padanya. Rasa pahit yang aneh di kerongkongannya saat ia menenggak minuman itu karena kesal.

Stella asli dikenal sebagai Nona Pembuat Onar dari keluarga Rosewood. Reputasinya selalu buruk, sikapnya selalu gegabah. Dan semalam, ia dengan bodohnya masuk ke dalam perangkap yang disiapkan dengan sangat sempurna.

"Ah... kepalaku sakit..." Stella memejamkan mata, mencoba menahan pusing yang mendera.

"Fokus, Host!" Vix menjentikkan salah satu ekor berbulunya dengan keras ke dahi Stella, membuat wanita itu terkesiap dan mengaduh pelan.

"Ini bukan waktunya untuk melamun! Kau baru saja diracun oleh saudari tirimu sendiri dengan dosis rendah yang mematikan. Sistem telah membersihkannya, tapi masalahmu belum selesai. Saat ini, reputasi mu sedang dalam proses dihancurkan habis-habisan di bawah sana."

Cahaya biru berkedip di depan mata Stella, dan sebuah layar tipis transparan melayang di udara, menampilkan teks yang menyala.

[ MISI HARIAN TERBUKA ]

MISI: Keluar dari kamar hotel ini tanpa tertangkap kamera wartawan.

Hadiah: 10 Poin Bertahan Hidup & 1 Botol Parfum Eksklusif White Tea & Peony.

Hukuman Gagal: Wajahmu akan terpampang di halaman utama seluruh portal berita London dengan judul besar 'Skandal Abad Ini: Pewaris Utama Rosewood Tertangkap Basah Menjual Diri di Hotel'. Reputasi akan turun sebanyak -50 Poin.

"Wartawan? Menjual diri?! Apa maksudmu?!" Stella berseru panik, matanya membesar membaca layar di depannya.

Ia mengabaikan Vix yang melayang, langsung berlari keluar dari kamar mandi menuju ke arah jendela besar di kamar.

Dengan tangan gemetar, ia menyibak gorden burgundy itu sedikit lebih lebar.

Di pelataran lobi hotel jauh di bawah sana, pemandangan yang terlihat sukses membuat darah Stella berdesir dingin.

Meski hujan gerimis masih membasahi kota London, sebuah kerumunan besar orang-orang yang memegang payung, microphone, dan kamera dengan lensa panjang sudah bersiaga. Mereka berdesakan di depan pintu masuk yang dijaga ketat oleh pihak keamanan hotel.

Mereka tampak persis seperti sekumpulan hyena yang kelaparan menunggu mangsanya dilempar ke luar.

Belum sempat Stella memproses semua kegilaan ini -fakta bahwa ia bertransmigrasi, berurusan dengan rubah ajaib super bawel, dan menjadi target pembunuhan- sebuah suara gedoran kasar tiba-tiba menghantam pintu utama kamar Presidential Suite-nya.

BAM! BAM! BAM!

Suara itu bergema ke seluruh penjuru ruangan, membuat Stella terlompat mundur dari jendela.

"Nona Rosewood! Kami tahu Anda di dalam! Tolong buka pintunya!"

Suara riuh sekumpulan orang yang berteriak dalam bahasa Inggris terdengar menembus kayu oak yang tebal. Mereka rupanya berhasil menyusup naik ke lantai VIP.

Kilatan cahaya flash kamera mulai terlihat berkedip-kedip dari celah bawah pintu utama, menerangi karpet koridor.

Jantung Stella berpacu gila-gilaan. Napasnya memburu. Pikirannya buntu. Ia benar-benar terjebak.

Di kamar hotel yang berantakan, di negeri orang yang dingin, hanya berbalut selembar jubah mandi, dengan reputasi yang tinggal menghitung detik menuju kehancuran total.

"Vix! Apa yang harus aku lakukan?! Kalau mereka masuk, habislah aku!" Stella menoleh ke arah si rubah, suaranya bergetar.

Vix melayang santai, seolah tidak terpengaruh oleh kekacauan itu. Ia malah menjilat cakar depannya dengan tenang. "Gunakan otakmu yang punya skor kecerdasan di atas rata-rata itu, Host. Sembunyi, lari, atau hadapi. Waktumu sepuluh detik sebelum pintu itu jebol."

Di tengah kepanikan Stella dan hiruk-pikuk suara para wartawan yang berlomba memanggil namanya, sebuah suara berat tiba-tiba membelah keributan di lorong luar.

Suara itu tidak berteriak, volumenya bahkan cukup rendah. Namun, nada dingin, datar, dan penuh otoritas mutlak di dalamnya langsung membuat setiap mulut di koridor itu tertutup rapat seketika. Hening merayap bagai mantra.

