Langit sore itu mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah menahan sesuatu yang akan jatuh entah hujan, atau takdir yang tak bisa dihindari.
Di sudut kafe lantai dua, Nadin duduk dengan tubuh sedikit bersandar. Tangannya berada di atas perutnya yang membesar, mengusapnya perlahan seolah mencoba menenangkan sesuatu atau mungkin dirinya sendiri.
Di hadapannya, secangkir minuman sudah hampir dingin.
Sementara kursi di seberangnya baru saja kosong dan ditinggalkan seseorang. Nadin menatap kursi itu cukup lama. Tatapannya menyimpan sesuatu.
Percakapan yang baru saja terjadi masih terngiang di kepalanya. Kata-kata yang seharusnya tidak ia dengar hari ini. Jemarinya perlahan menggenggam ujung bajunya sendiri.
“Kenapa harus sekarang…” bisiknya hampir tanpa suara. Bayi di dalam kandungannya bergerak kecil. Nadin tersentak pelan, lalu langsung mengusap perutnya dengan lembut.
“Iya … iya … Mama di sini,” gumamnya, berusaha tersenyum. Namun, senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Ia menarik napas panjang lalu meraih ponselnya. Nama yang muncul di layar membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Ia menekan tombol panggil. Beberapa detik kemudian, panggilan itu terangkat.
[Halo, Kak?] Suara ceria itu terdengar kontras dengan kondisi Nadin saat ini.
“Arsyi…” suara Nadin pelan, sedikit bergetar. “Kamu lagi di mana?”
[Lagi di jalan sih. Kenapa? Kakak kok kayak capek banget?]
Nadin menoleh sekilas ke arah tangga di ujung ruangan, lalu kembali menunduk.
“Bisa jemput Kakak di kafe?”
[Hah? Kakak sendirian?]
“Iya … Harsa tadi cuma antar, sekarang sudah balik kerja.”
Ada jeda singkat, Arsyi seperti menangkap sesuatu dari nada suara kakaknya.
[Kak … kamu kenapa?]
Nadin terdiam, lalu menjawab pelan, “Nggak apa-apa. Cuma … pengen pulang aja.” Nada suaranya terlalu lemah untuk sekadar disebut lelah.
Arsyi langsung berdiri dari tempatnya meski Nadin tak bisa melihat.
[Oke, tunggu di situ ya! Aku ke sana sekarang. Jangan ke mana-mana!]
“Iya … hati-hati di jalan.”
Telepon terputus.
Nadin menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum meletakkannya di meja. Tangannya kembali ke perutnya.
“Sebentar lagi kita pulang…” bisiknya lirih. Namun, pikirannya masih tertinggal pada percakapan tadi. Pada seseorang yang baru saja pergi. Dan pada sesuatu yang kini terasa salah.
“Maaf, Kak. Mau tambah minumannya?” Suara pelayan membuat Nadin tersadar.
Ia menggeleng pelan.
“Tidak, terima kasih. Saya mau bayar saja.”
Setelah semuanya selesai, Nadin berdiri perlahan. Tubuhnya terasa berat, lebih berat dari biasanya. Ia sempat memegang meja untuk menyeimbangkan diri.
“Pelan-pelan…” gumamnya. Ia melangkah menuju arah tangga, langkahnya hati-hati.
Ia berhenti sejenak di ujung tangga lantai dua. Tangannya meraih pegangan di sisi kanan. Matanya sempat menatap ke bawah.
“Santai … pelan-pelan…" langkah pertama aman dan langkah kedua masih stabil. Namun, saat langkah ketiga bayangan percakapan tadi kembali muncul.
Kakinya terpeleset.
“Ah!” Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tangannya berusaha meraih pegangan, tapi sia-sia.
Tubuh Nadin terguling menuruni tangga. Satu demi satu anak tangga menghantam tubuhnya tanpa ampun. Suara benturan keras membuat seluruh isi kafe terdiam dan lalu panik.
“Ya Tuhan!”
“Ibu hamil jatuh!”
