"Bagaimana kalau Gabriella tau?"
"Aku tinggal meminta maaf. Kamu tahu bukan dia tidak dapat hidup tanpaku?"
Dika tersenyum kembali menyesap bibir Saskia yang berada di atas pangkuannya. Bagaikan bergulat dengan nafsu, perlahan kancing kemeja Saskia dibuka olehnya.
"Ah...hah...ah...oh...ha... Dika" Suara racauan Saskia menjambak rambut Dika, pelan. Kala merasakan betapa manja bibir pria itu mempermainkan kedua gumpalan daging miliknya yang begitu indah.
Tidak ada yang menyadari seorang wanita bersembunyi di belakang meja dapur, membawa kue ulang tahun. Tidak ada kata yang dapat diucapkan olehnya.
Tubuhnya bergetar menahan tangis. Menutup mulutnya sendiri tidak ingin suaranya terdengar. Kue ulang tahun yang disiapkan olehnya, bagaikan basah oleh air mata.
Dirinya bahkan tidak kuasa mengintip lagi. Benar-benar tidak kuasa melihat permainan kekasihnya dengan sahabatnya sendiri.
Ini memang pertunangan aliansi bisnis. Tapi tetap saja pertunangan ini dilaksanakan dari kecil, dirinya pun selalu mengejar dan mencintai Dika sepenuh hati. Perasaan yang disangka berbalas olehnya.
"Ha...hha..." Nafas Gabriela tidak teratur, menahan rasa sesak di dadanya.
"Kita lanjutkan di kamar ya?" Pinta Saskia manja, melirik ke arah Gabriela bersembunyi.
Dika mengangkat tubuh Saskia ala bridal style. Perlahan mulai membawa Saskia masuk ke dalam kamarnya.
Tangisan yang sama sekali tidak dapat ditahan. Gabriella tidak lagi kuasa menahan isakannya. Pada akhirnya melangkah mencoba bangkit.
Tangannya masih memegang handphone berisikan pesan dari Saskia agar mengadakan pesta kejutan untuk Dika. Ternyata, sahabatnya bahkan tidak ragu untuk menyakiti hatinya...
Segalanya bagaikan mengejek takdirnya.
Dirinya melangkah melewati ruang tamu, melirik ke arah pintu kamar Dika yang sedikit terbuka. Suara racauan semakin keras terdengar, bagaikan Saskia sengaja agar dirinya mendengar.
"Oh! Dika! Owh! Kamu begitu luar biasa...hah...ah...ya disana! Punyamu enak!"
Bagaimana Dika dapat...
Gabriella berlari, menutup mulutnya sendiri. Namun kala hendak keluar dari rumah, dirinya berpapasan dengan seseorang.
"Nona Gabriella, apa sudah bertemu dengan tuan muda?" Tanya Sion, pemuda yang merupakan butler, sekaligus asisten Dika.
Tidak ada jawaban dari Gabriella, wanita itu hanya memberikan kue ulang tahun milik Dika pada Sion.
"Ja...jangan katakan aku kemari." Ucapnya mencoba menghapus air matanya.
Sion hanya menatapnya, kemudian berucap."Apa saya dapat mengantar Nona?"
Wanita yang hanya menggeleng berusaha keras untuk tersenyum, menaiki mobil miliknya, meninggalkan rumah Dika adalah satu-satunya yang ingin dilakukan olehnya.
Mengapa dapat seperti ini? Mengapa kekasih dan sahabatnya. Beberapa kali menghapus air matanya sendiri, membuat pandangan matanya berkunang-kunang.
Srak!
Brak!
Sebuah kecelakaan terjadi, dirinya menghindari truk yang menyalip berlawanan arah. Hingga menabrak pembatas jalan, mobil miliknya terbalik.
Sekujur tubuhnya terasa sakit, terdapat luka kecil di bagian kepalanya.
Meraba handphonenya, dirinya mencoba menghubungi Dika. Mengingat kedua orang tuanya berada di luar negeri.
'Tut...Tut... nomor yang anda tuju saat ini tidak dapat mengangkat panggilan...'
Seperti sudah diduga teleponnya dialihkan. Bahkan di saat-saat seperti ini, Dika lebih memilih Saskia.