"Minggir."

Stella menahan napas. Bahkan dari dalam kamar yang terkunci, tanpa perlu melihat siapa pemilik suara itu, aura mendominasi yang gelap dan mengintimidasi terasa menembus pori-pori dinding tebal kamar ini. Bulu kuduk Stella meremang.

Vix yang masih melayang di udara mendecakkan lidahnya pelan, ekornya berhenti bergoyang.

"Oh, luar biasa. Hari pertamamu sungguh penuh kejutan. Selamat, Host. Pria yang baru saja bicara di luar sana itu adalah Neo Hayes Blake."

Mata Stella membelalak. Ingatan Nona Rosewood yang asli kembali berkelebat. Neo Hayes Blake. CEO Blake Group. Pria dingin, kejam, dan memiliki aura segelap malam.

Pria yang sudah berulang kali diganggu oleh Stella yang asli dengan cara-cara yang memalukan.

"Pria yang luar biasa membencimu, tepatnya," lanjut Vix dengan nada mengejek.

Dari luar, suara berat itu kembali terdengar, kali ini lebih dingin.

"Hancurkan pintunya."

Stella mundur selangkah. Tangannya mencengkeram erat kerah jubah mandinya.

BRAK!

Pintu utama yang terbuat dari kayu oak solid itu didobrak paksa dari luar dengan sekali hantaman kuat. Bunyi engsel yang patah dan nyaris terlepas dari bingkainya menggema memekakkan telinga.

Pintu terbuka lebar, dan sepasang kaki panjang yang dibalut setelan jas hitam bespoke melangkah masuk ke dalam kamar yang remang-remang, membawa serta hawa dingin kota London yang mematikan.

To be Continued

Part 3: Pertemuan Beku

System Glitch

Waktu: 07:18 AM

Pintu kayu oak solid yang harganya mungkin setara dengan sebuah mobil mewah itu kini tergantung mengenaskan pada satu engsel yang tersisa. Serpihan kayu bertebangan di udara, mendarat di atas karpet beludru merah bersamaan dengan keheningan mematikan yang mendadak menyelimuti seluruh ruangan.

Stella berdiri membeku di tengah ruangan. Jari-jarinya mencengkeram kerah jubah mandi putihnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah jubah berbahan handuk itu adalah satu-satunya perisai yang bisa melindunginya dari malapetaka. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Di ambang pintu yang hancur, berdirilah seorang pria.

Neo Hayes Blake.

Bahkan tanpa ingatan dari tubuh asli Stella Rosewood, siapa pun yang memiliki akal sehat pasti tahu bahwa pria ini bukanlah seseorang yang bisa diajak bercanda.

Neo memiliki postur tubuh yang luar biasa proporsional menjulang setinggi 184 sentimeter, bahunya lebar, dan posturnya tegap sempurna. Ia dibalut setelan jas bespoke tiga potong berwarna charcoal gelap yang dipotong tanpa cela, memeluk tubuhnya seolah memang dijahit langsung di atas kulitnya.

Namun, bukan pakaian mahalnya yang membuat darah Stella berdesir dingin, melainkan aura mematikan yang menguar darinya.

Tatapan mata pria itu... sungguh mengerikan. Mata gelap yang menyerupai warna obsidian itu tajam, sedingin es, dan sama sekali tidak memancarkan emosi selain rasa muak yang absolut.

Saat Neo melangkah masuk melintasi ambang pintu, Stella bisa merasakan perubahan tekanan udara di dalam Presidential Suite tersebut.

Aroma menyengat dari alkohol murahan dan parfum menor yang sedari tadi membuat Stella mual, mendadak tersapu bersih.

Sebagai gantinya, indra penciuman Stella langsung diserbu oleh wangi Dark Musk, Leather, dan Bergamot yang maskulin, pekat, dan mendominasi.

Aroma itu seolah mengklaim seluruh udara di ruangan ini sebagai miliknya.

Di belakang Neo, lorong yang beberapa detik lalu riuh oleh teriakan para wartawan kini senyap.

Empat orang pria bertubuh kekar dengan setelan hitam tampak berdiri membentuk barikade, merampas setiap kamera dan alat perekam dari tangan para hyena berita itu tanpa banyak bicara.

Para wartawan yang tadinya agresif kini menunduk pucat pasi, tak ada satu pun yang berani memprotes ketika asisten Neo menghapus memori kamera mereka satu per satu.

"Vix..." Stella berbisik sangat pelan dari sela giginya, matanya tak berani lepas dari sosok Neo. "Apa yang dia lakukan di sini? Kenapa dia mendobrak pintuku?"

