Di dalam kamar kost sempit yang hanya cukup untuk memuat tempat tidur, meja kecil, dan lemari usang, Keisuki terbaring lemah di depan layar komputer. Udara di ruangan terasa pengap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu meja dan pantulan layar yang menampilkan dunia luas dalam permainan RPG kesayangannya. Sudah hampir dua puluh empat jam ia tidak beranjak dari tempat duduknya, terhanyut dalam petualangan virtual yang menjadi satu-satunya pelariannya dari kesunyian hidup.
Keisuki baru berusia dua puluh sembilan tahun. Sejak masih kanak-kanak, ia sudah ditinggalkan oleh ayah dan ibunya, meninggalkannya hidup sendirian dan bergantung pada biaya bantuan sosial serta hasil kerja sambilan. Sifatnya yang pendiam, cenderung menutup diri, dan sulit bergaul membuatnya tidak memiliki teman dekat. Dunianya hanya ada di antara halaman buku, tulisan, dan dunia ajaib yang tergambar dalam layar permainan. Di sana, ia bisa menjadi apa saja—pahlawan yang kuat, penyihir hebat, atau penjelajah yang menaklukkan tempat-tempat berbahaya.
Namun malam itu, rasa nyaman yang biasa ia rasakan perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
“Kenapa… kepalaku terasa berdenyut seperti dipukul palu?” gumam Keisuki dengan suara parau, tangannya terangkat untuk memijat pelipis yang terasa sangat berat. Pandangannya mulai kabur, seolah ada kabut tebal yang menyelimuti matanya. Jari-jarinya mencoba memegang tepian meja untuk menopang tubuh, tapi kekuatannya perlahan menghilang begitu saja.
Ia masih sempat melihat karakter yang ia kendalikan dalam permainan berdiri di depan gerbang sebuah kerajaan besar, dengan tulisan nama tempat yang ia hafal betul: Kerajaan Astoria. Sebuah tempat yang penuh dengan sihir, ras-ras yang beragam, dan petualangan tanpa batas.
“Kalau saja dunia nyata bisa seperti itu… pasti hidup tidak akan sesepi ini,” bisiknya terakhir kali, sebelum rasa pusing itu memuncak.
Tubuhnya terasa melayang, lalu jatuh perlahan ke samping. Kesadarannya menghilang seketika, digantikan oleh kegelapan mutlak yang terasa tenang sekaligus menakutkan.
Waktu seolah berhenti berputar. Tidak ada suara, tidak ada rasa sakit, tidak ada apa-apa. Keisuki mengira ini adalah akhir dari segalanya—istirahat abadi setelah menjalani kehidupan yang sepi dan biasa saja.
Namun ketenangan itu tidak bertahan selamanya.
Dari jauh, suara-suara samar mulai merembes masuk ke dalam kesadarannya. Suara itu terasa lembut, hangat, dan asing sekaligus. Lama-kelamaan suara itu semakin jelas, seolah mendekat perlahan dari balik dinding tebal.
“Lihatlah, Gareth! Matanya baru saja terbuka sedikit! Sungguh lucu sekali wajahnya,” terdengar suara wanita yang lembut dan berisi kebahagiaan yang meluap.
Suara pria yang berat namun hangat menyahut, “Benar kata kau, Elara. Anak ini terlihat sehat dan kuat. Aku berdoa semoga ia tumbuh menjadi anak yang baik hati dan tangguh, mampu menghadapi kerasnya hidup di desa ini.”
Suara-suara itu terus bergema, hingga akhirnya Keisuki merasakan sentuhan yang sangat lembut di dahinya. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya ingin membuka matanya untuk melihat siapa yang sedang berbicara. Dengan tenaga yang sangat terbatas, ia berusaha mengangkat kelopak matanya.
Awalnya pandangannya hanya kabur, dipenuhi cahaya putih yang menyilaukan. Namun perlahan-lahan, bayangan-bayangan mulai terbentuk menjadi wujud yang nyata. Di hadapannya terlihat wajah seorang wanita paruh baya dengan rambut cokelat terurai dan senyum yang begitu tulus, seolah memancarkan kehangatan matahari. Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh kekar, dengan kulit yang terbakar matahari dan tangan yang penuh kapalan—tanda seseorang yang biasa bekerja keras di ladang atau hutan.
