"Cepat pel lantai ini sampai bersih, dasar sampah! Kalau sampai Tuan Muda Kevin datang dan melihat ada debu sedikit saja, aku akan membuatmu tidur di luar bersama anjing!"
Suara melengking Lidya, ibu mertuanya, menggema tajam memecah keheningan ruang tamu vila Keluarga Kusuma yang mewah.
Arya Permana, seorang pemuda berpakaian kaus pudar dan celemek kusam, hanya bisa menunduk sambil mengangguk pelan. Tangannya yang kasar memeras kain pel yang basah. Ia sudah terbiasa. Selama tiga tahun sejak ia menikahi Riana Kusuma—wanita paling cantik, dingin, dan berbakat di Nusantara City—statusnya di rumah ini bahkan lebih rendah dari pembantu.
Bagi dunia luar, Arya adalah lelucon terbesar. Pria sebatang kara yang tak punya uang, tak punya latar belakang, dan tak punya pekerjaan, entah bagaimana berhasil menikahi dewi bisnis Nusantara City karena wasiat kakek Riana yang pikun sebelum meninggal.
"Ma, sudahlah. Jangan terlalu keras padanya," sebuah suara dingin dan merdu terdengar dari arah tangga.
Arya mendongak. Di sana berdiri Riana, istrinya. Riana mengenakan gaun malam berwarna hitam elegan yang membalut lekuk tubuh sempurnanya. Wajahnya cantik tanpa cela, namun ekspresinya selalu sedingin es, terutama saat menatap Arya.
"Jangan keras padanya? Riana, sadarlah!" Lidya berkacak pinggang, menatap Arya dengan tatapan jijik. "Malam ini adalah perayaan ulang tahun perusahaanmu. Tuan Muda Kevin dari Grup Wijaya akan datang membawa kontrak investasi senilai sepuluh miliar! Kalau bukan karena si benalu ini, kamu sudah menikah dengan Kevin dan hidup sebagai nyonya besar!"
Riana menghela napas panjang. Ia menatap Arya dengan sorot mata kecewa yang rumit. "Arya, setelah tamu-tamu datang, kembalilah ke kamarmu. Jangan keluar. Aku tidak ingin ada keributan malam ini."
Hati Arya terasa seperti diremas. Ia menatap istrinya, wanita yang diam-diam ia lindungi dan ia cintai selama tiga tahun ini, namun hanya anggukan pasrah yang bisa ia berikan. "Baik, Riana."
Tak lama kemudian, deru mesin mobil sport Ferrari merah terdengar di halaman depan. Pintu utama terbuka, menampilkan sosok Kevin Wijaya. Pria itu mengenakan setelan jas Armani mahal, rambut disisir rapi, dengan senyum arogan yang melekat di bibirnya. Di tangannya terdapat sebuah kotak beludru merah.
"Bibi Lidya, Riana sayang," sapa Kevin dengan penuh percaya diri. Ia melirik sekilas ke arah Arya yang sedang memegang gagang pel, lalu tertawa mengejek. "Oh? Tuan Arya masih rajin membersihkan lantai? Pantas saja lantai Keluarga Kusuma selalu mengkilap. Keterampilanmu sebagai tukang bersih-bersih memang level dewa."
Beberapa kerabat Keluarga Kusuma yang baru saja tiba ikut tertawa terbahak-bahak mendengar sindiran itu.
Arya mengepalkan tangannya erat-erat, buku-buku jarinya memutih, tapi ia tetap diam.
Kevin berjalan mendekati Riana dan membuka kotak beludru di tangannya. Sebuah kalung berlian biru berkilauan di bawah cahaya lampu kristal. "Riana, ini adalah Kalung Bintang Samudra seharga lima ratus juta. Hadiah untuk merayakan kesuksesan perusahaanmu. Hanya berlian seindah ini yang pantas melingkar di lehermu, bukan kalung murahan dari pasar malam."
Mata Lidya berbinar rakus. "Astaga, Kevin! Kamu terlalu baik. Coba lihat dirimu, tampan, kaya, dan sangat perhatian. Berbeda sekali dengan si sampah yang hanya bisa menghabiskan beras di rumah ini!"