Di udara kosong tepat di sebelah kanan Stella, rubah kecil berekor sembilan itu melayang sambil bersedekap. Vix mendengus kecil, menatap Neo dengan pandangan menilai layaknya seorang juri kontes kecantikan.

"Kau tidak tahu? Lantai teratas The Grand Savoy London ini hanya memiliki dua kamar Presidential Suite. Kau menempati Suite Timur, dan Tuan Sempurna yang sedang menatapmu dengan jijik itu menempati Suite Barat. Kau dan wartawan-wartawan murah di luar sana telah mengganggu ketenangan pagi harinya yang berharga," sahut Vix santai, ekornya bergoyang perlahan menciptakan percikan cahaya biru tipis yang tentu saja hanya bisa dilihat oleh Stella.

Stella menelan ludah. Bagus sekali. Dari sekian banyak hotel mewah di London, kenapa saudari tirinya harus menjebaknya di hotel yang sama dengan pria yang paling membenci Stella Rosewood? Saudari tirinya itu benar-benar merencanakan kehancurannya dengan sangat teliti.

Neo berhenti melangkah tepat tiga meter di hadapan Stella. Pandangan pria itu menyapu ke sekeliling ruangan yang berantakan ke arah gaun merah yang robek, botol-botol minuman yang berserakan, lalu kembali menatap wajah Stella.

Tidak ada ketertarikan sama sekali dalam tatapannya. Meskipun tubuh di balik jubah mandi putih ini dikenal sebagai salah satu sosialita paling dipuja (sekaligus paling dibenci) di kalangan elit, Neo menatapnya seolah Stella adalah seonggok sampah basah yang menjijikkan dan merusak pemandangan paginya.

"Liam," panggil Neo. Suaranya berat, dalam, dan serak, seolah menggetarkan lantai marmer di bawah kaki Stella.

Seorang pria berkacamata yang mengenakan setelan rapi segera melangkah masuk dari luar pintu, menunduk hormat. "Ya, Tuan Blake."

"Pastikan semua sampah di lorong itu dibersihkan dalam waktu dua menit. Jika ada satu saja foto yang bocor atau ada media yang berani menyebut nama hotel ini dalam berita murahan mereka, pastikan perusahaan media mereka gulung tikar sebelum makan siang," perintah Neo tanpa nada.

"Baik, Tuan. Kamera dan ponsel mereka sudah kami sita sementara," jawab Liam cepat sebelum kembali melangkah keluar untuk mengurus kekacauan di koridor.

Kini, hanya tinggal Stella dan Neo di dalam ruangan itu yah, ditambah seekor rubah cerewet tak kasatmata yang kini melayang di atas lampu gantung kristal.

Neo memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana panjangnya. Ia menatap Stella yang masih berdiri kaku seperti patung es.

"Aku tidak peduli permainan murahan apa yang sedang kau mainkan kali ini, Rosewood," ucap Neo dingin.

Kata-katanya tajam bak sembilu yang menyayat udara kosong. "Tapi ini adalah peringatan pertama dan terakhirmu. Jangan bawa sirkus menjijikkanmu ke lantai tempatku menginap."

Stella menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdebar kencang antara rasa takut, panik, dan... amarah yang tiba-tiba mendidih.

Tunggu sebentar. Dirinya memang baru saja bertransmigrasi ke tubuh ini, dan reputasi Stella yang asli memang hancur lebur.

Tapi ditegur dan direndahkan seperti ini di saat ia sendiri sedang menjadi korban percobaan pembunuhan benar-benar menyentil egonya.

Di kehidupan sebelumnya, ia bukan wanita lemah yang bisa diinjak-injak dengan mudah.

Stella mengangkat dagunya sedikit, memaksa dirinya membalas tatapan obsidian pria itu. "Aku... aku tidak mengundang sirkus ini ke sini."

Suara Stella terdengar parau dan serak akibat sisa racun di tenggorokannya, jauh dari nada tinggi dan manja yang biasanya digunakan Stella Rosewood yang asli setiap kali berbicara dengan Neo.

Alis kanan Neo berkedut samar, sebuah gerakan sekilas yang nyaris tak tertangkap mata. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita di depannya.

Ada yang aneh. Biasanya, jika Stella Rosewood berada dalam situasi seperti ini, wanita itu akan langsung menangis tersedu-sedu dengan dibuat-buat, atau melemparkan tubuhnya ke arah Neo untuk memohon perlindungan dengan gaya centil yang selalu membuat perut Neo mual.

Tapi wanita di depannya ini tidak melakukan itu. Stella memeluk dirinya sendiri dengan kuat, tatapan matanya waspada bak hewan liar yang tersudut, dan... tidak ada sorot memuja atau obsesi gila di matanya seperti biasa.