Namun sebelum ia sempat memproses apa yang dilihatnya, matanya tertuju pada benda yang tergenggam di hadapan wajahnya sendiri.
Sebuah tangan. Tapi bukan tangannya yang biasa ia lihat setiap hari.
Tangan itu sangat mungil, kulitnya merah muda dan halus, jari-jarinya pendek dan tidak mampu digerakkan dengan leluasa. Ia mencoba mengangkat tangannya yang lain, dan hasilnya sama persis—sepasang tangan bayi yang baru lahir.
“T-tangan ini… apa yang terjadi pada tubuhku?” jeritnya dalam hati, panik bukan main. Ia mencoba berteriak meminta penjelasan, tapi suara yang keluar bukanlah suara pria berusia dua puluh sembilan tahun yang ia kenal, melainkan tangisan lembut khas bayi yang baru melihat dunia.
Wanita yang dipanggil Elara itu segera mengangkat tubuh mungilnya ke dalam pangkuan, mengayun-ayunkannya perlahan sambil menepuk punggungnya dengan lembut. “Sst… jangan menangis, Nak. Semuanya sudah aman. Ibu ada di sini, Ayah juga ada di sampingmu,” katanya dengan nada menenangkan.
Keisuki merasa kepalanya berputar hebat, bukan karena sakit, melainkan karena kenyataan yang baru saja menghantam pikirannya. Ia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian terakhir sebelum kesadarannya hilang—rasa pusing yang hebat, pandangan yang menggelap, dan kemudian kegelapan. Namun ingatan itu masih utuh, tidak ada satu pun yang hilang. Ia masih mengingat namanya, usianya, kehidupannya yang sepi di kamar kost, bahkan setiap detail aturan dan peta dunia dalam permainan RPG yang sering ia mainkan.
Artinya… ia tidak mati sepenuhnya. Ia terlahir kembali.
“Jadi… ini benar-benar reinkarnasi? Jiwaku masih ada, tapi tubuhku berubah menjadi bayi baru lahir?” batinnya dengan perasaan campur aduk antara kaget, takut, dan sedikit penasaran.
Ia kembali menatap sekeliling ruangan tempat ia berada. Dindingnya terbuat dari kayu kasar dan anyaman bambu, langit-langitnya rendah dengan seberkas cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela kecil. Di sudut ruangan terlihat perapian yang masih menyisakan bara api, dan di atas meja kayu tergeletak alat-alat dapur sederhana serta beberapa hasil hutan dan pertanian.
Pemandangan ini sama persis dengan gambaran desa permulaan yang ada dalam permainan kesayangannya.
“Tidak mungkin… apakah aku terlahir kembali di dunia yang sama persis dengan dunia dalam gamenya? Dunia yang dipenuhi sihir, berbagai ras, monster, dan kerajaan-kerajaan besar?” pikirnya makin kacau sekaligus bersemangat.
Di saat ia masih tenggelam dalam lautan pertanyaan di kepalanya, Gareth—ayah barunya itu—mendekat dan menyentuh pipinya yang mungil dengan jari telunjuknya yang kasar namun lembut.
“Mulai hari ini, nama panggilanmu adalah Rey. Nama yang sederhana, tapi mudah diingat dan penuh harapan. Semoga kau tumbuh menjadi cahaya bagi keluarga kita, Rey,” ucap pria itu dengan nada tegas namun penuh kasih sayang.
Elara tersenyum mendengarnya, lalu mencium kening bayi itu perlahan. “Ya, Rey. Selamat datang di dunia ini, Nak. Kita mungkin hanya keluarga rakyat biasa yang hidup sederhana, tapi Ibu dan Ayah akan berusaha memberikan segalanya agar kau tumbuh dengan bahagia dan sehat.”
Mendengar kata-kata itu, hati Rey yang sempat gelisah perlahan terasa tenang. Meskipun kehidupannya berubah secara drastis, meskipun ia terjebak dalam tubuh bayi yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan berbaring, setidaknya kali ini ia tidak hidup sendirian. Ia memiliki ayah dan ibu yang menyayanginya, sesuatu yang sangat ia rindukan sepanjang hidupnya di dunia sebelumnya.
“Baiklah… jika ini takdir yang diberikan padaku, maka aku akan menjalaninya. Sebagai Rey, anak dari keluarga petani dan pemburu di Desa Lembah Angin. Siapa tahu… di dunia yang penuh sihir ini, aku bisa menemukan makna hidup yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya,” tekadnya dalam hati, meski yang keluar dari mulutnya hanyalah suara dengusan lembut.
