Bau mesiu dan amis darah bercampur menjadi satu dengan udara dingin di dalam gudang pelabuhan bawah tanah pinggiran kota London. Di luar, hujan badai menyamarkan suara tembakan, namun di dalam ruangan beton ini, setiap desingan peluru terdengar seperti lonceng kematian.
Lin Meilin, agen intelijen taktis nomor satu dari organisasi lintas negara The Ghost, menyandarkan punggungnya pada pilar semen yang retak. Napasnya memburu, pendek dan berat. Tangan kanannya yang dibalut sarung tangan taktis hitam menekan luka tembak di perut kirinya. Darah segar terus merembes keluar, membasahi seragam tempur ketat yang dipakainya.
Mata elangnya menatap tajam ke arah tas logam perak yang tergeletak beberapa meter di depannya. Di dalam tas yang terbuka itu, sebuah giok berbentuk lingkaran dengan ukiran naga melingkar memancarkan kilau hijau zamrud yang aneh. Itu adalah Giok Dinasti Long, artefak kuno tak ternilai harganya yang menjadi target misinya malam ini.
"Meilin, menyerahlah. Kau sudah tidak punya jalan keluar."
Sebuah suara yang sangat familier terdengar dari balik kegelapan koridor gudang. Sepatu bot militer melangkah pelan, mendekat dengan ritme yang teratur.
Meilin mendongak, matanya menyipit penuh kilatan dingin saat melihat sosok pria yang berjalan keluar dari bayang-bayang. Pria itu memegang pistol berperedam suara, wajahnya yang tampan tampak datar tanpa emosi.
"Davin," desis Meilin. Suaranya serak namun tetap terdengar tajam. "Ternyata kau pengkhianatnya."
Davin, rekan seperjuangan Meilin selama tujuh tahun di organisasi, berhenti tiga langkah di depan Meilin. Ia mengarahkan moncong pistolnya tepat ke dahi Meilin.
"Ini bukan personal, Meilin. Seseorang di atas sana membayar terlalu mahal untuk Giok Dinasti Long ini. Jika kau menyerahkannya sejak awal di kapal pesiar tadi, kau tidak perlu mati mengenaskan di tempat kotor seperti ini," ujar Davin dingin.
Meilin terkekeh pelan. Kekehannya terdengar sinis dan meremehkan. Sebagai agen top yang ahli dalam racun dan taktik militer, ia telah menghadapi ratusan situasi hidup dan mati. Namun, dikhianati oleh orang yang paling ia percayai memberikan rasa sakit yang berbeda.
"Kau tahu aturan The Ghost, Davin," Meilin menggerakkan tangan kirinya dengan sangat pelan ke arah saku sabuk taktisnya, tempat ia menyimpan tabung jarum racun mini. "Sesuatu yang sudah masuk ke tanganku, tidak akan pernah berpindah tangan dalam keadaan hidup."
"Kalau begitu, matilah."
Syuut!
Satu tembakan berperedam bersarang di dada kanan Meilin. Tubuh Meilin terdorong ke belakang, menabrak pilar beton sebelum akhirnya terjatuh ke lantai. Rasa dingin yang mematikan mulai menyebar ke seluruh saraf tubuhnya. Pandangannya mulai mengabur, namun kesadarannya sebagai seorang profesional menolak untuk padam begitu saja.
Sebelum Davin sempat mendekat untuk mengambil tas berisi artefak tersebut, Meilin mengumpulkan sisa kekuatan terakhirnya. Ia berguling ke depan, meraih Giok Dinasti Long dengan tangan kanannya yang sudah bersimbah darah kental.
Deg.
Tepat saat telapak tangan Meilin yang penuh darah menyentuh permukaan giok, artefak kuno itu tiba-tiba bergetar hebat. Darah Meilin terserap ke dalam ukiran naga dengan kecepatan kasat mata. Cahaya hijau zamrud yang awalnya redup mendadak meledak, memancarkan sinar silau yang memenuhi seluruh ruangan gudang bawah tanah.
