"Ayah... tolong bawa aku pergi!"
Suara tangis seorang gadis kecil memecah kesunyian hutan.
Begitu mendengar kalimat itu, jantung Seina berdegup keras. Ia menoleh ke arah saudari kembarnya yang tengah memeluk erat kaki seorang pria berpakaian mewah.
Saat itulah Seina menyadari bahwa Sora juga terlahir kembali.
Tatapan Sora, sorot matanya, hingga cara gadis itu bertindak sama sekali tidak menyerupai anak berusia enam tahun.
Senyum tipis muncul di bibir Seina. 'Kalau begitu... semuanya akan jadi lebih baik..'
***
Dalam kehidupan sebelumnya, Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka ketika baru berusia enam tahun.
Pada masa itu, kelahiran anak kembar dianggap sebagai pertanda sial.
Sejak hari pertama mereka lahir, sang nenek bersama ayah kandung mereka telah berkali-kali mengusulkan agar kedua bayi itu ditenggelamkan.
Namun sang ibu tidak tega, mereka adalah anak pertama yang ia lahirkan dengan susah payah.
Dengan air mata bercucuran, ia memohon kepada suami dan ibu mertuanya agar kedua putrinya diberi kesempatan hidup. Setelah perdebatan panjang, keluarga itu akhirnya mengalah, meski mereka sama sekali tidak pernah menerima keberadaan si kembar.
Enam tahun kemudian, semuanya berubah.
Sang ibu akhirnya melahirkan seorang putra. Kini, bahkan perempuan yang selama ini mati-matian melindungi mereka pun tak lagi sanggup mempertahankan kedua putrinya.
Saat negeri dilanda kelaparan, ia tidak tega menenggelamkan anak-anaknya, tetapi juga tak mampu membesarkan mereka.
Pada akhirnya, ia memilih jalan paling kejam yaitu meninggalkan kedua putrinya di tengah hutan belantara, berharap ada keajaiban yang menyelamatkan mereka.
Atau membiarkan takdir menentukan hidup dan mati mereka.
Tak lama setelah itu, dua kereta kebetulan melintas melewati jalan yang sama.
Salah satunya milik Samuel Hartono, seorang pejabat ibu kota yang memiliki kedudukan tinggi.
Kereta lainnya milik Yohan Pratama, seorang pria desa sederhana yang hidup berkecukupan, tetapi jauh dari kemewahan.
Melihat dua anak kecil yang menangis kelaparan di pinggir jalan, keduanya sama-sama merasa iba.
Mereka memutuskan mengangkat masing-masing seorang anak.
Seina dibawa pulang oleh Samuel dan sejak hari itu, kehidupannya berubah drastis.
Ia tumbuh sebagai putri keluarga Hartono yang terpandang. Makanan lezat, pakaian indah, pendidikan terbaik, hingga kasih sayang keluarga angkat mengiringi masa kecilnya.
Sementara itu Sora dibawa pulang oleh keluarga Pratama yang tinggal di sebuah desa.
Keluarga itu hidup sederhana. Rumah mereka kecil, pakaian mereka tambal sulam, dan setiap butir nasi diperoleh melalui kerja keras. Namun, keluarga Pratama memiliki sesuatu yang bahkan tidak dimiliki banyak keluarga kaya yaitu kasih sayang.
Yohan dan istrinya, Mira, telah memiliki lima orang putra.
Sejak lama mereka mendambakan seorang anak perempuan. Sayangnya, setelah melahirkan anak kelima, Mira mengalami komplikasi sehingga tak mungkin lagi mengandung.
Karena itulah, saat Sora hadir dalam hidup mereka, seluruh kasih sayang yang selama ini tersimpan langsung tercurah kepada gadis kecil itu.
Apa pun yang terbaik selalu diberikan kepadanya. Jika ada makanan enak, Sora yang pertama mencicipinya.
Jika ada kain bagus, Sora yang lebih dahulu dibuatkan pakaian.
Kelima kakak angkatnya yang semula canggung perlahan benar-benar menerima Sora sebagai adik kandung mereka sendiri.
Sayangnya, kasih sayang tidak mampu menghapus ambisi seseorang.
Semakin dewasa, Sora mulai merasa iri.
Mengapa dirinya harus hidup di desa miskin, sementara saudari kembarnya menikmati kehidupan sebagai putri keluarga bangsawan?