Hanya ada kepanikan, dan kilatan kemarahan yang tertahan.

"Tidak mengundang?" Neo mengulang ucapan Stella dengan nada sarkas yang luar biasa membekukan.

Sudut bibirnya tertarik sebelah, membentuk seringai sinis. "Lalu apa ini? Sebuah pertunjukan amal? Kau sengaja memesan kamar di seberangku, mengundang puluhan wartawan di pagi buta, dan mabuk sampai kehilangan akal hanya untuk menarik perhatianku? Trikmu semakin hari semakin menyedihkan, Stella."

"Astaga, tingkat kepercayaan diri pria ini benar-benar tidak tertolong," suara Vix tiba-tiba mengalun dari atas lampu gantung.

Rubah itu melayang turun hingga sejajar dengan wajah Stella. "Hei, Host. Bilang padanya bahwa kau lebih baik menelan pecahan kaca botol wine itu daripada harus mencari perhatian pria kaku sepertinya."

Mata Stella melirik tajam ke arah Vix, mengisyaratkan rubah itu untuk tutup mulut.

Namun di mata Neo, gerakan mata Stella yang mendelik ke udara kosong itu terlihat seperti orang yang sedang berhalusinasi.

Neo mendengus pelan, rahangnya mengeras. "Kau mabuk berat, Rosewood. Atau mungkin menggunakan obat-obatan terlarang. Aku tidak tahu dan aku tidak peduli. Kau mengotori reputasi hotel ini."

"Aku tidak mengonsumsi obat apa pun!" Stella tak bisa menahan diri untuk tidak membalas.

Ia melangkah maju satu tindak, meski kakinya masih sedikit gemetar. "Dan untuk informasimu, Tuan Blake, aku sama sekali tidak tahu kau ada di lantai ini. Aku dijebak. Jika kau mengira semua kekacauan ini tentangmu, maka maafkan aku, karena dunia ini tidak selalu berputar mengelilingimu!"

Keheningan kembali jatuh dengan bobot yang mencekik.

Liam, yang baru saja kembali ke ambang pintu untuk melaporkan bahwa lorong sudah bersih, mematung di tempat. Matanya sedikit melebar di balik kacamata.

Tidak pernah ada yang berani berteriak membalas ucapan Neo Hayes Blake, apalagi seorang Stella Rosewood yang biasanya menempel pada Neo bagai lintah.

Mata Neo menyipit berbahaya. Tatapannya menelusuri wajah Stella, dari rambut kusut masainya, riasan berantakan bak panda, hingga mata cokelat gelap wanita itu yang kini menatapnya dengan penuh perlawanan.

Ada keheningan panjang yang menegangkan. Stella menelan ludah, mulai menyesali keberaniannya yang impulsif. Aura gelap Neo seolah semakin mengembang, menekan pasokan oksigen di ruangan itu.

Namun, alih-alih meledak marah, Neo memutar tubuhnya. Ia seolah menganggap berdebat dengan Stella adalah sebuah pemborosan energi yang sia-sia.

"Lima belas menit," ucap Neo tanpa menoleh, langkah kaki mahalnya mengetuk lantai marmer saat ia berjalan menuju pintu yang hancur.

"Aku beri waktu lima belas menit sebelum manajer hotel naik ke sini bersama pihak keamanan untuk mengusir mu secara resmi dari properti ku. Jika kau masih ada di gedung ini saat itu terjadi, aku sendiri yang akan memastikan kau dilempar keluar lewat pintu belakang bersama tumpukan sampah."

Stella melebarkan matanya. "Properti mu? Hotel ini milikmu?!"

Neo bahkan tidak repot-repot membalas. Pria itu melangkah keluar, diikuti oleh para pengawalnya.

Liam sempat memberikan tatapan kasihan yang tersembunyi ke arah Stella sebelum akhirnya membungkuk sopan dan menutup kembali sisa-sisa pintu yang rusak itu sebaik mungkin dari luar.

Hening kembali merajai Presidential Suite tersebut, diselingi suara hujan deras di luar sana.

Kaki Stella mendadak kehilangan kekuatannya. Ia merosot, duduk berlutut di atas karpet beludru, menghirup udara rakus-rakus.

Jantungnya masih berdetak liar di dadanya. Berhadapan langsung dengan karakter antagonis sekaligus villain berdarah dingin di dunia ini benar-benar menyita seluruh energinya.

[ Ding! ]

[ Peringatan Waktu! Misi Harian: Keluar dari kamar hotel tanpa tertangkap kamera wartawan. Sisa waktu: 14 Menit 59 Detik. ]

Layar holografik biru menyala kembali di depan wajah Stella, lengkap dengan bunyi detik jam yang berdetak mundur.

To be Continued

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!