Air matanya mengalir, bersamaan dengan kesadarannya yang menghilang.
***
Aroma alkohol medis tercium, perlahan matanya terbuka merasakan sinar cukup terang. Ini rumah sakit? Gabriella menyadari dari selang infus yang terpasang.
Suara kasak-kusuk terdengar di luar sana, pintu ruang rawatnya sedikit terbuka.
"Ini laporan CT scan untuk pasien atas nama Bella putri." Kalimat dari seorang perawat.
"Ya...nanti aku sampaikan pada dokter dan keluarganya." Perawat yang tengah memainkan handphone meraih amplop coklat tersebut. Seperti tidak peduli dan tidak memperhatikan penjelasan rekan kerjanya.
Gabriella menghela nafas, mengingat segalanya. Hatinya masih patah, bagaimana sosok Dika sebenarnya? Dulu dirinya mengira tunangannya hanya terlalu dingin. Tapi ternyata hanya dingin pada dirinya. Malah lumer pada wanita lain.
Hingga suara seseorang melangkah mendekati ruang rawatnya terdengar. Perawat yang sebelumnya menerima amplop coklat yang masuk. Menyuntikkan obat pada infusnya.
Diikuti seorang dokter yang datang belakangan. Juga untuk memeriksa keadaannya.
Sesaat kemudian seorang pemuda memasuki ruang rawatnya. Kemudian bertanya pada dokter."Bagaimana keadaan nona Gabriella Putri?"
Sion yang datang, bukan Dika, semua sudah diduga olehnya. Pacarnya pasti akan hanya mengirimkan pelayan. Karena itu Gabriella hanya diam tanpa kata.
"Mana hasil CT scan untuk nona Gabriella Putri?" Sang dokter menadahkan tangannya pada sang perawat.
Gabriella mengernyitkan keningnya kala laporan CT scan yang diberikan harusnya untuk pasien Bella putri. Tapi entah kenapa dirinya masih enggan untuk bicara. Terlalu lemas? Atau memang hanya sedang galau.
"Menurut hasil pasien mengalami amnesia, mungkin karena efek benturan, sempat terjadi pembekuan darah di otak." Penjelasan singkat, setelah sang dokter memeriksa hasil CT scan.
Sion mengerutkan keningnya, menatap ke arah sang dokter.
"Apa kamu keluarga pasien?" Tanya sang dokter.
Sion menggeleng."Nona Gabriella adalah---"
Seseorang tiba-tiba memasuki ruangan dengan cepat. Sudah dapat ditebak, itu adalah Dika. Memegang jemari tangan tunangannya erat."Gabriella, kamu tidak apa-apa?" Tanya Dika.
Tapi dengan cepat Gabriella menarik tangannya merasa begitu menjijikan.
"Kamu kenapa?" Tanya Dika tidak mengerti.
"Nona Gabriella mengalami amnesia. Ini mungkin hanya sementara waktu. Akan dapat disembuhkan dengan pengobatan." Jawaban dari sang dokter.
Dika terdiam, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah menjadi lebih tenang.
"Gabriella, aku adalah Dika, kamu ingat aku?" Tanya Dika.
Tapi Gabriella hanya diam, apa Dika salah sangka dirinya hilang ingatan?
"Pasti tidak, aku adalah majikan dari pacarmu." Dika tersenyum licik, niat busuk ada dalam dirinya. Kali ini Gabriella tidak akan mengganggu hidupnya lagi. Setidaknya sampai ingatan wanita ini kembali, dirinya dapat berselingkuh dengan Saskia secara terang-terangan.
"Tuan?" Sion mengerutkan keningnya.
Dika menatap tajam ke arah Sion, mendekatinya kemudian berbisik."Aku ingin liburan dari tingkah posesifnya. Setidaknya 6 bulan, kamu harus membantuku. Kalau tidak, kamu aku pecat."
"Tapi---" Kalimat Sion disela.
Dika kembali berbisik."Gabriella mengejarku dari kecil, hingga sekarang. Dia begitu mencintaiku, jika pun ketahuan dia akan memaafkanku dengan mudah."