"Apa yang terjadi?!" Davin berteriak, melangkah mundur sambil menutupi matanya yang perih akibat cahaya yang teramat terang.
Meilin tidak bisa mendengar suara Davin lagi. Ia merasa tubuhnya seringan kapas, ditarik oleh pusaran energi tak kasat mata masuk ke dalam lubang hitam yang dalam. Rasa sakit akibat luka tembak di tubuhnya lenyap, digantikan oleh sensasi dingin yang menusuk tulang. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, hal terakhir yang ia lihat adalah bayangan seekor naga hijau yang melesat ke arah jiwanya.
----
"Permaisuri! Permaisuri, sadarlah! Hamba mohon jangan tinggalkan hamba!"
Suara tangisan histeris seorang gadis memecah keheningan.
Lin Meilin membuka matanya dengan sentakan tiba-tiba. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang membakar di tenggorokannya, seolah-olah ia baru saja menelan arang membara. Ia terbatuk hebat, menghirup udara dengan rakus.
"Uhuk! Uhuk!"
"Permaisuri! Anda masih hidup! Syukurlah, Langit masih mendengar doa hamba!"
Meilin mencoba menegakkan tubuhnya, namun seluruh persendiannya terasa lemas dan kaku. Ia memandangi tangannya sendiri. Kulit tangan itu putih pucat, jemarinya ramping dan halus tanpa kapalan—sangat berbeda dengan tangan seorang agen rahasia yang terbiasa memegang senjata api dan pisau taktis.
Ia menoleh ke sekeliling. Tempatnya berada saat ini bukanlah gudang medis atau rumah sakit, melainkan sebuah kamar tidur kuno yang sangat memprihatinkan. Kelambu tempat tidurnya sudah robek di beberapa bagian, debu tebal menempel di meja kayu yang lapuk, dan angin malam berembus masuk melalui celah jendela yang rusak.
Di samping tempat tidurnya, seorang gadis remaja berusia sekitar lima belas tahun mengenakan pakaian pelayan kuno berwarna hijau pudar sedang berlutut sambil menangis sesenggukan. Wajah gadis itu penuh air mata dan memar keunguan di pipi kirinya.
Di mana ini? Siapa mereka? batin Meilin waspada.
Insting agen rahasianya langsung bangkit. Ia mencoba meraba pinggangnya untuk mencari pisau, namun yang ia temukan hanyalah kain sutra tipis yang membungkus tubuhnya yang lemah.
Tiba-tiba, gelombang rasa sakit yang hebat menyerang kepalanya. Potongan-potongan ingatan asing merangsek masuk seperti air bah, memaksa otaknya untuk menerima informasi baru secara paksa.
Nama tubuh ini adalah Lin Meilin. Permaisuri sah dari Dinasti Long.
Meskipun menyandang gelar tertinggi di harem belakang, ia adalah wanita yang sangat lemah, penakut, dan naif. Ia merupakan putri dari Jenderal Besar Lin yang telah pensiun. Karena kepribadiannya yang membosankan dan selalu menangis, Kaisar Long Feng tidak pernah menyentuhnya sama sekali sejak malam pernikahan mereka dua tahun lalu.
Tiga bulan lalu, karena dituduh mendorong Selir Agung Hua hingga keguguran—sebuah jebakan yang sangat jelas—Kaisar yang murka membuang Permaisuri Lin ke Istana Dingin ini, tempat pengasingan bagi para wanita istana yang berdosa.
Dan malam ini, beberapa jam yang lalu, Selir Hua mengirimkan sup sarang burung yang ternyata telah dicampur dengan Racun Pengikis Jiwa (Soul Eroding Poison), berniat memastikan Permaisuri Lin mati tanpa meninggalkan jejak. Permaisuri yang asli memang sudah mati akibat racun tersebut, dan kini jiwa Lin Meilin, sang agen intelijen modern, yang menempati tubuh kosong ini.
Meilin memejamkan matanya sejenak, mencerna seluruh takdir gila ini. Transmigrasi? Giok kuno itu ternyata adalah kunci ruang dan waktu, simpulnya dalam hati.