"Ma, ini terlalu mahal. Aku tidak bisa menerimanya," tolak Riana halus, meski matanya tak bisa menyembunyikan kekaguman pada perhiasan itu.
Kevin tersenyum licik. Ia tiba-tiba menoleh pada Arya. "Arya, kudengar kau suami Riana. Kebetulan sepatuku sedikit kotor terkena debu di luar. Karena kau sedang memegang lap, bagaimana kalau kau bersihkan sepatuku? Sebagai gantinya, aku akan memberikan tip satu juta padamu. Lumayan untuk uang jajanmu sebulan, kan?"
Suasana mendadak hening. Ini bukan sekadar ejekan, ini adalah penghinaan total yang menginjak-injak harga diri seorang pria.
"Kevin, kau terlalu berlebihan," kata Riana, mengerutkan kening.
"Berlebihan? Aku memberinya pekerjaan bernilai tinggi, Riana," Kevin menyeringai. Ia melangkah maju, dengan sengaja menyenggol bahu Arya dengan keras.
Brak!
Karena posisi berdirinya tidak seimbang, tubuh Arya terdorong ke belakang. Ia menabrak meja kaca tempat tumpukan gelas anggur diletakkan. Meja itu rubuh. Gelas-gelas kristal pecah berserakan di lantai.
"Dasar idiot sialan!" jerit Lidya histeris. "Gelas-gelas itu mahal! Jual ginjalmu pun tidak akan cukup untuk menggantinya!"
Arya jatuh terduduk di atas pecahan kaca. Salah satu pecahan tajam menggores telapak tangannya dalam-dalam. Darah segar menetes dengan cepat, membasahi lantai. Namun, tak ada satu pun orang di ruangan itu yang peduli pada lukanya. Mereka semua menatapnya dengan pandangan jijik dan marah.
Riana memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat kekacauan itu. "Arya, cepat bersihkan kekacauan ini dan masuk ke kamarmu. Aku benar-benar lelah melihatmu seperti ini."
Kata-kata Riana adalah bilah pisau terakhir yang menusuk dada Arya. Istrinya sendiri tak sedikitpun bertanya apakah ia terluka.
Arya menunduk, menggigit bibirnya hingga berdarah. Saat ia menekan telapak tangannya yang terluka, darah segar mengalir deras dan menetes tepat mengenai sebuah cincin hitam usang berbentuk naga yang melingkar di jari telunjuknya—satu-satunya barang peninggalan almarhum ibunya.
Tanpa ada yang menyadari, cincin hitam pekat itu tiba-tiba memancarkan kilau merah redup saat menyerap darah Arya.
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin dan agung meledak di dalam kepala Arya.
[Ding! Darah keturunan terdeteksi. DNA dikonfirmasi.]
[Sistem Naga Leluhur sedang diinisialisasi... 10%... 50%... 100%.]
[Sistem berhasil diaktifkan!]
[Selamat datang kembali, Tuan Muda Arya Permana. Pewaris Tunggal Keluarga Permana, Penguasa Ekonomi Global.]
Arya terpaku. Tubuhnya menegang. Rasa sakit di tangannya seketika menghilang, digantikan oleh aliran energi hangat yang menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.
[Laporan Sistem: Hukuman pengasingan Tuan Muda selama tiga tahun telah berakhir. Segel memori dan aset telah dibuka.]
[Hadiah Pemula Diaktifkan: Mentransfer Keterampilan Medis Kitab Suci Sembilan Naga.]
[Hadiah Pemula Diaktifkan: Fisik Petarung Tahap Awal.]
Ting!
Sebuah notifikasi SMS berbunyi dari ponsel jadul di saku Arya. Dengan tangan gemetar, Arya mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan dari Bank Sentral Internasional.
*(Bank Sentral Swiss: Saldo rekening hitam Anda dengan nomor ujung ***888 telah aktif. Saldo saat ini: USD 1.000.000.000.000 - Satu Triliun Dolar AS).
