Aroma obat-obatan memenuhi ruangan rumah sakit. Annisa duduk diam di depan meja dokter sambil menggenggam lembar hasil pemeriksaan di tangannya. Jemarinya gemetar pelan, sementara matanya terus membaca kalimat yang sama berulang kali.
Sudah lima kali dirinya datang ke rumah sakit yang sama. Lima kali melakukan pemeriksaan. Dan lima kali pula hasilnya tidak pernah berubah.
Annisa menelan ludah susah payah sebelum akhirnya mengangkat wajahnya menatap wanita di depannya.
“Dokter Emeli…” suaranya lirih dan bergetar. “Apa saya benar-benar tidak bisa punya anak?”
Dokter Emeli duduk tenang sambil melepas kacamatanya perlahan. Wajahnya tampak iba, meski ada sesuatu yang sulit dijelaskan tersembunyi di balik tatapannya.
“Bu Annisa,” katanya lembut, “kami sudah melakukan pemeriksaan berulang kali. Kondisi rahim Anda memang sangat sulit untuk hamil.”
Dada Annisa terasa sesak.
“Tapi … masih ada kemungkinan kan dok?” tanyanya penuh harap.
Emeli menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Harapannya sangat kecil.” Wanita itu mendorong map hasil pemeriksaan ke arah Annisa. “Secara medis, Anda bisa dikatakan mandul.”
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam kepala Annisa. Dunia seakan berhenti berputar sesaat.
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, namun Annisa berusaha keras menahannya.
“Tidak mungkin…” bisiknya pelan. “Saya sehat … saya tidak pernah punya riwayat penyakit serius.”
“Banyak faktor yang bisa menyebabkan infertilitas,” jelas Emeli cepat. “Dan kondisi setiap wanita berbeda.”
Annisa menunduk, pikirannya langsung tertuju pada Haikal.
Suaminya sangat menyukai anak-anak. Bahkan, beberapa bulan terakhir, ibu mertuanya terus menyinggung soal keturunan setiap kali mereka bertemu.
Kalau Haikal tahu hasil ini, apakah pria itu masih akan mempertahankannya.
“Dok…” suara Annisa kembali terdengar lirih. “Apa suami saya nanti masih bisa bahagia kalau bersama saya?”
Pertanyaan itu membuat Emeli terdiam sejenak. Namun, sedetik kemudian wanita itu kembali memasang senyum profesionalnya.
“Cobalah ikhlas menerima keadaan.” Kalimat itu justru membuat hati Annisa semakin hancur.
Air matanya akhirnya jatuh. Annisa menggenggam hasil pemeriksaan itu erat sebelum berdiri perlahan dari kursinya.
“Terima kasih, Dok.”
Emeli mengangguk pelan. “Jaga kesehatan Anda.”
Annisa tersenyum tipis meski terasa pahit, lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah lemah.
Pintu tertutup.
Dan saat Annisa benar-benar pergi, senyum di wajah dokter Emeli perlahan menghilang. Wanita itu mengambil ponselnya, lalu mengirim sebuah pesan singkat pada seseorang.
“Dia percaya.”
Annisa keluar dari rumah sakit dengan langkah pelan.
Langit sore tampak mendung, sama seperti hatinya saat itu. Jemarinya menggenggam erat tas berisi hasil pemeriksaan yang baru saja dia terima. Lagi-lagi hasilnya sama.
Kata itu seperti kutukan yang terus menghantuinya selama lima tahun terakhir pernikahannya dengan Haikal. Tanpa Annisa ketahui, hasil itu bukanlah hasil pemeriksaan yang sebenarnya. Namun, kebohongan yang terus disembunyikan seseorang darinya.
Sesampainya di rumah, suara tawa para wanita langsung terdengar dari ruang tamu.
Rumah itu kembali dipenuhi ibu-ibu komplek yang datang menghadiri arisan Lasmi. Semenjak Haikal naik jabatan dua hari lalu, ibu mertuanya itu semakin gemar mengadakan kumpul-kumpul untuk memamerkan keberhasilan anaknya.