“Tolong! Cepat!”
Tubuh Nadin terhempas di dasar tangga. Tangannya gemetar mencoba menyentuh perutnya.
“Anak … ku…” lirihnya.
Di luar kafe.
Mobil Arsyi berhenti mendadak. Ia bahkan tidak sempat mematikan mesin dengan benar. Sabuk pengaman dilepas asal, pintu dibuka cepat.
Jantungnya berdegup tak normal. Perasaannya tidak enak sejak tadi, begitu masuk ke dalam kerumunan terlihat orang-orang berdesakan.
Suara panik terdengar di mana-mana.
“Permisi! Permisi—”
Arsyi menerobos masuk, mendorong orang-orang dengan panik.
“Ada apa ini? Minggir, tolong—” langkahnya terhenti dan napasnya tercekat.
“K… Kak?” Suara itu pecah begitu saja.
“Kak Nadin!” Arsyi jatuh berlutut di sampingnya. Tangannya gemetar hebat saat memegang wajah pucat itu.
“Kak! Dengar aku! Ini aku … Arsyi!"
Kelopak mata Nadin bergerak pelan, pandangan kaburnya mencoba fokus.
“Ar… syi…”
“Iya! Aku di sini! Kamu harus kuat, Kak!” tangis Arsyi pecah. Tangan Nadin yang dingin mencengkeram lemah lengan adiknya.
“Anak … ku…”
Air mata Arsyi jatuh deras.
“Iya! Kita selamatkan! Kakak dan bayinya harus selamat! Kita ke rumah sakit sekarang!”
Seseorang berteriak, “Pendarahannya parah! Cepat bawa ke rumah sakit!”
Arsyi langsung mengangguk panik.
“Iya! Tolong bantu aku!”
Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Nadin. Namun, setiap gerakan membuatnya meringis kesakitan.
“Aaah!”
“Maaf, Kak … maaf…” Arsyi tak berhenti menangis.
Di dalam mobil ambulan yang sudah tiba. Tangan Arsyi gemetar di setir.
“Kak … jangan tidur, Kak! Dengar aku!” suaranya pecah.
Nadin hampir tak sadarkan diri, napasnya semakin lemah.
“Mas Har … sa…” lirihnya.
Arsyi langsung meraih ponsel dengan satu tangan.
“Iya! Kita hubungi Kak Harsa sekarang!”
Telepon tersambung.
[Hallo?] suara Harsa terdengar.
Arsyi menangis.
“Kak Harsa … Kak Nadin jatuh … darahnya banyak banget…”
Suaranya langsung panik.
[Apa?! Kalian di mana?!]
“Menuju rumah sakit! Tolong cepat ke sana!”
[Aku ke sana sekarang!]
Telepon terputus.
Arsyi kembali fokus ke arah Nadin, air matanya tak berhenti.
“Kak … kita hampir sampai…”
Suara sirine ambulans memecah langit sore yang mulai gelap. Namun, bagi Arsyi, suara itu terasa seperti dentuman yang menghantam dadanya berkali-kali.
“Cepat … tolong cepat…” lirihnya berulang, hampir seperti doa.
Begitu mobil berhenti di depan rumah sakit, pintu langsung terbuka. Beberapa tenaga medis bergegas menghampiri.
“Pasien hamil, pendarahan hebat!” teriak seorang petugas. Nadin segera dipindahkan ke brankar, tubuhnya lemah.
Arsyi turun dengan langkah sempoyongan, tangannya gemetar hebat.
“Kak … Kak Nadin … jangan tinggalin aku…” tangisnya pecah.
Seorang perawat menahan Arsyi.
“Maaf, Mbak. Kami harus segera menangani pasien.”
“Tidak! Aku ikut! Itu kakak aku!” Arsyi meronta.
“Silakan tunggu di luar, kami akan melakukan yang terbaik.”
Pintu ruang gawat darurat tertutup.
Dan di situlah, dunia Arsyi terasa runtuh. Ia berdiri diam beberapa detik lalu tubuhnya melemas, jatuh terduduk di lantai. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.