Napas Arya tertahan. Triliunan dolar? Keluarga Permana? Ingatan yang selama ini terkunci di dasar otaknya hancur berkeping-keping dan mengalir masuk seperti air bah. Ia ingat sekarang. Ia bukan yatim piatu. Ia adalah pewaris klan paling menakutkan di dunia yang diasingkan untuk diuji!
"Hei, sampah! Kenapa kau malah melamun sambil melihat ponsel bututmu itu? Cepat bersihkan pecahan kaca ini!" bentak Kevin sambil menendang paha Arya.
Namun, kali ini Arya tidak bergeming.
Ia perlahan bangkit berdiri. Kausnya yang lusuh dan celemek kotornya masih menempel, tetapi postur tubuhnya berubah drastis. Bahunya tegak, dan auranya yang dulu suram dan menyedihkan kini lenyap tanpa sisa.
Arya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Kevin. Tatapan matanya tidak lagi pasrah atau ketakutan. Tatapan itu dingin, dalam, dan dipenuhi oleh tekanan mengerikan yang seolah bisa menembus jiwa, seperti seekor naga kuno yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
"Kau..." suara Arya terdengar tenang, namun mengandung hawa dingin yang membekukan ruangan, "baru saja menendangku?"
Kevin tanpa sadar mundur selangkah, jantungnya entah mengapa berdetak kencang karena ketakutan yang tak beralasan. Ia merasa seolah sedang ditatap oleh malaikat maut. Riana dan Lidya pun tertegun, merasakan ada sesuatu yang salah dengan pria yang selama tiga tahun ini mereka injak-injak.
Ruang tamu vila Keluarga Kusuma mendadak senyap. Hawa dingin yang memancar dari tubuh Arya membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Kevin Wijaya, yang biasanya memandang rendah siapa pun, merasa jantungnya berdegup kencang. Namun, rasa malu karena sempat merasa takut pada seorang "menantu sampah" segera berubah menjadi amarah yang meledak.
"Kau... bajingan! Berani-beraninya kau menatapku seperti itu!" teriak Kevin untuk menutupi kegugupannya. "Kau hanya seekor anjing di rumah ini! Berlutut dan minta maaf sekarang, atau aku akan memastikan perusahaan istrimu bangkrut besok pagi!"
Lidya, yang baru tersadar dari keterpakuannya, ikut berteriak histeris. "Arya! Apa kau sudah gila? Beraninya kau bersikap tidak sopan pada Tuan Muda Kevin! Cepat berlutut dan jilat sepatunya! Jika investasi sepuluh miliar ini gagal karena ulahmu, aku akan menyeretmu ke pengadilan!"
Riana menatap Arya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, tapi juga ada kebingungan. "Arya, apa yang kau lakukan? Cepat minta maaf. Jangan merusak segalanya hanya karena ego sesaat."
Arya menoleh pelan ke arah Riana. Senyum tipis yang penuh kepahitan muncul di bibirnya. "Ego? Riana, selama tiga tahun aku menanggung semua hinaan karena aku menghargai wasiat kakekmu. Tapi hari ini, aku menyadari bahwa kesabaranku hanya membuat kalian semakin menginjak harga diriku."
"Halah! Bicara apa kau, sampah!" Kevin kehilangan kesabaran. Ia mengangkat tangannya, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Arya. "Mati kau!"
Wusss!
Tangan Kevin bergerak cepat, namun di mata Arya, gerakan itu tampak selambat siput. Berkat Fisik Petarung Tahap Awal yang diberikan Sistem, refleks dan kekuatan Arya telah meningkat ribuan kali lipat dari manusia biasa.
Brak!
Sebelum tangan Kevin menyentuh wajahnya, Arya sudah terlebih dahulu mencengkeram pergelangan tangan Kevin dengan satu tangan.
"Arghhh! Lepaskan! Sakit!" jerit Kevin seketika. Ia merasa pergelangan tangannya seperti dijepit oleh tang pemotong baja yang sangat panas. Wajahnya yang tadi sombong kini memerah menahan sakit yang luar biasa.
"Kau ingin aku berlutut?" suara Arya rendah dan berbahaya. "Di dunia ini, tidak ada satu orang pun yang pantas membuatku berlutut. Terutama bukan orang sepertimu."
Krak!