Annisa menarik napas pelan sebelum masuk. Baru beberapa langkah, salah satu ibu-ibu langsung menyapanya.
“Eh, Annisa baru pulang?” tanyanya ramah.
Annisa tersenyum tipis. “Iya, Bu.”
Tatapan beberapa orang langsung jatuh pada dirinya. Ada yang memperhatikan tas di tangannya, ada pula yang saling berbisik pelan. Lalu seorang wanita paruh baya bertanya tanpa rasa sungkan.
“Lima tahun nikah kok belum punya momongan juga sih, Nisa?” Pertanyaan itu membuat suasana sedikit hening.
Annisa menegang. Belum sempat menjawab, Lasmi yang duduk di tengah para tamu langsung mendecak sinis.
“Ya gimana mau punya cucu?” ucapnya sambil menyeruput teh. “Kalau menantunya memang tidak becus kasih keturunan.”
Beberapa ibu langsung tertawa kecil, wajah Annisa memucat.
“Bu…” lirihnya menahan malu. “Kami masih berusaha.”
Lasmi malah tersenyum mengejek.
“Berusaha?” Wanita itu melirik tas Annisa. “Kamu baru pulang dari rumah sakit kan?”
Annisa terdiam.
“Dan hasilnya pasti sama lagi.” Lasmi terkekeh kecil. “Mandul tetap mandul.”
Tawa kecil kembali terdengar di ruang tamu. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam ulu hati Annisa begitu keras. Matanya mulai memanas, harusnya seorang ibu mertua menenangkannya, memberinya semangat atau setidaknya menjaga harga dirinya di depan orang lain. Tetapi, Lasmi justru menghancurkannya tanpa rasa kasihan sedikit pun.
“Kasihan juga Haikal,” sambung salah satu tamu. “Sudah sukses, tapi belum punya penerus.”
Lasmi langsung mengangguk setuju. “Itulah nasib anak saya. Salah pilih istri.”
Annisa mengepalkan jemarinya erat. Dadanya sesak menahan malu dan sakit hati yang bercampur menjadi satu. Tetapi, di depan semua orang itu, dirinya hanya bisa diam. Karena tidak ada seorang pun di rumah itu yang berada di pihaknya.
“Haikal itu sebenarnya pintar,” ucap Lasmi sambil memainkan gelang emas di tangannya. “Sayangnya dulu dia salah pilih istri.”
Annisa yang baru hendak melangkah menuju tangga langsung berhenti.
“Entah perempuan sembarangan dari mana yang dia nikahi,” lanjut Lasmi tanpa rasa bersalah. “Asal-usulnya saja tidak jelas. Haikal itu cuma kemakan cinta buta.”
Tawa beberapa ibu-ibu kembali terdengar. Annisa memejamkan mata sesaat. Kalau saja mereka tahu, kalau saja Lasmi tahu siapa dirinya sebenarnya. Namun, Annisa terlalu lelah untuk membela diri. Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Pintu kamar tertutup pelan.
Baru setelah itu Annisa menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Dadanya terasa begitu sakit, tangannya gemetar saat mengambil ponsel dari dalam tas.
Satu-satunya orang yang ingin dia dengar saat ini hanyalah Haikal, suaminya. Annisa segera menghubungi nomor pria itu.
Beberapa detik kemudian panggilannya tersambung.
[Hallo?] suara Haikal terdengar dingin dari seberang sana.
Masih terdengar suara orang berbicara dan nampak ramai diujung sana.
“Mas…” suara Annisa bergetar pelan. “Kamu sibuk?”
[Ya jelas sibuk.] Nada Haikal terdengar kesal. [Aku lagi kerja.]
Annisa menelan ludah.
“Aku baru pulang dari rumah sakit…”
[Terus?] Jawaban singkat itu membuat hati Annisa semakin ciut.
“Ibu tadi ngomong macam-macam lagi di depan tamu,” lirihnya. “Aku malu, Mas.”
Bukannya menenangkan, Haikal malah menghela napas kasar.
[Annisa, kamu nelepon cuma buat ngadu hal beginian?]
Annisa terdiam.
[Aku capek kerja seharian, jangan tambah pikiranku lagi.]