Di luar gubuk itu, angin berhembus lembut membawa aroma tanah basah dan dedaunan hutan. Di tempat yang jauh di luar desa, kabut menyelimuti pegunungan tinggi yang menjadi batas wilayah, seolah menyimpan jutaan rahasia dan bahaya yang menanti untuk dijelajahi.
Dan di dalam tubuh kecil Rey itu, tanpa ia sadari, aliran energi yang lima kali lebih besar dari sihir biasa mulai berputar perlahan, bersiap untuk bangkit seiring dengan pertumbuhannya. Sebuah kekuatan langka yang belum pernah tercatat dalam sejarah dunia itu—kekuatan menguasai kelima elemen alam sekaligus.
Namun saat itu, Rey belum menyadarinya. Ia hanya tahu satu hal: petualangan baru dalam hidupnya baru saja dimulai.
Waktu berlalu begitu cepat, seperti air sungai yang terus mengalir tanpa pernah berhenti. Dalam sekejap mata, tiga tahun telah berlalu sejak Rey terlahir kembali ke dunia ini. Tubuh mungilnya kini sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang lincah, dengan rambut hitam legam dan sepasang mata cokelat bening yang selalu memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu yang tak pernah habis.
Bagi orang lain, Rey hanyalah anak desa biasa yang tumbuh sedikit lebih tenang dibandingkan teman-teman sebayanya. Ia tidak banyak menangis, tidak suka membuat keributan, dan lebih sering duduk diam mengamati lingkungan sekitar. Namun hanya Rey sendiri yang tahu alasannya—di balik wajah polos seorang anak berusia tiga tahun, tersembunyi kesadaran dan pemikiran milik pria berusia dua puluh sembilan tahun dari dunia lain.
Pagi itu, matahari baru saja mengintip dari balik punggung bukit di sebelah timur Desa Lembah Angin. Sinarnya yang keemasan menyelinap masuk lewat celah dinding gubuk kayu milik keluarga itu, menghangatkan ruangan yang masih sejuk terkena embun malam.
Rey sudah terbangun sejak tadi. Ia duduk bersila di atas tikar jerami sambil memainkan sebilah ranting kayu pendek, tapi pikirannya melayang jauh.
“Sudah tiga tahun berlalu, dan aku masih belum sepenuhnya memahami kekuatan apa yang mengalir di dalam tubuh ini,” batinnya sambil menutup mata sebentar, mencoba merasakan aliran energi halus yang selalu ada di sana.
Sejak usia satu tahun, Rey mulai menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali ia berkonsentrasi, ia bisa merasakan lima aliran energi yang berbeda bergerak melintasi pembuluh nadinya—ada yang terasa hangat dan menyengat seperti nyala api, ada yang dingin dan mengalir lembut seperti air, ada yang berat dan kokoh seperti tanah, ada yang ringan dan cepat seperti hembusan angin, serta ada yang tajam dan berdenyut seperti kilatan petir.
Kelima energi itu selalu ada, menyatu dengan detak jantungnya, namun ia belum berani mencoba mengendalikannya secara terang-terangan. Ingatannya masih sangat jelas dengan aturan dunia ini yang pernah ia baca dan pelajari dari permainan masa lalunya—sihir bukanlah hal yang bisa sembarangan diperlihatkan, apalagi jika jenisnya begitu langka. Jika diketahui orang, bisa jadi ia justru menjadi incaran berbagai pihak yang menginginkan kekuatannya.
“Rey, Nak, sudah bangun rupanya?”
Suara lembut membuyarkan lamunannya. Ia membuka mata dan menoleh, melihat Elara masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan roti gandum sederhana. Senyum ibunya itu selalu terasa seperti obat penenang bagi hatinya.
“Pagi, Ibu,” jawab Rey dengan suara yang masih sedikit lantang khas anak kecil, namun terdengar sopan dan tenang.
Elara meletakkan nampan itu di atas meja rendah, lalu berjongkok dan menyentuh dahi anaknya dengan punggung tangan. “Kau terlihat melamun lagi. Ada apa? Apakah tubuhmu terasa kurang enak badan?”
Rey menggeleng cepat sambil tersenyum. “Tidak, Ibu. Aku hanya memikirkan, kapan Ayah pulang dari hutan?”