Langkah kaki tergesa terdengar dari ujung lorong.
“Arsyu!”
Arsyi menoleh.
Pria itu datang dengan napas terengah, wajahnya pucat, matanya dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
“Arsyi! Di mana Nadin?!” suaranya bergetar. Arsyi berdiri, lalu langsung memeluknya sambil menangis, meskipun Harsa tak membalas pelukan itu.
“Kak … Kak Nadin di dalam … darahnya banyak banget … aku takut…” suaranya hancur.
Harsa menegang.
“Dia … jatuh?” tanyanya pelan, seolah takut dengan jawaban yang akan ia dengar.
Arsyi mengangguk cepat.
“Dari tangga … aku lihat sendiri … dia sudah di bawah … penuh darah…”
Harsa menutup matanya sejenak, dunia terasa gelap. Namun, ia memaksa dirinya tetap berdiri.
“Dia kuat…” gumamnya, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Nadin pasti kuat…”
Lampu ruang operasi menyala merah.
Harsa duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Kepalanya tertunduk, bahunya naik turun menahan sesuatu yang hampir meledak. Arsyi duduk di sebelahnya, masih terisak.
Beberapa saat kemudian, dua orang datang. Tuan Hendra dan Nyonya Ratih. Disusul oleh seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh kecemasan Bu Hana.
“Ibu…” suara Arsyi langsung pecah lagi.
Bu Hana menghampiri dengan langkah gemetar.
“Arsyi … mana kakakmu?”
Arsyi menunjuk ke arah ruang operasi.
“Di dalam, Bu … kondisinya parah…”
Bu Hana menutup mulutnya, air mata langsung mengalir.
“Ya Allah … Nadin…”
Nyonya Ratih mencoba menenangkan.
“Kita doakan yang terbaik…”
Beberapa jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi.
Semua langsung berdiri.
“Dok, bagaimana kondisi istri saya?” tanya Harsa cepat.
Dokter itu menarik napas.
“Pasien mengalami pendarahan hebat akibat trauma. Kami harus melakukan operasi darurat untuk menyelamatkan bayi.”
Harsa menegang.
“Dan istri saya?”
“Kami sedang berusaha semaksimal mungkin. Tapi kondisinya kritis.” Kalimat itu enghancurkan segalanya.
“Tidak…” Harsa menggeleng pelan. “Tidak … dia harus selamat…”
Dokter menatapnya dengan serius.
“Kami butuh persetujuan untuk tindakan lanjutan. Kemungkinan terburuk … kami harus memilih.”
“Memilih?” suara Harsa nyaris tak terdengar.
“Ibu atau bayinya.” Dunia benar-benar berhenti, air mata Arsyi kembali jatuh.
Bu Hana menangis histeris.
“Jangan … jangan ambil anak saya…”
Harsa mundur satu langkah, tangannya gemetar.
“Keduanya…” suaranya serak. “Saya mau keduanya selamat…”
Dokter menggeleng pelan.
“Kami akan berusaha, tapi Anda harus siap dengan segala kemungkinan.”
Harsa menatap pintu operasi, matanya memerah.
“Nadin … kamu harus bertahan…” bisiknya.
Beberapa waktu kemudian, tangisan bayi terdengar, semua orang terdiam. Seorang perawat keluar sambil menggendong bayi kecil.
“Bayinya selamat, perempuan.”
Air mata langsung jatuh, Arsyi mendekat.
“Kak … anaknya Kak Nadin…”
Harsa tidak bergerak. Tatapannya masih terpaku pada pintu ruang operasi.
“Bagaimana … istrinya?” tanyanya dengan suara bergetar.
Perawat itu terdiam, lalu berkata pelan, “Masih kritis.”
Beberapa saat kemudian, Harsa diperbolehkan masuk.
Ruang itu sunyi, hanya suara alat medis yang berbunyi pelan, Nadin terbaring lemah.
“Mas Harsa…” suaranya hampir tak terdengar.