"Permaisuri, apakah Anda merasa tidak nyaman di suatu tempat? Hamba akan mencari tabib istana... meskipun... meskipun para penjaga di depan pasti tidak akan mengizinkan hamba keluar," tangis pelayan itu lagi. Nama gadis itu adalah Xiao Cui, satu-satunya pelayan setia yang ikut dibuang ke Istana Dingin.
Meilin membuka matanya. Tatapan matanya yang awalnya kosong kini berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan penuh kilatan intimidasi yang mematikan. Xiao Cui yang melihat perubahan tatapan mata junjungannya seketika tertegun, rasa takut yang tak dapat dijelaskan mendadak menyergap hatinya.
"Xiao Cui," panggil Meilin. Suaranya terdengar serak karena sisa racun, namun nada bicaranya sangat datar dan penuh penekanan, tidak ada lagi nada merengek seperti Permaisuri yang dulu.
"Y-ya, Permaisuri?"
"Ambilkan aku air hangat. Sekarang."
"Baik, hamba segera kembali!" Xiao Cui segera bangkit dengan terburu-buru, merasa tertekan oleh aura kuat yang tiba-tiba memancar dari tubuh wanita di atas ranjang.
Setelah Xiao Cui keluar, Meilin segera duduk bersila. Ia memeriksa denyut nadinya sendiri menggunakan teknik medis militer yang ia pelajari. Napasnya pendek, detak jantungnya tidak teratur, dan ada rasa panas di dada kirinya.
"Racun arsenik tradisional tingkat rendah," gumam Meilin dingin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis. "Bagi orang kuno, ini mungkin mematikan. Tapi di hadapan ahli toksikologi modern seperti aku, ini hanya lelucon."
Meilin menekan beberapa titik saraf di bawah dadanya dan di belakang lehernya dengan gerakan cepat dan akurat untuk menghentikan penyebaran racun ke organ vital. Ia kemudian memasukkan jari telunjuknya ke dalam tenggorokan, memaksa dirinya untuk muntah.
Hoek!
Cairan hitam pekat berbau busuk keluar dari mulutnya, mengotori lantai kayu. Setelah memuntahkan sebagian besar racun, Meilin menyeka bibirnya dengan lengan baju. Tubuhnya terasa luar biasa lemas, namun kepalanya sudah jauh lebih jernih.
Ia bersandar di tiang ranjang, menatap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan bulan purnama di luar. Senyum dingin perlahan mengembang di wajah cantiknya yang pucat.
"Lin Meilin yang asli sudah mati karena kebaikan dan ketakutannya," bisik Meilin pada kegelapan malam. "Mulai hari ini, aku yang akan memegang kendali tubuh ini. Selir Hua, Kaisar Long Feng... siapa pun yang berutang pada tubuh ini, aku akan memastikan mereka membayarnya dengan bunga yang melimpah."
Bagi Meilin, dunia kuno atau dunia modern tidak ada bedanya. Aturan hidupnya tetap sama: siapa pun yang mencari masalah dengannya, hanya ada satu jalan keluar, yaitu kehancuran total. Petualangan balas dendam sang agen rahasia di dalam istana kuno yang kejam, resmi dimulai malam ini.
Pagi hari di Istana Dingin tidak pernah diawali dengan kehangatan. Sinar matahari yang menembus celah-celah jendela kayu yang lapuk hanya membawa siluet debu yang beterbangan. Lin Meilin duduk di tepi ranjang, perlahan menggerakkan lengan dan kakinya. Tubuh ini masih terasa lemas, tetapi berkat totokan titik saraf dan detoksifikasi mandiri yang ia lakukan semalam, sisa-sisa Racun Pengikis Jiwa sudah tidak lagi menyumbat aliran darahnya.