Mendengar itu, Elara tertawa kecil dan mengelus kepalanya. “Segera saja. Ayahmu tadi pagi buta sudah berangkat membawa busur dan panah. Katanya ingin mencoba menangkap rusa liar atau setidaknya beberapa ekor kelinci agar kita punya lauk lebih banyak hari ini.”
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara langkah kaki berat terdengar mendekati pintu, diikuti dengan suara orang yang bernapas terengah-engah namun riang.
“Aku pulang!”
Pintu terbuka lebar, dan tampak sosok Gareth berdiri di ambang pintu. Tubuhnya berkeringat, baju kulit binatannya kotor oleh tanah dan daun kering, namun senyum lebar terukir di wajahnya. Di punggungnya tergantung dua ekor kelinci yang sudah mati, dan di tangannya ia membawa seikat besar jamur liar yang tumbuh subur di bawah pohon tua.
“Ayah!” seru Rey, segera berdiri dan berlari kecil menghampiri.
Gareth membungkuk dan mengangkat tubuh mungil putranya itu ke dalam gendongannya. “Wah, Rey sudah menunggu ya? Maaf membuatmu lama. Hari ini hutan cukup ramah, jadi hasil buruannya lumayan banyak.”
Ia meletakkan Rey kembali ke lantai, lalu menurunkan barang bawaannya. “Lihat ini, Rey. Jamur ini sangat lezat jika dimasak dengan kuah daging. Dan kelinci ini akan menjadi lauk yang mengenyangkan untuk tiga hari ke depan.”
Rey menatap semua barang itu dengan kagum, namun matanya lebih tertuju pada tangan ayahnya. Meskipun penuh kapalan dan luka-luka bekas pekerjaan keras, tangan itu selalu terasa hangat dan melindungi.
“Ayah, apakah berburu di dalam hutan itu berbahaya?” tanya Rey dengan nada penasaran yang tulus.
Gareth duduk di bangku kayu sambil menyeka keringat di dahinya, lalu menjawab dengan sabar, “Bisa dibilang begitu, Nak. Semakin jauh masuk ke dalam, semakin banyak bahayanya. Ada serigala, babi hutan yang galak, dan kadang-kadang kita juga harus waspada terhadap gerombolan lendir atau serangga beracun. Tapi selama kita mengenal jalannya, tetap waspada, dan tidak bertindak sembarangan, kita akan aman-aman saja.”
“Lendir… makhluk itu lemah kan? Di permainan dulu, mereka hanya memberi sedikit poin pengalaman,” gumam Rey dalam hati, lalu mengangkat wajah kembali dan bertanya lagi, “Kalau punya kekuatan sihir, apakah akan lebih mudah melawan mereka?”
Pertanyaan itu membuat Gareth dan Elara saling berpandangan sesaat, lalu tersenyum pahit.
“Memang benar, sihir sangat berguna,” jawab Gareth perlahan. “Orang yang diberkahi sihir bisa memanaskan air hanya dengan mengangkat tangan, menerangi jalan gelap dengan cahaya, bahkan melawan binatang buas dengan lebih aman. Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Kebanyakan penduduk desa seperti kita hanya mengandalkan tenaga, keberanian, dan keterampilan tangan untuk bertahan hidup.”
Elara menyela dengan nada menenangkan, “Tapi tidak apa-apa, Rey. Bukan berarti kita yang tidak punya sihir menjadi orang lemah. Ayahmu bisa menjelajahi hutan yang berbahaya tanpa menggunakan satu tetes pun sihir, bukan? Kerja keras dan kehati-hatian juga merupakan kekuatan yang luar biasa.”
Rey hanya mengangguk paham, namun di dalam hatinya ia tersenyum kecil.
“Kalau saja mereka tahu, aku justru memiliki kelima elemen sekaligus—sesuatu yang bahkan penyihir terkuat di legenda pun tidak miliki. Tapi belum saatnya aku mengatakannya. Aku harus sabar dan belajar mengendalikannya sampai benar-benar aman.”
Setelah sarapan selesai, hari itu Rey mengikuti ayahnya ke ladang yang terletak di pinggir desa. Di sana, Gareth sibuk mencabut rumput liar dan memeriksa tanaman gandum serta jagung yang baru mulai tumbuh. Rey tidak duduk diam saja; ia membantu membawa air dalam kendi kecil, mengumpulkan rumput kering, dan mengamati setiap gerakan ayahnya dengan cermat.