Pemuda yang menarik pelayannya. Kemudian berucap penuh keyakinan pada tunangannya."Dia adalah Sion, kekasihmu. Dan aku adalah majikan Sion. Aku hanya menjenguk mu ke tempat ini."
"Aku kira kamu pacarku." Ucap Gabriella tersenyum berusaha keras menahan amarah. Tangan kanannya mencengkeram selimut erat.
"Tidak! Aku sudah punya pacar, namanya Saskia. Pacarmu adalah Sion, kalian bahkan sudah merencanakan pernikahan kalian tahun depan." Dika berucap penuh senyuman, benar-benar pria tidak tahu malu.
Berpikir, jika pada akhirnya dirinya dapat bebas bernapas selama 6 bulan. Mengingat bagaimana posesifnya tingkah Gabriella.
Hanya 6 bulan, setelah itu dirinya akan minta maaf dan kembali pada tunangannya. Anggap saja liburan, atau mencari sensasi berbeda sebelum pernikahan...
"Begitu?" Tanya Gabriella.
Dengan cepat Dika mengangguk, menginjak kaki Sion agar ikut bekerja sama.
"Benar, saya adalah pacar anda." Sion yang biasanya kaku tersenyum lembut. Sangat aneh... benar-benar aneh.
Tapi, dirinya akan membuka topeng Dika sepenuhnya hingga hatinya kebas. Tidak mencintai Dika lagi.
"Sayang...mau bercinta?" Tanya Gabriella menggoda. Dirinya harus berakting sesempurna mungkin.
Sebuah ajakan yang gila, sejatinya Gabriella pun ingin menampar dirinya sendiri. Bagaimana dirinya dapat berkata demikian? Hanya karena panik tidak ingin dirinya ketahuan hilang ingatan.
Dika mengepalkan tangannya, berusaha keras untuk tersenyum. Tapi sejenak menghela nafas Gabriella sudah mencintainya selama bertahun-tahun. Tidak mungkin rasanya berpindah ke lain hati. Selain itu, watak Gabriella begitu elegan dan anggun. Berbeda dengan sosoknya saat ini.
Dengan cepat Dika melancarkan jurus pamungkasnya, menginjak kaki Sion. Kemudian pria itu menggeleng, bukan karena lehernya yang sakit tapi ingin Sion menolak ajakan Gabriella.
"Maaf Nona, sayangnya itu sama sekali tidak bisa. Hal tersebut melanggar norma, selain itu anda dan saya belum menikah. Tidak baik melakukan hal yang tidak pantas." Itulah yang dikatakan Sion penuh senyuman merapikan letak kacamatanya.
Itulah kelebihan dari butlernya, benar-benarkah aku dan profesional. Pria yang tidak mungkin tergoda, merayu, atau akan jatuh cinta pada kekasihnya. Tidak mungkin Sion menyentuh Gabriella.
Dirinya dapat bersenang-senang dengan Saskia sesuka hati setelah ini.
"Oh begitu... maaf..." Gabriella sedikit menunduk.
"Keadaanmu kelihatannya baik-baik saja. Karena tidak ada apa-apa lagi, aku akan kembali ke kantor, ada urusan bisnis yang harus ditangani." Kalimat yang diucapkan oleh Dika.
Gabriella tidak menjawab sama sekali hanya menatap ke arah kaca jendela. Ternyata memang benar-benar hilang ingatan, itu hal yang cukup bagus, selama 10 tahun dirinya diikuti oleh wanita ini. Muak dengan tingkah posesifnya, pada akhirnya dapat liburan tanpa Gabriella.
"Sion kemari! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Dika menghela nafas kasar, sekarang ada saatnya memberikan peringatan pada butler, sekaligus asistennya ini.
"Baik Tuan..." Hanya sebuah jawaban datar dari Sion melangkah mengikuti Dika.
Dua orang yang pada akhirnya berbicara di lorong rumah sakit. Mungkin, mereka tidak menyadari Gabriella mengikuti mereka dan mendengar semuanya.
"Tuan, sebaiknya anda tidak bermain-main dengan hal ini. Jika ingatan Nona Gabriella kembali, semuanya akan menjadi begitu sulit." Itulah yang diucapkan oleh Sion.