Tubuh ini terlalu rapuh, batin Meilin sambil mengepalkan tangan. Kulitnya terlalu tipis, otot-ototnya tidak terlatih, dan kapasitas parunya sangat kecil. Sebagai mantan agen elit, memiliki tubuh selemah ini adalah sebuah kerugian besar. Ia harus segera menyusun rencana latihan fisik terstruktur sembari mengumpulkan bahan-bahan herbal untuk memulihkan stamina dasarnya.
"Permaisuri... Anda sudah bangun?"
Xiao Cui masuk ke dalam kamar sambil membawa seember kecil air bersih. Wajah pelayan muda itu tampak lebih bengkak dibanding semalam. Ada bekas kemerahan baru di lengan kanannya, seolah ia baru saja ditarik paksa oleh seseorang.
Meilin menyipitkan mata. Insting intelijennya langsung menangkap ada yang tidak beres. "Xiao Cui, apa yang terjadi dengan lenganmu?"
Xiao Cui tersentak, refleks menarik lengan bajunya ke bawah untuk menyembunyikan bekas luka tersebut. Ia menunduk dalam-dalam, menolak menatap mata Meilin. "T-tidak apa-apa, Permaisuri. Hamba hanya tidak sengaja tersandung saat mengambil air di sumur belakang."
"Kau berbohong," potong Meilin cepat. Suaranya datar, tanpa emosi, namun memiliki tekanan yang membuat bulu kuduk Xiao Cui berdiri. "Seorang agen—maksudku, aku tahu mana luka akibat jatuh dan mana luka akibat cengkeraman tangan manusia. Siapa yang melakukannya?"
Xiao Cui gemetar. Permaisuri di depannya ini terasa sangat berbeda. Permaisuri Lin yang dulu akan ikut menangis bersamanya dan meratapi nasib buruk mereka. Namun, wanita yang duduk di ranjang saat ini memancarkan aura penguasa yang mutlak, seolah ia bisa melihat menembus isi kepala Xiao Cui.
Sebelum Xiao Cui sempat menjawab, suara tawa yang nyaring dan penuh nada meremehkan terdengar dari halaman luar Istana Dingin. Langkah kaki yang serampangan terdengar mendekat ke arah kamar tidur.
"Aduh, Xiao Cui, kenapa kau lama sekali mengambil air? Apakah Permaisuri kita yang malang ini sudah mampus?"
Pintu kamar ditendang terbuka dengan kasar. Dua orang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan bermutu tinggi melangkah masuk tanpa membungkuk memberi hormat sama sekali. Mereka adalah Kai Mun dan Pelayan Liu, dua pelayan senior yang dikirim oleh pengurus istana belakang untuk "melayani" Permaisuri di tempat pembuangan ini. Kenyataannya, mereka adalah mata-mata bayaran Selir Hua yang bertugas memastikan Permaisuri Lin menderita setiap hari.
Pelayan Liu memegang sebuah nampan kayu berisi mangkuk kosong yang kotor. Ketika matanya menangkap sosok Meilin yang duduk tegak di atas ranjang dengan wajah bersih, ekspresi wajahnya berubah kaget. Ia bertukar pandang dengan Kai Mun. Bagaimana mungkin wanita ini masih hidup? Bukankah racun semalam seharusnya sudah merenggut nyawanya sebelum fajar?
Meilin membaca perubahan ekspresi kedua pelayan itu dengan sangat mudah. Benar saja. Dua tikus ini adalah kaki tangan yang membantu menyelinupkan racun semalam, pikir Meilin. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat dingin.
"Permaisuri Lin, Anda ternyata berumur panjang," ujar Kai Mun dengan nada bicara yang sangat tidak sopan. Ia bahkan tidak menekuk lututnya. "Karena Anda masih hidup, cepat suruh pelayan kecilmu ini untuk mencuci pakaian kami di halaman belakang. Tadi dia menolak dan bertingkah tidak tahu diri, jadi aku harus memberinya sedikit pelajaran."
Xiao Cui merapatkan tubuhnya di belakang Meilin, tubuhnya gemetar ketakutan.