“Rey, lihatlah tanah ini,” kata Gareth sambil menyodokkan ujung cangkulnya ke permukaan tanah yang gembur. “Tanah adalah induk kehidupan. Ia memberi kita tempat berpijak, tempat tumbuhnya makanan, dan tempat kembali kita nanti. Orang yang menghormati alam akan selalu diberi rezeki yang cukup.”
Mendengar kalimat itu, tiba-tiba ada sesuatu yang berdenyut lembut di dalam tubuh Rey. Tanpa sadar, ia memusatkan perhatiannya pada tanah di bawah kakinya. Ia membayangkan energi di dalam dirinya mengalir keluar dan menyatu dengan butiran-butiran tanah itu.
Belum sempat ia berpikir lebih lanjut, di depannya terjadi perubahan kecil namun nyata. Beberapa tunas rumput yang terlihat layu dan kering tadi perlahan-lahan berdiri tegak kembali, daunnya yang kekuningan berubah menjadi hijau segar hanya dalam hitungan detik.
Rey terkejut dan segera menarik kembali kesadarannya. Denyutan energi itu menghilang, dan semuanya kembali seperti biasa seolah tidak pernah terjadi. Ia menoleh ke arah Gareth, namun ayahnya terlalu sibuk bekerja dan tidak menyadari kejadian singkat itu.
“Aku bisa melakukannya! Energi tanah merespons pikiranku dengan sangat cepat. Rasanya seperti hal yang paling alami di dunia ini,” batinnya dengan hati berdebar kencang karena gembira sekaligus takut ketahuan.
Sore harinya, ketika matahari mulai terbenam dan seluruh desa mulai meredam aktivitasnya, Rey berpura-pura ingin bermain ke pinggir sungai yang tidak jauh dari rumah. Ia membawa sebilah ranting dan berkata pada ibunya, “Ibu, aku mau main sebentar di tepi sungai, tidak akan jauh kok.”
“Baiklah, tapi jangan masuk ke air yang dalam dan segera pulang jika langit mulai gelap!” pesan Elara sambil melambaikan tangan.
“Siap, Ibu!”
Begitu sampai di tempat yang cukup tersembunyi dan tertutup semak belukar sehingga tidak terlihat dari jalan desa, Rey langsung duduk bersila di atas batu yang datar. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, memfokuskan seluruh kesadarannya ke dalam dirinya sendiri.
“Baiklah, mari kita mulai latihan yang sesungguhnya. Pelan-pelan saja, jangan sampai melukai diriku sendiri atau menarik perhatian makhluk lain.”
Ia mulai mencoba satu per satu. Pertama, elemen angin. Ia membayangkan aliran udara di sekelilingnya bergerak mengikuti perintahnya. Dalam sekejap, hembusan angin lembut tercipta di telapak tangannya, berputar perlahan dan membuat daun-daun kering beterbangan ringan.
Lalu ia mencoba elemen air. Ia menoleh ke arah sungai yang mengalir tenang, memusatkan pikiran pada tetesan air itu. Perlahan, beberapa butiran air terangkat ke atas permukaan dan melayang di udara membentuk bola kecil yang berkilau terkena sinar senja.
Setelah itu, ia mencoba elemen tanah dan api dengan hasil yang cukup memuaskan—meskipun apinya hanya sebesar ujung jari dan tanah yang digerakkannya hanya segenggam kecil saja. Saat ia ingin mencoba elemen petir, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki mendekat dari balik semak.
“Rey? Kau ada di sini rupanya.”
Ia terkejut dan segera memadamkan semua energinya. Air yang melayang jatuh kembali ke sungai, angin mereda, dan cahaya samar api lenyap begitu saja. Ia menoleh dan melihat Gareth berdiri di sana sambil tersenyum ramah.
“Ayah… kenapa datang ke sini?” tanya Rey berusaha terlihat biasa saja meski jantungnya berdebar kencang.
“Aku hanya ingin memastikan kau aman. Hari mulai gelap, sebaiknya kita pulang,” jawab Gareth tanpa curiga sedikit pun. “Kau suka sekali duduk diam dan memandang air sungai, ya? Sama seperti orang bijak yang sedang merenung.”
Rey hanya tersenyum malu sambil mengangguk. “Iya, Ayah. Rasanya tenang saja melihat air mengalir.”