Ketika mendengar bahwa Seina bahkan menikah dengan pewaris keluarga bangsawan terbesar di ibu kota, rasa iri itu berubah menjadi kebencian.
'Mengapa Seina memperoleh segalanya?'
'Mengapa dirinya harus hidup sederhana?'
Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan menggerogoti hati Sora hingga ia rela melakukan apa pun demi merebut kehidupan sang adik.
Saat Seina berkunjung ke Kuil Cahaya untuk berdoa, Sora sengaja mendekatinya.
Seina yang berhati lembut tidak pernah melupakan saudari kembarnya. Karena rasa iba, ia membawa Sora tinggal di kediaman keluarga bangsawan.
Namun ia tidak sadar telah mengundang seekor serigala masuk ke dalam rumah.
Sora menggunakan kecantikannya untuk menggoda sang pewaris keluarga bangsawan hingga akhirnya berhasil menjadi selir.
Perbuatannya membuat Yohan dan Mira begitu terpukul. Mereka jatuh sakit akibat rasa malu dan amarah yang tak mampu ditahan.
Tak lama kemudian, keduanya meninggal dunia, lalu kelima kakak angkat Sora memutuskan hubungan dengannya.
Sejak hari itu Sora tidak lagi memiliki keluarga. Namun ambisinya belum berhenti. Ia terus menjebak Seina, menyebarkan fitnah, hingga akhirnya mencoba meracuninya agar dapat menggantikan posisi sang adik sebagai nyonya keluarga bangsawan.
Rencananya gagal dan ia diusir dari kediaman itu tanpa membawa apa pun.
Kehidupannya pun jatuh ke titik paling rendah dimana kelaparan memaksanya menjual diri.
Tak lama kemudian, penyakit ganas merenggut nyawanya dalam kesendirian.
Sementara itu, racun yang pernah diberikan Sora memang berhasil disembuhkan. Namun tubuh Seina tak pernah pulih sepenuhnya.
Kesehatannya terus memburuk dari tahun ke tahun. Hingga akhirnya, pada usia dua puluh delapan tahun, ia mengembuskan napas terakhir.
***
Ketika kembali membuka mata...
Seina mendapati dirinya berada di jalan tanah yang sunyi. Tubuhnya kembali menjadi tubuh anak kecil berusia enam tahun.
Ia menoleh ke samping dan mendapati Sore kecil berdiri disana, tepat seperti hari ketika mereka pertama kali dibuang oleh orang tua kandung mereka.
"Adikku, sini. Kakak bersihin debu di wajahmu."
Sambil berkata demikian, Sora mengambil segenggam tanah lalu mengusapkannya ke wajah Seina.
Seina hanya memandanginya, kemudian ia tersenyum tipis.
'Jadi begitu ya.. Sepertinya Kak Sora juga kembali ke masa lalu dan ingin merebut kehidupanku yang dahulu..'
"Kenapa senyum?" tanya Sora sambil terus mengotori wajah Seina.
Seina menggeleng pelan dan menjawab "Tidak apa-apa."
Dalam hati, ia justru merasa lega.
'Kalau Kak Sora memang begitu menginginkan kehidupan mewah itu, silahkan saja ambil.. itu lebih bagus..'
"Kakak..." Seina menatap wajah Sora dengan mata polos. "Orang tua kita sudah membuang kita. Tapi aku masih punya Kakak, kan?"
Sora mengangguk sambil tersenyum.
"Tentu saja. Mulai sekarang kita hanya punya satu sama lain." Meski bibirnya berkata demikian, dalam hatinya ia mencibir.
'Sebentar lagi kita akan berpisah. Kali ini aku yang akan menjadi putri keluarga kaya. Sedangkan kau... rasakan sendiri hidup miskin yang pernah ku alami.'
Selesai mengotori wajah Seina hingga tampak seperti pengemis kecil, Sora tersenyum puas.
Dalam kehidupan sebelumnya, Samuel memilih Seina karena wajahnya bersih dan cantik, tapi sekarang ia yakin pilihan itu akan berubah.
"Kenapa Kakak nggak ikut mengotori wajah sendiri?" tanya Seina polos.
Sora tersenyum tipis.
"Kakak harus melindungimu. Kalau ada orang jahat, biar Kakak yang menghadapi mereka."
Mendengar alasan itu, Seina berpura-pura terharu.