Langkah Harsa mendekat, tangannya langsung menggenggam tangan dingin itu.
“Nadin … aku di sini…” Air mata jatuh.
“Maaf … aku terlambat…”
Nadin menggeleng pelan.
“Tidak … kamu… selalu ada…”
Harsa menahan tangisnya.
“Kamu harus sembuh … kita pulang … sama-sama … sama anak kita…”
Nadin tersenyum tipis, senyum yang menyakitkan.
“Anak kita … selamat?”
“Iya … dia selamat … perempuan…” suara Harsa bergetar.
Air mata Nadin jatuh.
“Alhamdulillah…”
“Nikahi … Arsyi…”
Harsa membeku.
“Apa?”
“Nikahi … adikku…” suara Nadin semakin lemah. “Untuk … anak kita…”
“Tidak.” Harsa langsung menggeleng keras. “Aku tidak mau, aku cuma mau kamu.”
“Mas Harsa…” Nadin menggenggam tangannya sedikit lebih kuat. “Dia … orang yang aku percaya…”
“Tidak! Jangan bicara seperti ini!” suara Harsa mulai pecah. “Kamu tidak akan ke mana-mana!”
Air mata Nadin terus mengalir.
“Janji … padaku…”
“Aku tidak bisa!” Harsa menangis. “Aku tidak bisa gantikan kamu dengan siapa pun!”
“Mas Harsa…” napas Nadin tersengal. “Anak kita … butuh ibu…”
“Aku bisa jaga dia! Aku bisa sendiri!”
Nadin menggeleng lemah.
“Tidak … dia butuh … kasih sayang…”
Harsa menutup matanya, air matanya jatuh tanpa henti.
“Nadin … jangan paksa aku…”
Namun, Nadin tetap menatapnya, tatapan yang memohon, tatapan terakhir.
“Janji…” Suara itu nyaris hilang.
Dan di luar, keluarga yang berdiri di ambang pintu mendengar semuanya. Termasuk Arsyi, tangisnya pecah dan di dalam Harsa terdiam lama.
“Iya…” lirihnya. “Aku janji…”
Senyum tipis terukir di bibir Nadin, seolah semua beban telah dilepaskan.
“Mas Harsa…”
“Iya … aku di sini…”
“Terima kasih…” Dan bunyi alat itu berubah menjadi suara yang panjang.
“Nadin?” suara Harsa bergetar.
“Nadin?” Tangannya digenggam lebih erat.
Namun, tak ada balasan.
“Nadin … bangun…” suaranya pecah. “Aku sudah janji … kamu harus bangun…”
Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang baru saja digali. Orang-orang berdiri mengelilingi liang lahat, mengenakan pakaian serba hitam. Suasana sunyi, hanya diisi suara isak tangis yang tertahan.
Di tengah semuanya tubuh Nadin perlahan diturunkan ke dalam tanah.
“Pelan-pelan…” Suara itu terdengar lirih, namun terasa berat.
Bu Hana langsung menangis histeris.
“Nadin … anak Ibu…” tubuhnya melemas, Arsyi langsung memeluknya erat.
“Ibu … sabar, Bu…” meski ia sendiri tak mampu menahan tangisnya, air matanya jatuh tanpa henti. Matanya tak pernah lepas dari liang itu. Dari tempat di mana kakaknya akan benar-benar pergi selamanya.
Harsa berdiri di depan, matanya merah, wajahnya pucat, tapi tak ada suara keluar dari bibirnya. Ia hanya menatap, menatap tubuh istrinya yang kini perlahan tertutup tanah.
Setiap sekop yang menjatuhkan tanah, seolah menghantam dadanya. Hingga akhirnya semua selesai. Nisan terpasang, nama itu tertulis jelas.
Harsa tak bergerak, semua orang mulai mundur perlahan. Di depan nisan itu, tangannya mencengkeram tanah yang masih basah.
“Nadin…” suaranya pecah untuk pertama kalinya di tempat itu. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
“Kamu jahat…” bisiknya dengan suara bergetar. “Kamu ninggalin aku … ninggalin anak kita…” Tangannya mengepal.