“Tapi aku cuma—”
[Kata-kata ibu juga nggak ada yang salah,] potong Haikal dingin. [Coba introspeksi diri.]
Air mata Annisa kembali jatuh. “Kamu juga nyalahin aku?”
[Lah memang kenyataannya begitu.] Nada suara Haikal mulai meninggi. [Lima tahun nikah belum punya anak. Ibu malu sama tetangga itu wajar.]
Annisa menutup mulutnya menahan tangis.
“Mas … aku juga sakit dengar semua itu.”
[Kalau sakit ya cari solusi, bukan nangis terus.]
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat di dadanya. Padahal yang paling hancur dengan keadaan ini adalah dirinya sendiri. Namun, tak ada seorang pun yang mencoba memahami perasaannya.
“Udah ya,” ucap Haikal cepat. “Jangan ganggu aku kerja lagi.”
Sambungan telepon terputus. Annisa menatap layar ponselnya kosong. Beberapa detik kemudian, tubuhnya luruh pelan di atas ranjang, tangisnya pecah.
Di rumah itu, bahkan suaminya sendiri tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang untuknya.
Sementara itu, di sebuah restoran mewah di pusat kota, Haikal yang katanya sedang sibuk bekerja justru duduk santai di depan seorang wanita cantik berambut panjang dengan jas putih elegan yang digantung di kursinya.
Makan siang mereka terlihat begitu nyaman, bahkan terlalu akrab untuk sekadar teman lama. Emeli mengaduk minumannya pelan sebelum tersenyum tipis.
“Istrimu tadi menelepon?”
Haikal mengangguk malas sambil memotong steak di piringnya.
“Pasti ngeluh lagi soal ibuku.”
Emeli tertawa kecil. “Kasihan juga dia.”
Nada suaranya sama sekali tidak terdengar kasihan. Haikal bersandar santai di kursinya.
“Kadang aku mikir…” pria itu menatap Emeli cukup lama. “Kita terlalu terlambat ketemu lagi.”
Emeli mengangkat alis sambil tersenyum tipis. “Oh ya?”
“Aku dulu kira kamu bakal menikah duluan.”
Wanita itu terkekeh pelan. “Aku sibuk kuliah dan bangun karier.” Tatapannya berubah lembut ke arah Haikal. “Karena aku pikir suatu hari nanti kamu bakal jadi orang sukses.”
Haikal tersenyum bangga mendengarnya.
“Tapi aku nggak nyangka kamu malah menikah sama Annisa,” lanjut Emeli. “Dulu dia itu kembang kampus. Pintar, cantik, banyak yang suka.” Nada bicaranya terdengar seperti pujian, namun terselip sindiran halus di dalamnya.
Haikal malah mendecak pelan. “Aku juga nggak nyangka.”
“Hm?”
“Aku pikir kepintaran Annisa bisa bikin hidupku ikut naik.” Haikal tertawa kecil sambil memainkan gelasnya. “Ternyata dia malah jadi beban.”
Emeli pura-pura terkejut. “Jahat banget ngomong begitu soal istri sendiri.”
“Memang kenyataannya begitu.” Haikal mengangkat bahu acuh. “Aku sukses karena kerja kerasku sendiri. Bukan karena dia.”
Padahal tanpa Haikal sadari. Seluruh jalan yang membawanya sampai ke posisi sekarang justru terbuka karena nama Annisa Wijaya.
Emeli tersenyum samar. “Setidaknya sekarang kamu sudah sukses.”
Haikal mengangguk puas. “Dan aku yakin bakal lebih sukses lagi.”
Keduanya tertawa kecil. Lalu tanpa sadar, tangan Haikal bergerak menggenggam tangan Emeli di atas meja.
Mereka tetap melanjutkan makan siang dengan nyaman, seolah Annisa hanyalah seseorang yang tidak penting untuk dibicarakan lagi.
Di rumah keluarga Haikal, suasana mulai sepi setelah satu per satu tamu arisan Lasmi pulang.