"Kakak baik sekali." Sambil berkata demikian, ia mengambil segenggam tanah lalu mengusap wajah Sora.
"Kakak juga harus aman."
"Apa yang kamu lakukan!"
Sora langsung mendorong tubuh Seina hingga terjatuh ke tanah. Dengan panik ia mengusap wajahnya menggunakan lengan baju.
Seina segera menangis keras.
"Jadi... Kakak bohong ya.. kakak sengaja mengotori wajahku.. Kakak sebenarnya nggak mau melindungiku..."
Sora hanya mendecakkan lidah.
'Syukurlah.. Sepertinya Seina tidak ikut terlahir kembali. Kalau tidak, rencanaku pasti akan gagal.'
Tepat saat itu, dari kejauhan terdengar suara derap roda kereta.
Klak... klak... klak...
Mata Sora langsung berbinar, dengan cepat ia membersihkan wajahnya hingga kembali bersih, lalu berdiri di tepi jalan sambil menangis tersedu-sedu.
Tak lama kemudian, sebuah kereta mewah berhenti tepat di hadapan mereka lalu seorang pria paruh baya mengenakan jubah mahal turun dari dalam kereta.
Itu adalah Samuel Hartono, ayah angkat Seina pada kehidupan sebelumnya.
Samuel berjongkok di hadapan gadis kecil itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa iba.
"Anak kecil... kenapa kamu sendirian di tempat seperti ini? Hari sudah mulai gelap. Di mana orang tuamu?"
Air mata menggenang di pelupuk mata Sora. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Aku... sudah tidak punya rumah."
Ia menunduk pelan, lalu menatap Samuel penuh harap.
"Aku lapar... Bolehkah Paman membawaku pergi?"
Samuel Hartono menatap gadis kecil di hadapannya dengan mata berbinar. Entah mengapa, hatinya dipenuhi kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Dalam benaknya terlintas sebuah pikiran sederhana.
'Mungkinkah anak ini adalah berkah yang dikirim Tuhan untukku?'
Tanpa ragu, ia mengambil keputusan.
Mulai hari itu, ia akan mengangkat anak perempuan tersebut sebagai putrinya.
Orang-orang tua sering berkata bahwa pasangan yang belum dikaruniai anak sebaiknya mengadopsi seorang anak terlebih dahulu. Siapa tahu, setelah itu rezeki keturunan akan datang dengan sendirinya.
Samuel tersenyum kecil. Hari ini benar-benar membawa keberuntungan. Ia hanya berniat mengubah rute perjalanan agar tiba lebih cepat di ibu kota, tetapi tak disangka justru menemukan seorang anak perempuan.
Ia berjongkok di depan gadis kecil itu.
"Siapa namamu?"
Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan.
"Sora."
Samuel mengangguk sambil tersenyum hangat.
"Kalau begitu, mulai hari ini kau adalah putriku. Namamu tetap Sora Hartono."
Saat hendak mengajak Sora pergi, Samuel baru menyadari masih ada seorang anak perempuan lain yang berdiri tak jauh dari sana. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, dan wajahnya dipenuhi debu.
Ia menoleh kepada Sora dan bertanya, "Siapa anak itu?"
Seina menggeleng pelan.
"Aku tidak mengenalnya. Tapi dia terlihat sangat kasihan. Ayah... kenapa tidak membawa dia pulang bersama kita?"
Ucapan itu sengaja diucapkan Sora agar terlihat berhati lembut di mata ayah angkatnya.
Ia masih mengingat dengan jelas kehidupan sebelumnya.
Saat itu, adiknya menangis sambil memohon agar ikut dibawa oleh Samuel. Namun pria itu menolak mentah-mentah.
"Di keluarga Hartono hanya boleh ada satu putri."
Benar saja.. detik kemudian, Sora pergi bersama Samuel. Sementara itu, Seina malah tersenyum.
"Akhirnya.. Selamat berjuang Sora!"
Tak lama kemudian, seorang pria lain muncul, jelas sekali itu adalah Yohan Pratama.
Dari kejauhan, Sora yang memandang Seina dari jendela bisa melihat Yohan mengenakan pakaian yang jauh lebih rapi dibandingkan orang-orang desa pada umumnya, tiba-tiba kenangan masa lalunya langsung terbesit.
Dahulu, Sora kecil langsung mengira pria itu berasal dari keluarga kaya. Tanpa pikir panjang, ia berlari memeluk kaki Yohan.