Mereka berjalan pulang beriringan, namun di dalam hati Rey, semangatnya semakin membara. Ia baru saja membuktikan bahwa kekuatannya nyata dan bisa dikendalikan. Selama ia menjaga rahasianya dengan baik dan berlatih perlahan, suatu hari nanti ia akan bisa menguasai kelima elemen itu sepenuhnya.
“Tunggu saja sampai saatnya tiba. Saat aku cukup kuat dan waktunya sudah tepat, aku akan menunjukkan kepada dunia ini bahwa di desa kecil ini, ada seseorang yang membawa takdir yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan siapa pun,” janjinya dalam hati sambil melangkah pulang menuju cahaya lampu gubuk yang mulai menyala di kejauhan.
Enam tahun telah berlalu sejak Rey terlahir kembali. Kini, ia telah tumbuh menjadi anak laki-laki berusia enam tahun dengan postur tubuh yang lebih tinggi dan tegap dibandingkan teman-teman sebayanya. Wajahnya tampak tenang dan matanya menyimpan pandangan yang lebih dewasa dari usianya, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ada sesuatu yang berbeda dari anak ini.
Di Desa Lembah Angin, ada satu tradisi penting yang selalu ditunggu sekaligus ditakuti oleh warga: Upacara Pengujian Berkah Sihir. Setiap anak yang menginjak usia enam tahun akan dibawa ke balai desa untuk diperiksa apakah mereka memiliki bakat sihir atau tidak. Hasil dari pengujian ini akan sangat menentukan jalan hidup mereka ke depannya—mereka yang memiliki bakat bisa melanjutkan belajar di akademi, menjadi prajurit kerajaan, atau penyihir, sedangkan yang tidak memilikinya hanya bisa bergantung pada tenaga fisik seperti kebanyakan rakyat jelata.
Pagi itu, langit diselimuti awan putih tipis dan angin berhembus cukup kencang membawa hawa sejuk dari arah hutan. Seluruh keluarga Rey sudah bangun lebih awal dari biasanya. Elara sibuk menyiapkan pakaian bersih terbaik yang dimiliki keluarga itu, sedangkan Gareth terlihat berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang bercampur harapan dan kekhawatiran.
“Rey, datanglah kemari,” panggil Gareth lembut.
Rey berjalan mendekat dengan langkah tenang. Dalam hatinya, ia sudah tahu apa yang akan terjadi nanti, namun ia tetap berpura-pura merasa gugup seperti anak-anak lain.
“Nak, dengarkan baik-baik kata Ayah,” ucap Gareth sambil memegang kedua bahu putranya. “Hasil ujian hari ini bukanlah penentu apakah kau orang hebat atau tidak. Jika kau diberkahi sihir, itu anugerah yang patut disyukuri. Namun jika tidak, ingatlah: kerja keras, keberanian, dan kejujuran juga merupakan kekuatan yang tak kalah berharga. Jangan pernah merasa rendah diri, mengerti?”
Rey menatap mata ayahnya dalam-dalam, lalu mengangguk mantap. “Aku mengerti, Ayah. Apa pun hasilnya, aku akan tetap berusaha menjadi anak yang membanggakan Ayah dan Ibu.”
Elara mendekat dan memeluknya erat. “Benar kata Ayahmu. Bagi kami, kau tetaplah anak terbaik apa pun yang terjadi. Ayo, jangan sampai terlambat.”
Mereka bertiga berjalan menuju lapangan tengah desa yang sudah dipenuhi oleh warga dan puluhan anak seumur Rey beserta orang tua mereka. Di tengah lapangan, sudah didirikan sebuah meja kayu besar, dan di atasnya tergeletak benda yang sangat dikenal oleh semua orang: Bola Kristal Penilai.
Bola itu sebesar kepala orang dewasa, bening seperti air jernih, dan terlihat biasa saja jika tidak sedang digunakan. Namun konon, benda itu dibuat dari bahan langka yang mampu merespons dan memancarkan cahaya sesuai dengan jenis dan kekuatan energi sihir yang ada di dalam tubuh seseorang.
Di samping meja itu berdiri dua orang pria berjubah abu-abu—mereka adalah petugas yang dikirim langsung dari ibukota untuk melaksanakan ujian tahunan. Salah satunya tampak lebih tua dengan janggut putih panjang, sedangkan yang lain lebih muda dan memiliki tatapan mata tajam.