“Kamu bilang kita akan pulang sama-sama…”
Suara itu semakin hancur.
“Sekarang aku pulang sendiri … bawa anak kita … tanpa kamu…” Ia menunduk, bahunya bergetar. Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah.
Semua orang terdiam, tak ada yang berani mendekat. Karena, mereka tahu itu bukan sekadar tangisan. Itu kehilangan yang tak bisa digantikan.
Beberapa saat kemudian, Harsa perlahan berdiri. Wajahnya masih basah oleh air mata. Namun, tatapannya berubah dia menoleh ke arah keluarga yang masih berdiri tak jauh dari sana.
“Ada yang harus saya sampaikan.” Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang diam. Arsyi mengangkat wajahnya. Bu Hana menatap dengan mata sembab. Tuan Hendra dan Nyonya Ratih saling berpandangan.
Harsa menarik napas panjang.
“Sebelum Nadin meninggal…” Kalimat itu membuat semua orang menegang.
“Ia meninggalkan sebuah wasiat.”
Angin berhembus pelan, seolah ikut mendengarkan.
“Apa maksudnya?” tanya Bu Hana pelan, suaranya masih bergetar.
Harsa menatap ke arah makam Nadin sejenak, lalu kembali berbicara.
“Dia … meminta saya menikahi Arsyi.”
Semua membeku, seolah waktu berhenti.
“Apa?” suara Arsyi nyaris tak terdengar.
Bu Hana langsung menggeleng.
“Tidak … tidak mungkin…” air matanya kembali jatuh. “Tidak mungkin anak saya mengatakan itu…”
Nyonya Ratih terdiam sementara Tuan Hendra menatap Harsa dalam.
Harsa melanjutkan,
“Dia ingin … anak kami punya ibu.” Suaranya serak semua orang saling berpandangan.
Arsyi mundur satu langkah.
“Tidak…” ia menggeleng cepat. “Tidak … Kak Nadin tidak mungkin…
Air matanya jatuh lagi.
“Aku … aku tidak mungkin…”
Suara Harsa kembali terdengar dan kali ini lebih tegas.
“Saya sendiri menolak wasiat itu!"
Semua kembali terdiam, Harsa menatap lurus ke depan.
“Apapun alasannya … saya tidak akan menikah lagi!" Kalimat itu jatuh dengan pasti.
“Saya tidak butuh pengganti.” Tatapannya kembali ke nisan Nadin.
“Dan tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan dia.”
Angin kembali berhembus, membawa keheningan yang terasa berat.
Nyonya Ratih melangkah maju.
“Harsa…” suaranya lembut, mencoba menenangkan. “Ibu mengerti perasaan kamu, tapi—”
“Tidak, Bu.” Harsa memotong pelan. “Ini bukan soal waktu tetapi ini soal hati.”
Tuan Hendra ikut berbicara.
“Nak … ini bukan hanya tentang kamu.”
Harsa menoleh.
“Ini tentang anakmu." Kalimat itu membuat Harsa terdiam.
“Melodi butuh seorang ibu,” lanjut Tuan Hendra. “Dan Nadin … sudah memilih.”
Bu Hana langsung menyela dengan suara bergetar.
“Tapi itu tidak berarti harus Arsyi!” tangisnya pecah lagi. “Saya baru saja kehilangan satu anak … saya tidak mau kehilangan yang lain dengan cara seperti ini…”
Arsyi menunduk, tangannya mengepal.
“Aku juga tidak mau…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Semua kembali hening.
“Untuk sekarang…” ucapnya pelan. “Saya hanya ingin jadi ayah untuk anak saya.”
Ia menatap makam Nadin sekali lagi.
“Dan tetap jadi suami … untuknya." Kalimat itu begitu sederhana. Harsa, lalu berbalik mengambil anaknya dalma gendongan sang ibu dan pergi meninggalkan pemakaman yang penuh duka itu.