Meilin tidak langsung marah. Ia justru bangkit berdiri perlahan, membiarkan jubah tidurnya yang longgar menjuntai ke lantai. Ia melangkah mendekati kedua pelayan itu dengan ritme yang sangat teratur. Setiap langkahnya tidak bersuara, sebuah kebiasaan dari masa lalunya sebagai pembunuh bayaran yang bergerak dalam kegelapan.
"Kau yang memukul Xiao Cui?" tanya Meilin, suaranya sangat lembut, hampir seperti bisikan.
Pelayan Liu mendengus sombong, mengira Permaisuri masih sekaku biasanya. "Lalu kenapa kalau kami memukulnya? Di Istana Dingin ini, Anda bukan lagi Permaisuri yang berkuasa. Tanpa tunjangan dari luar, Anda bahkan harus mengemis pada kami untuk mendapatkan sepiring nasi basi!"
"Begitu?" Meilin berhenti tepat satu langkah di depan Pelayan Liu.
Plak!
Sebuah tamparan keras menggema di dalam kamar yang sunyi. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga tubuh Pelayan Liu terputar dan jatuh tersungkur ke lantai. Nampan kayu yang dipegangnya terlempar, hancur berkeping-keping. Pipi Pelayan Liu langsung membengkak merah keunguan, dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"K-Kau... Anda berani memukulku?!" Pelayan Liu berteriak tidak percaya, memegangi pipinya yang terasa terbakar.
Kai Mun juga terkejut setengah mati. "Permaisuri Lin! Apakah Anda sudah gila?! Kami adalah pelayan yang ditunjuk oleh Istana Urusan Dalam! Anda tidak punya hak—"
Sebelum Kai Mun menyelesaikan kalimatnya, tangan Meilin bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram tenggorokan Kai Mun dengan satu tangan, memanfaatkan berat tubuhnya sendiri untuk mendorong wanita paruh baya itu hingga punggungnya menghantam pilar kayu kamar dengan keras.
Bruk!
"Ugh!" Kai Mun tercekik. Matanya membelalak ngeri saat melihat sepasang mata Meilin yang sedingin es, menatapnya seperti seorang jagal yang siap menyembelih ternak. Udara di tenggorokannya mendadak habis, dan semua keberanian yang ia miliki menguap dalam sekejap.
"Dengarkan aku baik-baik, budak," kata Meilin, nadanya sangat rendah namun menusuk hingga ke tulang sumsum. "Meskipun aku dibuang ke Istana Dingin, darah yang mengalir di tubuhku adalah darah keluarga Jenderal Lin, dan gelar yang melekat padaku adalah Permaisuri sah Dinasti Long. Membunuh kalian berdua di tempat kotor ini tidak akan membuat Kaisar repot-repot menghukumku."
Meilin mempererat cengkeramannya, membuat wajah Kai Mun mulai membiru karena kekurangan oksigen.
"S-Ampun... Permaisuri... ampun..." Kai Mun mencakar-cakar tangan Meilin, namun tangan ramping itu terasa seperti jepitan besi yang tidak bisa digoyahkan sama sekali.
Pelayan Liu yang berada di lantai mencoba merangkak mundur, benar-benar ketakutan oleh monster yang tiba-tiba bangkit dari dalam diri Permaisuri yang biasanya penakut.
Meilin melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Kai Mun jatuh terduduk sambil terbatuk-batuk rakus menghirup udara. Meilin kemudian berbalik, berjalan ke arah meja kayu kuno. Di sana, terdapat sisa muntahan hitam semalam yang belum sempat dibersihkan oleh Xiao Cui.
Menggunakan sapu tangan kain, Meilin mengusap sedikit cairan hitam pekat berbau busuk tersebut, lalu berjalan kembali ke arah kedua pelayan yang masih ketakutan di lantai.
"Semalam, kalian mengirimkan sup sarang burung untukku, bukan?" Meilin berlutut di depan Pelayan Liu, menyodorkan sapu tangan berlumuran racun itu tepat di depan hidungnya. "Racun Pengikis Jiwa. Efeknya sangat rapi, membuat korbannya mati seolah-olah karena gagal jantung dalam tidur. Katakan padaku, berapa banyak perak yang diberikan Selir Hua kepada kalian untuk melakukan ini?"