"Kamu tenang saja, Gabriella begitu mencintaiku. Aku adalah satu-satunya pria dalam hatinya. Bahkan dia rela melakukan apapun demi ku." Sebuah jawaban penuh senyuman dari Dika.
"Tapi tetap saja, perasaan seseorang tidak dapat ditebak sama sekali. Jika Nona Gabriella terlanjur terluka. Kerjasama di antara dua perusahaan, yang terjalin selama puluhan tahun akan hancur. Tugas saya hanyalah untuk menasehati anda." Itulah yang diucapkan oleh Sion, seorang pemuda yang begitu kaku, dipilih menjadi asisten kepercayaan sekaligus Butler yang mengurus keperluan Dika.
"Kamu yang tidak pernah jatuh cinta tidak akan mengerti sama sekali. Aku tidak menyukai Gabriella yang membosankan. Aku bisa mati gila jika terus dekat dengannya. Walaupun akhir dari segalanya aku tetap akan menikah dengan Gabriella. Tapi tetap saja aku tidak akan pernah memutuskan hubunganku dengan Saskia." Dika mendekati Sion, menepuk bahunya kemudian berbisik di telinganya.
"Sion, kamu sama sekali tidak akan mengerti, pria mapan, tampan, sepertiku sudah umum memiliki satu atau dua wanita simpanan. Kali ini aku hanya bermain-main sebelum pernikahan. Mumpung ada kesempatan." Pemuda yang tersenyum tengil, menganggap dirinya yang paling benar kemudian melangkah meninggalkan Sion.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut sang asisten.
Tapi.
"Sion! Jangan lupa kamu harus terlihat seperti pacar asli Gabriella! Jangan terlihat kaku! Dan jangan coba-coba kau sentuh dia!" Sebuah peringatan keras dari Dika.
Sion hanya dapat menghela nafas kasar, melihat majikannya melangkah terlihat begitu senang. Seperti seekor kapibara yang baru saja terlepas dari kandang.
Sedangkan Gabriella yang mendengar segalanya. Hanya dapat menghela nafas, air matanya mengalir, segera dihapus olehnya. Ternyata dirinya bagaikan penjara yang mengurung Dika. Ternyata Dika sama sekali tidak mencintainya, semuanya hanya karena kesepakatan bisnis.
Tidak apa-apa, dirinya lebih memilih berpura-pura tidak tahu. Biarlah Dika mengira dirinya masih kehilangan ingatan.
Wanita yang segera melangkah menuju kamar rawatnya. Kedua orang tuanya masih berada di luar negeri. Mungkin baru akan kembali dalam beberapa minggu ini.
***
Sudah 4 jam sejak kepergian Sion, pemuda kaku itu entah berada di mana. Apa mungkin melarikan diri dari tanggung jawab? Mungkin mentang-mentang dirinya kehilangan ingatan, Sion menganggap dapat memperlakukannya seenaknya.
Bahkan pelayan kekasihnya begitu jahat...
Tapi.
Pintu ruang rawat terbuka, sosok itu melangkah sembari membaca buku. Buku yang segera disembunyikan olehnya, kalau melihat Gabriella menatap ke arahnya.
Pria yang biasanya begitu kaku dan resmi itu berucap."Sayang... kamu lebih menyukai bubur sumsum atau bubur ayam?" sebuah pertanyaan dengan nada lembut.
Hal yang membuat Gabriela mengangkat sebelah alisnya. Kenapa orang ini tiba-tiba berubah 180 derajat setelah pergi?
"Aku lebih menyukai bubur sumsum. Apa benda yang manis itu bubur sumsum?" Tanya Gabriela penuh senyuman.
Sion mengangguk pelan."Nona biar aku suapi... tidak maksudku sayang! Biar aku suapi."
Ternyata pemuda ini beradaptasi dengan cepat, dirinya tidak menyangka sama sekali.
Mangkok bubur sumsum dibuka, dirinya mulai disuapi oleh Sion.
"Sayang, wajahmu selalu terlihat seperti bintang. Bagaikan impianku untuk meraihnya. Tapi sama sekali tidak bisa..." Itulah yang diucapkan oleh Sion tersenyum kaku. Membuat Gabriella tidak percaya dengan ucapannya. Bagaimana bisa Sion yang kaku berkata seperti itu? Apa kabar dunia? Sudah gila!