Cangkir kotor masih berserakan di meja ruang tamu. Sisa makanan dan tisu bekas memenuhi meja panjang itu, tetapi Lasmi sama sekali tidak berniat membereskannya sendiri.
Wanita paruh baya itu menggedor pintu kamar Annisa dengan keras.
“Annisa!”
Di dalam kamar, Annisa segera menghapus air matanya sebelum membuka pintu.
“Iya, Bu?”
Lasmi langsung memandangnya sinis dari atas sampai bawah.
“Kenapa malah ngurung diri?” hardiknya. “Cepat bereskan ruang tamu. Piring kotor numpuk semua.”
Annisa menggigit bibir pelan.
“Iya, Bu.”
“Oh ya,” sambung Lasmi lagi sebelum Annisa sempat melangkah. “Nanti malam masak yang enak. Haikal sekarang manajer, jangan kasih makanan murahan terus.”
Annisa hanya mengangguk kecil. Padahal sejak pagi dirinya belum benar-benar istirahat.
Baru pulang dari rumah sakit, dihina di depan banyak orang, dimarahi suami sendiri, dan sekarang tetap harus melayani semua pekerjaan rumah sendirian. Tetapi, itu memang sudah menjadi kesehariannya sejak tinggal di rumah itu.
Lasmi selalu memperlakukannya seperti pembantu. Apapun yang Annisa lakukan tidak pernah benar di mata wanita itu. Saat Annisa memasak, Lasmi bilang masakannya tidak enak. Saat Annisa membersihkan rumah, Lasmi mengatakan dirinya hanya pura-pura rajin. Bahkan, ketika Annisa mencoba bersikap lembut dan hormat, Lasmi tetap memandangnya sebelah mata.
Seolah keberadaan Annisa di rumah itu hanyalah kesalahan terbesar anaknya. Annisa berjalan menuju ruang tamu sambil menarik napas pelan. Tangannya mulai membereskan cangkir-cangkir kotor satu per satu.
Annisa membawa nampan penuh cangkir kotor ke dapur. Tangannya bergerak pelan mencuci satu per satu sambil pikirannya melayang entah ke mana.
Lima tahun, sudah lima tahun dirinya hidup seperti ini. Menjadi istri yang berusaha sempurna, tetapi selalu dianggap kurang. Air keran terus mengalir membasahi tangannya. Tanpa sadar, air mata Annisa kembali jatuh bercampur dengan percikan air cucian.
“Dasar lelet.” Suara Lasmi kembali terdengar dari ruang tamu.
“Begitu saja lama. Pantas Haikal makin malas di rumah.”
Annisa memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa sesak, tetapi dia tetap melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian, suara pintu rumah terbuka.
Haikal pulang, wajah Annisa spontan menoleh ke arah depan rumah dengan sedikit harapan di matanya. Mungkin setelah emosinya reda, pria itu akan bicara baik-baik padanya. Namun, harapan itu runtuh secepat datangnya.
“Haikal, sini duduk dulu,” panggil Lasmi manja pada anaknya. “Capek ya kerja?”
Haikal tersenyum kecil sambil melonggarkan dasinya.
“Iya, Bu.”
Tatapan pria itu sempat beralih sekilas ke arah dapur tempat Annisa berdiri, namun hanya sekilas sebelum kembali duduk santai di sofa.
“Masakan belum siap?” tanyanya datar.
Annisa segera mengeringkan tangannya. “Sebentar lagi, Mas.”
Lasmi langsung mendecak.
“Lihat tuh, pulang kerja malah belum disiapkan makanan. Istri macam apa.”
Haikal tak membela.
Pria itu malah ikut menghela napas panjang seolah dirinya benar-benar memiliki beban hidup yang berat karena Annisa.
“Cepat sedikit, Nisa,” ucapnya dingin. “Aku lapar.”
Annisa menunduk pelan. “Iya, Mas.”
Dirinya kembali sibuk di dapur menyiapkan makan malam.
Sementara di ruang tamu, Haikal dan Lasmi tertawa membahas keberhasilan karier Haikal hari ini. Tak ada yang peduli bahwa sejak siang Annisa belum makan. Tak ada yang bertanya bagaimana perasaannya setelah dari rumah sakit. Dan yang paling menyakitkan, tak ada yang benar-benar menganggap Annisa bagian dari keluarga itu.