Mendengar kata 'Racun Pengikis Jiwa' dan 'Selir Hua', wajah Pelayan Liu dan Kai Mun langsung pucat pasi seperti mayat. Rahasia terbesar mereka telah terbongkar.
"K-Kami tidak tahu apa-apa! Permaisuri, Anda salah paham! Kami hanya mengantarkan makanan dari dapur istana!" Pelayan Liu mencoba mengelak dengan suara gemetar.
"Salah paham?" Meilin tersenyum sinis. "Sebagai agen yang bermain dengan ratusan jenis toksin modern, aku bisa mencium bau racun ini dari jarak tiga meter. Jika kalian tidak ingin bicara, tidak apa-apa. Xiao Cui!"
"Y-Ya, Permaisuri?" Xiao Cui menjawab, masih dalam kondisi setengah tidak percaya melihat kehebatan junjungannya.
"Ambil mangkuk bersih, isi dengan air sumur, dan larutkan sisa cairan hitam di lantai itu ke dalamnya."
"Baik!" Xiao Cui tidak lagi bertanya. Ia segera melaksanakan perintah dengan cepat.
Melihat mangkuk berisi air keruh kemerahan itu dibawa mendekat, Kai Mun dan Pelayan Liu mulai menangis histeris. Mereka tahu betul seberapa mengerikan efek racun tersebut jika masuk ke dalam tubuh manusia dalam keadaan sadar.
"Permaisuri! Ampun! Kami terpaksa! Jika kami tidak menuruti perintah pelayan pribadi Selir Hua, keluarga kami di luar istana akan dibunuh!" Kai Mun bersujud berkali-kali hingga dahinya berdarah menghantam lantai kayu.
"Siapa nama pelayan pribadi Selir Hua yang menghubungi kalian?" Meilin menginterogasi, matanya tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Di dunia intelijen, belas kasihan pada musuh adalah tiket gratis menuju kuburan.
"Pelayan Cui Er! Dia yang memberikan bungkusan racun itu dan menjanjikan kami masing-masing lima puluh keping perak jika Anda dipastikan tewas pagi ini!" Pelayan Liu membongkar semuanya tanpa sisa demi menyelamatkan nyawanya sendiri.
Meilin berdiri, melipat tangannya di dada. Cui Er. Bagus, satu nama sudah didapatkan.
"Permaisuri, tolong ampuni nyawa anjing kami... kami berjanji akan setia kepada Anda! Kami akan melakukan apa saja!" ratap kedua pelayan itu sambil terus bersujud.
Meilin menatap mereka dengan pandangan menilai. Membunuh mereka sekarang memang mudah, tetapi mereka jauh lebih berguna jika dijadikan pion pelacak. Istana Dingin ini kekurangan logistik, dan Meilin membutuhkan orang-orang yang tahu seluk-beluk dapur istana untuk menyelundupkan bahan-bahan yang ia butuhkan.
"Aku bisa membiarkan kalian tetap hidup," kata Meilin datar.
Kedua pelayan itu mendongak dengan binar harapan di mata mereka. "Terima kasih, Permaisuri! Terima kasih!"
"Tapi," Meilin memotong ucapan mereka, membuat atmosfer kembali mendingin. "Kalian harus meminum ini."
Meilin mengambil sebotol kecil bubuk abu-abu dari dalam laci meja—itu adalah bubuk arang kayu yang dicampur dengan beberapa tanaman hias beracun ringan yang ia petik dari halaman depan saat fajar tadi. Bagi orang awam, campuran ini akan memberikan efek kram perut yang luar biasa setiap beberapa hari sekali.