Baru setelah tinggal bersama keluarga Pratama, Sora mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Pakaian bagus itu hanyalah satu-satunya pakaian terbaik milik Yohan, dikenakan khusus karena baru saja pulang mengunjungi kerabat.
Keluarga Pratama sendiri hidup sederhana. Mereka mencari sayuran liar, bekerja keras setiap hari, dan hanya mampu makan makanan seadanya.
Sekarang Sora merasa lega, karna kali ini Seina yang akan menjalani kehidupan miskin itu.
Yohan baru saja pulang dari rumah kerabat. Demi mempersingkat perjalanan, ia memilih melewati jalan hutan ini.
Melihat seorang anak kecil berdiri sendirian di tengah udara dingin, hatinya langsung terasa perih.
Tanpa berpikir panjang, ia melepaskan mantel yang dikenakannya lalu menyelimuti tubuh mungil Seina.
Seina menggenggam lengan pria itu perlahan, dengan mata bening yang berkaca-kaca, ia bertanya lirih, "Maukah... menjadi ayahku?"
Sebenarnya ia sedikit malu mengucapkan kalimat itu. Namun jika tetap sendirian di tempat ini, ia bisa mati kedinginan sebelum pagi tiba.
Yohan terdiam beberapa saat, hatinya langsung luluh.
Sejak lama ia dan istrinya mendambakan seorang anak perempuan. Namun setelah lima kali kehamilan, yang lahir justru lima anak laki-laki.
Lebih menyedihkan lagi, Mira mengalami komplikasi saat melahirkan anak kelima sehingga tak mungkin memiliki anak lagi.
Penyesalan itu selalu menghantui mereka.
Yohan kembali bertanya dengan suara lembut.
"Siapa namamu?"
"Seina."
"Lalu... di mana orang tuamu?"
Sora menggeleng.
"Aku tidak punya siapa-siapa."
Mata Yohan langsung memerah. Dalam hati ia merasa Tuhan benar-benar mengabulkan doanya.
Ia tersenyum lebar.
"Kalau begitu, mulai hari ini kau adalah putriku."
"Namamu adalah Seina Pratama."
Yohan segera berjongkok.
"Ayo naik. Ayah akan menggendongmu pulang."
Di dalam kereta yang melaju menuju ibu kota, Sora menyaksikan semuanya melalui celah tirai.
Sudut bibirnya terangkat.
Sementara itu, Yohan menggendong Sora sepanjang perjalanan menuju desa.
Awalnya Sora merasa canggung, namun perlahan ia mulai terbiasa.
Punggung pria itu terasa hangat. Mantel yang menyelimuti tubuhnya berhasil mengusir hawa dingin yang selama ini menusuk tulang.
Perasaan seperti ini belum pernah ia rasakan pada kehidupan sebelumnya.
Samuel terlalu sibuk mengejar jabatan sehingga jarang berada di rumah.
Sedangkan Selena Hartono, ibu angkatnya, selalu memandangnya dengan kebencian.
Wanita itu menganggap kehadiran Seina hanyalah pengingat bahwa dirinya tak kunjung memiliki anak.
Sejak hari pertama, Selena tidak pernah benar-benar menerima Seina sebagai putrinya.
Kini roda takdir mulai berputar kembali.
Sora memasuki keluarga Hartono dan menikmati kehidupan sebagai putri bangsawan. Sedangkan Seina mengikuti Yohan menuju rumah kecil keluarga Pratama.
Sepanjang perjalanan, Yohan terus mengajaknya mengobrol, membuat Seina perlahan memahami seperti apa rasanya memiliki seorang ayah yang benar-benar menyayanginya.
Jalan menuju desa dipenuhi bebatuan.
Melihat alas kaki Sora yang sudah hampir rusak, Yohan sama sekali tidak tega membiarkan putrinya berjalan.
"Nanti Ayah minta Ibumu membuatkan sepatu baru."
Seina hanya tersenyum pelan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah sederhana beratap jerami. Yohan menurunkan Sora dari punggungnya, lalu menggenggam tangan kecil gadis itu.
"Nak... kita sudah sampai di rumah."
Ia menarik napas panjang sebelum berseru dengan penuh semangat ke arah dalam rumah.
"Mira! Cepat keluar! Kita akhirnya punya putri!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!