Bunyi retakan tulang halus terdengar. Arya memutar pergelangan tangan Kevin sedikit saja, dan pria itu langsung jatuh tersungkur di lantai, mengerang kesakitan seperti babi yang hendak disembelih.
"Arya! Berhenti!" Riana berteriak, wajahnya pucat pasi. Ia tidak menyangka Arya yang selama ini penurut bisa bertindak sekasar itu. "Kau sudah keterlaluan! Kau menyakiti Tuan Muda Kevin!"
Arya melepaskan cengkeramannya dan menatap Kevin yang meringkuk di lantai dengan jijik. "Sepuluh miliar? Hanya karena uang sekecil itu kalian menyembahnya seperti dewa?"
"Kecil?!" Lidya hampir pingsan karena marah. "Dasar sampah tidak tahu diri! Kau bahkan tidak bisa menghasilkan sepuluh ribu rupiah sehari, dan kau berani menyebut sepuluh miliar itu kecil? Itu adalah nyawa perusahaan Riana!"
Arya tidak menjawab. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel jadulnya yang layarnya sudah retak. Ia menekan beberapa digit angka di layar dan melakukan panggilan internasional.
"Siapa yang kau telepon? Polisi? Silakan! Kau yang akan masuk penjara karena penganiayaan!" ancam Kevin sambil memegangi tangannya yang membengkak.
Panggilan tersambung. Suara seorang pria tua dengan nada sangat hormat terdengar di ujung telepon, berbicara dalam bahasa Inggris yang sempurna.
"Tuan Muda... Akhirnya Anda menghubungi kami. Kami telah menunggu selama tiga tahun di bawah perintah Kepala Pelayan Keluarga Permana."
"Aktifkan Protokol Naga," kata Arya singkat, suaranya datar tanpa emosi. "Aku butuh sepuluh triliun rupiah dikirim ke rekening pribadi Riana Kusuma dalam lima menit. Dan satu hal lagi... batalkan semua kerjasama bisnis dengan Grup Wijaya secara global. Aku ingin mereka bangkrut sebelum matahari terbit."
Hening.
Setelah Arya menutup telepon, suara tawa pecah di ruang tamu tersebut. Kevin, meski kesakitan, tertawa hingga air matanya keluar. Lidya pun ikut tertawa mengejek.
"Hahahaha! Sepuluh triliun? Protokol Naga? Apakah kau baru saja menonton film pahlawan super?" Kevin mengejek sambil berusaha berdiri. "Riana, suamimu benar-benar sudah gila. Dia depresi karena terlalu banyak membersihkan lantai!"
Riana hanya bisa memijat pelipisnya. Ia merasa sangat malu. "Arya, tolong berhenti bersikap konyol. Masuk ke kamar sekarang sebelum aku benar-benar menceraikanmu malam ini."
"Riana, percayalah padaku sekali saja," ucap Arya tenang.
"Percaya apa? Percaya pada bualanmu?" Lidya meludah ke lantai. "Kalau dalam lima menit tidak ada uang masuk, kau harus merangkak keluar dari rumah ini dan jangan pernah kembali!"
Waktu berlalu. Satu menit... dua menit... suasana tetap hening. Kevin terus menghina Arya, menyebutnya sebagai pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri.
Namun, tepat pada menit kelima, ponsel Riana yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari bank nasional muncul di layar kunci.
Riana mengerutkan kening dan mengambil ponselnya. Saat ia membaca pesan itu, matanya tiba-tiba membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya gemetar, dan ponsel di tangannya hampir terjatuh.
"Riana? Ada apa? Apa itu pesan dari bank yang menagih utang karena ulah si sampah ini?" tanya Lidya penasaran.
Riana tidak menjawab. Bibirnya bergetar. Ia menatap Arya dengan tatapan horor, seolah sedang melihat sosok asing yang mengerikan.
"Ma... lihat ini..." Riana menyodorkan ponselnya ke arah Lidya.
Lidya membaca pesan tersebut dengan suara keras karena penasaran: "[Bank Mandiri: Rekening Anda nomor ****999 telah menerima transfer dana sebesar Rp 10.000.000.000.000,00 dari Dragon Global Corp. Saldo Anda saat ini...]"