"Ini adalah racun penakluk saraf buatanku sendiri," dusta Meilin dengan wajah tanpa ekspresi yang sangat meyakinkan. "Jika dalam waktu tujuh hari kalian tidak mendapatkan obat penawarnya dariku, seluruh organ dalam kalian akan membusuk dan mencair dari dalam. Jika kalian berani melaporkan hal ini pada Selir Hua atau siapa pun, kalian tahu apa konsekuensinya."
Tanpa berani membantah, Kai Mun dan Pelayan Liu berebut mengambil bubuk tersebut dan menelannya dengan gemetar. Rasa pahit dan panas langsung menjalar di tenggorokan mereka, membuat mereka semakin yakin bahwa Permaisuri Lin telah menguasai ilmu sihir hitam atau racun yang mengerikan selama diasingkan.
"Sekarang, bersihkan kamar ini sampai berkilau. Setelah itu, bawakan aku makanan yang layak dari dapur utama—bukan sisa makanan atau nasi basi. Jika aku melihat ada keanehan pada makanan yang kalian bawa, bersiaplah untuk memesan peti mati kalian sendiri," perintah Meilin dingin.
"Baik, Permaisuri! Kami segera melaksanakannya!" Kedua pelayan itu langsung bergerak secepat badai, membersihkan lantai dan membuang semua barang rusak tanpa berani mengeluh sedikit pun.
Xiao Cui berjalan mendekati Meilin, matanya berbinar penuh kekaguman dan rasa hormat yang mendalam. "Permaisuri... Anda benar-benar luar biasa. Hamba tidak pernah tahu Anda memiliki kemampuan sehebat ini."
Meilin menepuk bahu kecil Xiao Cui dengan lembut. "Xiao Cui, ingat ini baik-baik. Di tempat ini, jika kau menunjukkan kelemahan, orang lain akan menginjakmu sampai mati. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh kita tanpa membayar harganya."
Meilin kembali menatap ke arah halaman luar melalui jendela. Pembersihan pertama di Istana Dingin telah selesai.
Sekarang, saatnya ia memulihkan kekuatan fisiknya dan mempersiapkan umpan pertama untuk memancing sang pemilik istana yang sesungguhnya—Kaisar Long Feng.
Tiga minggu berlalu dengan cepat di Istana Dingin. Berkat pasokan makanan segar yang rajin "diselundupkan" oleh Kai Mun dan Pelayan Liu dari dapur utama, kondisi fisik Lin Meilin perlahan-lapan membaik. Kulitnya yang semula putih pucat tanpa gairah kini mulai memancarkan rona sehat. Rambut hitamnya yang panjang tidak lagi kusam, melainkan berkilau seperti kain sutra terbaik.
Namun, bagi Meilin, penampilan luar tidak ada gunanya jika kekuatan fisiknya belum kembali ke standar seorang agen The Ghost.
Oleh karena itu, setiap kali malam tiba dan seluruh istana belakang telah terlelap dalam kegelapan, Meilin akan menyelinap keluar ke halaman belakang Istana Dingin yang dipenuhi ilalang tinggi. Di sana, di bawah siraman cahaya bulan perak, ia melakukan latihan fisik ekstrem. Menggunakan beban dari batu-batu besar yang diikat dengan kain lapuk, ia melatih kekuatan otot kaki, perut, dan tangannya. Ia juga melatih kembali memori ototnya untuk melakukan gerakan beladiri taktis—serangan cepat yang mengincar titik fatal seperti jakun, ulu hati, dan persendian musuh.
Hah... hah... hah...
Meilin menyeka keringat yang membasahi dahi dan lehernya dengan ujung lengan baju jubah tidurnya. Ia baru saja menyelesaikan seratus kali gerakan push-up dan latihan beban kaki.
"Tubuh ini baru pulih sekitar empat puluh persen dari kapasitas asliku," gumam Meilin sambil mengembuskan napas panjang. Kapasitas paru-parunya masih terlalu kecil, dan ia belum memiliki kekuatan dalam yang disebut Qi oleh orang-orang di zaman ini. Namun, untuk ukuran pertempuran jarak dekat melawan manusia biasa, kemampuannya saat ini sudah lebih dari cukup untuk mematahkan leher tiga pria dewasa dalam hitungan detik.