Keesokan paginya, rumah sudah kembali sibuk sejak matahari belum benar-benar tinggi.
Annisa berdiri di dapur menyiapkan sarapan seperti biasanya. Aroma nasi goreng dan telur dadar memenuhi ruangan, sementara teh hangat sudah tersaji rapi di meja makan. Namun, Haikal yang baru turun dari lantai atas hanya mengambil tas kerjanya terburu-buru.
“Aku berangkat sekarang,” ucapnya singkat.
Annisa langsung menoleh. “Mas, sarapan aja dulu.”
“Nggak usah.” Haikal memakai jam tangannya cepat. “Aku sarapan di kantor aja. Ada meeting pagi.”
Annisa mengangguk pelan meski sedikit kecewa. “Kalau begitu aku ambilkan bekal—”
“Nggak perlu ribet.” Jawaban Haikal selalu singkat akhir-akhir ini.
Seolah berbicara lebih lama dengan istrinya saja membuat pria itu malas. Saat Haikal berjalan menuju pintu depan, Annisa segera menyusul. Seperti kebiasaan seorang istri pada suaminya, Annisa mengangkat tangan ingin bersalaman sebelum Haikal pergi bekerja. Namun, belum sempat tangannya disentuh, ponsel Haikal berdering.
Pria itu langsung melihat layar ponselnya dan wajahnya berubah lebih hidup. Tanpa ragu Haikal mengabaikan tangan Annisa yang menggantung di udara begitu saja.
“Iya?” jawabnya cepat sambil tersenyum kecil.
Annisa terdiam.
“Aku sudah jalan,” lanjut Haikal dengan nada yang jauh lebih lembut dibanding saat berbicara dengannya. “Sarapan di tempat biasa?”
Entah apa jawaban dari seberang sana, tetapi Haikal tertawa kecil setelahnya.
“Iya, iya. Tunggu aku.”bPria itu terus berbicara di telepon bahkan sampai keluar rumah menuju mobilnya.
Dari ambang pintu, Annisa hanya bisa diam memandangi punggung suaminya. Senyum Haikal terlihat begitu bahagia pagi itu. Senyum yang sudah sangat jarang Annisa lihat saat pria itu bersamanya.
Hati Annisa terasa aneh. Tetapi, dirinya mencoba menepis pikiran buruk yang mulai muncul.
Mobil Haikal pergi meninggalkan rumah. Annisa masih berdiri membeku di depan pintu sampai suara teriakan Lasmi terdengar dari arah dapur.
“Annisa!”
Wanita itu tersentak.
“Kalau suami sudah pergi jangan malah bengong! Cepat cuci piringnya!” bentak Lasmi lagi. “Dasar tidak berguna!”
Annisa menahan napas sejenak sebelum akhirnya berjalan menuju dapur.
Tumpukan piring kotor masih memenuhi wastafel. Sementara Lasmi berdiri santai sambil memilih-milih tas di ponselnya, sama sekali tidak berniat membantu.
“Ibu…” panggil Annisa pelan.
Lasmi menoleh malas. “Apa lagi?”
Annisa menggenggam ujung bajunya pelan.
“Aku juga belum sarapan dari pagi.” Suaranya terdengar lelah. “Apa Ibu nggak mau bantu aku cuci piring dulu?”
Bukannya iba, Lasmi malah langsung membentak keras. “Kurang ajar kamu ya sekarang!” hardiknya tajam. “Berani nyuruh mertua kerja?”
Annisa langsung terdiam. “Aku cuma bilang—”
“Kamu itu menantu!” potong Lasmi sinis. “Kerjaan rumah memang tugas kamu!”
Wanita itu lalu mengambil dompetnya dengan wajah kesal.
“Lagian aku malas.” Lasmi mengibaskan tangan. “Siang ini aku mau shopping sama teman-temanku.”
Setelah berkata begitu, Lasmi mengeluarkan selembar uang lalu meletakkannya kasar di meja dapur.