Suara Lidya terputus di tengah jalan. Ia menggosok matanya berkali-kali, menghitung jumlah angka nol yang berderet panjang di layar tersebut. Sepuluh... triliun?
"Ini... ini pasti kesalahan sistem! Tidak mungkin!" jerit Kevin. Ia segera merogoh ponselnya sendiri untuk menghubungi ayahnya, pemilik Grup Wijaya.
Namun, sebelum ia sempat menekan nomor, sebuah panggilan masuk lebih dulu dari ayahnya. Kevin menjawab dengan cepat, "Halo, Pa? Pa, kau harus membantu—"
"KEVIN! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Suara ayahnya di seberang telepon terdengar sangat panik dan penuh ketakutan. "Baru saja, sepuluh investor terbesar kita menarik modal secara serentak! Bank-bank membekukan rekening kita! Bahkan semua kontrak kerja kita dibatalkan dalam hitungan detik! Kita bangkrut, Kevin! Kita hancur total!"
Prang!
Ponsel Kevin jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping, sama seperti harga dirinya. Ia menatap Arya yang berdiri tegak dengan tangan di saku, tampak sangat santai seolah baru saja melakukan hal sepele.
"Sepuluh miliar yang kau banggakan itu..." Arya melangkah maju, membuat Kevin gemetar ketakutan hingga jatuh terduduk kembali. "Bahkan tidak cukup untuk membeli tisu toilet di rumah lamaku."
Arya kemudian menoleh ke arah ibu mertuanya yang kini mematung seperti patung lilin. "Ibu, apakah lantai ini sudah cukup bersih?"
Lidya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahnya terasa kelu. Uang sepuluh triliun rupiah adalah jumlah yang bahkan tidak bisa ia bayangkan dalam mimpinya.
Riana mendekati Arya, matanya berkaca-kaca. "Arya... siapa kau sebenarnya? Selama tiga tahun ini... siapa pria yang tidur di sofa kamarku?"
Arya menatap istrinya dengan tatapan yang sulit ditebak. "Pria yang mencintaimu, Riana. Tapi mulai malam ini, aku bukan lagi Arya yang bisa kau abaikan."
Tiba-tiba, suara deru beberapa helikopter terdengar di atas vila mereka. Cahaya lampu sorot yang kuat menembus jendela kaca, menerangi ruang tamu tersebut. Di luar, puluhan mobil Rolls-Royce hitam berhenti dengan rapi di depan gerbang.
Seorang pria tua dengan setelan jas yang sangat rapi keluar dari mobil terdepan. Ia adalah Thomas, manajer legendaris dari Bank Sentral Dunia yang hanya melayani keluarga-keluarga penguasa planet ini.
Thomas berjalan masuk ke dalam vila dengan tergesa-gesa, mengabaikan Kevin yang merangkak dan Lidya yang melongo. Ia berhenti tepat di depan Arya, lalu membungkuk sembilan puluh derajat dengan penuh khidmat.
"Tuan Muda Arya, mohon maaf atas keterlambatan kami. Seluruh aset Keluarga Permana di Nusantara City telah siap untuk Anda kelola. Ke mana tujuan Anda malam ini?"
Arya menatap Thomas, lalu melirik ke arah Riana untuk terakhir kalinya sebelum berbalik. "Bawa aku ke markas besar Dragon Corp. Sudah saatnya kota ini mengenal siapa pemilik aslinya."
Saat Arya melangkah keluar, diiringi oleh barisan pengawal bersenjata lengkap, Riana hanya bisa berdiri terpaku di depan pintu, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sepuluh triliun rupiah.
Deru halus mesin V12 dari belasan Rolls-Royce Phantom membelah jalanan malam Nusantara City layaknya parade bayangan. Di dalam mobil terdepan yang berlapis baja, Arya Permana duduk bersandar dalam diam. Kaus pudar dan celemek kusamnya terasa sangat kontras dengan interior kulit premium di sekelilingnya, namun aura yang memancar dari tubuhnya membuat udara di dalam kabin terasa berat.