Tiba-tiba, insting tajam Meilin menangkap sesuatu yang tidak beres. Angin malam yang berembus pelat mendadak membawa aroma yang sangat tipis, namun sangat familier bagi hidung seorang agen medis: aroma karat dari darah segar.
Ada orang terluka di dekat sini, batin Meilin waspada.
Seketika, seluruh otot tubuhnya menegang. Ia meraba pergelangan tangan kanannya, tempat ia menyembunyikan sebuah tusuk konde perak yang ujungnya telah ia asah menjadi sangat runcing dan dilumuri racun kelumpuhan dari ekstrak tanaman kecubung liar. Dengan langkah kaki yang sangat ringan tanpa suara, Meilin bergerak mendekati tembok pembatas Istana Dingin yang telah runtuh sebagian.
Sreeek... sreeek...
Suara gesekan kain pada semak-semak terdengar dari balik pohon pinus tua di sudut halaman. Meilin menahan napasnya, menyatukan tubuhnya dengan bayangan kegelapan malam. Matanya yang tajam seperti elang malam mengunci ke satu titik.
Sesosok tubuh tinggi tinggi besar berpakaian serba hitam tampak terhuyung-huyung keluar dari balik semak-semak. Pria itu memegangi dada kanannya yang terus mengalirkan darah kental. Gerakannya tampak berat dan napasnya memburu tidak teratur. Dari balik cadar hitam yang menutupi setengah wajahnya, sepasang mata tajam yang berkilau dalam kegelapan tampak menatap sekeliling dengan waspada sebelum akhirnya tubuhnya limbung dan jatuh bertumpu pada satu lutut di atas tanah.
Meilin tidak langsung mendekat. Di dunia intelijen, menolong orang asing tanpa tahu identitasnya adalah tindakan bodoh yang bisa berujung pada kematian sendiri. Ia mengamati pria itu dari kejauhan. Pakaian hitam yang dikenakan pria itu terbuat dari kain sutra brokat kelas atas yang hanya bisa dipakai oleh kalangan bangsawan tinggi atau anggota keluarga kerajaan. Senjata di pinggangnya adalah sebuah pedang dengan sarung berukir naga emas yang sangat rumit.
Ukiran naga? Meilin menyipitkan mata. Di kerajaan ini, naga adalah simbol mutlak milik kaisar atau pangeran inti.
Saat pria bermata tajam itu mencoba bangkit kembali, kekuatannya tampaknya telah habis akibat kehilangan terlalu banyak darah. Ia ambruk sepenuhnya ke atas tanah, tidak sadarkan diri, dengan pedang yang masih tergenggam erat di tangannya.
Setelah memastikan tidak ada orang lain atau pengejar di sekitar tembok pembatas, Meilin perlahan berjalan mendekati tubuh pria tersebut. Ia menendang pedang dari tangan pria itu terlebih dahulu untuk memastikan keamanan, baru kemudian berlutut di sampingnya.
Meilin menarik cadar hitam yang menutupi wajah pria itu. Begitu kain hitam itu terlepas, Meilin sempat tertegun sejenak. Pria di hadapannya ini memiliki wajah yang luar biasa tampan, dengan rahang yang tegas, hidung mancung seperti dipahat, dan alis tebal yang bahkan dalam keadaan pingsan pun masih berkerut tajam. Namun, ada aura dingin, angkuh, dan berbahaya yang memancar kuat dari wajah tidur pria ini.
Menggunakan ingatannya tentang dokumen kerajaan yang pernah dibaca oleh Permaisuri Lin yang asli, Meilin mencoba mencocokkan wajah ini. Namun, Permaisuri yang asli hampir tidak pernah mendongak menatap wajah suaminya secara langsung karena terlalu takut, jadi Meilin tidak bisa memastikan apakah ini sang Kaisar atau salah satu pangeran pemberontak.
"Siapa pun kau, kau beruntung malam ini bertemu denganku," bisik Meilin dingin
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!