“Nanti masak ayam gulai buat makan malam.”
Annisa spontan melihat uang itu, dua puluh ribu rupiah. Keningnya langsung berkerut bingung.
“Bu…” Annisa mengangkat uang itu perlahan. “Ini nggak cukup buat beli ayam.”
Lasmi langsung mendecak kesal seolah Annisa sengaja mencari masalah.
“Kamu itu bisanya ngeluh terus!”
“Tapi harga ayam sekarang mahal…”
“Pintar-pintarlah ngatur uang!” bentak Lasmi. “Atau jangan-jangan selama ini kamu cuma numpang makan di rumah ini?” Ucapan itu membuat dada Annisa terasa panas.
Padahal, selama ini dirinya sering memakai uang pribadinya untuk kebutuhan rumah tanpa pernah bicara. Tetapi, di mata Lasmi, dirinya tetap salah.
“Kalau nggak cukup, ya cari cara!” lanjut Lasmi ketus. “Jangan sedikit-sedikit minta uang!”
Setelah itu wanita tersebut langsung pergi meninggalkan dapur begitu saja. Annisa berdiri diam sambil menatap lembar uang dua puluh ribu di tangannya. Pelan-pelan, matanya mulai memanas lagi.
Bukan karena uangnya tetapi karena dirinya diperlakukan serendah itu di rumah suaminya sendiri. Annisa langsung mengejar Lasmi sampai ke ruang tamu.
“Ibu, tunggu dulu,” katanya dengan napas sedikit memburu.
Lasmi menoleh tidak sabar. “Apa lagi sih?”
Annisa menggenggam uang dua puluh ribu itu erat.
“Gaji Mas Haikal semuanya kan dipegang Ibu…” suaranya mulai melemah. “Annisa nggak punya uang tambahan buat belanja.” Ucapan itu justru membuat wajah Lasmi berubah sinis.
“Oh jadi sekarang kamu mau nyalahin ibu?”
“Aku nggak nyalahin, Bu. Tapi uang segini memang nggak cukup buat beli ayam.”
Lasmi langsung tertawa mengejek.
“Makanya jadi perempuan itu jangan cuma bisa makan uang suami, kerja!”
Annisa mengerutkan kening.
“Selama ini aku juga sering pakai uang pribadi aku buat kebutuhan rumah.”
“Uang pribadi?” Lasmi mendecak. “Memangnya kamu punya apa?” Kalimat itu membuat kesabaran Annisa mulai retak.
“Aku juga manusia, Bu…” suaranya bergetar menahan tangis. “Aku capek terus diperlakukan begini.”
Lasmi melipat tangan di dada. “Kalau capek ya pisah saja dari Haikal.”
Annisa membeku. Lasmi melanjutkan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Buat apa anak ku mempertahankan perempuan mandul?” katanya dingin. “Nanti aku carikan perempuan lain yang bisa kasih keturunan.”
Air mata Annisa langsung jatuh.
“Bu, jangan ngomong seperti itu…”
“Kenapa? Salah?”
“Annisa sudah berusaha jadi istri yang baik.” Suara Annisa mulai meninggi karena tak kuat lagi menahan sakit hati. “Aku setia sama Mas Haikal, aku ngurus rumah ini setiap hari, meskipun aku diperlakukan seperti pembantu!”
Lasmi langsung melotot. “Berani kamu melawan ibu?”
“Aku cuma mau Ibu sedikit menghargai Annisa, Bu!”
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Annisa hingga tubuh wanita itu terjatuh ke lantai. Annisa memegangi pipinya yang terasa panas.
Matanya membesar tidak percaya. Sementara Lasmi berdiri sambil menunjuk wajah menantunya dengan penuh amarah.
“Jangan pernah naik suara di depan Ibu!” bentaknya keras. “Kamu cuma numpang hidup di rumah ini!”
Air mata Annisa terus jatuh, Lasmi belum selesai.
“Ingat posisi kamu!” hardiknya lagi. “Kalau Haikal mau buang kamu kapan saja, tidak ada yang akan membela perempuan tidak berguna seperti kamu! Paham?!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!