Pria yang segera menggeleng dengan cepat."Tidak itu tidak benar. Nona bukan bintang, tapi udara. Bintang tidak dapat diraih sama sekali, tidak mendapatkannya juga manusia akan lanjutkan hidupnya. Tapi udara, selalu ada untukku, membuatku bertahan hidup."
Eh!
Kata-kata yang benar-benar menusuk hati, renung kalbu dan jiwa. Jika yang mengucapkannya adalah pria tampan seperti ini. Atau lebih tepatnya jika yang mengucapkannya adalah Dika, tunangannya.
Tapi yang mengucapkan yang malah Sion, pria yang paling perfeksionis dan kaku. Siapa sangka memiliki sisi seperti ini.
"Sayang, orang tadi itu benar-benar majikanmu?" Tanya Gabriella mencoba mengorek informasi.
"Benar! Saya... Maaf maksudnya aku. Aku bekerja padanya, hanya bekerja untuk mengumpulkan uang." Sion kembali menyuapi Gabriella.
Wanita yang melirik ke arah tas milik Sion yang isinya berceceran, karena diletakkan di sofa.
Beberapa buku aneh terlihat, dimulai dari buku dengan judul 'Bagaimana Menjadi Pacar Yang Baik.' Ada satu buku lagi dengan judul 'Cara Untuk Disukai Wanita.'
Tapi bukan itu yang menarik perhatian Gabriella. Satu buku lagi yang terlihat masih tersegel rapi, dengan judul.'Bercinta Setiap Malam.'
Sumpah demi apapun, Gabriela berusaha keras menahan tawanya. Dirinya dapat menebak mengapa tingkah laku Sion tiba-tiba berubah. Sudah pasti itu karena buku-buku yang dibelinya ini. Mencontoh semua hal yang ada dalam buku. Sumpah! ini benar-benar lucu, Ala orang kaku ini bahkan salah membeli buku. Mungkin hanya asal membeli buku dengan sampul menggunakan kata cinta. Hingga novel dewasa lah yang dibelinya.
"Sion, jadi setelah pulang dari rumah sakit, boleh aku tinggal denganmu?" Tanya Gabriella menggoda.
"Anda memiliki rumah sendiri. Jadi---" Kalimat Sion disela.
"Aku masih sakit, tidak ada yang merawatku. Sedangkan pacarku sendiri mencoba untuk meninggalkanku? Bukankah terlalu jahat?" Gabriela menangis manja.
"Saya akan menginap jika seperti itu." Sion menghela nafas kasar. Bersamaan dengan Gabriella yang memeluk tubuhnya erat.
Baik! Jika Dika bisa berselingkuh, maka dirinya juga akan.
Lagi pula yang menyuruh berselingkuh adalah Dika sendiri. Entahlah ini balas dendam atau apa... tapi yang jelas semuanya seperti ada dalam pusaran kekacauan.
Tapi, Gabriella menatap pada sesuatu yang aneh, telinga pria ini memerah? Apa malu? Seorang Sion bisa malu?
Pria yang biasanya kaku bagaikan manekin, seorang asisten sekaligus Butler bertangan dingin. Itulah yang diingatnya tentang sosok Sion. Pria yang selalu ada di belakang Dika.
Tapi memang ini agak sedikit aneh dan lucu. Bagaimana pria ini berada di belakang layar, dapat begitu kikuk.
"Sion, bisa ceritakan tentang masa lalu kita?" Tanya Gabriella benar-benar pelan.
"Anda menempuh pendidikan di luar negeri. Jadi kita tidak begitu sering bertemu." Alasan yang diucapkan oleh pemuda ini dalam raut wajah datar. Sudah pasti sosoknya tegang maksimal, jemari tangan Gabriella memegang jemari tangannya, terasa begitu dingin. Apakah rasa tegang? lucunya...
"Begitu? Jadi siapa sebenarnya aku?" Pertanyaan yang diucapkan oleh Gabriella. Dirinya ingin mengetahui sosoknya sendiri di mata Sang asisten.
"Anda adalah..." kalimat Sion disela.