“Tenang semuanya!” teriak pria tua itu dengan suara lantang yang terdengar ke seluruh penjuru lapangan. “Hari ini kita akan melaksanakan ujian berkah sihir. Aturannya sederhana: panggil namamu, maju, letakkan kedua telapak tangan di permukaan bola ini, dan diamlah sebentar. Bola ini akan menunjukkan apa yang tersembunyi di dalam dirimu.”
Satu per satu nama dipanggil. Suasana menjadi hening sesaat, hanya terdengar suara napas dan desisan harapan.
“Anak pertama: Tomas!”
Seorang anak laki-laki berambut keriting berjalan gugup mendekat. Begitu tangannya menyentuh bola kristal, seketika memancarkan cahaya berwarna merah terang yang memantul ke wajah semua orang.
“Cahaya merah… elemen api. Kekuatannya cukup baik,” ujar petugas muda itu mencatat di atas kertas.
Terdengar suara tepuk tangan dan bisik-bisik kagum dari kerumunan. Orang tua Tomas terlihat sangat bangga hingga matanya berkaca-kaca.
Berikutnya, giliran anak bernama Lila. Begitu tangannya menyentuh bola, memancarkan cahaya biru lembut. “Elemen air, tingkat dasar.”
Satu per satu giliran berganti. Ada yang memancarkan cahaya hijau untuk elemen angin, cokelat untuk tanah, dan beberapa hanya memancarkan cahaya samar yang menandakan kekuatan sangat lemah. Namun ada juga beberapa anak yang saat menyentuh bola, tidak memancarkan cahaya apa pun sama sekali. Saat itu, raut wajah orang tua mereka langsung berubah muram, dan anak itu akan kembali ke tempatnya dengan kepala tertunduk malu.
Hingga akhirnya, suara panggilan itu terdengar:
“Rey, anak dari Gareth dan Elara!”
Detak jantung seolah terasa lebih kencang bagi kedua orang tuanya. Rey melangkah maju dengan tenang, tidak terlihat gugup sedikit pun. Ia berdiri di depan bola kristal, menatap permukaannya yang bening, lalu perlahan meletakkan kedua telapak tangannya di atasnya.
Seketika itu juga, di dalam tubuh Rey, kelima aliran energi sihirnya bergerak merespons kehadiran benda asing itu. Ia bisa merasakan tarikan halus dari bola tersebut seolah ingin menyerap dan mengidentifikasi energinya. Namun Rey segera mengambil keputusan.
“Jika aku membiarkannya mengalir sepenuhnya, bola ini mungkin akan meledak karena kewalahan menerima lima elemen sekaligus. Lebih baik aku menekan semuanya sepenuhnya, biarkan ia membaca apa yang terlihat dari luar saja.”
Dengan konsentrasi yang ia latih selama bertahun-tahun, Rey menahan semua aliran energinya agar tetap diam dan tidak merespons. Ia membiarkan hanya tubuh fisiknya yang menyentuh bola itu, tanpa mengeluarkan sedikit pun kekuatan di dalamnya.
Beberapa detik berlalu. Bola kristal itu tetap bening dan redup. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada perubahan suhu, tidak ada apa-apa.
Petugas tua itu mengerutkan dahi, lalu mengulurkan tangannya dan memutar bola itu sedikit, memastikan tidak ada kerusakan. “Coba diam lebih lama, Nak. Kadang butuh waktu sedikit lebih lama.”
Rey mengangguk dan tetap diam selama sepuluh detik lagi. Namun hasilnya tetap sama—bola itu tak memancarkan cahaya sedikit pun.
Akhirnya, petugas muda itu menggeleng pelan sambil menulis di catatannya. “Tidak ada reaksi sama sekali. Artinya… anak ini tidak memiliki benih sihir apa pun di dalam tubuhnya. Dia adalah manusia biasa murni.”
Kalimat itu menggema ke seluruh lapangan.
Suasana langsung berubah hening, lalu disusul bisik-bisik yang terdengar jelas.
“Kasihan sekali… anak itu terlihat cerdas dan sehat, tapi tidak diberkahi sihir sama sekali.”
“Nasibnya akan sama seperti kita—bekerja keras sampai tua tanpa kemudahan apa pun.”
“Sudah diduga, kan? Dari keluarga petani mana mungkin bisa punya keturunan penyihir?”