Di kursi seberang, Thomas, manajer eksekutif yang telah mengabdi pada Keluarga Permana selama empat dekade, membuka sebuah tablet keamanan tingkat militer. Wajah tuanya yang penuh wibawa tampak sangat serius.
"Tuan Muda, sungguh sebuah kehormatan bisa melayani Anda kembali," buka Thomas, suaranya dipenuhi rasa hormat yang mendalam. "Namun, saya harus melaporkan bahwa situasi di Nusantara City saat ini tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita."
Arya mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah Thomas. Matanya setenang danau es, cerminan dari kedewasaan mental yang ditempa oleh penghinaan selama tiga tahun. "Bicaralah."
"Tiga tahun lalu, ketika Tuan Besar menjatuhkan hukuman pengasingan untuk menguji mental Anda, seluruh aset Dragon Corp cabang Asia Tenggara diserahkan di bawah pengawasan manajer proksi bernama Hendra Salim," jelas Thomas sambil menggeser layar tablet, menampilkan profil seorang pria paruh baya berkacamata.
"Berdasarkan audit rahasia kami minggu ini, Hendra telah mengkhianati kepercayaan Keluarga Permana. Dia diam-diam mengalihkan dana perusahaan ke rekening pribadinya, dan yang terburuk... malam ini dia berencana menandatangani kontrak rahasia untuk menjual tiga puluh persen saham Dragon Corp kepada Aliansi Empat Keluarga Besar Nusantara."
Mata Arya menyipit. "Menjual aset milikku tanpa izin? Keberanian yang luar biasa."
"Tuan Muda, Hendra Salim tidak bertindak sendirian," tambah Thomas dengan nada peringatan. "Dia didukung oleh Asosiasi Naga Hitam, sebuah faksi dunia bawah tanah yang memiliki praktisi bela diri kuno. Itulah sebabnya saya membawa Pasukan Bayangan malam ini. Kita tidak bisa meremehkan pengamanan Hendra."
Arya terdiam sejenak. Berkat Fisik Petarung Tahap Awal yang baru saja ia terima dari Sistem Naga Leluhur, panca inderanya menjadi sangat tajam. Ia bahkan bisa mendengar detak jantung Thomas dan aliran darah pengawal di kursi depan. Ia tahu ranah bela diri bukanlah mitos belaka, dan dunia urban ini menyimpan lapisan rahasia yang jauh lebih kejam dari sekadar persaingan bisnis.
"Tidak perlu pasukan. Malam ini, aku hanya butuh kau sebagai saksi," ucap Arya dingin. "Sebuah kerajaan tidak bisa dibangun di atas fondasi pengkhianatan. Mereka yang berani mencuri dari Keluarga Permana, harus membayar dengan darah."
Tiga puluh menit kemudian, konvoi berhenti di pelataran Menara Naga, gedung pencakar langit tertinggi di Nusantara City yang memiliki seratus lantai. Gedung ini adalah simbol kekuasaan absolut di dunia bisnis.
Saat Arya dan Thomas melangkah masuk ke lobi utama yang berlapis marmer emas, beberapa petugas keamanan berseragam hitam segera mencegat mereka. Wajah para penjaga itu tampak garang, tangan mereka bersiap di gagang tongkat kejut.
"Maaf, Tuan Thomas. Tuan Hendra menginstruksikan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh naik ke lantai seratus malam ini. Beliau sedang mengadakan rapat penting tertutup," kata kepala keamanan dengan nada yang terdengar sopan namun menyiratkan ancaman. Ia melirik sinis ke arah pakaian kumal Arya. "Dan pemulung ini... silakan buang dia keluar."
Plak!
Sebelum penjaga itu sempat berkedip, Thomas telah melayangkan tamparan keras ke wajahnya. Suara tamparan itu menggema di lobi yang luas.
"Jaga mulutmu!" bentak Thomas, auranya sebagai petinggi elit dunia meledak. "Di hadapan Tuan Muda Permana, bahkan presiden sebuah negara harus menundukkan kepalanya! Kau hanya anjing penjaga Hendra, beraninya kau menghalangi jalan?!"