"Anda! Anda! Memang aku adalah pacar majikanmu? Panggil sayang dong..." Lagi-lagi wanita ini begitu genit, benar-benar ingin menggoda asisten tunangannya. Lagi pula asistennya ini, merupakan pilar dari segalanya.
Jabatannya memang asisten sekaligus Butler. Tapi tugasnya sering menggantikan Dika, jika tiba-tiba menghilang. Menghilang? sudah pasti bukan menghilang, kemungkinan besar sibuk dengan Saskia. Kenapa dirinya tidak menyadari dari awal jika tunangannya begitu dekat dengan sahabatnya?
Sion menelan ludah kembali."Sayang... jabatanmu adalah direktur utama di perusahaan milik keluargamu sendiri. Kamu memiliki hobi ekstrim di bidang beladiri. Makanan kesukaanmu adalah kue kiwi, hal yang paling kamu benci adalah menunggu. Jika kamu terlalu lama menunggu, kamu akan mengambil kertas dan merobeknya sedikit demi sedikit, sambil mengertakan gigi. Kamu alergi terhadap seafood, jika sedikit saja memakan seafood, reaksi alergi yang sangat parah, bisa menyebabkan sesak nafas..."
Gabriella tertegun, ternyata asisten pacarnya tahu semua tentang dirinya. Tapi memang benar, 5 tahun ini orang inilah yang selalu menjaganya. Semuanya atas perintah Dika, setiap Dika mengatakan sibuk, maka Sion akan menyajikan teh madu untuknya. Walaupun hanya mengamatinya sembari berdiri kaku di ruang tamu.
Jika dirinya tidak sengaja memakan seafood, asisten pacarnya ini akan menggendongnya, membawanya pergi ke rumah sakit.
Ya... memang sulit dipungkiri, sosok Dika sedingin itu. Tapi mau bagaimana lagi itulah kenyataannya.
Pada awalnya dirinya mengira, Dika hanya sedikit tidak perhatian. Padahal aslinya tidak cinta, sialnya dirinya terjebak buaya mangap-mangap selama 10 tahun lebih.
"Jadi begitu? Itu artinya Aku adalah Putri keluarga kaya yang pacaran dengan seorang pelayan?" Pertanyaan dari Gabriella.
Sion menghela nafas, mulai mengupaskan buah untuknya."Benar..." Hanya itulah jawaban Sion.
"Kamu adalah pacarku. Apa kamu tidak berpikir untuk lebih mengembangkan kariermu? Misalnya dengan membantuku di perusahaan keluargaku. Jangan menjadi pelayan orang lain." Gabriella meraih salah satu potongan buah.
"Itu tidak terpikirkan." Sion sempat terdiam sejenak. Sialnya benar-benar asisten yang setia. Dirinya lebih tertarik lagi untuk merekrutnya di pihaknya.
Pria yang kembali mengupas buah. Menghela nafasnya, begitu canggung kala baru selesai mengupas."Sayang...aaa...." Sion berusaha tersenyum, menyuapi Gabriella dengan potongan buah.
Sungguh! Asisten yang totalitas, bahkan memerankan sebagai pacar palsu yang sempurna bisa seperti ini, hanya berbekal tutorial di buku.
Gabriella membuka mulutnya, kemudian mengunyah buah yang diberikan orang ini. Dirinya harus terlihat benar-benar hilang ingatan. Lebih mengetahui lagi kebusukan kekasihnya, hingga hatinya kebas. Juga menghancurkan Saskia di saat yang sama.
"Ekhm..." Sion terbatuk sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya sembari berucap."Sayang benar-benar cantik..."
Sial! Dirinya yang mengunyah buah, tertegun tapa kata. Kenapa dapat seperti ini? Gila! Hanya dengan membaca tutorial di buku dapat...pacar yang sempurna?
Tidak! Gabriella segera menyadarkan dirinya sendiri dari lamunannya. Mengunyah apel di mulutnya dengan cepat. Ini cuma tipu daya yang diperintahkan Dika. Bagaimana cara berselingkuh sesungguhnya dengan elegan akan dilakukan olehnya.
Hingga, suara ketukan pintu terdengar.