Di belakangnya, Arsyi masih berdiri diam. Menatap nisan itu, air matanya kembali jatuh.
“Kak…” bisiknya pelan. “Kenapa harus aku?” Tak ada jawaban, hanya angin sore yang membawa aroma malam yang akan segera tiba. Dan tanah yang telah menutup segalanya.
Rumah itu masih dipenuhi aroma duka. Karangan bunga berjajar di halaman, sebagian mulai layu, namun tetap menjadi saksi bahwa kehilangan itu masih begitu baru. Di dalam, suara lantunan doa sejak pagi tak pernah benar-benar berhenti. Hari ini genap tujuh hari kepergian Nadin. Namun, bagi mereka yang ditinggalkan, waktu seolah tidak berjalan sama sekali.
Di dalam kamar, tangisan kecil terdengar pelan. Melodi menggeliat dalam gendongan Arsyi. Gadis itu mengayun tubuhnya perlahan sambil berbisik lembut, “Shh … iya, sayang … jangan nangis…” Suaranya lirih, penuh kelelahan yang ia sembunyikan sejak beberapa hari terakhir. Matanya sembab, tubuhnya lelah, namun ia tetap bertahan. Selama seminggu ini, hampir seluruh waktunya ia habiskan untuk bayi itu, mengganti popok, menyiapkan susu, hingga terbangun di tengah malam hanya untuk menenangkan tangisan kecil yang seolah tak pernah ingin berhenti.
Ia menatap wajah mungil itu dengan senyum tipis yang rapuh.
“Kalau Kak Nadin lihat kamu sekarang … pasti dia senang…” gumamnya. Namun, kalimat itu justru membuat air matanya kembali jatuh. Ia memeluk Melodi sedikit lebih erat, seolah takut kehilangan lagi.
Di ruang tengah, suasana jauh berbeda. Harsa duduk di antara para tamu yang datang silih berganti. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan istri. Ia hanya mengangguk setiap kali seseorang menyalaminya dan berkata, “Menguatkan ya, Sa…” Lalu ia menjawab singkat, “Terima kasih.” Jawaban yang sama, berulang, tanpa ekspresi. Namun, di balik ketenangan itu, matanya kosong dan kehilangan cahaya yang dulu begitu hidup.
Setelah acara doa selesai, satu per satu tamu mulai berpamitan. Rumah yang tadinya penuh perlahan menjadi lengang. Dan di situlah, suasana yang sebenarnya mulai terasa lebih berat.
Tuan Hendra duduk berhadapan dengan Harsa, sementara Nyonya Ratih berada di sampingnya. Wajah keduanya tampak serius. Harsa sudah bisa menebak arah pembicaraan itu bahkan sebelum kata pertama diucapkan.
“Harsa,” panggil Tuan Hendra pelan. Harsa mengangkat wajahnya, menatap ayahnya tanpa banyak reaksi. “Ada hal yang ingin Papa bicarakan,” lanjutnya.
Harsa menarik napas panjang, lalu berkata pelan, “Ini tentang Arsyi, ya, Pa?”
Tuan Hendra tidak menyangkal. “Kamu sudah tahu, berarti akan lebih mudah,” ucapnya. Nyonya Ratih ikut menimpali dengan suara lembut namun tegas, “Sudah seminggu, Nak. Kita tidak bisa terus diam seperti ini.”
Harsa menunduk sejenak, jemarinya saling menggenggam erat. “Seminggu bukan waktu yang cukup untuk membicarakan hal seperti itu,” jawabnya pelan.
“Tapi ini bukan hal kecil,” sahut Tuan Hendra. “Ini tentang masa depan Melodi.”
Kalimat itu membuat Harsa terdiam sesaat. Ia menghela napas pelan sebelum menjawab, “Saya bisa urus Melodi sendiri.”
“Apa kamu yakin?” tanya Nyonya Ratih. “Kamu bekerja, Nak. Kamu tidak akan selalu ada.”
“Ada pengasuh,” jawab Harsa singkat.