Para penjaga lain terkejut dan hendak menarik senjata mereka, namun Arya hanya menghentakkan kakinya ringan ke lantai marmer.
Brak!
Sebuah gelombang energi tak kasat mata menyebar dari titik pijakan Arya. Lantai marmer setebal lima sentimeter retak seperti jaring laba-laba. Tekanan intimidasi yang luar biasa menekan dada para penjaga, membuat mereka seketika jatuh berlutut, kehabisan napas dengan wajah pucat pasi.
Ini adalah penerapan logis dari sirkulasi Qi (energi kehidupan) dasar dari Fisik Petarung. Arya tidak perlu melakukan gerakan akrobatik yang konyol; sedikit tekanan aura sudah cukup untuk menghancurkan mental manusia biasa.
"Naik," perintah Arya singkat, melangkah melewati para penjaga yang lumpuh ketakutan menuju lift VIP pribadi.
Di lantai seratus, ruang rapat direksi yang mewah dipenuhi oleh asap cerutu. Hendra Salim duduk di kursi utama dengan senyum penuh kemenangan. Di sekeliling meja panjang, duduk empat perwakilan dari Keluarga Besar Nusantara, serta seorang pria botak berotot kawat yang memancarkan aura membunuh yang kental—dia adalah Master Zhao, ahli bela diri tingkat menengah dari Asosiasi Naga Hitam.
"Tuan-tuan, kontrak telah disiapkan," kata Hendra sambil menyorongkan tumpukan dokumen ke tengah meja. "Dengan ditandatanganinya perjanjian ini, Dragon Corp Nusantara resmi melepaskan cengkeramannya, dan Asosiasi Naga Hitam akan menjamin keselamatan kita dari intervensi pusat. Keuntungan kita akan berlipat ganda."
Para perwakilan keluarga besar tertawa puas. Tepat ketika salah satu dari mereka mengangkat pena emas untuk menandatangani dokumen...
Brak!
Pintu kayu jati solid berukir seberat dua ratus kilogram itu ditendang hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kayu beterbangan ke segala arah.
Asap cerutu di ruangan itu tersapu oleh hembusan angin dingin. Di ambang pintu, berdirilah Arya Permana, dengan Thomas berdiri hormat satu langkah di belakang kanannya.
"Rapat yang menarik," suara bariton Arya memecah keheningan yang mencekam. "Tapi sepertinya kalian lupa mengundang pemilik sah dari kursi yang kau duduki itu, Hendra."
Hendra terlonjak dari kursinya. Wajahnya yang tadi merah karena alkohol seketika menjadi pucat pasi saat melihat Thomas. Namun, ketika matanya tertuju pada Arya yang berpakaian gembel, kebingungan menyelimuti pikirannya.
"T-Tuan Thomas? Apa arti semua ini? Siapa gembel ini, dan beraninya kalian menerobos masuk ke rapat pribadiku?!" bentak Hendra, berusaha menutupi kepanikannya dengan amarah.
"Gembel?" Thomas tersenyum dingin. "Hendra Salim, buka matamu lebar-lebar. Mulai malam ini, masa pengasingan telah berakhir. Berdirilah di hadapan Tuan Muda Arya Permana, pewaris tunggal Dragon Global Corp!"
Keheningan mutlak melanda ruangan itu. Para perwakilan keluarga besar saling berpandangan dengan keringat dingin mengucur di pelipis mereka. Nama "Keluarga Permana" adalah tabu besar, raksasa global yang bisa menghancurkan ekonomi negara kecil hanya dengan satu jentikan jari.
Namun, Hendra yang telah dikuasai keserakahan menolak untuk percaya. Ia tertawa sinis. "Tuan Muda? Omong kosong! Tuan Besar sudah lama tidak ada kabar, dan kau, Thomas, pasti mencoba membawa boneka cacat ini untuk merebut kekuasaanku! Master Zhao, bunuh mereka berdua! Aku akan bertanggung jawab penuh!"
Pria botak bernama Master Zhao itu menyeringai kejam. Sendi-sendinya berbunyi gemeretak saat ia bangkit berdiri. "Hehe... sudah lama aku tidak mematahkan leher anjing-anjing dari ibu kota. Bocah, salahkan nasib burukmu karena masuk ke ruangan yang salah."