Seseorang memasuki tempat ini tanpa permisi. Itulah Saskia, sahabat sekaligus putri dari salah satu manager yang bekerja di perusahaan keluarganya.
"Hai Gabriella, apa keadaanmu baik-baik saja?" Tanya wanita itu masuk tanpa sungkan sama sekali. Memang dasar kuntilanak, hobinya bikin anak.
Gabriella mengangguk pelan."Kamu siapa ya?" Kalimat darinya berpura-pura hilang ingatan. Padahal aslinya ingin menghantam orang ini.
Saskia meletakkan buah yang dibawa olehnya. Wajahnya tersenyum cerah, terlihat begitu gembira, sengaja memakai pakaian dengan bagian leher dan bahu terbuka, agar bekas tanda cinta dari Dika terlihat.
"Dika mengatakan kamu mengalami kecelakaan. Ingatanmu juga hilang, jadi memang benar?" Tanya Saskia pelan, mulai duduk di kursi sebelah tempat tidur pasien.
"Begitulah, sampai sekarang kepalaku masih sering sakit." Jawaban dari Gabriella seakan menjadi wanita polos. Tidak menjadi wanita tegas seperti biasanya.
"Kita adalah teman, namaku Saskia. Kita seperti saudara yang---" Kalimat Saskia yang hendak memegang jemari tangannya terhenti. Kala Gabriella menarik tangannya sendiri.
"Aku merasa asing denganmu. Maaf..." Gabriella mengalihkan pandangannya pada Sion."Sayang, kenapa kamu malah berdiri terlalu jauh. Ayo kemari."
Sebuah tindakan nekad, luar biasa, Gabriella mendorong Saskia sekuat tenaga hingga terjatuh. Memberikan ruang pada Sion untuk mendekat.
"Gabriella!" Bentak Saskia jatuh tersungkur.
"Em? Kenapa?" Gabriella tersenyum menatap dengan pandangan menghina.
"Aku adalah temanmu, kita sahabat baik dari kecil!" Bentak Saskia berusaha untuk bangkit.
"Lalu? Aku kaya...kamu miskin." Lagi-lagi kalimat penuh penghinaan dari Gabriella.
"Gabriella, kamu tidak ingat masa-masa yang kita lewati!?" Saskia berusaha keras untuk tersenyum.
"Aku kan hilang ingatan. Yang aku tahu, aku kaya...kamu pastinya cuma orang miskin." Gabriella mengangkat salah satu alisnya. Menerima suapan berupa buah anggur dari Sion. Punya pacar palsu super sempurna memang sebuah kenikmatan duniawi.
"Aku akan mengadukan ini pada Dika. Dia akan membencimu karena bersikap kasar!" Saskia memberikan ancaman, sebuah ancaman yang biasanya selalu berhasil.
Tapi.
"Adukan saja, dia kan pacarmu, jadi wajar saja kalau kamu mengadu." Gabriella mengangkat sebelah alisnya, kemudian melirik ke arah Sion."Sayang, aku ingin jeruk..." Ucapnya manja.
"Semuanya untuk yang tercantik." Sion tersenyum, meraih jeruk, kemudian mengupaskannya untuk Gabriella. Kenikmatan mana yang engkau dustakan. Walaupun cuma pura-pura, walaupun cuma pacar palsu, servicenya melebihi cinta sejati yang...preeet...
Saskia mengepalkan tangannya."Biar aku buat kamu mengingatnya. Kita ini sahabat dari kecil. Kamu mengatakan aku seperti adik kandungmu."
"Kamu kan cuma Cinderella, alias upik abu yang kebetulan dicintai pangeran. Lah...aku anak orang kaya sejati. Untuk apa mengingat jika sudah berteman dengan kaum darah kotor...eh...darah miskin." Gabriella mengangkat sebelah alisnya.
Saskia menghela nafasnya. Tidak! Ini tidak benar! Seharusnya dengan ingatan Gabriella yang menghilang akan lebih mudah dimanfaatkan.
"Kita ada janji ke Mika Salon yang sedang viral. Saat keluar dari rumah sakit, kita akan bersama-sama---" Kalimat Saskia disela.
"Sayang, besok kita ke spa yuk..." Lagi-lagi Gabriella bermanja-maja pada Sion.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!