Gareth dan Elara hanya bisa menunduk. Wajah mereka terasa panas dan sedih mendengar bisikan-bisikan itu. Namun mereka tetap berdiri tegak dan menunggu Rey kembali.
Rey melepaskan tangannya dari bola itu, lalu menoleh dan berjalan kembali ke tempat orang tuanya dengan langkah tetap tenang, tanpa ekspresi sedih atau kecewa sedikit pun. Hal ini justru membuat orang lain semakin mengasihaninya—mereka mengira Rey sedang berusaha menyembunyikan rasa sakit hatinya.
Begitu tiba di samping mereka, Elara segera memegang tangannya erat-erat. Suaranya bergetar saat berbicara, “Rey… maafkan Ibu dan Ayah. Kita… kita akan berusaha mencari jalan lain untuk masa depanmu.”
Namun Rey hanya menoleh dan tersenyum tulus, senyum yang membuat hati kedua orang tuanya sedikit lega. “Tidak apa-apa, Ibu, Ayah. Tidak masalah sama sekali. Aku sudah mengira hasilnya akan seperti ini.”
“Kau… tidak sedih, Nak?” tanya Gareth dengan mata berkaca-kaca.
“Mengapa harus sedih?” jawab Rey pelan agar hanya mereka bertiga yang mendengar. “Justru ini hasil terbaik untuk saat ini. Kalau bola itu bersinar terang, mungkin justru akan membawa bahaya bagi kita semua. Tenang saja, aku punya keyakinan bahwa jalanku akan tetap terbuka lebar.”
Kata-kata itu terdengar sangat dewasa dan meyakinkan hingga membuat Gareth dan Elara tertegun. Mereka tidak mengerti sepenuhnya maksudnya, tapi melihat ketenangan hati putra mereka, perlahan rasa sedih itu berganti menjadi kekuatan kembali.
“Baiklah… jika kau merasa begitu, maka kita jalani saja apa yang ada di depan mata,” kata Gareth akhirnya sambil menepuk pundak Rey.
Setelah acara selesai dan semua orang pulang ke rumah masing-masing, malam harinya Rey kembali menyelinap pergi ke tempat latihan rahasianya di pinggir sungai. Langit malam itu terang diterangi cahaya bulan purnama dan ribuan bintang yang berkelap-kelip.
Begitu sampai di tempat sepi itu, Rey segera duduk bersila dan membuka seluruh penghalang energi yang ia pasang tadi siang. Dalam sekejap, udara di sekelilingnya terasa berubah. Suhu naik turun secara alami, angin berputar mengelilingi tubuhnya, dan tanah di bawahnya terasa lebih hidup.
“Bola kristal itu memang bagus untuk mengukur kekuatan biasa, tapi ia tidak bisa membaca apa yang tersembunyi dan dikendalikan dengan sadar,” gumam Rey sambil mengangkat kedua tangannya.
Di telapak tangan kanannya muncul nyala api kecil yang hangat dan terang, sedangkan di tangan kirinya terbentuk bola air yang berputar perlahan. Seketika itu juga, angin bertiup lebih kencang, beberapa gumpalan tanah terangkat membentuk bola kecil, dan di sela-sela jari-jarinya melintas kilatan cahaya petir yang menimbulkan bunyi berdengung lembut namun menggetarkan.
Kelima elemen itu berdampingan tanpa saling mematikan satu sama lain, melainkan terlihat harmonis dan indah, seolah menjadi satu kesatuan yang sempurna.
“Mereka semua mengira aku lemah dan tidak punya bakat. Itu bagus sekali. Semakin rendah ekspektasi mereka, semakin aman aku bisa berkembang dan mengasah kekuatanku ini tanpa gangguan,” ucap Rey sambil menatap kekuatannya sendiri dengan tatapan penuh semangat.
Ia tahu perjalanan ke depannya tidak akan mudah, namun dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya dan kekuatan langka yang dimilikinya, Rey merasa dia memegang kartu terbaik yang tidak dimiliki siapa pun.
“Baiklah… biarkan dunia ini menganggapku anak biasa saja untuk saat ini. Nanti ketika waktunya tiba, aku akan membuat mereka semua terkejut melihat siapa aku sebenarnya,” tekadnya dalam hati, lalu melanjutkan latihan malam itu dengan lebih giat lagi.
📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!