Master Zhao melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata manusia biasa. Tinju kanannya meluncur ke arah pelipis Arya, membawa kekuatan yang cukup untuk menghancurkan blok beton. Ini bukan pertarungan jalanan; ini adalah serangan mematikan dari seorang seniman bela diri sejati.
Namun, ekspresi Arya tidak berubah sedikit pun. Ia tidak menghindar, tidak juga berkedip. Ia hanya mengangkat satu tangannya dengan santai, seolah sedang menepis lalat.
Pakk!
Tinju Master Zhao yang meluncur seperti peluru meriam berhenti seketika, tertahan dengan sempurna di telapak tangan Arya. Udara di sekitar mereka berdesir akibat benturan energi.
Mata Master Zhao terbelalak ngeri. Ia merasa tinjunya seperti menabrak gunung baja yang tak tergoyahkan. "B-Bagaimana mungkin?! Kau... kau juga seorang kultivator?!"
"Teknik yang lemah, fondasi yang rapuh," gumam Arya dingin. "Kecepatanmu... terlalu lambat."
Tanpa ampun, jari-jari Arya mencengkeram kepalan tangan Master Zhao dan memutarnya dengan sudut yang mustahil.
KRAK!
"ARGHHHHH!" Jeritan melengking Master Zhao menggema di seluruh lantai seratus saat lengan kanannya hancur total, tulangnya mencuat menembus kulit.
Belum selesai Master Zhao berteriak, Arya melayangkan sebuah tendangan lurus tepat ke dada pria botak itu.
Bum!
Tubuh Master Zhao terpental sejauh sepuluh meter, menabrak dinding marmer hingga dinding itu retak, lalu jatuh ke lantai tak sadarkan diri sambil memuntahkan darah segar. Seorang ahli bela diri tingkat menengah, dikalahkan hanya dalam waktu kurang dari dua detik.
Seluruh ruangan membeku. Hawa dingin merayap di tulang belakang Hendra dan para perwakilan keluarga besar.
Arya berjalan perlahan mendekati meja rapat. Setiap langkah kakinya terdengar seperti detak jam kematian di telinga para pengkhianat itu. Ia menatap Hendra yang kini gemetar hebat hingga kehilangan kendali atas kandung kemihnya.
"Penggelapan dana. Percobaan pencurian aset. Dan pemberontakan," Arya menghitung kesalahan Hendra dengan nada datar, benar-benar mengabaikan bau pesing yang mulai menguar. Ia mengambil dokumen kontrak di atas meja, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil.
Arya menunduk, menatap tajam ke mata Hendra. "Katakan padaku, Hendra. Hukuman apa yang pantas menurut hukum Keluarga Permana?"
Hendra jatuh berlutut dengan suara berdebum keras. Kepalanya dibenturkan ke lantai berulang kali. "Ampun... ampun, Tuan Muda! Saya dibutakan oleh keserakahan! Tolong ampuni nyawa anjing ini!"
Arya berbalik, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke panorama gemerlap Nusantara City. Ia menyatukan kedua tangannya di belakang punggung.
"Thomas," panggil Arya.
"Ya, Tuan Muda."
"Cabut semua asetnya, potong kedua tangannya agar dia tidak pernah bisa lagi menandatangani dokumen pengkhianatan, dan serahkan dia ke kepolisian dengan bukti penggelapan pajak. Biarkan dia membusuk di penjara seumur hidup."
"Sesuai perintah Anda, Tuan Muda."
Arya menatap bayangan dirinya di kaca. Tiga tahun menjadi benalu telah mati. Malam ini, fondasi pertama dari kerajaan barunya telah ditegakkan. Namun, ia tahu ini baru permulaan. Asosiasi Naga Hitam dan kekuatan-kekuatan tersembunyi yang mencoba memangsa asetnya tidak akan tinggal diam.
"Siapkan lelang besok malam," ucap Arya memecah keheningan malam. "Aku butuh ramuan spiritual untuk menerobos tahap selanjutnya. Mari kita lihat, seberapa dalam air di Nusantara City ini sebenarnya."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!