“Pengasuh tidak bisa menggantikan seorang ibu.” Ucapan itu langsung membuat suasana hening. Harsa tidak menjawab. Rahangnya mengeras, seolah menahan sesuatu yang ingin ia lontarkan.
Langkah pelan terdengar dari arah kamar. Arsyi keluar sambil menggendong Melodi yang kini sudah tertidur. Ia sempat berhenti saat melihat suasana ruang tengah yang terasa tegang. “Aku … bawa Melodi keluar sebentar…” ucapnya pelan, berniat menghindari situasi itu.
Namun, suara Tuan Hendra menghentikannya. “Duduk dulu, Arsyi.”
Langkahnya terhenti. Ia menatap ragu, lalu perlahan mendekat dan duduk dengan hati-hati, masih memeluk Melodi erat. Nyonya Ratih menatapnya dengan lembut. “Kamu sudah banyak membantu selama ini,” ucapnya.
Arsyi menunduk. “Saya cuma … tidak tega lihat dia sendiri,” jawabnya pelan.
Justru itu yang membuat Tuan Hendra semakin yakin. “Dan itu alasan kenapa kami ingin kalian segera menikah,” ucapnya tanpa basa-basi.
Kalimat itu membuat udara terasa membeku.
Arsyi terdiam, jantungnya berdetak kencang. “Om … saya…” ucapnya terbata, namun belum sempat menyelesaikan kalimatnya,
“Saya tidak setuju.” Suara Harsa langsung memotong.
Semua menoleh ke arahnya. Harsa berdiri perlahan, tatapannya keras. “Saya sudah bilang sebelumnya. Saya tidak akan menikah lagi,” lanjutnya.
Nyonya Ratih mencoba menenangkan. “Nak, ini bukan soal kamu saja…”
“Ini hidup saya, Bu,” potong Harsa, masih dengan suara yang terkendali namun penuh tekanan. “Saya belum selesai dengan kehilangan saya.”
Kalimat itu jatuh pelan, namun terasa sangat berat.
“Saya belum bisa melihat orang lain di tempat dia,” lanjutnya.
Hening kembali menguasai ruangan. Arsyi menunduk semakin dalam. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya.
Tuan Hendra menghela napas panjang. “Kamu pikir kami tidak mengerti perasaanmu?” tanyanya.
Harsa menatapnya. “Lalu kenapa tetap memaksa?”
“Karena kami juga memikirkan cucu kami!” suara Tuan Hendra akhirnya meninggi. “Melodi butuh ibu. Dan selama ini, siapa yang ada untuknya?”
Tak ada yang menjawab tetapi semua tahu jawabannya. Tatapan perlahan mengarah pada Arsyi.
Gadis itu menggigit bibirnya, menahan tangis. “Aku tidak bermaksud menggantikan siapa pun…” ucapnya lirih. “Aku cuma … tidak tega…”
Kalimat itu membuat suasana semakin berat.
Harsa menutup matanya sejenak, lalu membuka kembali dengan tatapan lelah. “Untuk sekarang, tolong hentikan pembicaraan ini,” ucapnya pelan. Ia menatap kedua orang tuanya satu per satu. “Saya butuh waktu.”
“Sampai kapan?” tanya Nyonya Ratih.
Harsa terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, “Sampai saya siap.”
Jawaban yang tidak memberi kepastian, namun itulah satu-satunya yang ia miliki saat ini.
Malam itu, kamar yang dulu penuh tawa kini hanya menyisakan sunyi. Harsa duduk di tepi ranjang, menatap lemari yang masih berisi pakaian Nadin. Aroma itu masih ada. Kenangan itu masih terasa nyata.
Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh lagi. “Aku belum bisa…” bisiknya lirih. “Aku benar-benar belum bisa…”
Di luar kamar, Arsyi berdiri diam. Tanpa sengaja ia mendengar semuanya. Tangannya memeluk Melodi lebih erat, seolah bayi itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia pertahankan.
“Kalau begini … aku harus bagaimana, Kak…” gumamnya pelan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!